
Gelak tawa semakin membahana di halaman belakang. Terlihat anak-anak asyik bermain dan di ikuti para paruh baya, dewasa dan para remaja. Raski yang merupakan pangeran hari ini berusaha menggigit Kerupuk yang sengaja di ombang ambingkan oleh Hamiz. Keisengan itu membuat Raski kesulitan menggigit Kerupuk miliknya.
Hahahaha
Hamiz tertawa lebar menyaksikan Raski yang tidak menyerah untuk menyelesaikan permainan. Meskipun dia menatap Hamiz dengan tatapan permusuhan, lantas tak membuat Putra dari Keynand itu ngambek lalu meninggalkan permainan.
"Eit enggak dapet."
Hamiz lagi-lagi mengganggu Raski yang hendak menggigit Kerupuknya.
Raski mendelik dan kembali berusaha menggigit Kerupuk itu, sedangkan Hamiz kembali menggoyangkan tali agar Kerupuk tersebut bergerak ke sana kemari.
"Hamiiiiiz, apa yang kamu lakukan? Mengganggu saja." Marisa menghampiri tanpa berpikir lagi langsung menjewer Telinga Pemuda usil itu.
"Aduh sakit Mom, kenapa Telinga ini di jewer, sih? Kebiasaan Mommy yang harus dihilangkan."
Hamiz mengaduh merasakan rasa sakit di Telinganya yang di jewer oleh Marisa.
"Siapa suruh usil," sahut Marisa tidak melepaskan hukumannya.
"Kalau enggak usil, bukan Hamiz, dong."
"Nah sama, kalau kagak jewer bukan Mommy Marisa, dong!"
Marisa menyahuti tidak mau kalah. Mereka yang ada di sana tidak bisa lagi menahan tawanya terlebih Raski yang mendapatkan keadilan dari tangan jahil Pamannya itu.
"Duh ada Qia lagi, bikin wibawa terjun bebas saja," guman Hamiz saat menyadari Qia ada di tengah-tengah mereka.
Marisa tentu saja mendengarkan keluhan Hamiz. Seketika tawanya meledak menyaksikan rasa malu Pemuda itu.
"Mom, lepasin, don?" Pinta Hamiz sudah tidak bisa lagi menyembunyikan malunya. Pasalnya dia diperlakukan seperti bocah SD yang tidak lepas dari jeweran.
"Memangnya kenapa?"
"Itu ada Qia, malu di saksikan oleh Mahasiswi sendiri. Mau di taruh di mana muka ini?" Bisik Hamiz sembari menyembunyikan wajah dengan kedua tangannya, sesekali dia merenggangkan jarinya untuk mengintip Qia yang menyunggingkan senyum manisnya.
Tingkah Hamiz yang lucu membuat orang yang melihatnya tertawa lebar tidak terkecuali Qia.
Raski baru sadar atas keberadaan Qia saat pertandingan Kerupuk berakhir dan di menangkan oleh Si gembul Athaya.
"Yeeee Thaya menang," teriaknya kegirangan. Raski tidak peduli dengan euforia Athaya karena kehadiran Qia lebih membahagiakannya.
"Mama Qia," sambut Raski dengan sumringah.
Qia tersenyum lalu mensejajarkan tubuhnya demi menyambut Raski dalam pelukannya.
"Terima kasih karena Mama Qia mau datang," ucap Raski senang. Ada rasa haru terdengar dalam nada suaranya yang serak.
"Sama-sama Dadek, Barokallah fii umrik, ya? Semoga menjadi anak yang soleh dan menjadi kebanggaan Ibu, Ayah, Umi dan Daddy serta keluarga, aamiin." Qia mendoakan sekaligus mengutarakan harapannya yang di amini oleh semua yang mendengarkannya.
Tidak terkecuali Keynand yang kini telah menyandang Duda untuk kedua kalinya. Ingin sekali melamar Qia untuk ketiga kalinya di acara Putranya ini, tapi di tahannya keinginan itu. Tidak etis rasanya. Dia baru saja mentalak Julaekha, tidak sopan rasanya langsung melamar Gadis lain. Dia masih ada hati untuk menjaga perasaan Julaekha yang ternyata masih terlihat di tengah-tengah mereka.
"Sudah jewernya dan terharunya, sekarang kita main Lari karung. Judulnya, Daddy and Mommy hot."
__ADS_1
Adly tiba-tiba menyela lalu mengumunkan permainan selanjutnya.
Semua yang mendengarkan bersama-sama menuju ke arena permainan yang sudah dipersiapkan.
"Jadi aturannya adalah yang boleh bermain adalah Daddy atau Mommy bersama dengan anaknya. Permainannya berbentuk estafet," ucap Adly menjelaskan.
"Amaq Kake, estafet itu seperti apa?" tanya salah satu anak yang tidak mengerti apa yang di terangkan oleh Adly.
"Begini, estafet itu Daddy terlebih dulu melakukan permainan berlari dari star atau awal lalu menuju tempat Karung Goni di letak barulah Karung Goni di gunakan terus berlari menggunakan Karung Goni menuju tempat anak-anak menunggu, setelah itu barulah di gantikan oleh anaknya masing-masing menuju ke titik awal. Apa mengerti?"
Adly menerangkan dengan sejelas-jelasnya tidak lupa memberikan contoh.
Setelah mereka mengerti dengan suka cita para Daddy atau Mommy dan anak-anak bersiap-siap mengikuti permainan.
"Peserta pertama, Raski dan Mama Qia. Peserta kedua Renia dan Daddy Keynand, peserta ketiga Athaya dan Daddy Adly."
Hamiz memanggil peserta lalu meminta mereka bersiap-siap.
"Mama Qia, tidak cocok. Seharusnya aku yang di panggil Mama bukan Wanita munafik itu. Lihat saja nanti, akan aku buat Keynand membenci Wanita itu," guman Julaekha dengan emosi yang sudah menetap di ubun-ubun.
"Peletnya kuat juga membuat Raski lengket pada tuh cewek, benar-benar menyebalkan," lanjutnya dengan di akhiri cebikan yang terlihat mengerikan.
"Peletnya pakai kasih sayang yang tulus penuh dengan cinta, bukan pakai jampi-jampi yang menyesatkan karena jampi-jampi itu sirik," ucap seorang Wanita menyahuti gerutuan Julaekha yang terdengar jelas di Telinga Wanita tersebut.
"Siapa kamu, jangan ikut campur urusan orang. Pergi sana," sahut Julaekha dengan nada kasar. Dia menatap Wanita itu dengan tatapan sinis dan memindainya dari atas ke bawah dengan sorot merendahkan.
"Seharusnya saya yang bertanya. Tadi kamu tanya siapa kamu, nah saya akan menjawabnya dengan suka rela. Kenalkan saya Mae, Bestienya Lika dan teman karibnya Reynand. Sudah jelas, kan? Nah sekarang saya bertanya, memangnya siapa kamu?" Wanita itu menjawab sekaligus bertanya dengan diiringi senyum mengejek. Mae sangat tahu bahwa lawan bicaranya adalah Julaekha, Isteri Keynand yang baru saja di talaknya.
"Aku Julaekha Syarifah, Isteri dari Keynand Putra Ardiaz," jawabnya dengan jumawa. Senyum sinisnya kembali tersungging menyaksikan raut wajah Wanita bernama Mae itu.
"Wow jadi kamu Isteri dari Abang Keynand. Ternyata Isteri Abang Keynand cantik juga dan bikin saya terkejut, tapi bo'ong," sahut Maemunah serius dengan ekspresi dibuat sepanik mungkin.
"Kamuuu!?!"
"Iya. Kamu memang Isteri dari Abang Keynand, tapi beberapa jam lalu sebelum di talak. Kasiaaaaan. Hahahahaha."
Maemunah mengejek Wanita di hadapan dengan kata-kata dan tawa membahana.
"Kamu menertawakan Isteri dari Keynand. Sungguh tidak sopan dan lancang. Aku itu masih tetap Isteri Keynand sampai kapan pun. Perceraian itu batal karena aku tidak setuju dan Keynand tidak sanggup memenuhi syarat perceraian yang aku ajukan, So talak itu batal, kamu faham enggak, sih? bataaal!" sahut Julaekha dengan lantang menegaskan bahwa dirinya masih tetap Isteri seorang Keynand.
"Dapat ilmu dari mana? Bodoh banget jadi orang. Secara hukum agama ataupun Negara kalau Suami sudah mengucapkan talak maka jatuhlah talak itu. Itu artinya
Hubungan Suami isteri itu sudah berakhir. Talak itu tidak bisa di batalkan talak ya tetap talak. Akad nikah yang sudah mengucapkan ijab kabul pun tidak bisa di batalkan kecuali ternyata mereka berdua saudara kandung atau saudara persusuan dan baru di ketahui saat di sahkan oleh saksi. Dan pernikahan juga bisa di batalkan jika ternyata Wanita belum di talak oleh Suaminya alias Poliandri. Dalam agama poliandri itu tidak diperbolehkan, ngerti enggak, sih? Nah ini seenaknya bilang talak batal karena tidak ingin diceraikan dan Abang Keynand tidak sanggup memenuhi syarat perceraian, wong edan memang." Panjang lebar Maemunah menjelaskan, tapi sepertinya Julaekha tidak peduli. Dia tetap berpegang teguh pada ambisi dan nafsunya.
"Bisa, sih! Tetap menjadi Isteri Abang Keynand, dengan cara di rujuk bukan di batal talaknya. Namun kayaknya enggak mungkin, deh! Kamu tetap jadi Isteri Abang Keynand sebab Abang Keynand mana mau merujuk kamu. Mustahil itu. Mana mau Abang Keynand hidup bersama Wanita tidak waras. Hahahaha."
Lagi-lagi mengejek Julaekha dengan di akhiri tawa bahagianya.
"Abang Keynand sedang bahagia sekarang karena terbebas dari Wanita gila. Sepertinya saya harus potong Ayam untuk merayakan kebebasan Abang Keynand," lanjut Maemunan tetap memasang senyum mengejek.
Raut wajah Julaekha terlihat sangat mengenaskan. Masam dan dipenuhi urat-urat tegang dengan wajah memerah terpampang di sana. Tangannya terkepal siap melayangkan bogeman ke arah wajah Maemunah yang tersenyum manis.
"Takuuut! Sebentar lagi mau struk," ucap Maemunah sembari berlalu meninggalkan Julaekha bersama kemarahannya.
__ADS_1
"Awas kamu Wanita jelek. Aku sudah tandai kamu sebagai orang selanjutnya yang akan aku musnahkan," ucap Julaekha geram.
"Sekarang," perintahnya di balik Handphone.
***
Sementara di arena permainan keseruan terjadi di sana. Keynand, Adly dan Qia secara serempak berlari menuju Karung Goni di letakkan lalu dengan cepat ketiganya membuka lalu masuk ke dalam karung Goni kemudian berlari menggunakannya. Terlihat Keynand mulai berlari dengan cara melompat hingga hampir saja terjatuh. Pun begitu juga dengan Adly yang berusaha menjadi yang terdepan. Sementara Qia menjepit ujung karung Goni itu dengan jari kakinya sehingga bisa berlari dengan gampang.
"Waduh susah ternyata," ucap Keynand berusaha bangkit saat pada akhirnya terjatuh. Sedangkan Adly sudah berhasil memberikan Karung Goni itu pada anaknya Athaya di susul oleh Qia. Keduanya kemudian berlari menggunakan Karung Goni itu.
"Daddy, cepetan, dong!" Teriak Renia yang tidak sabaran menunggu Keynand yang berusaha mengejar ketertinggalannya karena terjatuh.
"Bruk."
Athaya yang gemuk tidak berhasil mengejar Raski yang melaju tanpa hambatan. Dia beberapa kali terjatuh dan bangkit lagi menyusul Raski yang kini juga di susul oleh Renia.
"Raskiii. Go Raskiii."
"Go Renia, Go Renia."
"Ayo Athaya semangaaaat."
Terdengar teriakan para mendukung dengan diikuti tawa bahagia.
"Yeee, Dadek Raski pada akhirnya menang," ucap Qia bersorak bahagia di susul Renia yang berada di posisi kedua dan ketiga adalah Athaya. Permainan tetap berlanjut dengan peserta yang lain. Selanjutnya yang menang akan bertanding dengan yang menang untuk mendapatkan juara satu, dua dan tiga.
Raski tetap berhasil melaju menuju final bersama teman-teman yang lain. Hanya saja Athaya, Andreas dan beberapa temannya tidak berhasil menyelesaikan permainan. Mereka gugur dan menjadi penonton untuk menyemangatkan mereka yang masih bertanding.
Keynand mengaku kalah dengan kegesitan Qia dan juga Raski. Mereka berdua sangat kompak layaknya seperti anak dan ibu sesungguhnya.
"Iyaaah, kita kalah Ayah," ucap Andreas lesu mengeluh kepada Reynand yang beristirahat di sampingnya.
"Tidak masalah, yang terpenting kita sudah berusaha. Kalah dan menang dalam permainan itu hal biasa yang terpenting semua dapat hadiaaah," sahut Reynand yang membuat semua anak-anak bersorak bahagia.
"Kok bisa kalah?" ucap Alisa sinis kepada adiknya itu. Reynand menggantikan posisi Alisa karena Wanita itu sedang tidak bersemangat melakukan apapun setelah mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari mantan iparnya, sedangkan Suaminya saat ini tidak bisa hadir berkumpul bersama keluarga karena kesibukannya.
"Sengaja biar Dadek Raski kagak ngambek. Biarlah yang sedang berulang tahun menikmati kebahagiaan, jangan direcokin dengan kekalahannya," jawab Reynand dengan santai
"Alasan, biasanya kamu kagak mau kalah sekarang tumben tidak berhasil?" Alisa masih saja memberondong adiknya itu dan berniat memojokkannya. Kesempatan yang baik ini tidak di sia-siakan untuk becandain Reynand yang selalu angkuh.
"Gue selalu menjadi pemenang karena telah berhasil mengalahkan keegoisan diri ini. Mosok harus bertanding serius, padahal ini hanya seru-seruan, iya toh! Jangan berdebat lagi, waktunya kita bergembira, horeeeee," sahut Reynand di akhiri tawa bahagianya karena berada di tengah anak-anak yang masih asyik bermain.
"Iya, iya."
Alisa kalah lagi jika harus beragumen dengan adiknya itu.
Keduanya ikut larut dalam permainan selanjutnya, bersama Keynand yang tidak lepas dari Sosok Qia yang semakin menarik perhatiannya. Sesekali dia curi-curi pandang dan menikmati tawa Qia yang tidak beranjak dari sisi Raski.
Sementara Julaekha semakin tersulut api amarah. Tangannya terkepal ingin rasanya melayangkan tonjokan ke arah Qia.
Braaak
Bersama kemarahan Julaekha, tiba-tiba datang segerombolan preman masuk ke kediaman Reynand dengan menendang dan menghancurkan barang-barang yang ada di sana.
__ADS_1
"Astaghfirullah. Ada apa ini?" ucap Lika terdengar panik.
Bersambung.