Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.18


__ADS_3

"Insya Allah, setelah saya selesai kuliah. Kira-kira satu setengah tahun. Doakan saja semoga dipermudahkan dalam menempuhnya," jawab Qia berterus terang.


Lika mengangguk mengerti, pun begitu juga dengan Fitri yang memberikan semangat kepada Gadis itu.


"Nanti kalau udah menjadi Bestie kita, kamu harus mengikuti segala rangkaian kegiatan kita," ucap Fitri dengan senyum riang. Dia seperti tidak sabaran mengajak Calon Isteri Pak Bosnya itu untuk melakukan kegiatan bersama.


"Bestie? Gaul banget kayaknya kalian?" Alisa ikut menimpali. Dia penasaran apa saja yang dilakukan oleh para adik iparnya itu.


"Banyak, Kak. Kita mencoba resep makanan baru, mencari tahu cara merawat tubuh dan wajah agar tetap cantik ataupun awet muda. Belajar desain, belajar ngaji dan ikut pengajian dan lain sebagainya," jawab Fitri antusias.


"Nah yang paling penting, nih mencari tahu bagaimana caranya memanjakan dan memuaskan Suami di Ranj*ng, setelahnya di praktekkan, deh!" sambung Lika dengan diiringi tawa kecil saat melihat perubahan wajah Qia yang merona.


Hahahaha


"Wah keren, coba Kakak tinggal di sini bakalan senang ikut kegiatan kalian. Tak pikir tadi kerjaannya ke Salon, Shopping, liburan serta menghambur-hamburkan uang Suami. Kagak masalah sebenarnya, Suami nyari nafkah untuk itu, kan? Nyenengin Isteri."


Alisa tidak menyangka dengan Wanita-wanita hebat yang tidak terpengaruh sama sekali dengan kehidupan hedonis.


Sementara Qia merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan Alisa, Lika dan Wanita-wanita di keluarga Keynand.


Alisa seorang Pengusaha Wanita. Dia memimpin Perusahaan Ardiaz yang ada di Kota berkhaskan Kerak Telur itu. Sedangkan Lika, seorang desainer, pengusaha tenun dan juga Guru. Dia Pemilik Yayasan Sekolah dan butik terkenal di Daerah ini. Tidak ketinggalan Wanita bernama Fitri, dia Sekretaris Hotel Ardiaz yang cerdas dan juga memiliki usaha perkebunan yang dikembangkan bersama Sang Suami. Qia baru saja mengetahui sepak terjang mereka dari cerita masing-masing.


"Qia, nanti kita akan membantu, jika ingin mengembangkan potensi yang ada pada diri kamu. Kita memang Ibu rumah tangga, itu merupakan tugas dan kewajiban utama kita. Tapi bukan berarti kita tidak bisa berkarya. Sangat Bisa, kok!" Lika mengutarakan niatnya.


Qia mengangguk setuju. Kehadirannya di tengah-tengah keluarga Keynand tanpa di sadari olehnya telah membuka pemikiran yang semula kosong menjadi penuh rencana di masa depan.


Usai makan malam bersama dan mengobrol penuh keakraban, Qia berpamitan meskipun dia merasa sangat berat meninggalkan kenyamanan yang dirasakannya kini. Di tengah-tengah keluarga Keynand, dia merasa di hargai dan juga diterima dengan baik. Hal itulah yang membuatnya merasa tenang dan sekaligus bahagia.


"Ayolah Abang Reynand, tidak bisakah tersenyum meskipun senyumannya setipis kulit bawang. Setidaknya jangan berwajah datar, bikin Qia takut saja," pinta Keynand kepada Laki-laki dingin itu saat mereka berdua berpamitan.


"Hah? Masak Qia takut sama wajah tampan gue? Ada-ada saja. Tapi baguslah, ini pelajaran mental pertama agar Qia nantinya setelah menjadi Isteri elu dia sudah memiliki mental baja untuk menghadapi Para Wanita yang berniat ngerebut elu darinya. Jadi kudu siap-siap dari sekarang."


Flash back off.

__ADS_1


Qia tersadar dari ingatan masa lalunya yang sangat panjang. Gadis itu kini membenarkan perkataan Reynand yang secara tidak langsung memintanya untuk berhati-hati. Dia sadari setelah terlambat, bahwasannya dia telah mengabaikan peringatan Reynand.


Qia mengira tidak ada yang berani mendekati Keynand. Mengingat Laki-laki itu tidak memberikan celah kepada Wanita lain untuk mendekatinya. Qia percaya dengan kesetiaan yang di miliki oleh Keynand. Namun siapa sangka hubungannya yang terlihat baik-baik saja dan terhindar dari Pelakor, ternyata tidak lepas dari intaian Wanita yang menginginkan Sang Calon Suami. Kelengahannya berakibat mendapatkan kejutan yang menyakitkan.


Dia mengambil pelajaran penting dari kejadian itu, bahwasannya setiap Wanita yang memiliki pasangan seharusnya tetap meningkatkan kewaspadaan, karena Wanita perebut senantiasa menunggu kita lengah, baru mereka akan menyergap hingga dapat.


Huft


Qia menarik nafas berat. Dia merasakan kerinduan pada Raski dan ada rasa khawatir hinggap dalam hatinya jika saja Ibu sambungnya tidak bersikap baik kepada Bocah Piatu itu.


"Dadek Raski, Kakak Renia, Dadek Athaya dan Dadek Andreas, bagaimana khabar kalian? Mama kangen," ucap Qia berusaha menahan kerinduan kepada bocah-bocah tampan dan cantik itu.


Lelah dalam kerinduannya, Qia pada akhirnya terlelap membawa luka hati yang sekarang menjadi teman dalam tidurnya.


***


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Qia membalas salam kemudian mempersilahkan Rasya duduk di sebuah kursi yang berada tidak jauh dari sisinya.


"Bagaimana khabar Kak Qia? Sehatkah?"


Qia melirik Rasya yang sudah duduk dengan santainya di Kursi yang berada di sebelahnya Sejurus kemudian dia menganggukkan kepala menjawab keadaannya.


"Eh tidak juga. Keadaan saya kacau balau karena terlalu penasaran dengan perkataan kamu yang mengajak saya untuk balas dendam," lanjut Qia dengan cepat tidak memberikan kesempatan Rasya untuk menanggapi.


Rasya mengerutkan keningnya berpikir. Dia terlihat kebingungan tidak mengerti apa yang dibicarakan Qia.


"Memangnya saya pernah ngomong gitu, ya?" tanyanya kemudian dengan mimik serius.


"Hah!"

__ADS_1


Qia terkejut dengan pertanyaan dari Rasya. Dia tidak menyangka Rasya menyangkal apa yang pernah diucapkannya.


"Jadi kamu tidak mengakui ajaran sesat yang kamu berikan? Wah kebangetan ini. Udah buat anak orang penasaran dan sekarang membuat anak orang kebingungan. Bikin sebel tahu, enggak?" Qia mengomeli Pemuda yang lebih muda darinya itu. Sejurus kemudian Gadis cantik itu memalingkan mukanya.


Hahahaha


Rasya tertawa. Dia merasa terhibur melihat raut wajah yang nampak mempesona tatkala Qia dalam keadaan cemberut ataupun marah. Terlihat sangat lucu dalam pandangannya.


"Maaf, Kak Qia. Sekarang Rasya baru inget pernah mengatakan itu." Rasya berusaha mengembalikan suasana hati Gadis itu menjadi lebih baik lagi, meskipun sejujurnya dia suka sekali melihat wajah merajuk itu.


"Alaah, palingan tadi kamu ngerjain aku, ya?" tanya Qia sewot.


"Itu tahu," jawab Rasya jujur.


"Rasyaaaa, jangan becanda, deh!" Qia merasa kesal dan meluapkan itu dengan mempelototi Pemuda itu.


hahahaha


Rasya kembali tertawa. Entah kenapa dia sangat senang melihat wajah cemberut itu dari pada mendapati wajah pucatnya. Rasya bersyukur, Gadis pujaan hati Keynand itu berangsur-angsur membaik dan terlihat ceria kembali, meskipun mungkin saja luka hati Gadis itu masih menganga lebar.


"Afwan, Rasya hanya coba becanda. Oh ya tidak ingin berpanjang kata Rasya mengakui pernah mengatakan kalimat yang mungkin saja Kak Qia menganggapnya menyesatkan, tapi sebenarnya tidak." Rasya meminta maaf sekaligus menjelaskan apa yang sebenarnya diinginkannya untuk dilakukan oleh Qia.


"Maksudnya?"


"Hem, begini? Sebelum menjelaskan sebaiknya kita mengingat seorang tokoh yang sangat hebat dan juga sangat penting dalam sejarah. Tokoh itu ternyata ada hubungannya dengan apa yang sedang kamu alami kini," jawab Rasya serius dan terkesan menggantungkan jawaban. Rasya sengaja membuat Gadis itu kebingungan dan berpikir. Pemuda itu terdiam sejenak membiarkan Qia berpikir untuk mencerna apa yang dimaksudkan. Senyumnya mengembang melihat kerutan di dahi Qia yang mengartikan Gadis itu sedang berpikir keras.


"Jelaskan saja, saya malas berpikir," ucap Qia menyerah.


"Okay, gini coba tebak, siapakah aku? Aku salah satu Sahabat Rasulullah dan Rasulullah menjuluki aku Pintu gerbang pengetahuan Islam."


Rasya berteka-teki dan sengaja mengajak Qia berpikir untuk menambah wawasan mereka berdua dan mengingatkan bahwasannya kita memiliki tokoh Islam yang sangat hebat dan menjadi contoh selain Rasulullah tentunya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2