Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2. 28


__ADS_3

"Maaf untuk apa?"


Keynand merasakan dadanya sesak. Qia tidak menyalahkan dirinya padahal sejatinya kesalahannya sangat fatal. Dia tidak mempercayai ketulusan hati yang di berikan Qia untuknya. Keynand malah tergoda oleh tipuan yang dilancarkan oleh Julaekha.


"Abang salah, Abang telah menghianati kamu dan membuat kamu terluka. Sungguh ini bukan keinginan Abang sebenarnya. Apapun yang terjadi saat ini, itu karena kebodohan Abang yang tidak pernah meningkatkan kewaspadaan. Abang sangat mudah terperdaya dan maaf saat itu tidak lagi mempercayai kamu. Abang salah Qia, jadi itu yang harus kamu maafkan," ucap Keynand parau. Dia mengakui semua itu merupakan kesalahan dan kebodohannya yang terlalu percaya dengan bukti yang disodorkan oleh Julaekha. Awalnya Keynand tidak mempercayai itu semua, tapi pada kenyataannya dia tetap saja menemui Julaekha untuk mendapatkan kejelasan itu yang pada akhirnya berujung terjebak.


Keynand ingin sekali mengatakan menyesal, tapi apa penyesalan itu akan berguna? Tentu saja tidak, selain mau tidak mau menerima hasilnya kini berpisah dengan Qia.


Qia tersenyum tulus.


"Aku sudah memaafkan Abang, jadi tidak perlu kita bahas kembali apa yang telah terjadi. Sekarang yang perlu dilakukan adalah melanjutkan hidup pada jalan masing-masing," jawab Qia pelan. Ada ketegaran yang berusaha dipeluknya agar tak terlepas. Dia tidak ingin terjebak dalam kerapuhan lagi. Untuk itu dengan sekuat tenaga memegang ketegaran itu.


"Terima kasih Qia. Asal kamu tahu Abang masih berharap bisa hidup bersama kamu dengan rasa cinta ini. Abang mencintai kamu dengan sangat, hingga detik ini rasa itu masih ada. Ingin rasanya Abang mengatakan Abang tidak bisa hidup tanpa kamu, tapi Abang takut pernyataan itu mengartikan Abang secara terang-terangan menduakan Tuhan. Bukankah itu perkataan salah?" Ucap Keynand terdengar parau. Dia beristigfar melambungkan ampunan atas segala kekeliruan yang mungkin saja tak disadarinya.


Qia mengerti itu. Terkadang kita sebagai Manusia terlalu mengagung-agung cinta kepada lawan jenis, sehingga mengatakan tidak bisa hidup tanpa orang yang di cintai, padahal sejatinya Tuhanlah yang memberikan kita kehidupan, bukan orang yang dicintai. Qia maupun Keynand akan tetap bisa hidup meskipun tanpa cinta dari orang yang diinginkan hingga akhir hayat.


"Tapi karena rasa cinta itu hanya untuk kamu, bolehkah Abang meminta pada Tuhan agar diperkenankan hidup bersama kamu menjalani sisa hidup ini. Qia mari kita menikah, jadilah Isteri dan Ibu sambung Raski. Hanya kamu Gadis yang tepat menjadi Mamanya Raski dan jadi Isteri Keynand Putra Ardiaz." Keynand mengutarakan permintaan yang terdengar gila.


Qia tersentak kaget. Dia menatap Keynand yang terlihat serius dengan segala ucapannya.


"Jangan menjadi gila Abang," ucap Qia marah. Ada rasa sakit yang menikam ulu hati. Jika menuruti keinginan dengan mudah mengabulkan keinginan Keynand. Mereka saling mencintai, apa salahnya hidup bersama. Namun hati nuraninya mencegah itu semua. Dia tidak ingin menjadi orang ketiga dan merusak rumah tangga Keynand yang telah terbangun meskipun rapuh.


"Kamu benar, Abang sudah tidak waras," ucap Keynand terkekeh. Laki-laki itu menertawakan dirinya sendiri dengan segala kebodohannya. Tawa yang sangat mengejeknya.


"Bukankah Abang mencintai Ibu Julaekha dan sangat bucin kepadanya. Dan sekarang mengapa ingin sekali menikah dengan saya. Mengapa Abang menjadi serakah, tidak cukupkah Abang mencintai Isteri Abang dan setia kepadanya," jawab Qia dengan tegas.


Keynand menggeleng cepat untuk membantah pernyataan yang terkesan mempersulit langkahnya. Sejak kapan dia mencintai Julaekha dan menjadi budak cinta Wanita itu, selain hanya menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang Suami.


"Apa yang kamu dengar adalah salah. Abang tidak bisa mencintai Julaekha seperti abang mencintai kamu. Apa yang Abang lakukan selama ini untuk Julaekha hanya sebatas tanggung jawab sebagai seorang Suami. Tidak lebih dari itu," jawab Keynand meyakinkan Qia bahwa apa yang di dengar bukan seperti itu pada kenyataannya.


"Kalau begitu tetaplah bertahan mendampinginya. Bukankah gampang bagi Tuhan membolak balikkan hati Manusia. Mungkin saja pada akhirnya nanti Abang akan sangat mencintai dia kemudian melupakan aku," ucap Qia tegas. Dia tidak ingin Keynand tergoda dengan bujuk rayu Setan yang bisa saja Keynand melepaskan simpul pernikahan itu.


"Tidak Qia. Apa itu artinya kamu juga ingin melupakan Abang dan mencintai orang lain seiring perjalanan hidup ke depannya nanti. Apa seperti itu yang kamu ingin sebenarnya? Tidak ingin hidup bersama Abang dan Raski," ucap Keynand menuduh. Entah kenapa rasa sakit itu semakim menikamnya dengan perkataan Qia.


"Aku hanya ingin melanjutkan hidup," sahut Qia tegas. Walaupun sejatinya dia sangat merana, karena sangat sulit baginya untuk membantah kata hatinya yang sangat mencintai Keynand.

__ADS_1


"Jadi kamu tidak ingin menikah dengan Abang? Tidak ingin hidup bersama Abang dan Raski. Apakah kamu tidak mencintai Abang lagi dan tidak menyayangi Raski lagi?"


Pertanyaan Keynand membuat Qia berusaha menahan air mata yang sedari tadi ingin tumpah. Jika mendengar nama Raski di sebut, ada rasa sedih mendera sanubarinya. Qia terlanjur menyayangi Bocah piatu itu dan ingin sekali mendampingi hari-harinya agar kelak menjadi kebanggaan kedua orang tuanya. Qia menghapus air mata. Gerakan itu tidak luput dari perhatian Keynand.


"Jika Abang mempertanyakan hal itu, aku tidak akan membantah bahwasan aku masih mencintai Abang hingga detik ini dan mungkin saja sangat sulit melupakan Abang. Namun apa gunanya dengan pengakuan itu, karena tidak akan mengubah apapun," ucap Qia kemudian setelah mereka cukup lama menikmati keheningan dan pikiran masing-masing.


"Biarkan aku pergi, jangan menempatkan diri ini pada sudut derita karena hidup bersama Abang dengan posisi kedua tidak akan menjanjikan kebahagiaan. Jangan menjadikan aku seorang Pelakor, karena gunjingan orang-orang itu sangat menyakitkan. Aku lebih baik menikmati rasa sakit dalam kesendirian dari pada bahagia bersama Abang tapi yang terasa seakan menggenggam bara api. Lebih baik Abang biarkan aku merana karena tak bersama Abang dari pada hidup bersama Abang tapi memeluk duri sepanjang waktu," imbuh Qia mengutarakan segala pikiran yang berkecamuk dalam benak. Dia yakin apa yang dikatakannya seperti itulah yang akan terasa. Saat ini pun dia merana dengan cinta itu.


Keynand terpaku diam. Dia tidak mampu berkata apa-apa lagi untuk meyakinkan Qia bahwa kebahagiaan untuknya akan dia upayakan. Tapi dia juga tidak mampu menyangkal bahwa apa yang dikatakan oleh Qia adalah bukan sesuatu yang mengada-ngada. Bisa saja itu yang akan terjadi jika dia tetap memaksa agar hidup bersamanya.


Ingin rasanya dia egois, memaksakan kehendaknya kepada Qia. Namun hati nuraninya tidak sanggup menyiksa Qia dengan cinta yang dia punya. Bisa saja berubah menjadi racun kemudian berlahan-lahan membunuhnya. Apakah itu lebih sadis?


"Aku permisi Bang. Assalamu'alaikum," ucap Qia pamit lalu bangkit dari duduknya meninggalkan Keynand yang menjawab salam dengan lirih. Keynand tidak ingin menahan Qia lagi. Kalimat terakhirnya membuatnya bungkam. Meninggalkan rasa perih dan menggerogoti hatinya yang entah sampai kapan. Qia juga merasakan hal sama, terluka.


Keynand menatap punggung Gadisnya yang semakin jauh. Dia melihat punggung itu bergetar dan sesekali tangan rapuh itu menyeka air mata. Semoga saja air mata itu berhasil menegarkan hati yang terluka parah.


Keynand tak ingin beranjak pergi. Laki-laki itu ingin menyaksikan siluet Qia yang lama kelamaan semakin mengecil lalu hilang, tapi tidak dengan cintanya kepada Gadis itu. Cinta itu akan tetap tumbuh dan terawat dengan kesetiaannya.


Bolehkah berharap suatu saat nanti mereka berdua akan hidup bersama, walaupun pada kenyataan tidaklah mungkin.


Keynand membawa hatinya yang terluka dengan langkah gontai. Sebenarnya, tidak ada lagi tempat dia pulang semenjak dia tak bersama Qia.


***


Rizqy mengakhiri panggilan dengan seseorang di seberang. Dia sudah mengatur rencana dan menempatkan orang kepercayaan untuk melakukan misi balas dendamnya.


Dia tersenyum miring dengan tatapan langsung ke arah jalanan yang nampak bercahayakan temaran.


"Kau tahu Keynand, ingin rasanya aku menghajarmu, tapi membalas secara halus itu lebih menohok bukan?" ucap Rizqy pelan. Terlihat senyum mengejek terpantul pada kaca di hadapannya.


Saat dia berkelana dengan berbagai rencana di benak. Rizqy merasakan tubuhnya di dekap oleh tangan lembut dari seorang Wanita.


Harum tubuh Wanita itu membuatnya meremang. Tak tahan dengan senjatanya yang mulai mengeras, Laki-laki itu membalikkan tubuhnya. Di hadapannya berdiri seorang Wanita yang sangat cantik nan sensual. Tubuh indahnya berbalut dengan Lingeri berwarna merah yang sangat transparan.


"Apakah ini yang dinamakan berpakaian tapi telanjang," batin Rizqy. Tapi dia sangat menyukai penampilan Wanita penggoda iman itu.

__ADS_1


Wanita berlingeri merah itu tersenyum nakal sembari memperlihat daya pikatnya yang begitu menggoda. Dia mulai bergerak menyentuh sisi sensitif seorang Laki-laki yang dipastikan dengan sangat mudah runtuh keimanannya.


"Puaskan aku," bisik Rizqy tak tahan.


Wanita itu tersenyum manja. Tangannya dia kalungkan pada leher Rizqy lalu tatapan mata indahnya tidak lepas dari manik teduh Laki-laki itu.


"Aku butuh uang 500 juta. Bisakah kamu membayar sebesar itu sekarang? Jika sanggup aku akan melayani anda sampai puas," ucap Sang Wanita tegas dan terdengar sangat manja.


Rizqy tersenyum sumringah. Tidak sulit baginya sekarang untuk mengeluarkan uang sebesar itu bahkan lebih. Usahanya kini tengah berkembang pesat tentu penghasilannya lumayan besar, di tambah usaha Habibah yang sedang maju-majunya. Kini kehidupannya kian membaik sebagai salah satu Pengusaha yang patut diperhitungkan.


Rizqy segera meraih handphone lalu dengan cepat memproses keinginan Sang Wanita melalui teknologi canggih itu.


Ting


"Sudah," ucap Rizqy sembari memperlihatkan bukti transfer yang terpampang di layar handphone.


Sang Wanita tersenyum bahagia. Dia kemudian menjalankan kewajibannya setelah mendapatkan apa yang diinginkannya.


Kedua insan berjenis kelamin berbeda itu mulai memadu kasih dengan mesranya. Merengkuh madu dalam penyatuan raga dan hati yang membuat Bidadari iri.


Setelah beberapa jam berlalu, Rizqy mendes*h panjang menuntaskan segala hasr*t. Dia tergulai lemah tak berdaya dengan senyum puas tercetak di raut wajahnya.


Sedangkan Sang Wanita tergulai lemah tak sanggup lagi untuk bergerak. Dia memejamkan mata untuk mencari tenaga yang telah menipis.


Rizqy mengecup kening Sang Wanita dengan lembut. Tangannya tak lepas membelai Kepala dengan mahkota panjang berwarna hitam pekat.


"Semoga kali ini berhasil sayang. Sakit rasanya melihat kamu menangis dalam diam," ucap Rizqy lembut. Matanya tidak jemu menatap wajah cantik Sang Wanita yang sedang tertidur lelap. Puas memandangnya, Rizqy beranjak dari ranjang kemudian berjalan masuk ke Toilet untuk membersihkan diri.


Beberapa menit kemudian Laki-laki itu kembali dalam keadaan segar bugar. Dia segera mengganti handuk yang melilit tubuhnya dengan Kaos oblong dan Celana kain pendek.


Selesai dengan penampilannya, dia menghampiri Ranjang kemudian mengecup bibir merekah itu dengan singkat.


"Mas pergi sebentar, tidur dengan nyenyak sayang," ucap Rizqy lirih seperti berbisik di Telinga Sang Wanita.


Rizqy tersenyum melihat tubuh itu menggeliat sebentar lalu kembali diam dalam lelapnya. Dia memperbaiki selimut, agar tubuh polos itu benar-benar tak terlihat lagi. Selanjutnya dia meninggalkan kamar Hotel tempatnya menginap untuk menemui seseorang.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2