
Keynand mengikuti langkah Kaki Reynand dan Fitri yang akan menuju ruang kerja. Sesampainya di Ruang kerja Sang Direktur, Reynand langsung mendudukkan diri pada Kursi kebesaran milik Direktur Keynand Putra Ardiaz.
Sementara Keynand, dia berdiri mematung untuk mendengarkan instruksi yang akan diucapkan oleh Kakak Kandungnya itu.
"Pak Keynand, saya rasa anda cukup cerdas mengakui apa kesalahan anda. Apakah melarikan diri itu perbuatan terpuji? apa menurut anda itu sudah beretika? Dimana tanggung jawab anda selaku Direktur Utama Hotel Ardiaz? sekarang saya tanya, ciri-ciri munafik itu apa saja? sebutkan?" Reynand mengomeli Lelaki tampan bergelar Duda itu. Dia menatap Keynand dengan sorot mata yang mengisyaratkan ketegasan dan kewibawaan yang tidak mungkin bisa dibantah. Reynand nampak serius, tidak ada celah bermain-main disana.
"(1). Apabila berbicara ia berdusta, (2). Apabila membuat kesepakatan ia mengkhianati, (3). Apabila berjanji ia mengingkari, (4). Apabila berdebat ia tidak jujur."
Keynand menyebut satu persatu, seakan dia murid yang diminta untuk menghapal beberapa kalimat penting. Memang benar, kalimat-kalimat yang diucapkannya merupakan kalimat penting yang harus diingat dan harus dijauhi. Keynand merasa tidak enak hati karena sadar apa yang dilakukan tadi telah mengkhianati kesepakatan bersama untuk Meeting pagi tadi dengan alasan yang konyol. Jika alasannya urgent tentu saja bisa dimaklumi. Nah ini, karena kekonyolan dan sedang merasa malas dia sampai meninggalkan janjinya itu. Bukankah dia bisa dikatakan orang yang tak amanah.
"Anda sudah faham, kan?" ucap Reynand tak meneruskan memojokkan Saudaranya itu.
"Sekarang hukumannya, kamu angkat kedua Kaki kamu," lanjut Reynand terlihat santai. Dia menyandarkan punggungnya sembari memainkan Handphone.
"Abang, yang benar saja. Saya tidak bisa ngambang," sahut Keynand frustrasi. Kenapa hukumannya tidak pernah berubah. Sedari kecil hingga kepala tiga dan memiliki anak pula, hukumannya selalu seperti ini. Sungguh terlalu!
"Seperti tidak pernah dihukum saja, lakukan?" ucap Reynand tegas.
Keynand dengan hati dongkol, dia menaikkan satu Kaki dan memegang kedua Telinga seperti yang selalu di minta oleh Abangnya itu jika dia melakukan kesalahan.
"Jangan polos begitu? tangannya disilang? masak kamu enggak mengerti?" ucap Reynand melihat Keynand tak melakukannya dengan benar.
"Makanya, Abang contohkan yang benar, dong!" sahut Keynand tersenyum geli melihat Reynand yang melotot. Saat Reynand asyik menghukum Keynand, handphone yang dimainkannya berbunyi. Dia tersenyum mendapati panggilan itu dari Lika.
"My Wife, Honey Babby Sweety. How are you? aku merindukanmu, sayang," ucap Reynand terdengar manis dan manja.
"Hueeeeks." Keynand berpura-pura muntah mendengarkan kenarsisan yang diperdengarkan sepasang Suami Isteri itu.
"Angkat yang bener Kakinya," ucap Reynand mengingatkan.
("So Sweet, I Miss You to. Aku juga sangat, sangat, sangat merindukanmu My Husband.")
("Apa yang terjadi, Mas?")
("Ini, saya lagi menghukum anak nakal suka mencuri waktu, Ka!")
("Tak kirain anak nakal suka mencuri Mentimun. Hahahaha.")
("Lika, jangan mengingatkanku saat pertama kali kita membahas Mentimun bergelantungan. Jadi terombing ambing Mentimun milikmu ini. Hem, pingin segera dinikmati olehmu.")
"Mas, aku malu. Maluku sekebon."
"Hahahaha,"
__ADS_1
"Pasti sekarang wajahmu sedang merah merona. Aku gemes sayang, tunggu aku ya? Sebentar lagi hukuman untuk Keynand diperpanjang."
"Hueeeks."
"Dasar lebay, mentang-mentang saya Duda terus seenaknya manas-manasin Duda tak tersalurkan. Sakit hati saya," sahut Keynand kesal. Dia melangkah ke arah Sofa lalu merebahkan tubuhnya di sana.
("Lika, anak bandel enggak mau nurut. Mas urus dulu, I Love You My Wife.")
("I Love You to My Husband.")
"Kenapa Telinga jadi bermasalah mendengar mereka. Sepertinya saya mau ke Dokter THT untuk membersihkan kata-kata lebay yang terlanjur nyangkut," ucap Keynand kesal.
"Siapa yang suruh kamu beristirahat. Apa hukumannya ingin di tambah dengan menulis seribu kalimat," ucap Reynand mempelototi Direktur bandel itu.
"Astaghfirullah, saya disuruh nulis seribu kalimat. Bisa Keriting tangan saya Bang. Ini saja Telinga sama Kaki sudah Pegel, eh disuruh pula menulis seribu kalimat. Kok Abang tega banget sih? kalah-kalah Kekasihnya Meggi Z dalam lirik lagu." Keynand menggerutu sembari menyebut nama salah satu Penyanyi Dangdut terkenal.
Reynand melongo mendengarkan apa yang diucapkan Adiknya itu. Sejak kapan Keynand mengetahui nama Penyanyi dan lirik lagu pula. Bukannya dia tidak suka musik ya? pertanyaan itu bermunculan dalam benak Reynand.
"Kalau tangannya Keriting tinggal di catok. Itu kok dibikin kerukut," sahut Reynand kemudian. Dia terkekeh melihat muka Keynand yang tak sedap dipandang. Biasanya mengerjain orang, kini giliran dikerjain oleh Abangnya sendiri.
"Kenapa enggak sekalian suruh saya mengecat tembok Hotel Ardiaz," lanjut Keynand sebal.
"Akan saya lakukan," ucap Reynand serius. Dia kemudian menelpon Fitri untuk memintanya menghadap.
"Ada Direktur yang bersedia mengecat ulang seluruh gedung Hotel Ardiaz tanpa bantuan siapapun. Sukarelawan itu adalah Direktur Keynand Putra Ardiaz. Sekarang buat Dokumen pengerjaannya. Berikan waktu satu bulan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kamu mengerti Fitri." Reynand berucap dengan tegas merealisasikan keinginan dari Keynand.
"Siap delapan enam, apa ada hal yang lainnya?" tanya Fitri serius.
"Untuk sementara tidak ada. Kerjakan saja yang itu dulu, kau tahu apa yang saya inginkan," sahut Reynand datar.
"Baik Abang Bos."
"Kapan kamu mulai cuti? setelah ini ambillah cuti. Saya kagak tega melihat kamu kesana kemari dengan membawa perut sebesar itu. Kamu pasti sangat kelelahan. Saya membayangkan bagaimana rupa Lika saat menanggung kehamilan sendiri tanpa kehadiran saya. Dia mengalami masa sulit terus Putri saya harus lahir dengan hanya seberat 1,8 kg saja. Lika mengalami koma dan Bayiku harus dirawat karena air ketuban masuk ke paru-paru. Kamu dan Keynand tahu hal itu dan saya melewatkannya." Reynand mengingat apa yang dialami Isteri dan anaknya melalui cerita. Dan dia tidak merasakan secara langsung, bagaimana perjuangan Isterinya lima tahun yang lalu. Saat itu dia mengalami kecelakaan pesawat dan berjuang untuk selamat dari ganasnya lautan hingga dia terdampar. Beruntungnya Reynand karena Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk hidup. Meskipun dia harus berjuang untuk sembuh dan kembali selama lima tahun lamanya. Kini kebersamaan itu tidak ingin dia sia-siakan. Dia ingin membahagiakan dua Wanita berharganya Lika dan Renia Azzahra Hasan.
"Terima kasih Abang Boss, saya juga sudah letih menerima keisengan dari Pak Boss. Pak Boss sangat tega dengan saya, dia selalu menjahili dan membuat saya terkaget setiap hari." Fitri mengadukan keusilan Keynand selama ini. Dia memaklumi dan sudah terbiasa dengan Pak Bossnya itu. Hanya saja karena kehamilannya membuatnya sensitif dan cepat lelah.
"Keynand jalankan apa yang kita bicarakan tadi setelah itu biarkan Fitri mengambil cutinya," ucap Reynand memutuskan.
"Abang, yang bener saja. Saya tadi tidak serius, kenapa Abang menjadikan ucapan saya menjadi seserius ini. Yang benar saja, bisa terjun bebas pamor seorang Keynand. Mau ditaruh dimana muka saya Bang. Ini sangat tidak lucu!" Keynand protes.
"Bukankah tadi kamu yang minta. Saya hanya menuruti permintaan kamu saja. Lelaki yang dipertanggung jawabkan adalah ucapannya. Ini juga bagian hukuman untuk kamu. Terima saja dengan berlapang dada." Reynand menyahuti sembari tersenyum tipis. Dia berpamitan untuk menjemput Putrinya di Sekolah. Reynand juga berpesan kepada Fitri untuk segera mengurus keperluan Keynand.
"Muka kamu tetap ditaruh di depan. Memangnya bisa di taruh di samping, yang ada malah kalian susah untuk berkoordinasi." Reynand masih sempat menjawab pertanyaan Adiknya itu dengan ledekan. Mendengar hal itu membuat Keynand ingin menenggelamkan Cat yang ada di seluruh dunia sehingga tidak bisa dipergunakan lagi. Jika cat tidak ada maka terbebas dari hukuman itu. Setelah itu akan menutup pabriknya agar tidak memproduksi lagi. Idenya sungguh briliyan bukan?. Hal konyol itu melintas begitu saja dalam Otak Duda tampan itu.
__ADS_1
"Ya Tuhan, dia itu benar-benar Abang saya atau Nipon, sih? kok bisa setega gitu pada Direktur Hotel Ardiaz." Keynand menggerutu.
"Pak Boss harus sabar, orang sabar disayang Tuhan. Kalau sudah disayang pasti secepatnya akan dipertemukan dengan jodoh. Nah kesempatan Pak Boss mencari jodoh, nih!" ucap Fitri sepeninggalnya Reynand.
"Apa maksud kamu Fitri? apa hubungan dengan hukuman saya dengan ajang mencari jodoh," ucap Keynand tak menangkap makna yang diinginkan Kakak Kandungnya itu.
"Memangnya Abang Reynand setega itu. Dia hanya menggertak Pak Boss saja. Lagipula Hotel Ardiaz memang mau di cat ulang agar lebih mentereng dan berwarna. Maksud dari Abang Reynand itu agar Pak Boss menyamar jadi Tukang Cat untuk menemukan jodoh yang menerima Pak Boss apa adanya. Selama ini para Gadis mengejar Pak Boss karena Pak Boss Direktur Hotel Ardiaz, sudah begitu tampan lagi. Kesempatan untuk mengetahui hati seorang Gadis. Gunakan waktu sebaik mungkin." Fitri menerangkan keinginan dari Abang Bossnya itu yang sudah mereka bicarakan berempat.
Keynand membola dan bibirnya susah untuk dirapatkan. Dia tidak menyangka sejauh ini keluarga memperhatikan dirinya.
"Okay saya terima tantangan dari Abang Keynand. Tapi saya akan menyamar di Hotel Ardiaz yang ada di Mentaram. Saya dengar disana terjadi kekacauan. Saya ingin menendang para Kecoak yang tak tahu malu itu." Keynand berucap. Dia menyetujui apapun yang direncanakan oleh Pemilik Hotel Ardiaz itu.
***
Malam harinya, Duda tampan itu menelusuri tepi Pantai. Dia mengenang kebersamaannya dengan mendiang Isterinya. Mereka berdua sangat suka berjalan-jalan di tepi Pantai pada malam hari apalagi saat malam Purnama.
Keynand teringat bagaimana perjuangannya untuk sembuh dari keterikatannya dengan barang haram itu.
"Berikan itu Ga, aku menginginkannya," ucap Keynand yang berusaha merebut sesuatu yang dirampas dari tangannya.
Gadis yang dicintainya itu kini sudah tahu keadaannya yang oleng. Keynand tak menyangka Ega mempergoki dirinya sedang menikmati barang haram itu.
"Tidak Mas, tidak akan aku berikan. Barang ini yang telah membuat Mas seperti ini. Aku tidak akan membiarkan Mas Keynand mati sia-sia. Apa Mas menginginkan Api melahab tubuh Mas, silahkan lakukan. Tapi kita berjanji untuk bersama-sama berada di jalan yang Tuhan tunjukkan. Jalan itu menuju ke Syurga, aku ingin itu." Ega berusaha menyadarkan Lelaki yang telah mempersuntingnya. Dia menatapnya lekat penuh pengharapan agar dia mau melepaskan diri dari jeratan barang haram itu. Hanya Keynand sendiri yang bisa melakukannya.
"Berikan Ga, aku enggak kuat," lirih Keynand. Keynand berusaha mengendalikan tubuhnya yang meminta itu.
Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya. Dia menaruhnya pada Asbak lalu membakarnya.
"Egaaa, jangaaaan."
Keynand berusaha untuk mengambilnya tapi Gadis itu memeluk itu dengan erat. Dia memberanikan diri untuk menjadikan tubuhnya tameng.
"Honey, jangan lakukan ini. Honey pasti sembuh. Honey pasti sembuh. Honey harus kuat, jangan terpedaya oleh kenikmatan sesaat. Ingat, perjuangan Abang Reynand untuk membebaskan Mas dari ketergantungan ini. Dia pasti akan kecewa di alam Barzah." Ega berusaha menenangkan Calon Suaminya itu. Dia memeluk erat tubuh yang sudah mulai mengeluarkan keringat dengan detak jantung terdengar keras di telinga Gadis itu.
"Mas bertahan ya? aku mencintai Mas Keynand dan pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi. Kita bersama-sama meraih kebahagiaan. Mas Keynand sudah berjanji akan menjadi pribadi yang baik. Mas cinta sama aku, kan?" Ega berucap, dia memandang Keynand dengan tatapan penuh cinta. Dia berusaha memberikan kekuatan untuknya. Terlihat wajah Keynand pucat pasi dengan bibir kering dan mata terlihat sayu.
Lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya. Dia memeluk tubuh Wanitanya dengan sangat erat untuk mengendalikan tubuhnya yang tak berdaya
"Istighfar Honey," ucap Ega. Dia berusaha menuntun Lelaki itu agar bisa mengucapkannya. Ega dengan sabar menemani dan membacakan Calon Suaminya ayat-ayat Suci Alquran agar hati Lelaki itu tenang.
"Sebentar lagi Mbak Lika, Mas Adly dan Mbak Fitri akan menjemput kita dan membawa Mas Keynand ke Pesantren."
Bersambung.
__ADS_1