
Mobil Reynand terlihat memasuki Pelataran Rumahnya. Saat waktu menjelang sore.
"Alhamdulillah sampai juga," ucap Reynand melepaskan Seatbelt lalu meraih Kantong kresek berisi buah Kepundung. Kemudian keluar dengan langkah bahagia menghampiri pujaan hati yang menunggunya.
"Mas, sudah sampai? apa Mas baik-baik saja?" Lika menyambut Reynand dengan pertanyaan. Tidak lupa dia meraih tangan kanan Pria itu lalu mencium pungungnya dengan takzim.
"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat. Ini buah yang kamu inginkan. Pasti Bayi kita seneng banget nih!" Reynand mengelus perut Lika sambil membungkuk mengajaknya berbicara.
"Terima kasih, Mas! Ayo kita masuk."
Lika membimbing tubuh Reynand. Setelah Pintu di tutup baru dia labuhkan diribpada tubuh tegap Suaminya.
"Terima kasih atas perjuangannya. Calon Bayinya pasti sangat beruntung memiliki Ayah hebat seperti Mas Reynand." Lika berucap di balik dada bidang Suaminya.
Reynand tersenyum, dia mengelus punggung Isteri. Setelah puas baru beralih pada rambut panjangnya.
"Iya iyalah Ayah Reynand gitu loh! apa sih yang enggak buat kalian," sahut Reynand terkekeh diakhir saat menyadari ucapannya.
"Iya, beberapa kali Mas Reynand jatuh, kasian!" ucap Lika khawatir. Dia mengurai pelukan, matanya sangat teliti melihat penampilan Reynand yang tidak layak di pandang mata. Kaos oblong yang digunakan terlihat kotor dipenuhi dengan tanah.
"Tidak Mas hitung, yang jelas beberapa kali," sahut Reynand penuh kebahagiaan.
"Kalau begitu Mas mandi dulu."
Reynand menanggapi Lika dengan anggukan kepala. Baru saja melangkah ke arah kamar dia teringat sesuatu.
"Anak-anak mana? kok enggak terdengar celotehan mereka," tanya Reynand menghentikan langkahnya.
"Dibawa jalan-jalan sama Opa dan Omanya," sahut Lika.
"Asyiiiik, berarti hanya kita berdua dong! boleh dong Mas dimanjain sama kamu sebelum selama sebulan kita jaga jarak biar enggak kebablasan," ucap Reynand bahagia. Dia mengedipkan mata dengan menampilkan senyum nakal.
"Mas ini, pinter banget mengambil peluangnya," ucap Lika menggelengkan Kepalanya.
"Harus dong! kenapa tidak," sahut Reynand dengan mata berbinar-binar.
Dia terlihat riang namun keriangannya berubah saat mengingat sesuatu yang dilupakannya.
"Astaghfirullah. Mas lupa tadi bawa Bibit buah kepundung, sebaiknya Mas tanem dulu semumpung masih kotor," ucap Reynand. Gegas dia melangkah ke arah Pintu keluar menuju Mobil di Garasi.
Lika tertawa melihat tingkah Suaminya yang serius namun terlihat konyol. Dia mengiringi langkah Suaminya menuju Mobil. Disana Wanita hamil itu melihat Reynand mengeluarkan sesuatu dari Bagasi Mobil.
"Mas dapat dari mana?" tanya Lika melihat bibit pohon buah Kepundung.
"Tadi Mas ketemu Inaq-Inaq yang ngizinin ngambil buah Kepundungnya terus di kasik bibitnya juga. Siapa tahu saja nanti ngidam buah Kepundung lagi, makanya Mas nanem biar enggak nyari tinggal petik di kebun sendiri," jawab Reynand. Dia menenteng Bibit itu menuju halaman belakang. Lika mengikutinya, terlebih dahulu dia mengambil Cangkul yang tergeletak di Dinding Dapur.
"Ini Mas," ucap Lika menyodorkan Cangkul itu.
Reynand mulai menggali lubang, dia terlihat terbiasa melakukannya.
Jika menelisik ke belakang, dulu Reynand tidak mengenal alat pertanian sama sekali. Menyentuh apalagi menggunakannya tidak pernah ada dalam kamus hidupnya.
Pertama kali memegang Sabit, saat pertama kali mengajaknya untuk melihat rumah yang sekarang mereka tempati.
Lika tertawa kecil mengenang itu semua. Reynand mengalihkan perhatiannya. Dia menghentikan kegiatannya dan memperhatikan wajah Isterinya yang nampak berseri-seri.
"Kenapa?"
"Teringat masa lalu," jawab Lika singkat.
"Masa lalu yang mana? apa ada Mas disana? kalau tidak ada, Mas cemburu lo! jangan sampai ada Laki-laki lain di masa lalu itu." Terucap kalimat yang bernada cemburu di dalamnya. Lika kembali memperdengarkan tawanya.
"Mas ini, su'udzon ternyata."
"Selama lima tahun kita tidak bersama-sama. Tentu selama Lima tahun berbagai pengalaman yang kamu alami termasuk pengalaman yang membuat kamu tertawa tadi," sahut Reynand. Tangannya sibuk mencangkul tanah tempat bibit kepundung itu akan ditanam.
"Tidak ada pengalaman yang berarti. Selama lima tahun aku mengisi waktu itu dengan merindukanmu, Mas," sahut Lika.
__ADS_1
"Iya, Mas mengisinya dengan mengingat kamu."
Reynand tersenyum, tangan terampilnya menyelesaikan penggalian lubangnya. Dia mengambil Bibit itu lalu mulai menanamnya. Setelah Pohon itu tegak berdiri menancapkan akarnya di tanah. Baru Reynand melangkah ke arah Sumber air, mengambil ember lalu membawa Ember yang berisi air itu ke tempat Pohon Kepundung kini hidup. Dia menyiramnya dengan harapan agar pohon itu tumbuh dan bermanfaat untuk umat manusia.
"Sekarang giliran Mas ingin dimanja," ucap Reynand menjawir hidung mungil itu.
"Apaan, sih!"
"Lucu, jangan malu-malu sayang."
Reynand mengandeng tangan Lika setelah dia mengembalikan Ember dan Cangkul ketempat semula.
Sesampainya di kamar, tangan kekarnya meraih tubuh itu untuk dibawa ke kamar mandi. Lika berteriak meminta di lepas, tapi Reynand tak mengindahkannya.
Semumpung tidak ada dua krucil yang menganggunya. Ini kesempatan untuk dimanjakan oleh Sang Isteri. Itu yang ada dalam pikiran Reynand saat ini.
Lika manut, dia mulai membersihkan tubuh Reynand. Menggosoknya hingga mengkilat. Kotoran yang menempel bada kulit itu seketika berguguran.
"Aku mencium aroma Pelakor yang menghampiri Suamiku, jadi aku harus membersihkannya dengan baik agar tidak menempel," ucap Lika sambil menggosok tubuh Reynand dengan penuh semangat.
"Tidak ada yang berani, Mas akan menutup jalannya," sahut Reynand tegas.
"Aku percaya sama Mas. Jangan sampai menghianati kepercayaanku, iya Mas?" ucap Lika tidak kalah tegas.
Reynand mengangguk. Dia meraih wajah itu lalu membingkainya. Kini pandangan mereka menyatu menyelami perasaan masing-masing.
"Ada apa? kok tiba-tiba ngomong gitu?" tanya Reynand menatap manik Isterinya intens.
"Mas mau jujur atau enggak?"
Reynand berpikir sejenak, dia teringat dengan Wanita muda yang ingin modus kepadanya. "Kamu tahu itu?"
"Iya iyalah, Vidionya ada di group Sekolah. Gadis itu salah satu Guru yang mengajar di TK tempat Kakak Renia Sekolah. Dia Guru baru, baru satu bulan sepertinya. Namanya Gadis, cantikkan?"
Lika bercerita perihal Wanita muda yang berpura-pura terjatuh dengan Kaki keseleo hanya untuk menarik perhatian Reynand.
"Kok bisa dia melakukan itu sampai menyusul ke Pusuk? niat banget Gadis itu" tanya Reynand heran.
"Demi mendapatkan Reynand, apapun dijabanin," sahut Lika sambil menyelesaikan aktivitasnya. Dia mengguyur tubuh Suaminya agar busa sabun ikut hanyut bersama tetesan air.
"Mas buruk rupa lo! lantas apa di pandang?" tanya Reynand heran.
"Punya Mas," sahut Lika singkat.
"Yang ini?"
Reynand tertawa melihat mata Lika yang melotot saat menunjukkan Senjata Pamungkasnya yang masih ditutupi Celana pendek.
"Bukan hanya aset berharga Mas Reynand tapi aset lainnya. Tidak apa-apa buruk rupa yang penting Dompetnya tebal tak akan menipis-nipis terus rekening yang terus terisi tak kurus-kurus. Itulah yang diincar oleh seorang Wanita seperti Gadis," jawab Lika menerangkan.
"Oh gitu? itu tidak akan terjadi. Berarti langkah Mas tadi sudah benar? tidak memberikan kesempatan Setan untuk berbisik menggoda Mas. Perselingkuhan itu terjadi karena sama-sama suka. Jika seorang Pria tidak mau sekuat apapun Wanita cantik diluaran saja menggodanya tentu tidak akan terjadi perselingkuhan itu. Sebaliknya juga berlaku bagi seorang Wanita, jika dia tidak mau maka aman. Mas tidak mau, semoga Mas dihindarkan dari godaan itu yang akan merusak kebahagiaan. Percaya, deh! tidak akan bahagia orang yang selingkuh. Berawal bahagia berakhir dengan penyesalan." Reynand menuturkan pendapatnya tentang topik pembahasan kali ini.
"Benarkah?"
"Iya sayang!, percaya sama Mas, ya?" ucap Reynand memberikan kepastian untuk Isteri. Sejalan dengan hatinya yang memohon agar Tuhan berkenan melindunginya dari godaan Wanita lain selain Isteri satu-satunya.
Mereka berdua menyelesaikan mandinya. Lika mengeringkan tubuh Suaminya penuh dengan rasa baktinya.
"Bayi besarku udah selesai mandinya," ucap Lika setelah mengeringkan tubuh Reynand.
Dia berjalan menuju Lemari, mengambil Celana kain dan juga baju kaos berkerah berwarna biru dongker. Lika menyerahkan pakaian itu kepada Suaminya.
"Apa aku pakaikan juga?" tanya Lika menggoda Suaminya.
"Kalau tidak keberatan," jawab Reynand usil.
Lika mengambil alih, dia benar-benar memanjakan Bayi besarnya semumpung anak-anak tidak ada. Setelah Reynand berpakaian rapi dia menyisir rambutnya dengan memberikan Gel yang biasa digunakannya. Terakhir sentuhan Parfum yang akan mewangikan Tubuh Pria itu.
__ADS_1
"Sudah cakep."
"Terima kasih sayang." Reynand memeluk tubuh Wanita yang menyimpan kesetiaan hanya untuknya.
"Mas ingin mengungkapkan rahasia," ucap Reynand masih asyik memeluk tubuh Lika.
"Rahasia apa?"
"Mas jatuh cinta pada seorang Gadis. Mas bertemu dengannya di Pantai. Saat itu dia terseret Ombak terus Mas menolongnya. Mas memberikan nafas bantuan kepadanya. Itu pertama kali Mas menyentuh Bibir seorang Gadis. Sesaat kemudian usaha Mas membuahkan hasil, Gadis itu tersadar. Mata jernihnya menatap Mas, sangat indah. Namun Mas harus pergi meninggalkannya. Setelah dewasa baru Mas kembali lagi ke Lomboq. Entah kenapa, Mas ingin sekali membangun kebahagiaan disini. Karena Gadis itu berada disini."
Reynand mengakhiri ceritanya dengan memeluk erat tubuh Isterinya.
"Gadis itu siapa Mas?"
"Gadis kecil itu kamu?" jawab Reynand singkat.
"Aku?"
Lika mendongakkan wajahnya menatap Reynand yang serius.
"Kok bisa?"
"Mas juga tidak mengerti, ini sudah di atur oleh Tuhan. Mungkin saja ucapan Mas waktu itu dikabulkan walaupun diucapkan tidak sengaja. Waktu itu mungkin saja hanya becanda, maklumlah kenakalan remaja." Reynand menjawab sambil menggelengkan kepala jika ingat kata-kata sakral yang menurutnya waktu itu dia sedang bergurau.
"Kapan Mas tahu kalau Gadis kecil itu aku?" tanya Lika penasaran.
"Waktu kita sudah halal. Waktu pertama kali lihat aurat kamu. Mana mungkin Mas melupakan ini."
Reynand mengarahkan tangan pada leher putih Isterinya, mengelus bekas jahitan yang terlihat samar.
"Jadi karena bekas jahitan ini membuat Mas sadar bahwa Gadis yang pernah ditolong adalah aku?"
Reynand menjawab dengan anggukan. Sejurus kemudian menyentuh leher putih itu membuat Lika menggeliat menahan sakit sekaligus nikmat.
"Mas menanyakan kepada Adly? seperti apa ceritanya sampai kamu trauma mendekati Pantai? cerita dari Adly mengingatkan pengalaman Mas dulu yang pernah menolong Gadis kecil yang terserek Ombak. Tempat dan waktunya sama, tidak ada beda sama sekali." Reynand melanjutkan cerita setelah puas bercumbu dengan Isterinya.
Lika tersenyum, tidak menyangka sama sekali Tuhan menjodohkannya dengan orang yang pernah menolongnya. Memberikannya cinta dan kesetiaan hanya untuknya. Tentu dia sangat beruntung.
"Kok Mas ceritanya sekarang?" tanya Lika.
"Ingetnya sekarang," jawab Reynand singkat.
"Sebenarnya ada lagi," lanjut Reynand dengan wajah ragu-ragu.
"Apa?"
"Tapi kamu jangan marah!"
"Marah? Kok marah?"
"Iya takut aja, kalau Mas jujur kamu akan marah sama Mas," sahut Reynand ragu-ragu untuk menceritakan sesuatu kepada Isterinya.
"Lika janji tidak akan marah," jawab Lika meyakinkan Suaminya.
"Hem."
Saat ingin berkata, terdengar suara adzan berkumandang dari Masjid Nur Syahada.
"Jawabnya nanti saja, sudah dipanggil itu," ucap Reynand dengan senyum leganya. Dia urung menceritakan rahasia selanjutnya.
Lika tidak bisa berbuat apa-apa selain merelakan Suaminya pergi dengan menahan rasa ingin tahunya.
Cup
Reynand berlalu setelah berhasil menyentuh bibir itu seperti biasanya.
Bersambung.
__ADS_1