
"Kayaknya Rizqia bukan Adik kandung Rizqy, deh! Mereka berdua sepertinya tidak memiliki ikatan darah apalagi hubungan kekeluargaan. Saya tahu persis bahwa Rizqy tidak punya adik cewek. Dia memang mempunyai adik kandung tapi adiknya Laki-laki, terus adiknya itu sudah meninggal. Rizqy hanya dua bersaudara, Laki-laki semua," tutur Julaekha. Dia yakin dengan ini sesuai dengan apa yang di ketahuinya.
"Sepertinya kamu sangat mengenal Rizqy?"
Pertanyaan dari Keynand di jawab anggukan oleh Julaekha. Dia saat ini sedang meminum Kopinya sehingga belum bisa melanjutkan ceritanya.
"Iya, saya sangat mengenal Rizqy dan keluarganya. Kita dulu tetanggaan dan kebetulan keluarga saya sangat dekat dengan keluarga Rizqy. Hubungan kita seperti keluarga saja. Jadi saya tahu semua anggota keluarga Rizqy. Sementara Gadis tadi saya baru mengetahui bahwa dia adiknya Rizqy."
Julaekha melanjutkan ceritanya setelah tenggorokannya lega. Dia mengernyitkan dahinya berusaha mengingat sesuatu yang mungkin saja sebagai petunjuk tentang Rizqia yang selama ini tidak pernah di sadarinya.
"Jika memang benar Rizqia saudara kandung Rizqy, kenapa selama ini ke dua orang tuanya tidak pernah sama sekali membicarakan keberadaan Gadis itu. Aneh, kan?" Lanjutnya setelah tidak berhasil mengingat sesuatu.
"Jadi menurutmu Qia bukan Saudara sedarah melainkan adik yang di anggap saja?" Tanya Keynand memastikan. Kali ini Keynand tidak ingin gegabah lagi untuk mencerna informasi yang di terimanya.
"Ini dugaan saya mengingat selama ini Qia tidak pernah dikenalkan sebagai anggota keluarga Rizqy," jawab Julaekha sangat yakin. Dugaan ini tidak mengada-ngada karena dia tahu persis keluarga Rizqy yang merupakan Sahabatnya.
"Jadi begitu?" tanya Rizqy singkat.
"Ada hubungan apa dengan Rizqia? Kenapa begitu marah melihat Gadis itu dekat dengan Rizqy? Apa Mas Keynand suka dengannya? Apa benar yang Mas Keynand ucapkan tadi? Pernah mengajaknya menikah" tanya Julaekha. Dia menatap raut Keynand yang nampak tak baik-baik saja. Wanita cantik itu sebenarnya sudah bisa menebak bahwa Duda di hadapannya menaruh hati kepada Rizqia. Hanya saja dia ingin memastikan agar tak mengambil kesimpulan sendiri yang ternyata keliru.
"Maaf saya tidak bisa menceritakan hal ini kepada orang lain," jawab Keynand tak ingin membagikan sesuatu yang sangat pribadi kepada siapapun.
Julaekha mengangguk mengerti tak ingin terlalu jauh ikut campur. Dia sadar, Keynand hanya menganggapnya kenalan bukan seorang teman yang sangat akrab dengannya.
"Ya Tuhan, kenapa saya begitu begonya. Kita tanyakan saja kepada Habibah apakah Qia itu benaran adiknya Rizqy, dari pada menduga-duga seperti ini," ucap Julaeha kegirangan. Dia menepuk jidatnya sebagai bentuk kebodohannya.
Dia segera meraih Handphone lalu menghubungi Habibah. Tak butuh waktu lama sambungan itu di angkat oleh Habibah. Terdengar keakraban di sana. Kedua Wanita itu larut dalam obrolan khas Wanita.
Sementara Keynand terdiam sembari menikmati Kopi. Sejujurnya ada rasa tidak tenang menghinggapinya. Bagaimana jika Habibah tidak mengetahui perihal Rizqia? Terus dia juga tidak mengetahui hubungan Rizqy dengan Rizqia seperti apa. Jika benar Rizqia itu adik kandung Rizqy, tentu hal ini akan melegakan hatinya. Meskipun pada kenyataannya jalan untuk menapaki kebersamaan dengan Gadis itu tertutup sudah. Setidaknya dia tidak hidup dalam prasangka. Terus jika Rizqia itu benar bukanlah adik kandung dari Rizqy, maka mulai detik ini dia akan melupakannya dan tak ingin mengenalnya lagi. Dia sungguh sangat kecewa jika itu benar.
("Oh ya Kak Lekha, ngomong-ngomong ada apa ini?")
__ADS_1
Julaekha tidak langsung menjawab pertanyaan dari Habibah. Dia menarik nafas panjang untuk mengawali pertanyaan yang menurutnya sangat riskan. Ada rasa takut jika ternyata pertanyaan itu akan mengganggu keharmonisan rumah tangga sahabatnya itu.
(Tidak ada apa-apa, sih? Seperti kata saya tadi pingin ngobrol-ngobrol saja sama kamu, kangen gitu!)
(Oh gitu, kiraen ada hal yang penting)
(Hem, gini lo Bibah, tadi saya ketemu sama Rizqy terus dia sama cewek, kalau dilihat-lihat sepertinya anak kuliahan, deh! Kira-kira kamu kenal enggak? Keliatannya cewek itu sangat akrab dengan Rizqy)
Julaekha pada akhirnya bertanya. Habibah tak langsung menjawab, hanya helaan nafas yang terdengar di Telinga Wanita itu.
(Cewek itu dipanggil, Qia kan? Apa Kak Lekha enggak kenal Qia?")
Lama terdiam terdengar juga suara dari seberang berupa pertanyaan. Rasanya ada sesuatu yang disembunyikan oleh Habibah dari caranya dia berbicara yang sangat hati-hati. Wanita itu tidak langsung menjawab. Julaekha menebak Habibah berpikir dulu untuk menjawab pertanyaannya sehingga dia terdiam sejenak.
(Jadi kamu tahu siapa dia?)
(Iya, cewek itu pasti Qia)
(Siapa dia? Jujur saya tidak mengenalnya)
Habibah menjelaskan hubungan Rizqy dengan Rizqia yang memang saudara kandung satu Ayah dan satu Ibu.
("Saya baru tahu ini kalau Rizqy mempunyai saudara Perempuan selain mendiang Kiano. Ternyata mereka kembar?")
Setelah mendapatkan penjelasan dari Habibah, Julaekha mengakhiri panggilan.
"Jadi benar Rizqia itu adik kandung Rizqy bukan adik yang hanya dianggap?" Tanya Keynand tak sabaran. Dia benar-benar merasa bersalah karena telah menuduhnya sembarangan.
"Iya, Qia itu adik kandung Rizqy. Ternyata Rizqia dengan mendiang Kiano itu kembar. Kiano di rawat oleh kedua orang tuanya sementara Qia di rawat oleh saudara Ibunya yang ada di Malang. Selama ini Qia tinggal di Malang terus baru beberapa tahun ini tinggal di Mentaram. Pantesan saja saya tidak mengetahui ini. Ternyata keluarga Rizqy menutupi keberadaan Qia. Seperti itu penjelasan dari Habibah."
Julaekha menjelaskan tentang kebenaran yang diucapkan Rizqy sesuai dengan apa yang di dengar dari Habibah tanpa mengurangi maupun melebihkannya.
__ADS_1
"Jadi begitu?"
Ada rasa sesal yang terjadi karena begitu saja menuduh Rizqia tanpa terlebih dahulu memikirkan resiko dari ucapannya. Melihat riak kesedihan yang di tampakkan oleh Gadis itu tentu saja membuatnya sangat menyesal dan rasa bersalah kini seakan memakinya. Apalagi melihat kekecewaan yang tersirat di pelupuk mata itu membuat Keynand merasa tidak tenang.
Keynand memaki dirinya yang tidak mampu mengendalikan amarah yang tiba-tiba ada. Tidak seperti ini yang dia mau sebenarnya. Dia ingin berbaik sangka dan menerima seperti apa cerita dibalik semua ini. Namun ini apa? Dia sendiri menempatkan diri pada sudut yang pelik.
Keynand sadar, akibat tak mampu menahan kecemburuan yang muncul begitu saja, hubungannya dengan Rizqia dipastikan akan berantakan begitu saja.
Tak ada lagi pembicaraan dan Keynand sudah mendapatkan ganjaran yang diinginkannya. Mereka berdua meninggalkan Coffe Shop dengan tujuan Kampus Mentaram. Keynand harus bertanggung jawab mengantarkan Julaekha Syarifah ke Kampus. Meskipun Wanita itulah yang mengajak Keynand untuk menikmati secangkir Kopi. Katanya untuk balas hutang janji karena Keynand pernah mentraktir Julaekha Syarifah di masa lalu.
Setelah sampai Kampus Mentaram, Keynand langsung mengarahkan Mobilnya menuju Perumahan Taman Indah. Dia berencana menemui Rizqia dan Rizqy untuk meminta maaf secara langsung.
Selang beberapa menit berkendara, Mobil Keynand menelusuri Jalan Raden Patah lalu berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana dengan halaman luas.
Rumah dalam keadaan sepi saat Keynand menginjakkan Kaki di depan Gerbang yang tergembok. Beberapa kali dia mengucapkan salam dengan mengeraskan suara, namun tak ada tanda-tanda penghuni rumah akan menghampiri.
"Kemana Qia? Apa mungkin singgah dulu di rumah Rizqy ya?" tanya Keynand dalam hati.
Keynand membalikkan badan karena yakin tak ada siapapun di dalam rumah yang di tempati oleh Gadis yang sedang di carinya.
Dia memutuskan akan kembali ke Hotel Ardiaz karena Siang nanti ada Meeting penting yang tidak bisa ditinggalkannya. Sebenarnya dia ingin mencari tempat tinggal Rizqy, namun urung saat menyadari waktu tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Masih ada hari esok untuk bertemu dengan Qia dan meminta maaf, sementara Meeting penting itu tidak bisa di rubah agendanya menjadi esok hari. Itu yang ada dalam pikirannya.
Keynand lebih memilih mengutamakan Hotel Ardiaz karena ribuan keluarga menggantungkan rezeki yang Tuhan percayakan kepada Perusahaan itu. Sementara hatinya bisa dia berjuangkan di hari lain. Terkadang dia harus mengabaikan perasaannya sendiri demi keberlangsungan hidup banyak orang, karena itu merupakan tanggung jawabnya.
"Mas cari Mbak Qia, ya?"
Tiba-tiba datang seorang Wanita paruh baya dari rumah yang berdekatan dengan rumah Rizqia. Mungkin mendengar suara salamnya membuat Wanita paruh baya itu menghampiri.
"Iya Bu. Tapi kok sepi ya? Kira-kira Qia kemana ya?" tanya Keynand. Dia berharap Tetangga dari Qia tahu kemana Gadis itu bepergian setelah Rizqy menjemputnya di Kampus.
"Iya Mas, Qia memang tidak ada di rumah. Dia tadi berpamitan mau ikut pindah sama Kakaknya ke Desa," jawab Wanita paruh baya itu memberitahu.
__ADS_1
"Pindah?"
Bersambung.