
"Awas masuk Lalat nanti. Sama Lalat pun aku tidak mau berbagi," ucap Rizqy serius.
Habibah merapatkan bibirnya saat mendengarkan apa yang diucapkan oleh Pria itu.
"Apa ini bagian dari taruhan, Mas?" tanya Habibah tak ingin secepat itu mempercayai penjelasan Rizqy.
Rizqy menghela nafas berat. Dia sadar sangat sulit mendapatkan kepercayaan dan rasa nyaman yang pernah dirasakan Habibah dulu.
Pria itu menatap Habibah sangat lekat. Dia berusaha meyakinkannya dengan apa yang terjadi sebenarnya.
"Bibah, percaya sama Mas. Ini tidak lagi berhubungan dengan taruhan. Mas ingin melanjutkan kebersamaan kita yang dulu. Mas ingin melanjutkan pernikahan kita yang tertunda begitu lamanya," ucap Rizqy serius.
"Bagaimana caranya aku harus mempercayai Mas Rizqy?" tanya Habibah meragu.
"Mas tidak tahu bagaimana caranya. Mas hanya tahu bahwa Mas mencintai kamu Habibah. Mas ingin melanjutkan impian kita dulu. Mas hanya ingin bersama kamu dan selalu bersama. Mas minta maaf jika kesalahan dulu membuat kamu sesakit ini. Mas salah Bibah tapi apa yang bisa Mas lakukan jika kamu dalam bahaya. Dion tahu Mas menyukai kamu dan dia tahu juga Mas tidak berani menyentuh seorang Wanita. Sebab itulah Dion menantang Mas. Jika Mas berhasil mengambil kegadisan kamu maka dia akan melepaskan kamu dan tidak mengganggu kamu lagi. Dion tidak pernah sudi menyentuh Gadis yang tak perawan lagi. Mengenai Vespa itu, Mas tidak pernah menjadikannya sebagai imbalan dari taruhan itu. Dia melakukannya hanya untuk memojokkan Mas. Jika ternyata kesepakatan kita dulu di ketahui orang lain maka Mas lah pihak yang paling bersalah dan terlihat buruk. Dion melakukan itu agar dirinya selalu bersih dan Mas yang paling kotor. Dia licik Bibah, bahkan dia pernah menaruh obat perangsang dalam minuman kamu. Apa kamu ingat saat kita tugas di Pulau Samawa. Saat Dion memberikan kamu minuman dan ingat saat itu juga Minuman itu terjatuh. Mas sengaja menabrakkan diri agar minuman itu tumpah dan kamu tidak jadi meminumnya. Malam itu Mas langsung bertengkar hebat dengan Dion. Mas menegaskan kepadanya agar dia tidak menganggu kamu lagi. Mas mengancamnya tapi tidak berefek apapun bagi Dion. Dia akhirnya menawarkan taruhan itu untuk membuktikan bahwa Mas serius dan menantang Mas untuk melakukan perbuatan yang tak halal itu. Akhirnya Mas menyetujuinya. Mas hanya berani mencium kamu. Itu adalah ciuman pertama Mas. Berawal hanya ingin mengambil bukti tapi rasanya sangat manis. Mas terhanyut dan sangat menikmatinya. Mas ketagihan Bibah, karena itulah tanpa berpikir lagi Mas langsung melamar kamu pagi itu. Mas tidak ingin terhanyut dalam hubungan yang tak halal. Mas ingin segera menikahi kamu agar kita bisa menikmati kebersamaan yang di ridhoi Tuhan."
Rizqy menjelaskan dengan sejelasnya. Habibah menatap manik Rizqy yang jernih sangat jernih. Tidak tercemar dengan kebohongan. Sejenak pandangan mereka bertemu. Habibah menyadari bahwa apa yang diutarakan Rizqy sangat jujur. Dia juga ingat malam itu, saat tiba-tiba Dion berbaik hati menawarkan minuman orange jus botolan. Saat itu Habibah sangat haus dan juga kelelahan karena seharian bekerja di Lapangan. Tanpa curiga, Habibah mengambil begitu saja. Saat itu dia menyadari segel tutup sudah longgar berarti sudah dibuka terlebih dahulu. Habibah berpikir positif bahwa Pak Dion berbaik hati untuk membantu membukanya.
"Bibah, percaya sama Mas, Mas tidak pernah membohongi kamu dan Mas tidak bermaksud menjadikan kamu bahan taruhan. Maafkan Mas jika hal itu membuat kamu sesakit ini." Rizqy berusaha meyakinkan hati Habibah. Dia tidak mau menyerah dan menyia-nyiakan kesempatan saat ini.
Sejenak keheningan mulai terasa di antara mereka. Rizqy tidak bisa berucap apapun lagi untuk meyakinkan hati Habibah. Dia memilih diam dan membiarkan Habibah untuk merenungi.
"Mas Rizqy? apa Mas serius?" tanya Habibah kemudian setelah beberapa menit mereka terdiam.
"Memangnya Mas sedang becanda?" tanya Rizqy terlihat berbinar. Ada secercah harapan dibalik pertanyaan itu.
"Iya enggak juga sih? tapi Mas suka ngerjain orang," ucap Habibah lagi.
"Dalam masalah hati, masak Mas Rizqy becanda. Mas serius kok! bagaimana caranya membuktikannya karena malam ini KUA sudah nutup." Rizqy menjawab dengan keseriusan yang tak meragu.
"Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa menolak. Kalaupun menolak Mas Rizqy pasti akan memaksa dan menyeret aku ke depan Penghulu," sahut Habibah pasrah.
"Kamu tahu itu jadi jangan pernah membantah. Mas memaksa bukan karena ingin berkehendak tapi lebih disebabkan oleh rasa yang sudah bersambut. Jika kamu tak mencintai Mas lagi, Mas bisa apa? namun Mas merasa cinta itu masih ada di hati kamu, iya kan?" ucap Rizqy serius. Mereka berdua berbicara dari hati ke hati. Mengutarakan setiap kata yang ingin disampaikan hati. Menyingkap kebenaran yang tersembunyi di balik keraguan. Benar cinta itu masih ada untuk Rizqy dan terasa di hatinya.
"Iya, aku memberikan kesempatan untuk Mas Rizqy. Aku tidak bisa membohongi perasaan ini," ucap Habibah meyakinkan diri. Dia tidak ingin membuat hatinya merana karena tidak bisa bersama Rizqy. Selama lima tahun ini dia cukup menderita dengan perasaannya. Selama lima tahun ini dia cukup merana dengan rindunya. Dan selama lima tahun ini juga Habibah sangat tersiksa dengan kesendiriannya. Dia ingin kebersamaan itu kembali. Bukankah rasa sakit itu hanya bisa terobati oleh Pria yang menimbulkannya. Habibah ingin memberikan kesempatan kepada Pria ini. Lagipula kesalahan yang Rizqy buat hanya demi melindunginya bukan karena penghianatan yang membuat cinta itu pupus dan hilang jejak.
"Benarkah? Mas bahagia mendengarkannya. Habibah, jangan beranggapan Mas memaksamu. Mas hanya mengetahui jalan kita masih sama bukan berbeda. Mas menyadari hati kita masih bertautan bukan terurai. Satu kata yang membantah perpisahan yaitu ingin. Kamu ingin bersama Mas, kan?" Rizqy berucap penuh keyakinan dan menelusupkan harapan.
Habibah mendengarkan perkataan Rizqy mengangguk mengakui. Dia tidak ingin memungkiri hati. Nyatanya cinta itu masih tercetak atas nama Pria itu.
"Jika Mas ingin, mari kita bersama," ucap Habibah tulus. Netranya menampilkan binar cinta yang selalu untuk Pria ini.
Rizqy, Pria itu tidak tahu seperti apa meluapkan kegembiraan. Dia ingin memeluk Gadisnya namun urung.
"Mas akan menahan untuk tidak menyentuh kamu lagi sebelum kamu halal untuk Mas. Maaf tadi Mas menindih tubuh kamu, itu Mas lakukan agar kamu tidak melarikan diri," ucap Rizqy. Dia memeluk bantal guling untuk meluapkan kegembiraan.
"Ah lupa, Mas harus menghubungi seorang teman yang akan mengurus pernikahan kita esok hari," ucap Rizqy bersemangat.
Dia berpindah ke ranjang yang satunya kemudian merebahkan diri. Di kamar ada dua ranjang sehingga Habibah dan Rizqy menempati ranjang masing-masing agar raga itu tidak bersentuhan lagi.
(Assalamualaikum. Fikri, saya meminta kamu mengurus pernikahan besok pagi tanpa ditunda-tunda)
(What? tanpa isyarat apapun kok langsung gempa saja)
(Gempa lokal kali Bro. Disini tidak ada gempa tapi Goyangan disana getarannya terasa hingga di Telinga. Cabutlah dulu tongkat kamu, jangan mencemarkan telinga suciku ini)
(Hahahaha, lagian kamu gangguin disaat lagi enak-enaknya)
Habibah yang mendengarkan suara berisik di seberang membuatnya geli sekaligus malu. Dia tidak menyangka Rizqy menghubungi temannya itu dalam waktu yang tidak tepat. Dia mendengarkan suara tabu dari arah Seberang karena Rizqy menggunakan Speaker saat menghubungi temannya itu.
(Maaf, ini karena urgent makanya saya hubungi kamu Bro)
(Siapa yang mau nikah)
(Saya Bro, dengan calon Isteri bernama Habibah Rosy. Saya mohon pernikahannya harus besok pagi dengan Wali Hakim, bisa, kan?)
(Kamu kawin lari ya? atau jangan-jangan kamu buntingin anak orang ya? kamu ingin nikah siri ya?)
(Sembarangan, kamu kenal saya berapa lama, sih? Enggak ada yang bener semuanya. Gini Fik, Habibah orang tuanya sudah meninggal terus dia tidak mengenal keluarganya)
(Hahahahaha. Iya, iya saya tahu kamu Duda Ganteng yang terhianati saking polosnya)
"Duda Ganteng?" Habibah bertanya?
__ADS_1
Rizqy mengalihkan perhatiannya kepada Habibah. Dia memberikan isyarat akan menjawab pertanyaan itu nanti.
(Apa calon kamu punya wali dari Ayahnya dan dari Ibunya? atau mungkin punya saudara Laki-laki?)
"Sayang, apa kamu punya wali yang akan menikahkan kita? Jika ada Mas akan mencari dan meminta izin untuk menjadikan Beliau Wali nikah kita." Rizqy bertanya kepada calon Isterinya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Fikri.
"Saya tidak mengenal keluarga dari Amaq dan juga dari Inaq. Saya hanya kenal Inaq Kake itupun bukan Saudara Kandung dari Inaq. Orang tua saya pindah ke Desa Gumbang dan menetap disana. Amaq tidak pernah menceritakan asal usulnya, Pun begitu juga dengan Inaq. Inaq saya sebenarnya Baiq dan mungkin saja Inaq dibuang oleh keluarga besarnya lantaran menikah dengan Amaq yang tak bermarga Lalu. Inaq Kake pernah mengatakan itu. Dan Inaq Kake hanya memberitahu bahwa nama Ninik adalah Lalu Mandala."
Habibah menceritakan tentang jati dirinya. Namun dia tidak tahu siapa Lalu Mandala itu yang katanya adalah Kakeknya. Dimana keberadaannya. Dia benar-benar buta jejak tentang keluarga Ibunya.
"Mas harus mencari keluarga kamu dimana Bibah?" tanya Rizqy galau.
(Iya sudah, kalian menggunakan Wali Hakim saja. Insyaa Allah Sah menurut agama dan Negara. Lagipula Calon kamu juga tidak mengenal dan mengetahui keberadaan keluarganya. Jika dia tahu alangkah baiknya mencari mereka terlebih dahulu)
"Bagaimana ini Bibah?" tanya Rizqy sebelum memutuskan.
"Coba saya hubungi Inak Kake siapa tahu saja ada petunjuk," jawab Habibah. Dia dengan cepat menghubungi seseorang yang menjaga Kakak Ibunya di Desa.
Setelah terhubung, Habibah mulai berbicara dengan Ibu yang selama ini merawatnya. Dia menanyakan keberadaan keluarga bapak maupun Ibunya dan menjelaskan dia akan menikah. Namun hasilnya tetap saja nihil. Tidak ada petunjuk apapun tentang keluarganya.
(Tatik, Inaq tidak tahu menahu tentang Keluarga Tatik, baik Inaq maupun Mamiq kamu. Jika memang mau menikah, gunakan Wali Hakim saja, Inaq Kake akan merestui pernikahan kalian. Maafkan Inaq Kake karena tidak bisa hadir dan juga mengetahui keberadaan keluarga kamu Tatik)
Habibah mengakhiri sambungan setelah mendengar penjelasan. Pada rautnya tercetak kebingungan. Dalam pikirannya dia meragu apakah pernikahannya Sah jika menggunakan Wali Hakim. Apakah boleh? padahal sejatinya dia memiliki keluarga tapi seperti tidak memiliki keluarga. Dia tidak mengetahui siapa keluarganya. Kedua orang tua meninggalkannya saat dia masih kecil. Dan kedua orang tuanya tak pernah menceritakan tentang keluarga mereka. Beruntung dia memiliki Ibu yang dianggap keluarganya padahal tidak ada hubungan apapun dengannya. Beliau yang merawat dan menemaninya selama ini.
(Jangan risau, kalian tetap bisa menikah dengan Wali Hakim. Saya akan mengurusnya dan kalian terima Sah saja. Dimana kalian akan melangsungkannya?)
(Di KUA saja, terima kasih Fikri atas bantuannya)
(Siiip, kamu itu sahabat saya Bro jadi tenang saja saya siap memfasilitasi kalian berdua agar menjadi halal. Saya tidak mau juga Tongkat kamu tidak bisa berdiri tegak lagi gara-gara tidak pernah digunakan)
(Sialan kamu! sekali lagi terima kasih Fikri)
(Yoi, udah dulu saya mau lanjut, jangan ganggu lagi. Assalamualaikum)
(Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh)
Rizqy mengakhiri obrolan setelah ada pencerahan dari kabut kebingungan. Rizqy berusaha menenangkan hati Habibah dari kerisauan tentang sahnya pernikahan mereka.
"Tenang sayang, diperbolehkan!" ucap Rizqy hangat.
"Mas menghubungi Mamiq dulu."
Rizqy menghubungi seseorang. Awalnya terdengar halus lama kelamaan terjadi ketegangan dalam obrolan mereka. Habibah mendengar bahwa Rizqy menyebut nama seorang Wanita dan mengatakan Wanita itu berselingkuh.
(Mamiq, tiang nunas ampure (Bapak, saya mohon maaf) jika gara-gara perceraian saya dengan Jessi membuat Mamiq marah. Memang benar saya tidak bisa mencintai Jessi tapi selama menjadi Suaminya, saya sudah berusaha menjadi Suami yang baik, menafkahi lahir dan bathinnya. Namun apa? Jessi juga tidak menginginkan kebersamaan itu lebih lama lagi. Dia juga tidak mencintai saya sebagai Suaminya. Dia berselingkuh di Rumah Suaminya. Apa seperti itu Wanita terhormat yang selalu Mamiq banggakan. Saya sebagai Suami tidak mau terinjak harga dirinya memiliki seorang Isteri yang tak bisa menjaga kesuciannya. Meskipun dengan alasan apapun)
(Terserah kamu Rizqy, kamu bukan anak Mamiq lagi. Jadi kamu boleh menikahi Gadis tak memiliki garis keturunan yang sama dengan keluarga. Mamiq lebih baik kehilangan satu butir telur yang akan merusak telur-telur lainnya)
(Mamiq, ampure. Rizqy tetap anak Mamiq tapi kalau soal masa depan, Mamiq tidak berhak menentukan. Sekali lagi tiang nunas ampure. Assalamualaikum)
Rizqy mengakhiri obrolan panjang dengan Ayah kandungnya. Terlihat awan kelabu menutupi wajah tampannya. Dia memandang Habibah yang juga menampakkan wajah sama. Gadis itu tertunduk dengan rasa sedih di hatinya. Dia tahu kedua orang tua Rizqy tidak pernah menginginkannya menjadi Menantu. Hal itulah salah satu alasannya dulu meninggalkan Rizqy. Tante dari Prianya itu pernah memanggil dan memintanya untuk meninggalkan Rizqy. Dan kini Habibah seakan tak mengindahkan permintaan dan memilih melajukan langkah bergandengan tangan dengan Rizqy.
Rizqy tersenyum, Pria itu mengumbar ketenangan. Selalu begitu, Rizqy selalu bisa memberikan kenyamanan dan rasa aman untuk Habibah. Sorot mata itu mampu mendamaikan hati yang dilanda kegundahan.
"Akan baik-baik saja Habibah. Mas memang tidak pernah akur dengan Mamiq semenjak Mamiq memilih menikahi Wanita itu," ucap Rizqy berusaha menenangkan dan meyakinkan Gadisnya agar tak merasa bersalah.
"Iya Mas, Aku mengerti. Terus siapa kira-kira yang menjadi saksi untuk saya?" tanya Habibah bingung.
"Mas akan menghubungi Ibu Nani, meminta Ibu Nani dan Suaminya menjadi saksi pernikahan kita," ucap Rizqy serius.
"Iya Mas, semoga saja Ibu Nani bersedia," sahut Habibah penuh dengan harapan.
Rizqy mengangguk. Dia segera menghubungi mantan Atasan langsungnya. Beberapa menit berbicara pada akhirnya Rizqy mengutarakan maksudnya. Tentu saja terdengar keriangan saat mendengar Gadis yang disebut adalah Habibah Rosy.
Selanjutnya terjadi obrolan panjang antara Habibah dengan Ibu Nani. Mereka berdua seakan bernostalgia dan melepaskan kerinduan dengan penuh keharuan dan rasa syukur.
(Ibu bersedia menjadi saksi di akad nikah kamu Habibah)
Terucap kesediaan dari Ibu Nani sebelum mengakhiri obrolan.
Habibah mengucapkan rasa syukur sekaligus harapan agar pernikahannya besok berjalan dengan lancar dan tak terjadi apapun seperti lima tahun yang lalu.
"Mas akan menghubungi Mamiq Rari sebagai saksi dan juga sebagai anggota keluarga yang menemani Mas saat akad nikah besok," ucap Rizqy kemudian.
__ADS_1
Dia menghubungi seseorang yang dimaksud. Kali ini tidak ada ketegangan dalam pembicaraan mereka. Rizqy bertutur kata sangat halus menyanjung lawan bicaranya sedangkan untuk dirinya, dia merendahkan diri. Dia memang seorang menak sejati yang sangat mengenal adap dan mengetahui bagaimana cara bergaul dengan anggota keluarganya. Apalagi dengan anggota keluarga yang sudah sepuh dan di hormati.
(Mamiq Rari merestui rencana pernikahan kalian. mamiq menyukai calon Isteri yang Nune pilih. Mamiq Rari tidak memandang dari mana Calon Isterimu berasal. Jika Nune merasa nyaman dan aman bersamanya maka Mamiq akan merestuinya. Mamiq bisa menilai calon Isterimu sangat baik dan Soleha. Nune akan merasa bahagia bersamanya, Insyaa Allah)
Rizqy dan Habibah mengucapkan rasa syukur karena sudah mendapatkan restu dari beberapa orang. Rizqy melanjutkan dengan menghubungi Catering dan juga Perias Pengantin.
Sedangkan Habibah menghubungi Sahabatnya. Dia terlihat riang begitu mendengar suara Julaekha Syarifah di seberang sana.
(Madha? kamu mau menikah dengan Rizqy? kok mendadak? apa yang dilakukan oleh Rizqy? apa dia menyakiti kamu? bilang sama saya, biar saya rujak dia)
Terdengar suara nyaring Julaekha Syarifah di balik Handphone.
(Hey, Wanita bar bar. Seanaknya saja berkata seperti itu. Saya enggak pernah ngapain-ngapain Habibah. Dia itu masih Ting ting tahu)
(Masak? terus kenapa tiba-tiba dia mau. Apa dia terkena pelet Papuk balok kamu ya?)
(Sembarangan, Bapuk balok saya itu Pelaut bukan ahli Pelet kalau Pelet Ikan sih memang ahli. Habibah mau karena saya Ganteng jadi tidak perlu pakai pelet pelet segala)
(Sok kegantengan)
(Saya enggak sok kegantengan emang saya ganteng kali Jul)
(Rizqyyyyyy keduuuuuul. Jangan panggil saya Jul, saya punya nama cantik secantik wajahku)
(Hahahahaha)
(Awas, saya buat punya kamu buntung biar nanti pada malam pertamamu Habibah tidak bisa menikmatinya)
"Jangaaaaaan." Tanpa sadar, Habibah berteriak.
Julaekha di seberang sana tentu saja ngakak mendengarkan kehisterisan dari Habibah. Pun begitu dengan Rizqy. Dia tertawa penuh keriangan karena Gadisnya benar-benar menginginkannya.
Mendengarkan tawa dari keduanya membuatnya malu. Dia menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.
"Sayang, punya Mas alot jadi tidak mudah buntung," ucap Rizqy di sela tawanya.
(Ya ampun Habibah bikin saya geli saja. Kalian berdua pasangan gokil, saya akan menghadiri pernikahan kalian. Sekalian pingin menabok muka sok kegantengan kamu Riz karena sudah memanggil saya Jul)
(Memang nama kamu Jul, kan?)
(Rizqy, awas kamu)
(Ayo sini kalau berani, Saya ladenin kamu kok Jul)
(Kamu itu, beraninya sama Wanita)
(Kamu Wanita ya Jul? saya kira selama ini kamu Laki-laki)
(Rizqyyyy mau saya sunat lagi atau mau saya buat buntung punya kamu, pilih yang mana?)
"Kak Lekha, sama saja, pada akhirnya buntung juga. Hahahahah." Habibah ikut mengomentari pernyataan Wanita itu dengan diakhiri kekehan.
(Pokoknya saya gedeg sama calon Suami kamu. Bye)
Julaekha mengakhiri obrolan mereka. Rizqy dan Habibah tertawa melihat kelakuan Sahabatnya itu. Julaekha memang tomboy dan juga galak tapi dia adalah Wanita yang baik dan juga perhatian. Wajar saja Habibah sangat menyayangi sahabatnya. Dia tahu Wanita itu tidak benar-benar marah dan memasukkan perkataan apapun di dalam hati sehingga dia tidak pernah merasa tersinggung.
Usai membahas tentang rencana pernikahan. Rizqy merasa mengantuk, Pria itu merebahkan diri pada ranjang di sebelah ranjang Habibah. Dia memejamkan mata lalu tenggelam dalam mimpi indahnya. Pun begitu juga dengan Habibah, Gadis itu terlelap pada ranjang berdampingan dengan ranjang yang ditempati Rizqy.
Esok harinya akad nikah benar-benar dilaksanakan dalam suasana yang sangat sakral.
"Saya terima nikahnya Habibah Rosy binti Ridwan Rasyid dengan Maskawin berupa Emas seberat 10 gram dibayar tunai."
Sah
Terucap kata sah dan lantunan Alhamdulillah menggema di ruang Kantor Urusan Agama di Kota itu.
Setelah melewati serangkaian demi serangkaian acara. Rizqy dan Habibah menempati kamar Hotel. Kamar Hotel bernuansa biru itu menjadi saksi bisu sepasang Kekasih halal memadu cinta kasih mereka.
Flash back end
Bersambung.
Inilah cerita saat Rizqy dan Habibah menikah. Maaf alurnya saya buat mundur. Jadi Rizqy dan Habibah tidak melakukan perbuatan dilarang agama ya?
__ADS_1
Semoga kalian suka, jangan lupa Like, komentar, Vote dan dukungannya.
Terima kasih.