
"Semoga saja Tuhan melindungi Abang Rizqy. Hanya doa yang bisa kita panjatkan untuk keselamatannya." Evan berucap sebagai cara menenangkan amarah yang tersulut pada diri Reynand.
Seketika itu Reynand beristighfar berusaha meredamkan amarah yang terlanjur menggelegak.
Keheningan yang semula terjadi, kini mereka larut dalam doa pada masing-masing hati. Reynand pun dengan khusuk mendoakan keselamatan Rizqy.
"Chipnya sudah tersimpan dengan baik pada Pin dan bros ini, sekarang bukti ini siapa yang akan menyimpannya?" Evan bertanya setelah mereka selesai memanjatkan doa.
Reynand terdiam. Dia terlihat berpikir serius apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan sebagian bukti-bukti yang ada agar Wanita itu tidak berhasil mengambilnya.
"Bukti-bukti ini harus sampai ke Pengadilan, tapi semestinya ada yang memberikannya tepat di saat sidang pembuktian. Orang tersebut pastinya seseorang yang tidak dicurigai oleh Wanita itu."
Reynand kemudian menjelaskan apa yang harus mereka lakukan. Dia menatap satu persatu wajah yang hadir di sana. Setelah mengetahui Pengacara yang ditunjuknya berniat menghianatinya. Reynand kini benar-benar meningkatkan kehati-hatiannya dan tidak sepenuhnya mempercayai siapapun. Meskipun dia yakin Evan dan para Sahabatnya tidak mungkin menghianatinya, tapi apa salahnya tetap waspada.
"Lexi, Evan dan saya sendiri mana mungkin membawa bukti-bukti itu. Wanita itu pasti akan dengan mudah mendapatkannya. Sementara Juna, terlalu beresiko juga. Juna dari kalangan pengusaha, meskipun sepak terjangnya mungkin saja belum di dengar oleh Wanita itu, tapi tidak menutup kemungkinan Juna juga bagian incarannya. Wanita itu pernah melihat Juna sebelumnya," sambung Reynand menjelaskan kemungkinan buruk apa yang akan terjadi jika mereka memegang chip itu.
"Berarti tinggal Mas Rian dan Dipta. Mas Rian seorang ASN dan Dipta karyawan di sebuah bank swasta, kemungkinan Wanita itu tidak tertarik untuk mendekati mereka berdua, iya kan?" Evan mengerti apa yang dimaksudkan Reynand. Dia kemudian mengambil Pin dan bros yang masing-masing berisi chip. Evan lalu memberikan Pin kepada Rian, sedangkan Bros itu dia berikan kepada Dipta.
"Rian dan Dipta saya percayakan kebebasan Keynand pada kalian berdua. Saya harap kalian berdua tidak menghianati saya," ucap Reynand setelah Pin dan Bros itu berada di tangan Rian dan Dipta.
"Pin ini berinisial BHA, apa Pin ini milik Beni?" tanya Rian terkejut begitu mengamati Pin yang berada di tangannya. Pin berbentuk bulat pipih berwarna putih dan terbuat dari berlian itu terukir inisial BHA yang diyakininya adalah milik sahabatnya.
"Loh kok bisa? Bros ini juga Bros milik Ega. Bros bunga bintang," sahut Dipta memperlihatkan Bros yang ada di tangannya.
Juna yang terkejut dengan apa yang diucapkan Rian dan Dipta segera mengambil Pin itu lalu mengamatinya dan juga mengambil Bros yang di pegang oleh Dipta.
"Kenapa Pin milik Beni ada pada kamu, Van? Begitu juga Bros milik Ega? Dari mana kamu dapatkan ini semua? Pin ini sepertinya milik Beni yang merupakan keturunan dari Hardian dan juga sebagai bukti bahwa dia adalah pewaris perusahaan. Pin ini identitas Beni Hardian Adha, kenapa sekarang berada di tangan kamu, coba kamu jelaskan?" tanya Juna dengan raut terlihat amat sangat serius. Ada tanda tanya dan kecurigaan yang sangat besar terpancar pada raut wajah Juna, begitu juga dengan Rian.
Huft
Evan menarik nafas panjang. Sedangkan Reynand terlihat heran. Ada keterkejutan yang nampak pada wajahnya begitu mengetahui tentang Pin dan Bros yang dijadikan media untuk menyimpan Chip tersebut.
"Saya yang meminjamkannya. Pin dan Bros itu Insyaa Allah aman karena dibuat sangat canggih dan saya yakin juga Wanita itu tidak akan berani mengincar Pin dan Bros ini. Saya rasa keluarga Hardian tidak berani dia sentuh."
Lexi menjelaskan kenapa Pin dan Bros itu digunakan untuk menyimpan alat bukti. Dia sudah memikirkan hal ini dengan baik demi keamanan bukti-bukti yang mereka kumpulkan.
Juna dan Rian mendengarkan penjelasan Lexi dan mencoba menerima itu. Tapi pada wajah keduanya terlihat ketidak puasan atas penjelasan Lexi. Keduanya masih diliputi tanya dan tidak seharusnya Pin milik sebuah keluarga dipindah tangankan kecuali atas izin dari yang bersangkutan ataupun pihak keluarga jika pemiliknya sudah meninggal.
Lexi mengerti apa yang dipikirkan Rian dan Juna. Dia lalu mengeluarkan Pin miliknya yang bentuknya sama dengan Pin yang dipegang Rian.
__ADS_1
Juna dan Rian terkejut melihat Pin milik Lexi yang sama dengan Pin milik Beni.
"Kok bisa sama? Ante juga punya?" tanya Rian tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Iya, saya juga memiliki Pin yang sama dengan pin yang dimiliki Beni hanya warna inisialnya saja yang berbeda. Warna inisial nama milik saya berwarna Gold sedangkan milik Beni berwarna silver dengan inisial sama BHA. Beni Hardian Adha dan Bani Hardian Akbar. Saya kakak kandung dari Beni yang terlahir bernama Bani Hardian Akbar."
Lexi pada akhirnya menceritakan siapa dirinya. Tentu saja pengakuan dari Lexi membuat Juna dan Rian terkejut tidak terkecuali Reynand. Tidak dengan Evan dan Dipta yang sudah mengetahui hal itu.
Terjawab sudah pertanyaan Reynand yang heran dengan keberadaan Lexi di Perusahaan Hardian Otomotif. Dia yang berasal dari keluarga Adhitama secara mengejutkan menjadi Direktur Utama di perusahaan Hardian Otomotif menggantikan Beni, ternyata dia seorang Pewaris. Pantas saja Wanita itu mengincarnya. Lexi juga berada dalam zona tidak aman dan menjadi incaran selanjutnya. Dia harus menghentikan kegilaan Wanita itu, pikir Reynand.
"Terima kasih telah meminjamkan Pin milik Beni dan juga Bros milik Isterinya Beni untuk di jadikan tempat menyimpan bukti," ucap Reynand setelah Lexi menjelaskan tentang Pin dan Bros itu sehingga Juna maupun Rian tidak salah faham. Ini dilakukan sebagai salah satu cara untuk menyelamatkan bukti-bukti yang ada agar tidak jatuh ke tangan Wanita itu, jika tidak dilakukan dengan cara itu, bisa jadi kemungkinan buruk itu pasti akan terjadi.
Rian terlihat menitikkan air mata saat menggenggam Pin milik Beni. Dia mengingat kembali kenangan kebersamaan tujuh sahabat dimana ada Beni di sana.
"Bang Reynand, Insyaa Allah ane akan jaga Pin milik Beni dengan sebaik-baiknya hingga Abang Keynand bebas lalu ane serahkan kembali kepada Abang Lexi," ucap Rian mengikrarkan kesanggupannya membawa Pin itu dan akan pembawa pin itu ke Pengadilan saat Keynand di Sidang. Dipta juga mengatakan kesanggupannya.
"Terima kasih, Rian dan Dipta. Saya percaya sama kalian berdua," ucap Reynand dengan senyum tulusnya. Ada harapan atas kebebasan Keynand pada Rizqy dan tujuh sahabat yang kini ikut bergabung untuk menyelamatkan Keynand.
"Agar kalian berdua aman sebaiknya mulai sekarang jangan ikut lagi dalam penyelidikan selanjutnya. Biarkan Evan dan Juna saja, takutnya nanti Wanita itu mengetahui keberadaan kalian berdua. Beraktivitaslah seperti biasa seolah-olah tidak tahu apapun dan tidak mengenal kami sehingga bukti yang kalian bawa aman-aman saja. Nanti kalau sudah waktunya, saya berharap kalian hadir di Pengadilan lalu menyerahkannya." Reynand menjelaskan apa yang menjadi kekhawatirannya dan sekaligus meminta kesediaan Rian dan Dipta agar membantunya.
"Siap."
"Siap."
***
Sedangkan Keynand yang masih di tahan pada Polres dan sedang menunggu kapan sidangnya akan di gelar sedang menjalani hidupnya dengan sangat baik. Tidak ada kekhawatiran dalam hatinya, karena dia percaya Tuhan pasti akan memperlihatkan siapa yang salah dan siapa yang benar.
Reynand menggunakan kesempatan itu untuk mengistirahatkan fisik, pikiran dan mentalnya dari kesibukannya selama ini. Dia semakin meningkatkan ibadahnya yang semula mungkin dilakukan dengan tergesa-gesa, kini dilakukan dengan sangat khusuk dan menikmati ketenangan dalam sujudnya.
"Bagaimana hidupmu di sini? Apakah menyenangkan?" tanya Julaekha dengan perasaan yang membucah-bucah. Ada senyum sinis tercetak pada bibir bergincu merah itu.
Saat ini dia sedang mengunjungi Keynand. Dia ingin menikmati kesengsaraan Mantan Suaminya itu sekaligus melemahkan mentalnya.
"Alhamdulillah saya baik-baik saja dan saya bersyukur diberikan kesempatan beristirahat dari rutinitas yang melelahkan," sahut Reynand dengan tenangnya.
"Kelihatannya kamu senang dan menikmatinya? Bagaimana kalau aku kabulkan keinginan kamu Keynand? Mendekamlah di Penjara seumur hidup atau membuat kamu di jatuhi hukuman mati sedangkan aku akan menikmati kebahagiaan bersama Kakak kandungmu sendiri," ucap Julaekha dengan mata berbinar cerah.
"Akan aku pastikan Reynand tidak peduli pada nasip kamu dan akan aku pastikan tidak ada yang membela dan membebaskan kamu dari hukuman itu. Kematianmu akan aku tunggu dan menyambutnya dengan tawa bahagia," lanjutnya dengan sangat bersemangat.
__ADS_1
"Saya tidak khawatir dengan hidup ini, seburuk apapun yang akan saya hadapi nantinya saya ikhlas menerimanya. Bukankah hidupku dan matiku itu milik Allah, jadi apa yang harus saya risaukan. Saya yakin Tuhan akan memperlihatkan kuasanya nanti dan di saat itulah kebenaran itu akan terungkap. Apa kamu tahu itu apa artinya, saya akan bebas?" sahut Keynand dengan tenangnya.
"Bagaimana kalau aku buat keyakinanmu itu tidak akan berguna dan tidak bisa menolongmu?"
Keynand tersenyum lebar. Tidak menyangka Wanita di hadapannya ternyata sesombong itu.
"Saya mempersilahkannya, lakukan! Bila perlu keluarkan semua kemampuan dan kelicikanmu itu agar berhasil. Saya tidak sabar untuk mengakui keberhasilanmu itu."
Sangat tenang dengan senyum yang kian menawan. Keynand berhasil membalas Wanita itu dengan susunan kata-kata yang sangat apik penuh penyemangat. Tapi bukan itu yang diinginkan oleh Julaekha Syarifah. Dia ingin melihat Keynand berkata-kata sinis dan tersulut amarah lalu menjambaknya. Jika itu terjadi, tentu hasilnya Keynand terlihat buruk di Masyarakat. Ah ternyata maksud terselubungnya tidak berhasil.
"Cih, berpura-pura tenang padahal sejatinya sangat ketakutan. Tentu akan aku pastikan kamu menerima hukuman mati. Aku tidak sabar melihat kehancuranmu Keynand dan kamu akan melihat orang-orang yang kamu sayangi tidak peduli denganmu. Kamu akan melihat kebahagiaanku bersama Reynand di detik-detik terakhirmu. Satu lagi, anak kesayanganmu itu Raski Ananda Ardiaz akan aku buat menjadi orang terbuang, di ejek, di hina dan dicemooh oleh Masyarakat. Aku tidak sabar menantikan saat itu. Mari kita bertaruh siapa yang akan menang."
Usai berkata Julaekha bangkit dari duduknya. Dengusan kesal terdengar keras di telinga Keynand. Kekesalan itu rupanya menguasai suasana hati Wanita itu.
"Kamu bisa melakukan itu, saya percaya. Saya juga tidak sabar untuk melihatnya dan akan memberikan senyum indah atas keberhasilanmu saat itu."
Dengan tenang Keynand menyahuti angan Wanita itu.
"Iya. Tuhan bisa jadi mengabulkan keinginan kamu dan mengabaikan doa saya maupun doa orang-orang yang menyayangi saya. Memang saat ini Tuhan membiarkan hidupmu penuh dengan kebahagiaan dan kesenangan. Tuhan membiarkan kamu mereguk manisnya kehidupan meskipun yang kamu lakukan adalah kemaksiatan dan kejahatan. Bertobatlah Julaekha Syarifah, sebab balasan di akherat itu sangat pedih. Hati-hati dengan istidraj. Naudzubillah."
Terlalu baik. Keynand menasehati Wanita itu agar dia tidak larut dalam kejahatan dan maksiat yang dilakukannya. Bukan karena ada rasa ataupun peduli pada Mantan Isterinya itu, tapi ini adalah bagian usahanya untuk menyadarkan dia yang pernah singgah di hidupnya.
"Aku tidak tertarik dengan ceramahmu," sahut Julaekha Syarifah membalikkan tubuhnya. Tangan dia sedekapkan berdiri dengan sangat angkuh.
"Apa kamu takut menghadapi peluru para Algojo yang siap merenggut nyawamu? Apa seperti itu, Keynand Putra Ardiaz?" imbuhnya diakhiri dengan senyuman sinis.
"Usahamu sangat bodoh Keynand."
Usai berkata Julaekha melangkah dengan anggunnya meninggalkan tawa mengejek untuk Keynand.
Keynand hanya tersenyum dengan melantunkan istighfar melihat kepongahan Wanita itu.
***
("Bagaimana? Apakah kalian berhasil?")
("Sukses Nyonya, Mobil Rizqy terjatuh ke jurang dan dia tidak bisa menyelamatkan diri. Laptop bersama dokumen-dokumen penting dan sebuah Chip berhasil kita ambil.")
Bersambung.
__ADS_1