
Apa kamu belum terima kalau saya ini Mama tiri kamu Rizqy? Apa kamu masih mengharapkan kebersamaan kita kembali? Aku bisa mewujudkannya. Aku tahu di hatimu hanya ada aku. Sadari itu Rizqy dan jangan menutupinya dengan kemunafikan itu."
Hahahahaha
Rizqy tak sanggup lagi menahan geli. Dia tertawa lebar demi kata-kata penuh percaya diri itu.
"Tentu saja saya tidak terima dengan kehadiran kamu sebagai Isteri Mamiq. Ingatan saya masih tersimpan dengan rapi, bagaimana bahagianya kamu menghancurkan keluarga saya. Menurutmu apakah saya akan bersikap baik? Sayangnya saya tidak berhati Malaikat yang mau menerima begitu saja dengan legowo tanpa adanya amarah." Usai tertawa Rizqy langsung memberinya kalimat panjang. Dia melihat Wina dengan pandangan malas dan tak berminat. Buang-buang waktunya saja. Dia pikir Wanita itu mendatangi kantornya untuk melakukan kunjungan kerja atau apalah namanya, ternyata membahas sesuatu yang tak penting.
"Jadi anda ke sini hanya untuk membahas yang bukan menjadi tugas kita sebagai abdi negara. Anda benar-benar membuang waktu dengan percuma. Padahal ini sangat berharga bagi orang-orang di luaran sana," lanjut Rizqy dengan tak segan.
"Kenapa kamu selalu mengabaikan panggilan dariku?" Tanya Wina menanggapi ocehan Rizqy dengan pertanyaan. Dia tak menghiraukan apapun yang di katakan oleh Pria yang dulu pernah menjadi Kekasihnya.
Rizqy mendengus kesal, lalu dia berkata, "Jadi kamu ke sini hanya untuk mempertanyakan ini?"
"Iya, kamu tahu sendiri bahwa seorang Wina tidak suka di abaikan apalagi menerima penolakan," sahut Wina dengan nada datar. Tersirat tak ingin dibantah dalam setiap kata yang diucapkannya.
"Aku ingin memulainya kembali. Aku tahu hanya aku Wanita di hati kamu, Ris. Buktinya hingga sekarang tidak ada satu Wanita pun yang berhasil menyingkirkan aku di hati kamu. Akui itu Rizqy, jangan membohongi perasaanmu lagi," lanjutnya tanpa basa-basi. Dia sangat yakin Rizqy masih memendan cinta untuknya. Terbukti tidak ada seorang Wanita di sisinya hingga saat ini. Dulu Rizqy memang pernah menikah, tapi nyatanya Wanita yang bernama Jessi itu tidak mampu membuat Rizqy berpaling darinya.
"Cerdas sekali telah berhasil menebak hati ini. Kamu benar sekali Wina Winata, namun apa yang bisa saya lakukan dengan kenyataan ini," sahut Rizqy dengan menunjukkan kesedihan. Kalimat itu menerbitkan kembali binar-binar cinta di pelupuk mata Wina. Dia sepenuhnya masih memendam cinta kepada Rizqy.
"Benar dugaanku. Kita bisa bersama sebagai sepasang Kekasih seperti dulu lagi. Jika kamu setuju, aku akan meminta cerai dari Mamiq dan menikah dengan kamu? Apa ini yang kamu ingin, kan? Mari kita wujudkan impian kita dulu." Wina mengungkapkan keinginannya. Dia memang sangat mencintai Rizqy, hingga sekarang pun dia masih mencintainya. Dia mengira Rizqy masih sendiri dan tidak mengetahui ada Wanita lain yang berhasil mengikat hati Pria itu. Pernikahan Rizqy tidak terdengar di Telinganya, padahal Sang Suami mengetahui itu. Apa mungkin tidak ada satu pun dari anggota keluarga membicarakan hal ini. Bisa jadi Wanita yang bernama Wina Winata itu tidak berhak mengetahui apapun tentang Rizqy Anggara.
Rizqy menatap Wina dengan senyuman tipis menghiasi bibir berwarna merah alami itu.
Melihat itu membuat Wanita itu semakin mendamba. Sejurus kemudian bibir itu bergerak membentuk lengkungan sempurna.
Hahahahaha
Lagi-lagi Rizqy tertawa tak percaya dengan apa yang diucapkan Wanita cantik di hadapannya.
"Wina, Wina ternyata kamu telah kehilangan kecerdasan dan kewarasan. Kamu gagal memahamiku dan memaknai apa yang ku ucapkan," sahut Rizqy setelah berhasil meredakan tawanya.
Wina menatap Rizqy dengan lekat dan di pelupuk matanya ada harapan akan kebersamaan itu kembali. Dia telah datang menemuinya dan rela merendahkan dirinya demi mendapatkan Rizqy kembali. Wanita cantik itu menunggu jawaban yang diyakini akan berujung manis.
"Jujurlah Rizqy, cinta itu masih di hati kamu untuk aku, Wina Winata, kan? Jangan mengelaknya karena hanya akan membuat kamu kesakitan. Aku mendatangimu untuk memberikan cinta ini lagi."
Rizqy menyimaknya dengan baik. Dalam hati dia merutuki itu. Ada senyum sinis tak terbaca menghiasi bibirnya. Rizqy pikir Wanita ini telah kehabisan obat sehingga bisa berkata sesuka hatinya. Racauannya tak menghasilkan apapun. Ah sangat merugi dirinya. Ibarat menepuk air di dulang terpercik muka sendiri. Dia mempermalukan dan merusak nama baik diri sendiri. Elok kah dia mengatakan cinta untuk orang lain, sementara dirinya terikat status sah.
__ADS_1
"Baiklah, saya ingin jujur. ..." ucap Rizqy menggantung kalimatnya. Dia sengaja menjeda untuk memberikan leluasa kepada Wanita itu menduga hal baik. Terbukti matanya memancarkan kehangatan dan juga keangkuhan. Itu menunjukkan bahwa dia akan memegang kemenangan.
Rizqy senang melihat ekspresi itu. Tak apa dia bermain-main sedikit dengan hati Wanita di hadapannya. Melambungkan dulu angannya, lalu meninggalkannya.
"Menurutmu saya harus menerimamu kembali? Tentu saja tidak, bukan? Dulu saja aku tidak sudi menerimamu lantaran penghianatan kamu, apa mungkin sekarang aku bakalan mau bersamamu setelah apa yang kamu lakukan kepada keluargaku. Kamu sungguh terlalu percaya diri ternyata. Rasa itu sudah aku bakar hingga tak bersisa, jadi apa yang kamu harapkan lagi?" Lanjut Rizqy dengan masih saja di selimuti ketidak percayaan dengan apa yang di inginkan Wina. Dia menggelengkan Kepala dengan senyum yang terlihat merendahkan bagi Wanita itu.
Wina terlihat marah karena Rizqy menertawakannya dan sekaligus penolakan yang terang-terangan terucap. Dia tidak terima ini dan lihat saja yang akan dilakukan untuk menyengsarakannya.
"Munafik! Hanya gara-gara aku tidur dengan laki-laki lain sehingga kamu mencampakkan aku dulu. Jangan sok alim dengan memegang keyakinan primitifmu itu. Di mana kamu temukan Gadis yang masih perawan di zaman sekarang, takkan dapat!"
Dengan lantang Wina bersuara menumpahkan segala kemarahannya. Dia tak berpikir lagi dengan kesopanan itu.
"Aku tidak menyesal menjadi Isteri dari Mamiq kamu. Kamu pasti tahu tujuannya apa, kalau bukan menghancurkan kamu dan membuat kamu menderita. Dan tentu saja aku berhasil membuat Mama tercintamu meninggal dan adik kesayanganmu juga meregang nyawa. Dendam aku takkan berhenti, hingga kamu bertekuk lutut Rizqy!" Lanjutnya geram.
Kalimat mengancam itu berhasil membuat Rizqy tersenyum. Tidak ada lagi kesedihan yang di nampakkan oleh Laki-laki itu. Tenang dengan sorot mata yang masih saja memancarkan keteduhan.
"Apa aku mengucapkan selamat kepada kamu Wina? Atau memberikanmu penghargaan," ucap Rizqy datar. Wina tak lagi bersuara sehingga memberikannya kesempatan untuk membalas.
Wina mengernyitkan dahi tanda keheranan. Tidak ada amarah yang terpancar dari raut wajah Rizqy padahal dia telah memancingnya dengan mengungkit masa lalu yang menyakitkannya.
"Menurutmu tidak ada lagi Gadis yang masih perawan, bukan? Itu menurutmu. Jangan merendahkan mereka dengan menyamakan dirimu yang 'mur*han' dengan mereka yang berpegang teguh dengan syariat agamanya. Benar-benar dzolim. Nyatanya masih banyak Wanita yang benar-benar menjaga kesucian dan kehormatannya dengan baik. Mereka memegang teguh apa yang menjadi ketentuan dalam agama. Mereka tahu yang haram tetaplah haram dan halal tetaplah halal. Mana mungkin yang haram dilakukan akan menjanjikan syurga. Cara pikir kamu dikelabui Set*n, mereka menertawakan kebod*han kamu Wina." Rizqy menimpali perkataan Wina yang entah mendapatkan informasi dari mana. Apa mungkin dari amarahnya membuat pernyataan yang mengada-ngada. Dia men-judge semua Wanita sama seperti dirinya yang kebablasan dengan kebebasan.
"Kamu mengatakan saya primitif dengan keyakinan ini, tidak apa-apa. Bukankah agama datang untuk meluruskan kepercayaan keliru yang dilakukan oleh Nenek moyang terdahulu. Sekarang, siapa yang sebenarnya primitif? Aku atau kamu Wina? Sudahlah aku tak ingin membahas itu. Tak akan berkesudahan dan aku rasa kamu tidak mau menerima apa yang aku ucapkan."
Rizqy menjeda kalimatnya. Dia menghirup oksigen sepuasnya hingga memenuhi rongga dadanya.
Terlihat Wina ingin berkata, namun Rizqy terlebih dahulu membungkan dengan perkataan yang begitu menohok hati Wanita itu.
"Wina, apa yang akan kamu lakukan jika pakaian dalam yang kamu inginkan dan kamu sudah miliki tiba-tiba di gunakan orang lain sebelum kamu menggunakannya. Terus pakaian dalam itu dikembalikan kepadamu, apa kamu akan memakainya? Tentu saja kamu akan jij*k dan tak mau memakainya. Itulah ibaratnya." Rizqy mengakhiri kalimat panjangnya. Dia menunduk tak ingin lagi melihat wajah cantik yang membuatnya muak.
Terlihat wajah Wina memerah menahan gemuruh dalam dadanya yang menyimpan amarah. Tak ada kalimat bantahan dari Wanita itu. Dia mengerti apa yang di maksudkan oleh Pria di hadapannya. Rizqy benar-benar menolaknya.
"Waktunya kita bekerja Ibu Wina. Jangan memberi contoh yang tidak baik kepada bawahan anda, bukankah begitu?" Rizqy kini kembali bersikap formal.
"Saya tidak akan melupakan ini Rizqy. Kedudukan kamu berada dalam genggaman saya. Kamu sudah bermain-main dengan saya dan lihatlah sebentar lagi seperti apa nasibmu itu," ucap Wina pada akhirnya bersuara setelah lama terbungkam demi mendengarkan kalimat-kalimat panjang dari Rizqy.
"Silahkan Ibu Wina, itu memang kewenangan anda sebagai Pejabat penting. Saya tidak takut kehilangan Jabatan karena Jabatan itu tidak pasti dan hanyalah titipan. Saya hanya takut kehilangan iman. Karena jika kehilangan iman, maka bisa jadi saya akan bertindak semena-mena. Mencampur adukkan urusan pribadi ke dalam pekerjaan. Mendzolimi orang-orang yang tak pernah melakukan kesalahan. Bahkan saya bisa saja mengkambing hitamkan orang lain atas kesalahan yang saya lakukan. Saya yang bersalah, orang lain yang di hukum."
__ADS_1
Lagi-lagi raut wajah Wina memerah. Kalimat yang diucapkan Rizqy sangat halus mengandung sindiran. Dia merasa tersinggung karena tokoh 'saya' seakan di arahkan kepadanya.
"Jangan tersinggung Ibu Wina," timpal Rizqy dengan cepat saat melihat kemarahan yang ditampakkan oleh Wina Winata.
Dia bangkit dari duduknya lalu meninggalkan ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hatinya menyimpan amarah yang siap meledak di saat ada kesempatan. Tentu Wanita itu tidak ingin mempermalukan dirinya yang di kenal lembut dan baik.
Rizqy bernafas lega saat kepergian Wina. Dia melangkah menuju Dapur, kemudian membuat secangkir kopi untuk menghilangkan rasa pening di Kepalanya. Pembicaraan dengan Wina membuat kepalanya terasa nyut-nyutan. Selang beberapa menit, dia melangkah kembali ke ruangannya dengan membawa secangkir kopi.
Rizqy duduk di kursi kebesarannya, dengan memijit kepalanya yang benar-benar pening. Semalam dia begadang untuk menyelesaikan dokumen pengadaan dan hari ini di datangi tamu tak jelas maksudnya apa.
Dia menyeruput kopinya dengan pelan berusaha untuk menikmati rasa itu. Sedangkan tangan kirinya mulai menekan nomor seseorang yang akan mampu menenangkannya.
(Sayang, Mas kangen)
***
Menjelang Sore, Kantor heboh dengan surat pelantikan yang tiba-tiba saja beredar pada aplikasi berwarna hijau. Rizqy juga mendapatkan undangan. Hanya dirinya yang mendapatkan undangan di Instansinya, itu berarti dia akan di pindahkan ke instansi lain. Ancaman Wina ternyata terbukti, dia bertindak dengan cepat.
Rizqy bergegas pulang untuk mengganti Seragam Kekinya menjadi Jas hitam. Pakaian yang hanya dipergunakan saat pelantikan pengukuhan jabatan.
Usai mengganti kostum, dia meluncur ke Gedung Kantor Provinsi untuk menerima nasipnya seperti apa, karena tak memiliki waktu untuk hanya sekedar menikmati angin.
Beberapa menit kemudian mereka melaksanakan pelantikan dengan hikmad. Ada senyum cerah bagi mereka yang mendapatkan promosi Jabatan dan ada berwajah datar karena hanya berpindah tempat saja. Tidak terkecuali Rizqy, senyumnya mengembang tak nampak kesedihan di wajahnya. Padahal di group Instansinya sedang gempar dengan apa yang menimpa Rizqy, salah satu Pegawai terbaik dan berprestasi. Rata-rata bertanya apa yang sebenarnya terjadi? Seakan Rizqy telah melakukan kesalahan fatal. Ini baru kali pertama kejadian luar biasa seperti ini. Sungguh sebuah sentimental yang tak beralasan. Tak tanggung-tanggung, selain dicopot Jabatannya. Rizqy juga di pindah tugaskan ke pelosok yang jauh dari sarana apapun.
(Bu Wina, terima kasih, anda telah membuktikan ancamannya. Saya sungguh bahagia kini, Alhamdulillah)
Rizqy mematikan sambungan dengan senyum cerah. Tentu senyum itu membuat orang-orang di sekitarnya heran. Mereka tentu saja mendengarkan apa yang terjadi dengan nama yang disebutkan dengan lantang tadi.
Tak ingin berlama-lama, Rizqy bergegas pulang dan mengabarkan berita gembira ini kepada Habibah Rosy, Sang Isteri.
Ibarat Pohon Mangga, Pohon itu bisa tumbuh di lahan subur maupun kering, bukan? Di mana pun berada pohon itu akan berdiri kokoh dan tetap akan berbuah.
Seperti itulah, dia akan tetap berdiri tegak dan melanjutkan langkahnya dengan pasti tanpa beban. Akan dia jadikan lahan tandus itu menjadi lahan subur. Hidup itu butuh tantangan bukan? Agar kita tahu seberapa bisanya kita menaklukkan itu.
("Bibah sayang, Mas kangen, tunggu kedatangan Suamimu yang tampan ini, okay!")
Bersambung
__ADS_1
Hai teman-teman terima kasih sudah berkenan membaca dan jangan lupa meluangkan waktu untuk membaca Alquran.