Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.89


__ADS_3

"Jadi kamu Melong? Apa ini sulap?"


Pertanyaan Keynand membuat Rizqia tertawa lebar. Tidak menyangka Laki-laki yang kini sah menjadi Suaminya itu sekonyol itu.


"Jadi Enah itu adalah kamu melong?"


Rizqia mengangguk.


"Jadi abang telah dipermainkan? Bukankah kakak kamu menolak lamaran saya terus kamu juga akan menikah dengan Rasya. Apa-apaan ini?" Keynand bertanya dengan nada kesal. Ada kemarahan tergambar jelas pada wajah tampannya.


"Siapa yang menolak. Bukannya Kak Rizqy memberi lima tali dan ternyata Abang tidak tahu maksudnya. Iya jangan salahkan kami untuk melanjutkan sandiwara," sahut Rizqia.


"Bukannya kata Juna. ..."


Keynand terdiam tidak lagi melanjutkan perkataannya setelah sadar Juna waktu itu menipunya. Ah bodohnya dia percaya begitu saja waktu itu.


"Jadi abang dibohongi sama Juna?"


"Sudah pasti itu? Abang saja yang mau-maunya di bohongi." Rizqia mengejek Keynand.


"Terus kenapa kamu juga ikut-ikutan ngebohongi Abang pakai akting segala. Bikin Abang shock tahu," ucap Keynand sewot.


"Iya karena aku kesel makanya jadi ikut skenario yang diubah begitu saja tanpa rencana. Abang juga sepertinya enggak niat mau jadiin saya Isteri, buktinya di kasik tali langsung bingung."


"Abang kan kagak tahu tali itu untuk apa? Saya pikir beneran untuk gantung diri di pohon cabe."


"Emangnya abang enggak tahu itu maksudnya apa? Bukannya waktu itu abang minta aku sama Kak Rizqy untuk dijadiin Isteri terus Kak Rizqy kasik lima tali yang sudah dipersiapkannya. Itu maksudnya Kak Rizqy minta lima ekor sapi sama calon pengantin Laki-laki."


Jawaban Rizqia membuat Keynand menganga. Dia tidak tahu hal itu dan betapa bodohnya dia tidak mencari tahu apa maksudnya itu. Tidak mungkin Rizqy saat itu mengerjain dirinya dan iseng memberikannya tali. Tentu ada maksudnya dan tali yang diberikan kepadanya bukan tali sembarangan.


"Jadi, abang tidak pernah ditolak?"


"Menurut Abang?"


"Iya juga, sih?"


"Kenapa nyadarnya sekarang?" sahut Rizqia sewot.


"Kesal?"


"Enggak."


"Apa, dong? Merajuk? Eh seharusnya abang yang marah karena kamu berhasil membuat kepala cenat cenut, pusing tujuh keliling, uring-uringan, shock dan patah hati. Jadi abang berhak marah," ucap Keynand dengan wajah serius.


"Marah saja kalau suka," jawab Rizqia.


"Jadi malam ini kita tidak pengantinan, tidak begituan dan mesra-mesra? Iya begitu?" tanya Keynand sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Rizqia.


"Abang ya mau," jawab Rizqia sembari memundurkan tubuhnya.


"Okay, abang marah, abang kesel pingin tak gigit pipi kamu," ucap Keynand serius.


"Sebelum abang gigit, aku yang lebih dulu gigit abang biar ngerasain sakit," sahut Rizqia dengan beraninya.


Hahahaha


Keynand tertawa lebar melihat keberanian Gadis di hadapannya.


"Jadi mau gigit abang duluan? Bagian yang mana? Bibir saja lebih enak."

__ADS_1


"Tangan saja."


Jawaban jujur Rizqia membuat Keynand tertawa lepas. Dia mengulurkan tangannya agar Isterinya itu bisa menikmati apa yang di inginkannya. Saat ini ia lupa dengan kekesalan dan amarah yang menyelimuti hatinya, itu semua disebabkan keusilan keluarganya.


"Enggak jadi ah, rasanya pasti pahit? Sayangkan tangan mulus-mulus dilukai mendingan minjam seratus, becanda," jawab Rizqia di akhiri dengan kekehan kecil.


"Kamu ya? Kalau begitu biar malam pengantin kita berjalan mulus boleh dong pinjem seratus agar abang tidak jatuh di tikungan sebelas, dek! terus langsung gas pol hingga ke podium satu. Abang Pecco, Abang Vina ama Abang Raro saja gara-gara minjem seratus ketiga-tiganya naik podium di Sirkuit Mandalika. Abang kagak mau kalahlah untuk naklukin kamu. Kali saja dengan minjem seratus seperti mereka jalan abang menjadi mulus semulus-mulusnya."


Keynand berubah haluan. Kini tidak lagi mendebat, ia malah menggoda Sang Isteri dengan gencarnya.


"Kok malah random."


"Biarin, yang penting dapat pinjaman seratus."


Hahahaha


Keduanya tertawa lebar menyadari pembicaraannya yang sudah tidak tahu arah.


"Jadi benar kamu untukku, Qia? Siapa yang membuat skenario ini?" tanya Keynand mulai serius. Dia ingin tahu cerita di balik penyamaran Rizqia.


"Sebenarnya tidak ada skenario yang dibuat, mengalir begitu saja? Setelah Abang bebas tiba-tiba saja Daddy mengajak aku bicara lalu tanpa basa basi beliau melamar. Pada saat itu aku masih menyamar sebagai Enah. Rupanya Daddy tahu kalau Enah itu aku, jadi iya gitu!"


"Abang Reynand tahu?"


Rizqia menganggukkan kepalanya.


"Pantesan dia getol banget ngedukung abang untuk menikahi Enah yang tidak lain adalah kamu. Kalian itu niat banget kong kalikongnya," guman Keynand tersenyum kecut, tapi di hatinya tersimpan kelegaan karena Gadis yang dinikahinya adalah Rizqia bukan Gadis lain.


"Iya tahulah! Abang Reynand dan Kak Rizqy mengatur semua ini agar aku bisa masuk ke rumah abang untuk mematai-matai Julaekha atau Evelyn sekaligus menjaga Raski."


Rizqia bercerita kenapa ia menyamar sebagai baby sitter dengan identitas Enah. Ini semua dilakukannya untuk mengungkapkan siapa Isteri Keynand saat itu.


"Apa Abang tidak pernah ngerasain bahwa aku pernah hilang?" tanya Rizqia sembari menatap manik Keynand dengan sangat dalam dan lekat. Kini tidak ada lagi penghalang seperti beberapa jam lalu yang harus saling menjaga pandangan. Keynand pun melakukan hal sama, bahkan sinar rasa itu semakin terang menderang di pelupuk mata.


Hahahaha


Rizqia terkekeh. Keynand sempat-sempatnya berkata konyol di saat raut wajahnya terlihat serius.


"Terus?" tanyanya penasaran dengan cerita selanjutnya.


"Saat Abang melakukan akad nikah dengan Evelyn, saat itu aku sedang sekarat di rumah sakit."


Cerita Rizqia tentu saja membuat Keynand terkejut. Raut wajahnya berubah sendu dengan rasa bersalah tercetak jelas di sana. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Rizqia dan apa yang dialaminya. Keynand belum mendengarkan cerita itu. Pantas saja saat pertama kali bertemu dengan Rizqia di taman setelah ia menghilang, gadis itu terlihat kurus dengan wajah tirus dan pucat.


"Maafkan Abang, Qia."


Keynand meraih tangan Rizqia lalu menggenggamnya dengan erat.


"Kok gemetaran?" tanya Keynand saat menyadari tangan yang dipegangnya bergetar.


"Maaf bang, aku grogi baru kali ini dipegang sama Laki-laki jadi rasanya gimana gitu!" jawab Rizqia malu-malu.


"Baru tangan abang sentuh belum bibirnya, bisa-bisa langsung pingsan."


"Bisa jadi itu," jawab Rizqia dengan wajah kian merona.


Hahahaha


Keynand tergelak melihat tingkah Sang Isteri.

__ADS_1


"Terus apa yang terjadi?"


Keynand memilih mendengarkan cerita apa yang dialami Rizqia lalu memutuskan mendampinginya dengan identitas lain.


"Dokter tidak bisa mendiagnosa karena dari hasil laboratorium aku baik-baik saja, tapi pada kenyataannya setiap memasuki waktu sholat tiba-tiba saja jantung ini melemah seakan berhenti berdetak, tubuh ini lemas tidak memiliki tenaga dan Otakpun terasa tidak bekerja. Tubuh ini mulai dari ujung kaki bergerak tanpa bisa aku kendalikan. Saat itu terjadi aku hanya bisa rebahan dengan berzikir di dalam hati. Bibir pun tidak bisa aku gerakkan. Aku merasa dari ujung Kaki ada sesuatu yang bergerak keluar lalu tertahan di Otak. Hanya lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an yang berhasil menyadarkan diri ini. Aku mengira saat itu merupakan akhir dari kehidupan ini di dunia."


Rizqia menitikkan air mata tatkala mengingat perjuangannya untuk sembuh dari penyakit yang pernah di deritanya.


"Maafkan abang Qia, abang mengaku mencintaimu tapi abang malah tidak tahu apa yang menimpamu. Sebenarnya cinta seperti apa yang hendak aku berikan kepadamu, Qia? Jika yang kamu rasakan adalah kesakitan dan terluka. Maafkan ketidak berdayaan Laki-laki ini," ucap Keynand menanggapi cerita dari Sang Isteri. Hatinya kian pedih mendengar kisah pilu Gadisnya itu.


Keynand membawa tubuh yang bergetar itu dalam pelukannya lalu membelai punggungnya dengan lembut.


"Insyaa Allah abang akan menjagamu dan membahagiakan kamu, Qia," ucapnya dengan lembut penuh dengan ketulusan.


"Iya aku percaya sama Abang dan semoga saja abang tidak akan pernah berubah." Rizqia menyampaikan harapannya dan sekaligus menempatkan kepercayaannya kepada Keynand. Sang Suami yang akan menemani hari-harinya, baik bahagia maupun di tempa cobaan. Mereka berdua akan berjuang bersama-sama untuk saling menjaga dalam keadaan apapun.


"Lanjutkan ceritanya," ucap Keynand masih diliputi rasa penasaran. Bukan hanya penasaran, sebenarnya Keynand hendak membangun kemesraan dengan cara mendengarkan cerita-cerita Sang Isteri. Bukan langsung menikmati malam Pengantin dengan meluapkan hasr@t. Bukan seperti itu caranya, dia ingin memberikan rasa nyaman pada Gadis yang baru pertama kali di sentuh dengan saling bercerita, terbuka mengungkapkan apa yang ingin di sampaikan dan menjadi pendengar yang baik dari segala cerita yang tersampaikan.


"Waktu Abang berbulan madu di Paris, malamnya aku bermimpi. Saat itulah awal kecurigaan Kak Rizqy terhadap Julaekha. Kak Rizqy mengaku hampir tidak mengenal Julaekha. Pun begitu juga dengan Kak Habibah. Awal bertemu kembali dengan Julaekha, Kak Rizqy shock dengan perubahannya. Iya itu, Kak Rizqy orangnya husnuzon jadi dia tidak curiga. Setelah mimpi itu, Kak Rizqy mulai melakukan penyelidikan di bantu oleh Kak Evan."


"Apa mimpi kamu?" tanya Keynand saat tak mendengar suara Rizqia melanjutkan ceritanya.


"Abang Keynand pergi, dia bukan Julaekha Syarifah tapi ular," jawab Rizqia dengan suara lirih. Keynand mendengarnya secara jelas dan tidak di sangka bulu romanya berdiri tegak seiring dengan sesuatu di luar nalar itu terasa.


"Dalam mimpi aku melihat Wanita itu bukan Manusia tapi ular sedangkan orang lain dan abang melihatnya berupa Wanita cantik."


Rizqia melanjutkan ceritanya.


"Terus sejak kapan Abang Reynand mengetahui keberadaan kalian lalu merencanakan semuanya?"


Rizqia menghela nafas panjang tidak langsung menjawab. Dia tersenyum menikmati sentuhan yang mulai terjadi di antara mereka berdua. Jujur saja, Rizqia merasakan kecanggungan itu dan deg degkan yang mendominasinya kini. Dekat dengan Sang Suami membuat jantungnya kian berdetak cepat. Apalagi pipinya pasti bersemu merah.


Saat ini dia masih berada dalam dekap hangat Laki-laki yang telah sah menjadi halal untuknya.


"Mau sampai kapan kita seperti ini?" tanya Rizqia.


"Cerita saja, ini posisi terenak mendengarkan cerita."


Sebenarnya bukan itu, Keynand hanya tidak ingin Rizqia melihat matanya yang sedang berkaca-kaca karena kesedihannya mendengarkan kepiluan yang pernah di alami Sang Isteri. Kemana dia saat Gadis itu terpuruk, sedangkan kini dia mendapatkannya dengan sangat mudah. Di saat dia sudah dewasa dan matang dengan kepribadian yang semakin mempesona. Keynand bersama Rizqia setelah ia berhasil melewati ujian dan tempaan yang melelahkan. Keynand sedih tidak melalui proses itu bersama Rizqia, setidaknya jika dia ada di sisinya, Keynand akan tahu bagaimana rasanya berjuang.


Lama dalam dekapan Sang Suami, ada rasa nyaman menyusup masuk dalam relung hati. Rizqia tersenyum bahagia bisa merasai hangatnya pelukan itu dan menghirup dalam-dalam wanginya tubuh Sang Suami. Saat ini dia akan mulai mengenal seperti apa Keynand Putra Ardiaz agar dia bisa memahaminya dan akan berusaha menjadi Isteri yang baik untuknya.


Keynand pada akhirnya melepaskan pelukan itu saat dia sudah berhasil menenangkan diri dari hatinya yang tidak baik-baik saja. Saat menatap wajah Sang Isteri, dia melihat pipi pualam itu tersipu malu-malu


''Qia, wajah kamu merona, lagi malu ya?" Keynand tersenyum


"Benarkah? Kok bisa? Ini pasti gara-gara abang?" sahut Rizqia dengan menundukkan wajah menyembunyikan rasa malunya.


"Kok gara-gara Abang? Emang apa yang abang lakukan sama kamu, Qia? ******* aja belum?"


Keynand menggoda habis-habisan Isterinya. Dia melewati hari ini dengan berbagi cerita dan bercanda ria dengan sentuh-sentuhan kecil sebagai perekat rasa.


Pasangan pengantin itu saling menatap dengan senyum tersungging pada masing-masing bibir. Terlihat sangat indah dan tulus.


"Abang besok hari Jum'at kita akan menjalankan misi," ucap Rizqia setelah mereka melewati keheningan yang syahdu dan begitu menenangkan hati mereka. Mesra itu yang terasa, meskipun tidak ada sentuhan fisik yang membuat melayang. Hanya tatapan mata dari keduanya cukup mewakilkan segara rasa yang bermuara di sana.


"Iya kita berdua akan melaksanakannya," jawab Keynand sembari membelai Kepala Sang Isteri yang masih tertutupi jilbab.


Sudah cukup berbagi cerita, pasangan pengantin itu melanjutkan dengan ibadah sunnah, setelahnya Keynand meletakkan tangannya pada kepala Sang Isteri bersama doa terucap.

__ADS_1


"Qia apa kamu siap dalam misi malam ini?"


Bersambung.


__ADS_2