Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2. 26


__ADS_3

Keynand tenggelam dalam lamunan. Rindu yang ingin sekali diluapkan dengan pertemuannya dengan Qia. Dalam angannya itu bolehkah dia berharap akan merajut kembali cinta yang sempat terurai. Memperelat lagi kebersamàan itu dalam kenyataan bukan lagi angan yang menyiksa.


Sungguh indah memang lamunan, tapi ketika tersadar mengapa hati sangat perih apa mungkin karena tak tergapai menjadi nyata.


Jika boleh egois, ingin rasanya menggapai lamunan itu menghadirkannya dalam kenyataan. Setidaknya hati ini akan lega karena berhasil merengkuh harumnya cintanya.


Bukankah boleh membagi cinta, asalkan keikhlasan itu ada. Ingin rasanya melakukan itu tapi rasanya tak tega menyakiti hati siapapun.


Qia terlalu berharga jika diperlakukan dengan tidak adil. Jika dia menuruti keinginan untuk bersamanya, tentu saja yang paling tersakiti adalah Qia. Dia menempati urutan kedua, yang itu artinya posisinya berada di tempat yang tidak menguntungkan. Gadis itu akan menjadi bahan gunjingan seantero kota dan maya. Tidak ada kebahagiaan yang di dapat melainkan derita yang berkepanjangan dan nyata. Alih-alih akan memberikan bahagia, mungkin saja rasa sakit yang akan dipersembahkan untuknya.


Keynand tidak ingin menempatkan Qia pada duka itu, karena itulah dia harus melupakan keinginan hatinya yang menggebu untuk memiliki Qia seutuhnya.


Mungkin saja merindukan Gadis itu dalam diam cukup baginya. Tak hidup bersama dan memilikinya menjadi tak mengapa asalkan Gadisnya bahagia.


Helaan nafasnya kembali terdengar. Cukup panjang dan menyesakkan. Keynand terpaku dalam diam dengan sorot mata berbinar cerah saat tiba-tiba melihat Gadis itu tepat berada dalam pandangannya.


Qia ada di sana. Dalam lamunannya yang terasa nyata.


'Oh Tuhan, ini bukan lamunan tapi Gadis itu benar-benar ada. Dia di sana, sedang berbincang-bincang dengan seorang Wanita Penyapu jalanan.'


'Lihatlah dia tersenyum, nampak manis nan merekah.'


Hati Keynand berdenyut merdu. Jantungnya kalang kabut tak tenang. Tangannya sontak meraba Jantungnya yang mengistrupsi agar mendekat.


'Oh Qia, kaukah itu?'


'Datang membawakan secawan candu yang ingin aku resapi segera. Lihatlah bibir merekah itu. Dia sangat menggoda seakan meminta untuk disentuh berpagut dengan diri ini yang di kuasai rindu.'


'Ah Qia jangan pergi lagi, Abang mohon! Tetaplah di sana untuk mendebarkan hati ini yang membuat diri ini semakin sadar akan cinta yang aku punya untukmu.'


Keynand semakin terlena dengan lamunan yang terasa nyata.


'Ah seandainya benar, aku akan bersorak tak tahu malu, meneriakkan kalimat bahwa Laki-laki ini sangat merindukanmu.'


'Oh Qia kaukah itu?'

__ADS_1


'Kenapa hadirmu terasa kian nyata.


Keynand terus saja tenggelam dalam lamunan dan berbicara sendiri dalam diam.'


"Oh Tuhan itu benar-benar kamu, Qia"


Keynand tersadar dari lamunan yang panjang. Dia segera bangkit dari duduknya meninggalkan Kopi favoritnya yang teronggok cemburu.


"Qiaaaaaa, Aku merindukanmu." Keynand berteriak lantang. Laki-laki itu tepat berdiri di belakang punggung seorang Wanita yang duduk berhadapan dengan Qia.


Qia mengalihkan pandangan dari lawan bicaranya kemudian menatap Laki-laki yang memanggilnya.


Dia melihat binar-binar rindu dipelupuk mata itu seirama dengan apa yang terucap. Sang Wanita paruh baya pun ikut menoleh ke sumber suara yang menggelegar di tempat itu. Tidak hanya mereka berdua, orang lain yang kebetulan berada di sana sontak mengalihkan perhatiannya tatkala mendengarkan pernyataan kerinduan itu.


Keynand menjadi pusat perhatian.


Saat tersadar dari keterpakuan dan merasakan Jantungnya berdebar-debar. Qia segera menggelengkan Kepala menolak apa yang terasa. Dia tidak ingin merasakan harapan yang ternyata sangat semu. Gadis itu sadar, Keynand sudah tidak mampu tergapai, meskipun rasa cinta itu masih menggebu di hatinya dan ada.


Qia bangkit dari duduk, kemudian berpamitan hendak pergi.


"Qia tunggu."


"Qia, tunggu."


Keynand mempercepat langkah dan mengikis jarak


Glep


Dia meraih lengan Gadis itu kemudian menghentikan langkahnya yang tergesa-gesa.


"Abang mohon jangan pergi lagi. Abang sudah puas mencarimu kemana-mana dan sekarang kita bertemu di sini, bukankah ini yang namanya takdir," ucap Keynand penuh dengan harapan agar Qia tidak lagi keras kepala meninggalkannya. Keynand berharap dia memberikan kesempatan untuknya mendengarkan suara dari Gadis yang sangat di rindukannya itu.


Qia berhenti melangkah, karena merasakan tangannya di cekal. Dengan helaan nafas panjang kemudian dia membalikkan tubuhnya. Pandangan mata mereka saling bersirobok. Mata sayu bulat besar milik Qia sejenak saling terkunci dengan mata berwarna cokelat milik Keynand.


Mata itu tersimpan cinta dan rindu yang sangat menyesakkan dada. Qia melihat itu di sana, tapi kenyataannya apa yang dilihat pada pelupuk mata Keynand itu sangat menyakitkan baginya.

__ADS_1


Qia mengalihkan tatapannya. Dia tidak tahan dengan hatinya yang bergejolak. Ada rindu dan cinta yang terang-terangan meminta untuk dibalas. Dia sangat merindukan Keynand. Di sisi lain, Gadis itu sadar bahwa tak semestinya dia mengharapkan kehadiran Laki-laki itu pada hidupnya. Dia ingin segera pergi sejauh mungkin, menghindari pertemuannya yang tidak pernah di sangkanya. Dalam hatinya dia berharap tidak bertemu kembali dengan Keynand.


Namun pada kenyataannya Laki-laki itu ada di hadapannya. Mendebarkan kembali Jantungnya kemudian menyusup masuk ke relung hatinya lalu menguasai kembali hatinya dengan cinta yang tetap sama untuknya.


"Biarkan aku pergi," pinta Qia dengan suara yang pelan sedikit memohon.


Keynand menggeleng cepat. Dia masih setia menatap wajah Qia yang menunduk. Keynand menyadari ada perubahan pada diri Gadisnya. Wajahnya terlihat tirus dengan tatapan sayu tak secerah terakhir mereka bertemu. Dia kemudian memindai tubuh Gadis itu sekilas dan melihat perubahan yang membuat hatinya terasa sakit.


Gadisnya terlihat kurus. Kenyataan itu membuat hatinya kian terhantam godam. Sangat sakit terasa.


Keynand membawa Qia ke tempat yang hanya ada mereka berdua. Meskipun sempat menolak, tapi karena paksaan, Gadis itu pada akhirnya setuju. Qia sadar, jika tidak dituruti Keynand akan terus memburunya hingga dapat. Untuk itu dia ikut dan berharap ini terakhir kalinya mereka berdua bertemu dan saling menyapa.


Mereka duduk bersebelah di sebuah bangku dengan berjarak.


"Apa yang terjadi denganmu, Qia? Kemana saja selama ini?" tanya Keynand lirih tak teralihkan dari wajah Qia di sampingnya. Dia mengawali pembicaraan dengan pertanyaan.


"Apa sangat penting jawaban itu?"


"Iya?" Jawab Keynand menuntut.


Qia menarik nafas panjang. Ada rasa sesak terasa di setiap tarikannya.


"Aku rasa aku tidak perlu menjawabnya. Jawaban itu tidak akan merubah apa yang telah terjadi, jadi biarkan aku pergi." Qia meminta dengan sangat agar Keynand mau melepaskannya.


"Qia, aku mohon bicaralah apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Keynand.


"Apa aku harus menjawab yang hanya akan memuaskan rasa ingin tahu Abang," ucap Qia masih bertahan dengan keengganannya menjawab. Untuk apa menceritakan dirinya yang pernah terpuruk. Pikirnya, apa yang pernah dia rasakan tidak perlu Keynand mengetahuinya. Dia tidak butuh simpati dari Laki-laki itu.


"Melihat keadaanmu seperti ini Abang sangat mengkhawatirkan kamu, Qia! Apa kamu baik-baik saja? Apa yang sakit?" Tanya Keynand dengan nada sedih. Dia ingin meraih tubuh kurus itu lalu membawanya dalam dekapan hangatnya. Bersamanya Qia merasakan kenyamanan dan ketenangan itu yang ingin diberi, tidak lagi di rundung gelisah dan duka.


Namun sayangnya niatnya terbaca. Qia terlihat menjauh dalam jangkauannya. Tangannya tertahan di udara tak mampu terulur untuk menyentuh kerapuhan itu.


Keynand memaki dirinya yang tak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk Gadis yang dicintainya.


"Abang minta maaf," lirih Keynand sangat tulus. Hanya itu yang bisa dikatakan saat ini, dengan harapan ketenangan terasa di hatinya, meskipun tak mengubah keadaan.

__ADS_1


"Maaf untuk apa?"


Bersambung.


__ADS_2