Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
102


__ADS_3

Benar saja, seseorang datang ke kediaman Reynand dengan menampakkan wajah cemberut. Bibirnya terus saja mengeluarkan omelan kepada Keynand.


Keynand hanya menanggapi dengan senyum sumringah merasa tak berdosa.


Sementara tuan rumah hanya bisa menggelengkan Kepala melihat tingkah keduanya.


"Minum dulu, gih biar hatinya tenang." Lika menyodorkan segelas air putih kepada tamunya itu yang tidak lain adalah Riski.


Riski mengambil alih gelas lalu meneguk isinya hingga tak bersisa.


"Udah ikut saja, saya mengajak kamu untuk berlibur bukan mengajak berperang. Lagian siapa yang akan menjaga Renia dan Raski kalau bukan Mamiq Rarinya yang ganteng dan telaten ini," ucap Keynand santai.


"Madhaaaa?"


Riski terlonjak kaget mendengar perkataan Keynand yang seakan seperti titah. Tidak bisa di tolak bahkan di bantah. Bujang itu baru tahu tujuan Keynand mengajaknya untuk ikut berlibur. Selain mendadak tanpa rencana rupanya Keynand hendak menjadikannya Pengasuh anak.


"Selalu saja mengandalkan orang lain. Buyar dah lamunanku, bang," ucap Riski bernada kesal. Sebenarnya Riski mempunyai rencana tersendiri, tapi Keynand malah memaksanya untuk ikut. Sebenarnya dia ingin menolak, akan tetapi paksaan itu membuatnya berkata iya. Ini semua karena dua keponakannya membuat Riski setuju. Dua bocah itulah yang menjadi alasannya.


Lika dan Reynand hanya bisa tersenyum menyaksikan perdebatan mereka berdua. Keynand yang tertawa bahagia dan Riski yang menderita.


"Udahlah Ki, ikut saja. Lagipula dua keponakan kamu juga gampang di arahkan jadi enggak terlalu merepotkan kamu nantinya. Hanya satu yang perlu di perhatikan yaitu sabar. Kalau ada kamu, Kakak jadi tenang membiarkan Renia dan Raski ikut berlibur sama Daddynya," ucap Lika berharap.


"Benar itu, saya enggak percaya Keynand bisa menjaga anak-anak. Wong menjaga dirinya saja tidak mampu dan sering kepleset apalagi membiarkan anak-anak sama dia, bukan hanya kepleset aja tapi bisa-bisa anak-anak langsung nyunsep." Reynand menambahkan agar Riski tergugah hatinya untuk mau menjaga dua keponakannya itu.


"Nah tuh! Denger!" sahut Keynand bahagia karena Lika dan Reynand mendukungnya.


"Kami tidak ngedukung Abang ya! Ini kami lakukan demi keselamatan Anak-anak. Abang, kan payah dan tidak bisa mengurus anak, bisanya hanya buat saja," ucap Lika menyanggah. Ada senyum simpul penuh arti nampak pada Bibir Cerrynya.


Hahahahaha


Riski tergelak sementara Keynand tersenyum kecut mendengarkan kata-kata yang berhasil menghempaskannya. Tadinya dia sudah berada di awang karena Lika dan Reynand mendukung rencananya. Eh malah di berikan harapan palsu. Sungguh tak enak rasanya ternyata.


"Lihat saja nanti, saya bakalan menjadi Daddy yang hebat kebanggaan Renia dan Raski. Emangnya hanya Abang Reynand saja yang mampu menjadi Ayah yang terbaik. Daddy bisa juga, kok!" sahut Keynand berapi-api. Siapa pun tidak boleh meremehkannya, karena itulah Duda itu membusungkan dadanya untuk membuktikan segala ucapannya.


"Tunjukkan," ucap Reynand lalu menepuk bahunya.

__ADS_1


Keynand mengangguk sembari membentuk senyum penuh semangat.


"Yakin?" tanya Lika tak percaya. Wanita hamil itu sangat mengenal Keynand. Dia tahu seperti apa Iparnya itu. Keynand memang Sosok Daddy yang penuh perhatian, sabar dan penyayang, hanya saja dia suka teledor. Hal itulah yang dikhawatirkan oleh Ibu hamil itu.


Keynand cengengesan sembari menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal.


"Ki, jaga harkat dan martabat saya di hadapan Lika dan Abang Reynand, ya? Nanti di sana kamu harus menjaga Renia dan Raski dengan sebaik mungkin, tapi nanti kamu harus bilang ke mereka bahwa saya yang melakukannya," bisik Keynand sekecil mungkin agar tak terdengar oleh Lika dan Reynand.


Riski menggelengkan Kepala tidak mau menuruti keinginan Keynand.


"Ogah," jawabnya sembari berbisik.


"Sekali ini saja Ki. Mau saya bayar berapa?" Keynand membuat penawaran sembari berbisik pula.


"Sekali ogah ya tetap ogah. Saya bukan Lelaki bayaran ya! Saya juga tidak menerima suap," ucap Riski serius.


"Please Ki, kok kamu enggak bisa di ajak kerja sama, sih?"


Keynand kembali meminta. Dia berusaha meluluhkan hati adik dari Lika itu agar mau menurutinya.


Glek


Ucapan Riski ada benarnya juga. Keynand tidak lagi memaksa dan dia akan bertekad untuk membuktikan bahwa dia bisa menjadi Daddy yang baik untuk Renia dan Raski.


Hem


Reynand berdehem. Sedari tadi pasangan Suami Isteri itu menyaksikan perdebatan yang sepertinya sangat serius. Namun dia tidak bisa mendengar dengan baik isi pembicaraan karena mereka berbicara dengan berbisik-bisik. Samar terdengar dan beberapa patah kata berhasil di dengar olehnya.


"Kok enggak sopan ya! Berbisik-bisik di hadapan orang lain. Bisa saja apa yang kalian bicarakan dengan berbisik-bisik seperti ini akan mengundang kesalah fahaman dan juga prasangka buruk dari orang lain yang melihatnya," ucap Reynand datar.


Riski dan Keynand seketika terdiam mendengarkan teguran yang langsung menampar sanubari keduanya.


"Maaf bang," ucap Riski tulus.


"Iya Bang, saya juga minta maaf," ucap Keynand.

__ADS_1


"Iya udah kalian istirahat, gih! Besok kalian harus melewati perjalanan yang cukup jauh. Dan butuh tenaga ekstra."


Mereka mengakhiri obrolan seiring malam yang kian larut. Keynand dan Riski keluar dari rumah induk dan akan merebahkan tubuh lelah mereka di rumah Panggung yang berada di belakang rumah induk. Sementara pasangan itu melangkahkan Kaki ke peraduan mereka.


***


Esoknya pagi-pagi sekali Keynand dan rombongan sudah bersiap-siap untuk berangkat.


"Ibu dan Ayah beneran enggak ikut?" Tanya Renia memastikan. Renia sangat antusias saat diberitahu oleh Lika kalau Daddy mereka mengajak liburan. Ini baru pertama kali mereka liburan dengan jarak yang sangat jauh. Pun begitu juga dengan Raski tidak henti-henti bersorak kegirangan.


"Iya sayang, Ibu tidak bisa ikut maaf ya! Kakak Renia tahu sendiri Ibu sering sakit terus Dadek bayinya juga belum boleh di ajak perjalanan jauh," jawab Lika berusaha memberikan pengertian kepada Putrinya itu.


"Oh gitu ya Bu, baiklah. Kalau begitu Kak Renia pamit dulu ya Bu. Oh ya Dadek Bayi jangan nakal ya selama Kakak Renia tidak ada di rumah. Kasian Ibu entar sedih lo!" Renia berpamitan dan tidak lupa mengajak bayi dalam kandungan Lika mengobrol.


"Iya sayang, ati-ati Kakak Renia," ucap Lika menirukan suara anak kecil.


"Kakak Renia dan Dadek Raski hati-hati di sana, ya! Jangan jauh-jauh dari Daddy sama Mamiq Riski," ucap Reynand berpesan. Sebenarnya dia berat membiarkan kedua anaknya berlibur tanpanya dan Lika. Namun kondisi Lika yang tidak memungkinkan untuk berpergian jauh membuat mereka tidak bisa menemani.


"Nggih Ayah," sahut Renia.


Tidak lupa Reynand berpesan kepada Keynand dan Riski agar menjaga Renia dan Raski sebaik mungkin. Mereka harus memastikan keamanan dan kenyamanan mereka.


"Tenang saja Bang, Key membawa Babby sitter handal. Jadi Abang dan Lika tidak perlu terlalu khawatir. Saatnya untuk mesra-mesraan di kamar tanpa ada yang mengganggu," ucap Keynand menenangkan pasangan Suami itu dan di selingi dengan godaan.


Reynand tersenyum kikuk sembari melirik Isterinya. Sementara yang dilirik hanya diam tak menanggapi. Hanya ada rona merah yang terpancar di sana. Rupanya Sang Isteri tersipu malu.


"Cieeeeee, malu ni yeeeee," ucap Keynand kembali menggoda Kakak Iparnya itu.


"Apaan, sih? Berangkat sana bawain saya oleh-oleh Gadis bernama Qia itu?" Sahut Lika dengan nada kesalnya.


"Butuh waktu itu mah! Tapi saya usahakan demi menuruti ngidam Isteri tercinta Reynand Putra Ardiaz," ucap Keynand dengan senyum menawannya. Namun di sisi lain ada keraguan yang tiba-tiba menyusup masuk pada relung hatinya.


Berhasilkah dia mendapatkan maaf dari dua bersaudara itu? Terus seperti apa rupa pertemuannya kembali dengan Habibah?.


Gusar, itu yang sedang dia rasakan saat ini.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2