Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
chapter 9


__ADS_3

Sementara itu, di tempat yang berbeda. Habibah sedang memantulkan bayangan pada cermin yang ada pada Almari. Dia memandang bayangan dirinya pada cermin itu.


"Aku memang jelek pantas saja Mas Rizqy menjadikan aku bahan taruhan," ucap Habibah sedih.


Dia mengambil alat make upnya kemudian mencoba berdandan. Setelah beberapa menit merias wajahnya. Gadis berkulit cokelat itu mematupkan diri pada cermin dan memperhatikan gambaran wajahnya.


"Jelek seperti Ondel-Ondel kalau orang sini bilang seperti Tuselak Kenjelo ( Selak Siang Hari )," ucap Habibah menilai dirinya sendiri. Dia melangkah meninggalkan kamar menuju Jeding yang ada di luar Rumah. Gadis itu menghapus Make up dan membiarkan air menghilangkan jejak-jejak kekonyolanya. Dia bukan Gadis Pesolek sehingga merasa aneh melihat Bedak itu menempel di wajah dan Lipstik itu mewarnai bibirnya yang berwarna pink alami.


Dia memang tidak suka berdandan tapi bukan berarti cuek dengan tubuhnya. Habibah sangat rajin merawat raganya dengan bahan-bahan alami. Seperti wajahnya yang setiap hari di olesi Madu, terkadang menggunakan Teh, Kopi dan Jel Lidah Buaya. Pantas saja wajah yang berkulit Cokelat itu terlihat bersih meskipun setiap hari terkena Matahari dan bersentuhan dengan tanah.


Gadis penyendiri itu merebahkan diri pada Berugak yang ada di Depan Rumahnya. Dia sangat suka menikmati langit, baginya langit adalah penghibur laranya yang kesepian.


Terdengar suara Jangkrik dan suara Binatang Penghuni Hutan menggema di telinga. Suara itu bagaikan melodi alam yang setia menghiburnya.


"Cinta itu berada disana, sementara tanganku tidak mampu menggapainya," ucap Habibah mengulurkan tangannya sembari pandangan tak lepas dari langit.


Dia tersenyum, senyum itu mampu menegarkan kerapuhannya selama ini. Dia tak ingin menyerah dalam menapaki hidup. Sebaliknya akan berjuang untuk memberikan hidup yang cerah untuk dirinya dan juga orang lain. Boleh saja dia memilih menyerah soal cinta tapi dia tidak akan menyerah dengan Cita-citanya.


Lelaki, tak terjangkau dalam pikirannya. Hal itu yang terlanjur di Doktrin dalam Otaknya.


Dulu dia pernah menempatkan cinta untuk Lelaki bernama Lalu Rizqy Anggara. Meskipun dia tahu Lelaki itu seumpana mimpi yang ketika sadar tidak mungkin menjadi kenyataan. Lelaki itu ibarat harapan yang sangat sulit terwujud dan Lelaki itu sebuah angan yang mustahil digapainya.


Dan pada akhirnya Lelaki itu mengkoyaknya dengan perhatian palsu. Sungguh bodoh dirinya dan terlalu naif jika mempercayai bahwa perhatiannya adalah sebuah kejujuran.


Kini, hasil dari cinta itu adalah merana dan kecewa. Habibah tidak ingin cinta mengelabuinya sehingga memilih untuk tidak menempatkan rasa itu di hati. Itu untuk sementara waktu hingga ada seorang Lelaki yang berhasil meyakinkannya.


Habibah, masih asyik dengan langitnya. Dia menyadari bahwa Rizqy, Lelaki itu masih saja mengejarnya dalam ingatan.


Plash Back


"Habibah, sudah waktunya istirahat. Kok masih saja kerja, apa sih dikerjain serius amat?" tanya seorang Lelaki berperawakan tinggi, berkulit Putih dan berwajah tampan. Dia duduk di kursi yang ada di Depan Meja kerja Gadis yang dipanggil Habibah.


"Tanggung Mas, ini dikit lagi," jawab Habibah fokus ke arah layar. Dia memanggil Lelaki itu dengan panggilan Mas bukan Bapak. Seharusnya Bapak, sebuah Panggilan formal pada dunia kerja.


"Memangnya enggak Shalat?" tanya Lelaki itu lagi.


"Lagi datang bulan, Mas," jawab Habibah.


"Mana bulannya? kok saya enggak lihat ya?" tanya Lelaki itu serius sejurus kemudian memperdengarkan kekehannya.


"Mas Rizqy jangan becanda deh! mana ada bulan pada siang bolong," ucap Habibah menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Memangnya saya sedang becanda? saya serius lo! mana bulannya? tadi kamu bilangnya gitu? ayo, siapa yang bilang gitu, kamu, kan? sahut Rizqy tak mau kalah.


"Saya tadi cuma beristilah," sahut Habibah tersipu. Dia malu juga mengatakan dengan bahasa gamblang.


"kenapa enggak bilang lagi menstruasi, itu kata bakunya, kan? saya suka heran kenapa Wanita kalau sedang menstruasi jawabannya lagi datang bulan, lagi halangan, lagi palang merah dan bla bla bla. Kenapa enggak langsung jawab lagi menstruasi ini, kenapa musti menjawab dengan istilah." Rizqy berkomentar panjang lebar membuat Gadis itu dibuat malu oleh perkataan Lelaki itu.


"Malu lah jika berkata seperti itu dan gamplang," sahut Habibah sembari menundukkan wajahnya. Dia fokus kembali ke naskahnya.


"Kenapa musti malu, itu, kan kodrat kalian sebagai Wanita," sahut Lelaki itu. Dia terkekeh melihat Gadis manis di hadapannya yang tersipu. Habibah menenggelamkan wajahnya pada Meja. Dia malu mendengarkan perkataan seorang Lelaki yang tak seharusnya membahas itu. Memang itu adalah kodrat seorang Wanita tapi tidak seharusnya diungkapkan secara gamblang karena itu bersifat pribadi sekali.


"Mas Rizqy jangan ngebahas itu deh! mana ada Lelaki membahas yang begituan kalau bukan Mas Rizqy doang," sahut Habibah heran.


"Kenapa?"


"Aku malu," jawab Habibah singkat.


"Hahahahaha."


Rizqy tertawa mendengarkan jawaban polos dari Rekan kerjanya itu.


"Iya deh iya, Mas Rizqy enggak membahasnya. Kalau begitu kita makan yok! emangnya kamu enggak lapar?" Rizqy mengajak Rekan kerjanya itu untuk makan siang namun Habibah masih saja asyik dengan naskahnya dan belum menyanggupi ajakan Lelaki itu.


"Memangnya kamu enggak lapar?" tanya Rizqy setelah tidak ada pergerakan dari Habibah.


"Iya sudah, Mas Rizqy duluan," sahut Rizqy. Sebelumnya dia sempat mencabut kabel yang menghubungkan aliran Listrik ke Komputer Gadis itu.


Gelap


Layar itu berubah gelap seketika itu membuat Habibah berteriak.


"Mas Rizqyyyyyy."


Sementara itu, Rizqy berlalu sembari memperdengarkan tawanya "Hahahahaha."


Habibah berlari menghampiri Rizqy yang melangkah dengan langkah lebar menghindari Habibah yang sedang mengamuk. Untung saja Kantor dalam keadaan sepi karena jam istirahat. Jika ada orang maka terjadilah kehebohan disana.


"Tunggu Mas."


Lelaki itu menghentikan langkah di tengah tangga demi menunggu Habibah.


"Hati-hati Bibah jangan berlari seperti itu nanti kamu jatuh," ucap Rizqy mengingatkan Gadis itu yang berlari menuruni anak tangga. Habibah tak mengubris peringatan rekannya itu. Dia saat ini sedang marah dengan apa yang dilakukan Rizqy. Karena kejahilannya membuat ia harus mengulang lagi mengetik yang belum sempat disimpan.

__ADS_1


Sesampainya di hadapan Rizqy, Habibah langsung mempelototi Lelaki itu dan memukul lengan kokohnya dengan sekuat tenaga.


"Enggak berasa, kerasan dikit kenapa?" ucap Rizqy tersenyum jahil.


"Mas Rizqy usil, sih? tadi saya belum menyimpan filenya," ucap Habibah kesal.


"Nanti bisa diketik ulang, itu saja cemberut," sahut Rizqy enteng.


"Mas Rizqyyyy," pekik Habibah meluapkan kekesalannya.


"Hahahaha."


Rizqy, Lelaki itu tertawa menanggapi kekesalan Habibah. Sedangkan Habibah kian cemberut melihat hal itu. Habibah tak menyangka bahwa Rizqy tak merasa berdosa dengan apa yang dilakukannya. Dia nampak bahagia berhasil mengerjainnya.


Reda, dia meletakkan tangan pada kepala Habibah lalu mengacak rambut lurus sebahu itu hingga berantakan.


"Mas Rizqyyyyyy, jahil banget sih? rambut saya berantakan ini," ucap Habibah berusaha menarik tangan itu dari kepalanya.


"Nanti dirapikan lagi, kita makan yuk!" ucap Rizqy terlihat puas. Kemudian dia menyeret Habibah untuk makan di Kantin yang ada di area Kantor.


Gadis itu menurut saja akan ajakan Rizqy. Dia melangkah mengikuti sembari merapikan kembali rambutnya yang berantakan.


Itulah keakraban yang terjalin di antara Habibah dan Lelaki bernama Rizqy. Keakraban itu terjadi disaat mereka hanya berdua saja. Sedangkan ketika Rizqy berkumpul dengan teman-temannya, maka Habibah seakan tak ada dalam pandangannya. Habibah mengerti hal itu dan tidak mempermasalahkannya.


Dia sadar, dia tidak bisa melibatkan diri dalam pergaulan Lelaki itu. Dia dan Rizqy berbeda, Rizqy dari kalangan berada dan keluarga Pejabat serta garis keturunan yang bergelar Lalu. Sedangkan dia dari kalangan menengah ke bawah. Orang tuanya seorang Petani, itupun sudah meninggalkannya. Dia hanyalah Gadis sebatang kara di dunia ini. Untung saja dia mendapatkan Bea siswa untuk anak-anak di Daerah terpencil sehingga bisa melanjutkan Pendidikannya. Itupun hanya untuk biaya pendidikannya saja sedangkan biaya hidup dia bekerja sebagai Pelayan pada sebuah Toko pada siang hari hingga malam.


Habibah tidak pernah mengeluh. Dia menjalani dengan rasa syukur. Karena rasa syukurnya membuat sesuatu yang berat itu terasa ringan.


Selama tiga tahun dia berjuang, pada akhirnya dia menyelesaikan Diploma tiga di Perguruan Negeri terbaik di Daerah ini. Dan bersyukurnya dia setelah lulus di rekrut oleh Instansi Pemerintah tempat dia melaksanakan Praktek Kerja Lapangan semasa dia masih aktif kuliah. Itu semua karena kecerdasannya sehingga salah seorang Pegawai disana memanggilnya dan dijadikan Tenaga Kontrak. Langkah awal menuju cita-citanya sebagai Pegawai Negeri.


Di Kantor itu cinta pertamanya bersemi. Lelaki bernama Rizqy itu mampu membuat Gadis Remaja itu bergetar. Padahal umur mereka sangatlah jauh. Lelaki itu berkepala tiga sedangkan dia baru saja menempatkan diri di usia dua puluh tahun. Karena parasnya yang kepabak-bapakan membuat Habibah jatuh hati.


Suatu hari, Habibah terpaksa masuk Kantor meskipun badannya terasa meriang. Dia ingin menyelesaikan Laporannya. Gadis itu sangat keras kepala dan bertanggung jawab. Dia tidak akan mengistirahatkan tubuhnya meskipun merasakan rasa tak enak pada tubuhnya. Selama dia bisa bergerak maka dia tetap akan beraktivitas.


Saat ini tubuh Habibah terasa lemah, hari sudah menjelang sore. Tidak ada siapapun di Kantor karena jam pulang berakhir setengah jam yang lalu. Habibah berusaha membawa tubuhnya untuk meninggalkan Kantor. Namun dia tidak kuat akhirnya memilih untuk merebahkan diri sejenak di Sofa.


Setelah itu dia tidak mengetahui apa yang terjadi. Ketika sadar dia melihat langit-langit berbeda dengan langit-langit yang berada di Kantornya.


"Dimana saya?" tanya Habibah terkejut. Dia mengamati kamar yang sedang dia tempati dengan pandangan bertanya-tanya. Kamar itu cukup luas dan bersih dengan dominasi berwarna biru langit.


Tidak ada siapapun disana, hanya ada dirinya lengkap dengan seragam dinasnya. Disaat dia kebingungan dia mendengar suara Pintu di ketuk dan terdengar suara Wanita mengucapkan salam.

__ADS_1


"Waalaikumussalam, siapa?"


Bersambung.


__ADS_2