
"Alhamdulillah saya baik-baik saja. Dan, Habibah bagaimana khabarnya?" Keynand pada akhirnya mampu menjawab. Dia merasa nada suaranya tidaklah normal, ada irama kegugupan disana. Meskipun berusaha senormal mungkin, namun di rasakan sangat kentara. Satu harapannya semoga Habibah tidak menyadarinya.
"Alhamdulillah saya baik-baik saja," jawab Habibah datar. Tak ada gelombang apapun dalam nada suaranya. Terdengar lembut dan merdu. Suara itu berhasil memanjakan Telinga siapapun yang mendengarnya termasuk Keynand. Hati Duda tampan itu berdesir kembali, desiran itu seakan menggodanya dan membuatnya goyah.
"Oh ya udah lama sampainya?" Tanya Habibah kembali. Pertanyaan itu seakan menepuk bahu Keynand agar tersadar dari lamunannya.
"Baru saja Bibah. Oh ya saya minta maaf karena mengagetkan kalian. Tiba-tiba saja kita muncul tanpa isyarat sebelumnya," jawab Keynand merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, kita malah senang di datangi oleh Pak Keynand dan keluarga," sahut Habibah ramah.
"Masyaa Allah, ada Raski juga yang ikut," lanjutnya begitu melihat Raski yang sudah duduk bersama Renia di sampingnya.
"Iya Bibah, kita bawa anak-anak. Tujuan saya sebenarnya mau berkunjung ke salah satu tambak yang ada di Desa ini terus saya dengar Desa ini Desa Wisata jadi tidak ada salahnya mengajak anak-anak, sekalian liburan gitu." Keynand menjelaskan tujuan kedatangannya. Tentu saja itu hanya alasan saja untuk menutupi maksud yang sebenarnya.
"Kakak Renia dan Dadek Raski, kenalan ini Tante Habibah. Tante Habibah ini pernah nolongin Dadek Raski pada saat hampir saja tenggelam di Pantai. Dadek Raski dan Kakak Renia salam dong sama Tante Habibah," ucap Keynand memperkenalkan Habibah kepada kedua anak-anaknya.
Raski terlebih dahulu bersalaman. Bocah itu mencium punggung tangan Habibah dengan takzim lalu menghamburkan diri dalam pelukan Habibah.
Wanita itu terkaget dan tak siap menerima tubuh Raski yang tiba-tiba menghamburkan diri. Untung saja dia berhasil menyeimbangkan diri sehingga tubuh Raski mendarat dengan tepat pada pangkuannya.
"Mom," panggil Raski terdengar jelas di telinga Habibah.
"Mom, Raski kangen Mom," ucapnya lagi.
Suara lirih itu membuat Keynand syock. Sedangkan Habibah terdiam tak sanggup berkata apa-apa. Ada rasa damai saat memeluk tubuh mungil itu. Panggilan Raski membuat sisi keibuannya bergejolak. Ia ingin mendekap Raski dan mencurahkan seluruh kasih sayang, cinta dan perhatiannya.
Jujur, dia sangat merindukan kehadiran suara tangisan Bayi dan ketika bisa berbicara bayinya akan memanggilnya Ibu.
Namun rindunya tersebut harus di kubur dalam-dalam saat ini. Dan, memupuk kesabaran di setiap detiknya. Sebab hingga hari ini anugerah itu belum dipercayakan kepadanya dan Sang Suami.
Sudah beberapa bulan lama umur pernikahan, mungkin saja hampir satu tahun, selama itu pula tidak ada tanda-tanda dia akan segera mengandung.
"Mom," panggil Raski kembali.
"Iya sayang, Mom juga kangen," jawab Habibah. Tak sadar air matanya merembes mengenangi pipi cokelatnya. Ada keharuan menyeruak begitu saja saat Raski memanggilnya Mom. Panggilan itu mampu mengobati rasa rindunya selama ini. Rindu dengan kehadiran buah hati dalam rahimnya.
__ADS_1
"Iya sayang, Dadek Raski boleh anggep Tante sebagai Mommynya. Bagaimana kalau di panggil Inaq saja? Setuju, kan?" Ucap Habibah mengusulkan.
Mendengar itu Raski mengurai pelukan. Lalu terbentuk senyum begitu indah dengan lesung pada kedua Pipinya. Sejurus kemudian terdengar suara kegembiraan dari bibir munggilnya.
"Horeeeeeee."
Renia yang ada di sampingnya ikut tertawa bahagia. Dia lantas mengambil tangan Habibah kemudian menciumnya dengan takzim.
Habibah sangat terharu dengan perlakuan kedua anak hebat itu. Belaian tangannya terulur pada pucuk kepala Renia di barengi dengan doa. Seiring doa selesai diucapkan, lembutnya belain itu berpindah ke pucuk Kepala Raski dengan doa yang sama.
"Bibah kok sepi? Pak Rizqy dan Qia kemana?" Tanya Keynand mengalihkan keharuan itu. Dia tak tahan menyaksikan anaknya yang begitu merindukan Sosok Ibu. Meskipun Lika telah melimpahkan kasih sayang, cinta dan perhatiannya sebagai seorang Ibu kepada Renia dan Raski. Namun pada kenyataan Raski merindukan Ibu Kandungnya. Kini bertemu dengan Habibah, tanpa sadar Raski menganggap Habibah seperti Sosok Ibu kandungnya.
Keynand ikut larut dalam keharuan itu. Rindu kepada mendiang Isterinya hadir begitu saja. Senyumnya berkelabat dalam benaknya.
"Honey," lirihnya dalam hati.
Mendengar pertanyaan itu buru-buru Habibah menyeka air mata yang menetes begitu saja. Seulas senyum dia sunggingkan untuk mendamaikan hatinya yang sedih. Setelah suasana hatinya membaik Wanita itu lalu berkata,
"Mas Rizqy masih di Sekolah. Pulangnya nanti sore sedangkan Qia saya belum bertemu dengannya sepulang dari Sekolah. Tadi sih dia bilang mau jalan-jalan, mungkin saja belum kembali."
Keynand mengangguk mengerti.
"Aduh maaf, saking asyiknya mengobrol saya lupa menyuguhkan minuman dan kudapan," ucap Habibah tak enak hati.
"Enggak usah repot-repot mbak Habibah kalau ada di keluarin semuanya," sahut Riski sambil tersenyum simpul.
Habibah tertawa kecil. Dia tahu itu merupakan candaan yang sering di lontarkan oleh seseorang yang saling mengenal satu sama lain.
Habibah kemudian berjalan ke arah sebuah ruangan yang ternyata Dapur.
Selang beberapa menit Habibah kembali dengan sebuah nampan di kedua tangannya. Dia menghidangkan minuman Kopi untuk Keynand, Teh untuk Riski dan Susu untuk Renia dan Raski. Tidak ketinggalan kudapan berupa Jagung rebus, Pisang dan Pepaya yang sudah di potong-potong kecil.
"Silahkan, maaf seadanya, seperti inilah hidangan di Desa," ucap Habibah setelah meletakkan hidangan tersebut di hadapan mereka.
"Terima kasih mbak Habibah, ini saja sudah menggugah selera," ucap Riski tulus.
__ADS_1
"Iya Habibah, ini saja sudah cukup. Sekali lagi saya minta maaf telah merepotkan," imbuh Keynand merasa sungkan.
Habibah hanya mengangguk.
Selanjutnya mereka asyik dalam obrolan. Keynand bertanya tentang apa saja Potensi yang ada di Desa ini. Pun dengan Riski tidak ketinggalan mengambil bagian dalam pembicaraan seru mereka. Saat mereka fokus dengan obrolan, terdengar langkah Kaki mendekat ke arah rumah yang di tempati Habibah.
"Itu pasti Qia sudah pulang," ucap Habibah menduga bahwa langkah Kaki yang mendekat itu adalah Rizqia.
Riski secara spontan langsung menempelkan tangannya pada dada Keynand untuk mengetahui reaksi Jantung itu.
"Sepertinya sedang bermain Drum band atau main Gendang Beleq terdengar bertalu-talu kencang," ucap Riski berbisik di Telinga takut di dengar oleh Habibah.
Keynand secara reflek menyinkirkan tangan itu lalu menjitak Kepala Riski dengan keras.
"Aduh," pekik Bujang itu lalu mengelus Kepalanya dengan raut tak sedap di pandang.
Habibah tatkala mendengar suara itu langsung mengalihkan pandangan ke arah Riski dengan sedikit menunduk. Tanya tersirat pada sorot matanya.
Riski spontan menggaruk tengkuknya yang merinding. Sorot mata Keynand yang membuat bulu halus di tengkuknya tiba-tiba berdiri tegak.
Tak mendapat jawaban, pandangan Habibah beralih ke wajah Keynand. Mendapati tatapan yang begitu cepat membuat Keynand salah tingkah.
Siapakah yang akan bertanggung jawab dengan kekacauan hati ini? Keynand membatin lesu.
"Kak Bibah, Kakak sudah pulang? Mobil siapa ini? Apa ada tamu?" tanya seorang Gadis yang tiba-tiba saja muncul dari arah samping.
Deg
Jantung Keynand semakin kacau. Pria itu berusaha mendamaikan detaknya yang semakin tak karuan.
"Grogi ni yeee?" Riski meledeknya. Seulas senyum tersungging pada bibirnya seakan mengejek Keynand.
"Iya Dek, ini kita kedatangan tamu istimewa. Katanya mau mencari Qia," jawab Habibah dengan senyum sumringahnya. Padahal Keynand tidak pernah mengatakan tujuannya ingin bertemu dengan Rizqia, tapi Habibah sudah menyimpulkan seperti itu. Alasan berkunjung ke Tambak Udang hanyalah sebuah kedok belaka, itulah keyakinan Wanita itu.
"Abang Keynand?"
__ADS_1
Bersambung.