Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.1


__ADS_3

"Sah."


Kata sah menggema di sebuah Masjid. Meskipun bukan satu tarikan nafas pada akhirnya Keynand berhasil mengucapkan ijab kabul dengan baik.


Lelaki yang kini sah menjadi Isteri dari Wanita cantik di sampingnya menarik nafas dengan dalam. Selanjutnya dia mengikuti arahan pembawa acara untuk menyematkan cincin pernikahan dan menyerahkan mahar sesuai yang disebutkan dalam ijab kabul tadi.


Wanita cantik berbalut Kebaya putih tersenyum manis ke arah Keynand. Hatinya berbunga-bunga dan penuh dengan kebahagiaan karena statusnya kini sah menjadi Isteri seorang Keynand Putra Ardiaz. Lelaki tampan, seorang Pengusaha kaya raya dan juga berasal dari keluarga yang terpandang. Siapa yang tak ingin mendampingi pria yang menjadi dambaan para Wanita. Beruntungnya dia karena dialah yang dipersunting oleh Duda kaya raya itu.


Dengan senyum masih mengembang dia meraih tangan sang Suami lalu mencium punggung tangannya dengan takzim.


Keynand memberikan seulas senyum tipis sebagai gambaran betapa bahagianya dia malam ini.


Selanjutnya pasangan Pengantin yang tengah bahagia itu mengikuti rangkaian demi rangkaian acara yang sudah diagendakan oleh mereka yang mengurus pernikahannya. Senyum tak pernah memudar meskipun kelelahan pada akhirnya dirasakan juga oleh keduanya.


Setelah selesai, Keynand memboyong Sang Isteri menuju kediamannya. Sementara kedua keluarga dan kerabat sudah kembali kediaman masing-masing.


Ceklek


Pintu terbuka, Keynand mempersilahkan Sang Isteri untuk masuk ke kamar Pribadinya.


Baru saja melangkah, Sang Isteri langsung berdecak kagum melihat kamar yang begitu mewah dan luas. Fokus utamanya adalah Ranjang yang begitu besar dan dipastikan empuk


Ranjang itu seakan menggodanya untuk segera mendatanginya. Dia melangkah dengan pasti menghampiri lalu mendudukkan diri dengan anggunnya. Jemarinya mengambil kelopak bunga mawar yang membentuk tanda love di sana. Tidak ketinggalan sepasang Angsa menemani kebersamaan bunga mawar yang merebakkan wangi di kamar yang sudah di sulap menjadi kamar Pengantin.


"Mas kamarnya cantik banget terus nyaman pula. Aku bakalan betah nih jika kamarnya semewah dan senyaman ini."


Keynand hanya tersenyum tipis menyaksikan tingkah Sang Isteri yang nampak antusias mengagumi kamar Pribadinya. Dia tak menanggapi ocehan itu karena lebih memilih memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Cukup lama Keynand membersihkan diri. Pada akhirnya Pria pemilik tubuh tinggi itu menampakkan diri dengan kaos oblong membalut tubuhnya.

__ADS_1


Dia tersenyum menyambut senyuman Isterinya yang nampak manis dengan mata berbinar-binar. Terlihat kecanggungan terjadi di antara mereka berdua.


Sang Isteri bangun dari duduknya lalu melangkah mendekati Keynand yang berdiri dengan gagahnya.


"Mas, terima kasih telah menikahiku. Jujur saja aku merasa sedang bermimpi dan sedang berhayal. Ini kenyataan kan mas? Kita sudah sah menjadi Suami Isteri, kan?"


Keynand mengangguk dengan pasti dan meyakinkan Wanita itu bahwa dia kini telah menjadi Isterinya.


"Syukurlah, aku pikir tadi hanya mimpi yang setelah sadar tidak terjadi apa-apa. Kalau begitu boleh aku meminta sesuatu," ucapnya bersemangat.


"Apa? Katakan saja."


Wanita itu tampak bahagia. Dia ingin melabuhkan diri pada tubuh tegap itu namun urung. Dia tidak ingin terburu-buru untuk melakukannya. Bukankah mereka memiliki banyak waktu bahkan seumur hidup untuk bermanja-manja pada tubuh indahnya.


"Jadikan aku satu-satunya Wanita yang Mas cintai. Tidak ada Qia dan juga mendiang Ega. Aku tidak ingin berbagi hati Suamiku dengan mereka berdua dan wanita lainnya," ucap Sang Isterinya dengan serius.


Keynand tidak langsung menjawab. Dia terdiam menatap Wanita di hadapannya. Jujur saja dia tersentak kaget dan tidak menyangka Isterinya memintanya untuk melupakan dua wanita yang disebutkan tadi. Sebisa mungkin dia menutupi kekesalannya dengan wajah datar.


"Wanita itu sudah meninggal Keynand, untuk apa mengingatnya. Seharusnya yang ada di hati kamu hanya aku. Aku yang sekarang menjadi Isterimu. Jangan membuat aku cemburu. Hargai hati Isterimu ini yang tidak ingin berbagi."


Raut wajah Keynand berubah mengeras begitu mendengarkan kata demi kata yang terlontar dari bibir Isterinya. Bukan kelembutan yang terdengar melainkan intonasi kasar yang memekakkan telinganya. Bahkan dia berani memanggil dengan panggilan nama.


"Jangan sebut mommy Raski dengan Wanita itu. Apakah kamu tidak bisa menghargai namanya. Paling tidak kamu memanggilnya dengan panggilan Mommynya Raski," ucap Keynand tegas. Dia berusaha mengelola emosinya agar tidak meledak yang pada ujungnya menyakiti Wanita yang baru saja sah menjadi Isterinya.


Malam pertama seharusnya dilalui dengan untaian kata manis dan juga kemesraan. Tapi apa ini? Malah perdebatan yang mengisinya.


"Okay, aku mengalah. Aku memang belum ada di hati kamu Keynand tapi aku akan memastikan secepatnya kamu akan luluh dan hanya mencintaiku saja," guman Sang Isteri lirih. Dia tidak ingin menyerah memperjuangkan agar menjadi satu-satunya di hati Keynand dan berhasil menguasai Suaminya.


Malam semakin larut, Keynand memilih untuk beristirahat dan tidak melanjutkan perdebatan. Dia membiarkan malam pertamanya berlalu begitu saja. Keynand terlalu capek untuk melakukan hal-hal yang dilakukan sepasang Suami Isteri di malam pertama mereka. Mendadak dia menjadi Pria imp*ten yang tak berminat sama sekali menyentuh Isterinya. Permintaan tak masuk akal itu membuatnya lelah hati dan juga fisik. Hidupnya kini benar-benar menjadi lara.

__ADS_1


Sedangkan Sang Isteri mendengus kesal menyaksikan Keynand yang meringkuk dengan nyaman. Alih-alih mengabulkan permintaan menyentuhnya pun seakan enggan.


"Pernikahan apa ini?" umpatnya kesal.


***


Keynand terbangun tatkala mendengar suara orang mengaji yang menandakan waktu Subuh sebentar lagi menjelang.


Dia menggeliatkan tubuhnya dan melakukan pergerakan sebentar untuk menggedorkan ototnya yang kaku.


Dia melirik ke arah samping dan menemukan Isterinya yang masih terlelap. Tidurnya sangat damai dan tidak sama sekali terusik dengan pergerakannya serta suara orang mengaji dari arah Masjid.


Keynand sadar bahwa kini dia tidak lagi sendiri setelah cukup lama menduda. Wanita cantik yang memiliki rambut panjang sebahu itu kini akan menemani hari-harinya.


Lelaki itu memperhatikan sejenak Isterinya dengan pandangan datar. Setelahnya dia beringsut dari Ranjangnya lalu melangkah ke arah kamar mandi. Sebelumnya dia memastikan bahwa tidak terjadi sesuatu semalam. Ada kelegaan yang terasa saat mengetahui itu.


Guyuran air terdengar sesaat setelah Keynand masuk ke kamar mandi. Cukup lama suara berisik itu terdengar tapi tidak sama sekali mengusik tidur Isteri dari Keynand. Dia malah memperelat selimutnya seakan suara itu bagaikan melodi yang membuatnya hanyut dalam buaian mimpi.


Selang beberapa menit suara air yang berasa dari Sower tidak terdengar lagi dan di gantikan suara Pintu yang dibuka. Keynand keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar. Dia melangkah ke arah ruang ganti untuk mengganti handuk yang melilit pinggangnya.


Tidak butuh waktu lama berada di ruang ganti Keynand keluar dengan baju koko dan sarung melekat pada tubuh proposionalnya.


"Hey bangun, sudah subuh ini."


Keynand menggoyang-goyangkan tubuh Isterinya setelah menyadari tidak ada tanda-tanda Isterinya akan terbangun dari tidurnya.


Sang Isteri menggeliat sebentar lalu kembali mengatur posisi ternyaman untuk melanjutkan tidur.


"Bangun, apa kamu tidak sholat?" Keynand tidak menyerah. Dia kembali membangunkan Isterinya. Namun usaha kerasnya sama sekali tidak membuahkan hasil. Karena merasa ini adalah kewajibannya, Keynand menepuk pipi itu dengan keras membuat Isterinya terlonjak kaget. Dengan cara sedikit kasar Keynand berhasil membangunkan Isterinya. Namun usahanya itu di sambut pandangan kesal dan gerutuan oleh Julaekha.

__ADS_1


"Apa-apaan sih, ganggu tidur saja."


Bersambung.


__ADS_2