Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.80


__ADS_3

Esoknya Keynand benar-benar menempati janjinya untuk menemui Lalu Wira Ariadi di Penjara. Sebelum itu dia akan menjemput Rizqia yang berada di rumah sakit.


"Yakin kalian berdua akan menemui Mamiq?" Tanya Habibah, saat Keynand sudah berada di hadapannya.


"Yakin kak, bagaimana pun juga kita berdua butuh restu dari Mamiq, orang tua Qia yang masih ada. Tidak sopan rasanya mengabaikan beliau tanpa memberitahu. Kesannya saya tidak menghormati keberadaannya," jawab Keynand dengan serius.


"Kamu benar, apapun langkah kalian selanjutnya Kak Bibah akan selalu mendukung. Asalkan tidak ada keraguan di antara kalian berdua."


Ucapan Habibah membawa angin segar bagi Keynand. Dari perkataan Wanita hamil itu, bisa di maknai bahwasannya Habibah merestui hubungan mereka berdua. Tinggal menunggu Rizqy sadar dari koma, maka asa itu akan terlaksana.


"Hai calon Kakak Ipar betah banget komanya? Apa tidak ingin nengok calon bayinya? Udah lama Kak Bibah nelangsanya kalah-kalah Jamal alias janda Malaysia yang jarang di belai dan ..."


Plak


"Duh kena pukul." Ringisan terdengar, Keynand pura-pura kesakitan.


Rizqia secara reflek memukul lengan Keynand yang berbicara tak sopan apalagi membahas yang bukan-bukan.


"Mentang-mentang pernah menikah dua kali dan menduda dua kali, kok lupa ada anak kecil di sini. Bahasannya itu loh? Mesum," ucap Rizqia menegur Keynand.


"Biarin, wek."


Keynand menggoda Rizqia dengan masa bodohnya sembari menjulurkan lidah mengolok.


"Siapa tahu saja Kak Rizqy jadi sadar saat mendengar Kak Habibah pingin di anu. ..."


Plak


"Aduh! Seneng ya, mukul lengan ini? Kenapa enggak yang lain saja misalnya manjain kepunyaanku, tapi entar kalau kita udah nikah, bagaimana?" Keynand menggoda Gadis bermata belo itu dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Rizqia. Sangat dekat, hembusan nafasnya pun terasa hangat.


Rizqia melotot, tidak menyangka Keynand seberani itu. Dia kembali memukul lengan itu tak henti-henti membuat Keynand mengaduh berkepanjangan.


"Jaga jarak."


Keynand menarik diri. Dia mengusap tengkuknya salah tingkah. Untung saja ada Habibah di sana kalau tidak mungkin saja hidung mereka bertemu sebelum waktunya.


Habibah yang menyaksikan dua sejoli sedang berdrama korea menggelengkan kepalanya, dan dengan cepat memperingatkan Keynand untuk menahan diri. Rizqia memang sangat mempesona, Keynand tidak sanggup bertahan, sepertinya imannya mulai goyah.


"Katanya kalian mau pergi? Nanti penjara nutup," ucap Habibah mengingatkan mereka.


"Bukannya Penjara tetap tutup kalau enggak bakalan kabur para Penghuninya."


"Maksudnya jam besuknya Abang Keynaaaaand."


Rizqia menyahuti Keynand dengan sedikit berteriak gemas.


"Ah ya? Benar juga."


Tidak ingin melanjutkan perdebatan, Keynand berpamitan kepada Habibah. Sebelumnya dia berbisik kepada Rizqy yang masih tertidur lelap dalam komanya.


"Yakin Kak Rizqy enggak kepingin nengok calon bayinya? Nanti kalau Bayinya lahir terus protes sama Kak Rizqy gara-gara enggak pernah nengokin bagaimana? Bisa-bisa Bayi Kak Rizqy tidak mengenali Mamiqnya gara-gara itu, bahaya kan?"

__ADS_1


Selesai berbisik merdu dengan kata-kata hasutan, Keynand ancang-ancang melarikan diri tatkala melihat Rizqia melotot dengan isyarat tangan yang siap melancarkan pukulan dan cubitan gemas.


"Lariiiiii."


Hahahaha


Suara tawa menggema.


Rizqia mengejar Keynand yang keluar menghindar, sebelum itu terucap salam yang tidak pernah dilupakan.


"Wa'alaikum salam," balas Habibah sembari menggelengkan Kepala tidak percaya dengan kelakuan dua sejoli itu.


"Mamiq denger, kan? Mereka berdua akrab banget. Jadi kapan Mamiq sadar? Keynand dan Qia menunggu Mamiq untuk menikahkan mereka."


Setelah Keynand dan Rizqia pergi, Habibah kembali mengajak Rizqy berbicara. Tak pernah jemu meskipun Rizqy tidak menanggapinya.


"Waktunya Mamiq dibersihkan?" sambungnya.


Habibah kemudian mengambil air hangat lalu dengan telaten dia mengelap tubuh Rizqy. Tidak ada sisi yang terlupakan, semuanya di basuhnya. Selesai dibersihkan dia kemudian memasangkan pakaian yang baru lengkap dengan pakaian dalamnya. Awalnya Habibah kesulitan melakukan itu apalagi satu Kaki Rizqy dipasangi Gips karena patah. Setelahnya dia sudah terbiasa merawat Suaminya agar selalu merasa nyaman meskipun dia sedang koma.


"Apa aku lelah?" tanya Habibah pada dirinya sendiri sengaja mengungkapkan berharap Rizqy mau menanggapi dengan membuka mata.


Lama terdiam menunggu reaksi Rizqy, nyatanya harapan tinggallah harapan, Rizqy sama sekali tidak membuka matanya.


Habibah menghela nafas dalam lalu dia memilih memijit tangan Rizqy dengan lembut memberikan sentuhan kepadanya. Berharap tangan itu tidak kaku di saat dia sadar nanti.


"Tidak sama sekali. Aku ikhlas melakukannya, Mas. Aku akan selalu berada di samping Mas Rizqy bersama anak-anak kita. Hanya saja aku sepakat dengan Pidie Baiq bahwa rindu itu berat. Namun aku masih kuat menanggungnya Mas dan tidak akan pernah beranjak pergi. Kamu dengar kan, mas? Aku rindu."


"Sadarlah, Mas. Aku benar-benar takut menghadapi kelahiran anak kita nanti tanpa kehadiran Mas. Aku butuh mas yang mendampingi dan mensuport perjuanganku menghadirkan anak kita ke dunia. Apakah aku sanggup tanpa Mas? Sejujurnya aku berada di titik lemah sekarang."


Terisak-isak Habibah menumpahkan keluh kesahnya. Hingga tanpa di sadari ada tangan mungil yang mengelus bahunya memberikan kekuatan.


"Mbak Lika."


Habibah langsung berhamburan dalam pelukan Lika yang sudah berada di sampingnya. Dia larut dalam kesedihan sehingga tidak memperhatikan Lika dan Reynand sudah ada di ruang tersebut yang mengunjunginya.


Reynand dan Lika setiap hari mengunjungi Rizqy. Mereka berdua ingin mengetahui perkembangan Rizqy yang sepertinya sangat betah memejamkan mata. Selain itu Reynand dan Lika berusaha selalu ada untuk menemani Habibah agar tidak sendiri menjalani ujian ini. Wanita hamil itu butuh teman mengobrol dan mendengarkan segala kegelisahan hatinya yang tercurahkan dalam kata-kata.


"Menangislah Mbak Habibah. Curahkan semua beban dalam hati mbak dalam bentuk air mata. Ketika semuanya mengalir dengan derasnya berharaplah segala beban, ketakutan dan apapun yang mbak rasakan semuanya akan hanyut bersama tetesan air mata yang keluar, setelah itu hanya ada kelegaan dan kelapangan hati yang terasa. itu cukup sebagai kekuatan bagi mbak Habibah untuk menjalani semua ini dengan ikhlas. Seperti apapun keadaannya, kita harus menerima dan menjalani tanpa harus protes ataupun mengeluh terhadap takdir."


Lika berusaha menyemangati dan mendengarkan curahan hati Habibah. Dia akan menjadi pendengar setia dan sebisa mungkin akan menanggapi jika memang itu yang diperlukan tanpa harus menyinggung.


"Mbak benar, saya harus tetap kuat, terima kasih mbak Lika."


Setelah Habibah tenang, Lika mengurai pelukan lalu memberikan senyum tulus bersama anggukan menyemangati.


Bersamaan itu pula Dokter datang. Habibah, Lika dan Reynand keluar dari ruang rawat inap membiarkan Dokter memeriksa Rizqy.


***


Keynand dan Rizqia telah sampai di Penjara. Mereka berdua terlebih dahulu menemui Polisi yang piket dan menuturkan maksud kedatangan mereka berdua.

__ADS_1


Setelah berbicara keduanya di antar menuju ruang tunggu.


"Mamiq Wira ada yang menjenguk," ucap Sipir memanggil Laki-laki paruh baya itu.


Wira memgernyitkan dahinya berpikir siapa kira-kira yang menjenguknya. Wina hanya sekali menjenguknya kemarin itupun hanya berbicara tentang Perusahaan yang gagal di milikinya. Hanya adiknya yang sering mengunjunginya. Ia datang hanya sekedar untuk menceramahinya.


"Apa si brengsek itu? Rizqy Anggara yang datang tapi mana mungkin, diakan sedang koma sekarang. Atau mungkin saja anak itu sudah sadar?" Batin Wira menduga-duga.


Rizqy beberapa kali datang ke Penjara semenjak dirinya di tahan. Anaknya itu membawa berbagai keperluannya, tidak pernah sama sekali melepas tanggung jawabnya. Namun beberapa bulan belakangan ini Sosoknya tidak pernah nampak, hanya orang suruhannya yang kerap kali datang membawakan makanan, itupun atas nama Habibah Rosy. Wira tidak tahu jika Rizqy koma selama ini sehingga tidak pernah mengunjunginya. Dia baru mengetahuinya setelah Wina datang menjenguknya kemarin. Isterinya itu menumpahkan amarahnya kepada Wira yang seharusnya di tujukan kepada Rizqia.


"Apa Wanita yang bernama Habibah Rosy itu yang datang? Apa Wanita itu Isteri dari si brengsek itu?"


Wira terus saja bertanya dalam hati sembari mengikuti langkah Sipir yang akan membawanya menemui seseorang.


Sesampainya di sebuah ruangan, Wira melihat seorang Wanita muda dan Laki-laki berwajah blasteran sedang menunggunya.


Sesaat Wira terpaku ketika melihat wajah Wanita muda di hadapannya yang mirip dengan Putra keduanya Kiano Anggara. Dia ingin meneteskan air mata karena baru pertama kali melihat anak Gadis satu-satunya itu. Namun egonya terlalu tinggi sehingga mengaburkan kasih sayang yang seharusnya ada di hatinya.


"Inget juga sama Mamiq kamu, Qia?" tanya Wira dengan ketusnya.


Bersambung.


Hai teman-teman apa khabar?


Kisah Keynand dan Qia mungkin akan segera di selesaikan tinggal beberapa bab lagi. Endingnya bisa jadi Happy Ending atau Sad Ending. Terus selanjutnya kisah siapa yang ingin di ceritakan? :




Renia Azzahra Hasan dan Raski Ananda Ardiaz dalam kisah Adik Marbot dan Sang Idola.




Lalu Hamizan Rizki dan Sumayyah Hanara Rien dalam kisah Sumayyah, Sesuci Embun Pagi.




Ditunggu yaaaa. Ku mohoooon beri dukungan, kalau enggak ngambek ah. Hehehe


Saya berkarya karena hobby, tapi kalau banyak yang baca Alhamdulillah banget.


Kapan ya? Dilirik terus dibaca di kasik like dan di beri dukungan bukan hanya di tengok sebentar lalu di abaikan. Sedih banget rasanya, sueeeeer. Saya kadang patah hati, bukan karena di putusin pacar, tapi patah hati karena dicuekin pembaca. Pingin rasanya buat novel berjudul Patah Hati, tapi mau selesein GUSD dah dulu biar tenang.


Iya enggak teman-teman?


Sekian yaa! Entar di sambung lagi.

__ADS_1


__ADS_2