Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
106


__ADS_3

"Mas tidak marah dengan kehadiran Pak Keynand di sini, kan?" tanya Habibah. Ada kekhawatiran di hatinya jika ternyata Rizqy masih menyimpan amarahya itu.


"Tidak, Keynand itu tamu kita, jadi Mas akan mengesampingan rasa kesal itu. Apalagi dia membawa anak-anak, mana mungkin menunjukkan muka masam. Keynand sungguh pintar dengan membawa serta anak-anaknya. Mas juga tidak ingin kehilangan keberkahan karena tak menjamu tamu dengan baik. Bukankah tamu akan membawa kebaikan untuk kita. Bala itu akan keluar dari rumah kita seiring dengan langkah kaki mereka meninggalkan rumah kita," jawab Rizqy dengan senyum tulusnya.


Keynand tersenyum mendengarkan obrolan pasangan Suami Isteri itu. Hari ini dia belajar sesuatu dari mereka, pentingnya mengelola emosi dan meredamkan amarah.


"Lihatlah Keynand, betapa bahagianya mereka. Apakah kamu tega menghancurkan cinta mereka yang suci. Lupakan cinta kamu kepada Habibah. Saatnya move on ke hati Gadis lain, dan Qialah orangnya."


Hati Keynand panjang lebar menasehatinya. Saat dia melangkah ke Pekarangan rumah, dia menyaksikan kemesraan itu.


Di situlah dia sadar, bahwa Habibah bahagia hidup bersama Rizqy. Dan satu hal lagi Laki-laki itu sangat mempercayai Isterinya yang tak mungkin akan berpaling darinya. Rizqy juga menempatkan kepercayaan untuknya. Seorang Keynand tidak mungkin menghancurkan rumah tangganya hanya gara-gara cinta.


Keynand tersenyum, kini hatinya sudah yakin untuk mengakhiri perasaannya kepada Habibah. Ada tunas lain yang sedang tumbuh dan mana mungkin tunas itu di biarkan layu oleh rasanya yang tidak kesampaian kepada Habibah.


Keynand melangkah menuju Berugak lalu mendudukkan diri. Tidak lama dengan kesendiriannya, muncul Rizqy dari dalam rumah dengan pakaian santai.


Rizqy menyapanya dengan ramah lalu larut dalam obrolan basa basi pembuka tujuan yang sebenarnya.


"Jadi anda ke sini membawa serta anak-anak untuk berlibur? Kebetulan sekali di Desa ini banyak tempat-tempat indah yang belum di ketahui orang banyak selain Danau Gumbang, Sungai dan Pantai. Di sini ada Bukit dan air Terjun yang ada di Dusun Ketapang. Tapi itu dia letaknya sangat jauh di dalam hutan berantara. Medannya sih enggak sulit, hanya melewati persawahan, Talud dan hutan. Jauhnya itu yang bikin Kaki gempor kalau tidak terbiasa jalan Kaki." Rizqy menceritakan objek wisata yang ada di Desa yang belum terjamah sama sekali.


"Oh begitu?" Ucap Keynand mengangguk. Dia sebenarnya ingin menjelajahi objek yang disebutkan oleh Rizqy, hanya saja waktunya yang belum ada untuk mengunjungi tempat indah itu. Esok hari mereka harus kembali. Mungkin lain kali dia akan berkelana bersama pujaan hatinya tentunya, itu pasti seru.


"Rencananya mau menginap, ya?" tanya Rizqy.


"Iya, rasanya capek kalau harus balek hari ini juga, kasian anak-anak. Jika berkenan apa boleh kita menginap di sini?" Jawab Keynand sekaligus bertanya.


Selain meminta maaf, dia juga ingin menanyakan perihal Kiano. Apa mungkin Rizqy Anggara yang di sebutkan oleh Kiano adalah Rizqy, Kakak kandung dari Rizqia. Jika benar, berarti dugaan Reynand dan Adly tak meleset. Itu artinya orang kepercayaannya mengetahui kejadian masa silam saat bertemu dengan Kiano. Dan memanfaatkan informasi itu untuk menghancurkan hubungannya dengan Rizqy. Dia tidak tahu rahasia apa yang tersimpan pada gelang milik Kiano itu. Mungkin jika Keynand dan Rizqy tidak saling mengenal dan berkomunikasi, maka rahasia itu akan tetap tersimpan.


Keynand sangat penasaran dengan rahasia yang ada pada gelang milik Kiano itu. Apa mungkin rahasia yang tersimpan di sana akan menghancurkan hidup seseorang. Jika tidak, mana mungkin seseorang itu bermain-main dengan dirinya.


"Boleh, memang rumah panggung itu di peruntukkan untuk siapa pun yang mau menginap di sini," jawab Rizqy. Dia kemudian mempersilahkan Keynand melihat rumah panggung berdinding pagar bambu, beratap Daun Re dan berlantai kayu.


Saat masuk, Keynand takjub dengan penampakan kamar yang terlihat rapi, nyaman dan bersih. Kamar itu lumayan luas dengan kasur lantai mengisinya dan beberapa furnitur yang kesemuanya terbuat dari bahan baku alami seperti Ketak, Rotan dan Bambu.


"Lumayan bagus dan nyaman," ucap Keynand mengomentari.

__ADS_1


"Semoga Direktur Hotel Ardiaz nyaman beristirahat di Gubuk kami. Tentu Gubuk kami ini tak semewah Istananya dan Hotel Ardiaz," ucap Rizqy mempersilahkan.


Keynand hanya mengangguk menanggapi kesederhanaan Suami Habibah ini. Padahal kamar ini sungguhlah bagus dan terlihat mewah. Jika terlihat dari luar, tidak ada yang menyangka jika di dalamnya tersimpan keindahan.


Keynand masuk ke kamar itu setelah Rizqy berpamitan. Dia merebahkan tubuh lelahnya sebentar sembari menunggu Waktu Dzuhur.


***


Siang menjelang, Keluarga Rizqy dan keluarga Keynand sedang menikmati makan siang. Mereka menyelingi dengan obrolan ringan penambah keakraban.


"Jangan malu-malu, kata orang sini kalau kita malu maka kita akan lapar. Dan mohon maaf sayurnya Pucuk Labu bukan Capcay," ucap Rizqy. Memang, hidangannya cukup sederhana berupa Ikan bakar, Sayur bening pucuk labu di campur Kacang panjang dan Pelecing Kangkung, tidak ketinggalan Sambal mentah.


"Kalau kita makan di tengah sawah apalagi pinggir danau, lauknya hanya sambal pun terasa nikmat apalagi ini ada Ikan bakar tambah nikmat sekali," ucap Riski antusias. Dia terlihat sangat nenikmati hidangan sederhana di hadapannya.


"Benar apa yang di katakan Riski. Hidangan ini terasa sangat nikmat. Habibah ternyata pintar memasak, masakan sederhana ini terasa istimewa," timpal Keynand mendukung pernyataan Riski.


"Alhamdulillah jika kalian suka. Bisa jadi karena suasana pedesaan yang membuat apapun terasa nikmat," sambung Rizqy.


Keynand dan Riski mengangguk setuju. Kemudian mereka melanjutkan suapan tanpa melakukan pembicaraan lagi. Mereka terlalu menikmati sehingga terfokus dengan santapan masing-masing.


"Oh ya, saya tertarik dengan kalimat kalau kita malu, maka kita akan lapar, itu maksudnya apa?" tanya Keynand serius. Sebenarnya malu menanyakan ini, tapi karena penasaran membuat Keynand menghilangkan rasa malunya. Takutnya dia salah mengartikan kalimat itu yang menurutnya berkonotasi negatif.


"Gini maksudnya, Bang! Dalam konteks saat ini ya. Misalnya. Kita di tawarin makanan tapi menolak karena malu padahal sebenarnya kita belum makan dan ternyata sedang lapar. Dan satu lagi, misalnya Abang sebenarnya belum kenyang tapi karena malu pada akhirnya Abang tidak menambahkan makanan. Apa yang Abang rasakan? Masih Lapar, kan? Kalau konteks lainnya saya rasa Abang pasti bisa memaknainya" jawab Riski menerangkan. Dia mengambil alih penjelasan itu setelah mendapat isyarat dari Rizqy yang mempersilahkannya untuk menjawab.


"Oh gitu?" ucap Keynand sembari menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Di sisi lain dalam konteks yang berbeda, situasi yang berbeda dan kondisi yang berbeda alangkah wajibnya memelihara rasa malu. Misalnya, malu mengambil hak orang lain," sambung Rizqy diakhiri dengan senyum terkulum.


Keynand merasa tersentil. Dia terdiam tak menanggapi pernyataan Suami dari Habibah itu. Mungkin saja Rizqy tidak bermaksud menyinggung perasaan siapa pun. Dirinya terlalu mengaitkan ucapan Rizqy dengan apa yang pernah menjadi niatnya dulu.


Rizqy hanya mencontohkan, dia pun tahu itu tapi kenapa hatinya begitu sensitif.


Usai menikmati santapan, selanjutnya mereka bersiap-siap untuk melaksanakan Sholat Dzuhur.


Tidak menunggu terlalu lama, dari arah Masjid terdekat, terdengar suara adzan berkumandang. Para Pria bergegas melangkahkan kaki ke Masjid sedangkan Para Wanita melaksanakan Shalat Dzuhur di rumah.

__ADS_1


***


"Om Tua tunggu, kok buru-buru pulangnya?" panggil Adrian. Pemuda itu bergegas menghampiri rombongan Rizqy yang berjalan meninggal Masjid. Mereka baru selesai melaksanakan Sholat Isya, dan hendak kembali ke rumah.


Rizqy yang mendengar panggilan dari seseorang sontak menghentikan langkah. Dia sebenarnya geram dengan Adrian yang masih memanggilnya dengan seenak hatinya. Padahal dia sudah meminta Adrian bahkan mengintimidasi Pemuda itu agar merubah panggilannya, tetap saja Adrian tak mengubrisnya.


Pun begitu juga dengan Keynand dan Riski yang seketika ikut menghentikan langkah. Mereka membalikkan badan kemudian mengarahkan pandangan pada Pemuda yang menghampiri.


Melihat Pemuda itu, suasana hati Rizqy terasa memburuk. Dia membalikkan badan hendak melangkah pergi. Namun teriakan Pemuda itu membuatnya ingin tahu apa yang diinginkan Adrian.


"Om tua, tadi saya lihat ada cewek cantik masuk ke rumah Om tua. Siapa dia? Salamin, dong! Bilangin sama cewek cantik itu, Adrian mau midang malam ini," ucap Adrian tanpa basa basi.


Rizqy mengernyitkan dahinya tak percaya dengan ucapan Pemuda di hadapannya. Sejurus kemudian ada raut kekesalan nampak pada wajah tampannya. Tak menyahuti, hanya tatapan tajam yang dia berikan kepada Pemuda itu.


Adrian terlihat antusias bahkan tidak ada rasa bersalah karena berlaku tidak sopan kepada Rizqy.


"Siapa, sih? kok enggak sopan banget. Beliau ini punya nama, namanya Lalu Rizqy Anggara. Kalau tidak mau memanggilnya dengan panggilan nama, setidaknya panggil beliau dengan panggilan Mamiq," ucap Riski kesal dengan Pemuda tengik yang tiba-tiba menahan langkah mereka.


Keynand yang mendengar ucapan Pemuda itu ikut geram. Dia ingin sekali menghantam mulut itu, namun di tahan karena sadar, dia hanyalah tamu di Desa ini.


Selain tidak sopan, Pemuda itu ingin mendekati Rizqia. "Oh tidak bisa Bro, tumbangkan gue dulu baru elu boleh nyebut nama Qia. Enak saja main perintah-perintah pada Kakanya." Keynand mendumel dalam hati. Ingin rasanya dia menyemprot wajah tak tahu malu itu dengan air raksa, tapi lagi-lagi hanya sebatas keinginan. Biarlah Hamizan Riski yang akan menghancurkan Pemuda songong itu. Batin Keynand.


"Eh kamu siapa? Berani-beraninya ikut campur urusan orang. Mau panggil Pria ini dengan panggilan Om tua kek, apa kek, suka-suka saya lah. Kok kamu yang sewot," sahut Adrian ketus.


"Kok nyolot sih? saya hanya mengingatkan anda agar sopan dengan orang yang lebih tua dari kita. Anda pernah Sekolah, kan? Kok malah enggak tahu tata krama? bisa kalah, ya? dengan orang yang tidak pernah Sekolah, malahan mereka memiliki adab, tata krama dan sopan santun yang tinggi," sahut Riski mengomeli Pemuda yang ada di hadapannya.


"Oh ya, kenalkan saya Riski dan ini Keynand Putra Ardiaz, calon Suami dari cewek yang sedang kamu incar itu," lanjut Riski dengan mantap dan raut serius.


Terlihat Adrian terkejut, namun kemudian dia tersenyum sinis lalu tertawa terbahak-bahak seperti mengejek.


"Baru calon Suami, kan? Belum suami? jadi lihat saja saya bakalan berhasil mempersunting Cewek itu. Cewek itu bakalan takluk sama saya bahkan bertekuk lutut di Kaki saya, Adrian," sahut Adrian jumawa. Dia tersenyum sinis kepada Keynand yang terlihat menahan amarahnya.


Pemuda itu memindai tubuh Keynand yang hanya menggunakan Koko dan sarung tenun. Sedangkan Riski menggunakan Kaos berkerah dengan bawahan celana kain. Mereka bertiga memang terlihat sangat sederhana. Berbeda dengan dirinya yang berpenampilan wah. Barang-barang mahal membungkus tubuhnya yang proposional.


"Miskin gini, kok berani-beraninya menghayalkan Bidadari di rumah Om Tua, heran!" ucapnya kemudian setelah selesai memindai kedua tubuh itu dengan pandangan mengejek.

__ADS_1


"Oh ya, Bule nyasar, ya? apa di Negara kamu sudah tidak diinginkan lagi, makanya migran ke sini. Lihat saja, secepatnya kamu akan saya deportasi ke Negara asal kamu," lanjut Adrian dengan yakinnya. Lalu dia melenggang pergi begitu saja tanpa berpamitan.


Bersambung.


__ADS_2