
Sementara itu Keynand memutuskan untuk mempersingkat honeymoonnya. Tentu saja hal itu membuat Julaekha Syarifah murka. Pasalnya dia belum puas menikmati indahnya Kota Paris dan juga masih ingin berburu barang-barang branded lebih banyak lagi semumpung dia ada di Kota pashion itu.
"Sudah cukup, saya tidak akan memenuhi keinginan kamu lagi," ucap Keynand tegas. Selama ini dia selalu menuruti keinginan Julaekha bukan karena dia patuh. Lebih tepatnya Lelaki itu hanya tidak ingin mendengarkan rengekan yang terus-terusan membebani Telinga dan membuatnya sakit Kepala.
"Tapi Mas, ada yang belum saya beli terus juga waktu honeymoon kita tinggal beberapa hari lagi lantas kenapa harus di percepat pulangnya? Belum saja aku puas jalan-jalannya dan menikmati kemesraan bersama Suamiku yang ganteng dan tajir melintir ini, eh sekarang malah disuruh pulang. Apa kamu takut Qia akan mengintip kemesraan dan kebahagiaan kamu dan aku, iya kan?" Ucap Julaekha dengan nada di buat semanja-manja mungkin. Selalu dia mengungkit nama mantan Calon Isteri Keynand di setiap pembicaraannya. Untuk apa? Sengaja untuk membuat Keynand merasa bersalah atau mengingat luka yang ditorehkan Gadis itu karena memberikannya hadiah seorang Julaekha Syarifah. Apa mungkin Julaekha ingin menyaksikan Qia yang semakin terpuruk baru merasa puas.
"Ayo sayang kita perlihatkan pada dunia bahwa seorang Keynand sangat bahagia memiliki Isteri yang sangat cantik, ****, anggun dan cerdas dan pastinya tidak tertandingi," lanjut Julaekha dengan semangatnya. Dia memeluk Keynand dengan mesra. Mencuri ciuman di bibir yang tidak pernah dia dapatkan dari Lelaki yang bergelar Suami itu. Julaekha sengaja mengambil angle yang pas seolah Keynand yang menyentuhnya dan terlihat berhasrat.
Sedangkan Keynand tidak tertarik sama sekali dengan kemanjaan Sang Isteri. Lelaki itu malah berusaha mendorong tubuh Julaekha yang menempel pada tubuhnya. Dia sama sekali merasa tidak nyaman bahkan tidak ada getaran dalam hatinya saat Julaekha berusaha menyentuh bibirnya. Hanya ada amarah yang berusaha di redamnya agar tidak melakukan hal fatal untuk Isterinya itu.
"Kita pulang detik ini," ucap Keynand tegas. Auranya terlihat sangat dingin dan tidak ingin di bantah. Dia berjalan meninggalkan kamar hotel dengan Koper dalam genggaman yang di seret secara kasar.
"Dasar Suami tidak punya hati, awas saja akan aku buat Qia lebih menderita lagi jika kebahagiaan itu tidak kamu berikan kepadaku Keynaaaaand." Julaekha berteriak tidak terima. Dengan terpaksa dia meraih Koper lalu memasukkan barang-barang miliknya.
"Lihat saja, akan aku buat Gadis yang kamu cintai itu kejang-kejang melihat fhoto mesra kita hingga sesak lalu kehilangan nafas terus jiun, deh!"
Julaekha menggerutu sementara tangannya sibuk menaruh barang-barang miliknya ke dalam Koper.
"Gara-gara Qia, aku tidak mendapatkan cinta darimu karena kamu masih memikirkannya. Untuk itu Gadis itu harus aku lenyapkan agar tidak terus-terusan menguasai hatimu Keynand. Jangan salahkan aku jika bertindak jahat karena aku berhak melakukannya. Salahkah saja dirimu jika terjadi sesuatu dengan Gadismu itu."
Julaekha kembali menggerutu. Dia kini sudah selesai berkemas kemudian dengan langkah tak bersemangat dia meninggalkan kamar yang memberikan sejuta kenangan itu. Sebelum benar-benar sampai di hadapan Keynand dia merogoh kantongnya kemudian mengambil Handphone. Dia dengan cepat menghubungi seseorang yang akan memuluskan niatnya yang selama ini terpendam.
("Aku butuh obat yang akan menghancurkan ingatan seseorang.")
Setelah mendapatkan khabar mengembirakan, Julaekha tersenyum penuh dengan rencana. Dia melangkah dengan pasti meskipun ada kekesalan yang bercokol di hatinya.
"Saatnya aku menjalankan rencana selanjutnya. Dan di pastikan kamu akan syock begitu mengetahui siapa aku sebenarnya. Di saat itulah kehancuranmu akan di mulai. Tapi jika kamu bersedia mencintaiku, maka hal itu tidak akan pernah terjadi, Keynand."
Julaekha membatin dengan senyuman tersungging pada bibir merahnya.
Setelah menempuh perjalanan selama 16 Jam dari Bandara Charles de Gaulle pada akhirnya Pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Bandar udara Soetta.
Selanjutnya pasangan Suami Isteri itu memilih untuk beristirahat di Hotel terdekat yang ada di Bandara Soetta sebelum melanjutkan perjalanan menuju pulau Lomboq.
Keynand mengistirahatkan raganya yang benar-benar pegal dan terasa kaku. Pun begitu juga dengan Julaekha yang langsung saja memejamkan mata.
Setelah mereka berdua cukup beristirahat, Keynand bersama Sang Isteri melanjutkan perjalanan menunjuk Lomboq menggunakan jalur udara dengan jarak tempuh lebih kurang 1 jam 55 menit.
__ADS_1
Sesampainya di Bandara Zam, Keynand bersama Wanita cantik di sampingnya melangkah dengan pasti keluar dari bandara. Mereka berdua menuju ke tempat penjemputan. Di sana sudah menunggu salah satu Sopir Hotel Ardiaz yang di minta oleh Keynand untuk menjemputnya.
"Pak langsung ke rumah Abang Reynand saja," ucap Keynand saat mereka berdua sudah berada di dalam Mobil.
"Tidak, kita langsung pulang saja ke rumah Kota Raya," timpal Julaekha tidak mau mengikuti arahan Suaminya.
"Turuti perintah saya Pak, bawa kita ke rumah Abang Reynand," perintah Keynand tanpa mau di bantah.
Sang Sopir mendadak diam karena bingung harus mengikuti perintah kedua majikannya. Tuannya nampak tegas tidak ingin dibantah. Sedangkan Nyonyanya juga terdengar sudah mulai mengancamnya.
"Kenapa Mobilnya belum bergerak, kita langsung pulang ke istana Raya," lanjut Julaekha terdengar lancang.
"Kita ke rumah Abang Reynand, titik."
Keynand kembali memerintah membuat Sang Sopir mendadak ragu untuk menjalankan Kendaraannya.
"Mau apa sih Mas ke rumah Abang Reynand?" Tanya Julaekha dengan nada kesal.
"Saya ingin ketemu Dadek Raski," jawab Keynand datar.
"Hanya ingin bertemu dengan Raski sampai berdebat seperti ini? Mas jangan lebay deh! Baru beberapa hari kamu bertemu dengan Raski dan sekarang kamu ingin bertemu dengannya lagi. Mas bener-bener keterlaluan tidak menghargai keputusan Isteri."
"Aku putuskan untuk pulang dan kamu bisa ketemu Raski kapan-kapan. Aku capek, Mas. Seharusnya Mas menghargai keputusanku dan satu hal lagi aku Isteri Mas, kebahagiaan Isteri merupakan tanggung jawab Mas. Jika Mas tetap akan keukeuh pergi ke rumah Abang Reynand itu sama artinya Mas telah menyakiti dan melukai hati Isteri Mas ini. Itu sama artinya Mas telah lalai dari janji Mas membahagiakan aku."
Julaekha kembali mengomel dengan wajah masam. Julaekha merasakan tubuhnya lelah karena telah melakukan perjalanan jauh, apalagi dia hanya beristirahat sebentar membuat emosinya sudah mencapai ubun-ubun, ditambah saat mendengarkan keinginan Keynand membuatnya kian meradang
"Saya tetap ke rumah Abang Reynand, jika kamu tidak mau ikut terserah kamu," ucap Keynand dingin. Dia langsung keluar dari Mobil tanpa menghiraukan teriakan Julaekha yang memintanya untuk kembali. Keynand masih menangkap kata-kata pedas yang menghujam pendengarannya.
"Kamu jangan egois, Keynand. Aku butuh perhatianmu juga bukan hanya memberikan perhatian kepada Raski. Aku itu Isterimu dan aku lebih berhak mendapatkan kebahagiaan dari pada Raski."
Julaekha benar-benar marah karena Keynand mengabaikan keinginannya dan tidak peduli sama sekali dengan dirinya.
"Shiiiit. Lihat saja Keynand, bukan hanya Qia yang akan aku buat menderita tapi anakmu juga akan merasakannya."
Julaekha membatin dengan memperlihatkan seringai jahatnya.
Sementara Sang Sopir yang melihat senyuman itu bergidik ngeri. Kengerian yang dirasakannya tidak bertahan hanya itu saja, dia bertambah ngeri saat melihat wajah Nyonyanya. Dan juga tangannya gemetaran mendengarkan kata-kata kasar dari Wanita berparas lembut itu.
__ADS_1
"Cantik tapi mengerikan. Apa wajah lembutnya hanya tipuan saja untuk menutupi wajah buruk rupanya," batin Sang Sopir berusaha menenangkan degub Jantungnya yang tak baik-baik saja.
"Jalan Pak, kenapa malah bengong!" bentak Julaekha membuat Sang Sopir terkaget.
Mobil bergerak bersamaan dengan Julaekha yang menghubungi seseorang dengan penuh kemesraan dan sikap manja.
(Saya pikir kamu sudah lupa setelah menjadi Nyonya Keynand Putra Ardiaz. Apa kamu sudah menguras hartanya?)
Julaekha tertawa lepas mendengarkan kalimat frontal itu.
(Tentu saja aku tidak lupa denganmu, Riz. Kamu adalah Sahabatku, orang yang selama ini selalu berhasil memuluskan segala keinginanku)
(Saya jadi tersanjung mendengarkannya. Oh ya Jul, udah ya, aku tidak bisa berlama-lama mengobrol dengan seorang Wanita takutnya Isteriku cemburu. Kamu tahu sendiri seorang Wanita tidak sanggup untuk menahan rasa cemburu meskipun hanya sesaat. Jadi, saya tidak ingin melihat kecemburuan itu nampak di wajah Isteriku meskipun hanya sesaat itu. Bisa jadi sesaat itu akan mendinginkan Ranjang kita. Tentu saya tidak ingin itu terjadi)
Julaekha memutar mata malas mendengarkan kalimat frontal itu. Sejujurnya kalimat itu sangat menohok hatinya yang tidak mendapatkan kehangatan dari Suaminya.
(Riz, jika Isterimu terlalu cemburu, aku bersedia menggantikannya agar kamu tetap merasakan kehangatan itu. Bagaimana apa kamu memahami maksudku, sekarang kamu di mana?)
Seseorang yang di panggil Riz itu terdiam cukup lama. Hanya helaan nafas yang terdengar di Telinga Julaekha yang membuat tubuh Wanita itu meremang)
(Aku berada di hatimu Jul, selama ini aku tidak kemana-mana)
(Ah Riz, kamu dari dulu tidak berubah dan selalu manis kepadaku. Aku serius, kamu sekarang di mana? Aku ingin bertemu, sejujurnya aku sangat kangen)
(Hahahaha, tidak terbersitkah olehmu aku juga merasakan hal sama, malah dada ini terasa sesak karena terlalu memikirkanmu. Namun pada kenyataannya kita tidak bisa bersua untuk melabuhkan rasa rindu ini meskipun inginku sangat menggebu. Ah sayang aku sangat tersiksa, jadi jangan menyiksaku dengan kehadiranmu di sini yang hanya berupa angan)
(Preeeeet, lebai banget, sih kamu Riz. Aku hanya ingin memberikan oleh-oleh dari Paris. Jadi kita ketemu di mana? Atau kamu serlok aja alamat kamu, nanti aku kirim oleh-olehnya, bagaimana?)
Seseorang di sana memberikan alamat kepada Julaekha. Setelah mendapatkan itu Julaekha mengakhiri panggilan dengan senyum mengembang.
"Kena kamu." Julaekha membatin dengan segudang rencana di Kepalanya.
Sementara seseorang di sana tertawa lebar. Dia menaruh Handphone itu di atas Meja. Dengan agresif dia menyergap tubuh molek seorang Wanita yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Sepertinya Mas sedang bahagia?" tanya Sang Wanita.
"Hum, iya. Mereka sudah masuk dalam perangkap kita. Langkah selanjutnya tidak menunggu lama kita akan mulai bergerak," jawab Lelaki itu dengan rona bahagia di wajah. Dia segera memanjakan Wanita yang ada dalam dekapannya dengan cumbu rayu dan belaian yang membuat mereka berdua larut dalam kenikmatan.
__ADS_1
***
Bersambung.