Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 46


__ADS_3

Siang harinya saat waktu Renia pulang, Lika terpaksa menjemput Renia meskipun kondisi tubuhnya masih lemas. Tidak ada siapapun selain dirinya di rumah. Reynand sekarang sedang menuju ke Pusuk untuk mencari Buah Kepundung.


Setelah dia berkeliling beberapa Pasar namun buah tersebut tidak ditemukan karena belum musimnya. Dengan langkah penuh semangat, Reynand mengarahkan laju Mobilnya menuju Pusuk yang jaraknya lumayan jauh. Demi Isteri tercinta, jarak jauh pun tak mengapa.


Sedangkan David dan Marisa sedang bertandang ke rumah besannya sebelum dia kembali ke Jakarta esok hari.


“Assalamu’alaikum Kakak! tidak lama nunggunya? maaf Ibu terlambat,” salam Lika begitu melihat Renia bergegas menghampirinya.


“Nggih Bu, baru saja bubar,” jawab Renia. Dia mengambil tangan kanan Ibunya lalu mencium punggungnya.


“Ayah mana? Kok Ibu yang jemput?”


“Ayah sedang ke Pusuk, dia mencarikan Ibu Buah Kepundung,” jawab Lika menjelaskan.


“Ooooh begitu,” ucap Renia berohria.


Saat Ibu dan anak itu hendak meninggalkan halaman Sekolah, terdengar seorang Guru menyapanya. Mendengarkan itu, Lika dan Renia


menghentikan langkah kemudian berbalik arah menghadap ke sumber suara.


“Ibu Renia, apa khabar?” tanya seorang Guru yang merupakan Guru kelas Renia.


“Alhamdulillah baik-baik saja Ibu Guru Aisyah,” jawab Lika dengan senyum ramahnya.


“Saya dengar Ibu sedang mengandung anak kedua, selamat ya Bu! Semoga kandungannya sehat-sehat saja,” ucap Ibu Guru dari Renia yang dipanggil Aisyah. Doa itu dia ucapkan dengan tulus, terlihat senyumnya mengembang. Namun di kedua matanya menyimpan kesedihan. Lika bisa melihat itu, meskipun disembunyikan tapi rahasia itu nampak pula.


“Terima kasi Ibu Guru Aisyah,” jawab Lika masih menebarkan senyum ramahnya.


“Iya, sama-sama. Saya permisi dulu Ibu Lika,” jawabnya sekaligus berpamitan. Lika mejawab dengan anggukan. Diperhatikannya Wanita itu yang terlihat tangan bergerak menghampiri wajahnya. Seperti orang yang menyeka air mata. Apa yang dilihat membuat Lika diliputi dengan


tanda tanya. “Apa yang terjadi dengan Ibu Guru Aisyah? kenapa dia menyembunyikan


kesedihan.”


“Ayo sayang kita pulang,” ajak Lika meraih tangan Renia lalu membimbingnya menuju Mobil.


Sepeninggalnya Lika, terlihat Gadis memperhatikan Lika dan Renia sedang masuk ke dalam Mobil diiringi dengan obrolan ringan.


“Ibunya Renia kok sederhana banget, sih? Dia tidak layak menjadi Isteri seorang Pengusaha nomor Wahid di Daerah ini.” Gadis berkomentar


sembari kedua matanya mengawasi Sosok itu.


‘Itu menurutmu tapi menurut Pak Reynand, Ibu Baiq Mandalika itu adalah Wanita yang hebat dan nyaris sempurna. Memang kamu? Jika disamakan


dengan Ibu Lika nilainya sangatlah jauh. Antara lima dan sembilan,” sahut Rekannya yang juga ikut menyaksikan kepergian Lika.


“Tentu, aku sembilan sedangkan dia lima. Cantik dan sexy saya kemana-kamana kali,” sahut Gadis penuh percaya diri.


“Ngarep banget, sih? Malah kebalikanya, kamu yang lima, Ibu Lika yang  sembilan,” sahut Rekannya dengan serius. Dia berpamitan lalu meninggalkan Gadis dengan rasa dongkol


di hatinya.


“Eh tunggu, kenapa kamu ninggalin aku, sih?”


“Udah buruan, jangan bengong,” sahut Wanita itu dengan menunggu di dekat Motornya.


***


Sementara itu, Reynand sudah sampai di kawasan Pusuk. Dia meminggirkan Mobilnya untuk memarkirkan Mobil di sekitar ruas jalan. Saat merasa Mobilnya terparkir dengan aman dan tidak mengganggu arus lalu lintas, Pria itu keluar dari Mobil lalu melangkah menuju Lapak para Pedagang yang ada di pinggir jalan raya pusuk. Hampir sepanjang jalan, berjejer Lapak para penduduk setempat untuk menjual hasil kebunnya. Hasil kebun yang dijual berupa buah-buahan musiman seperti Durian termasuk buah Kepundung. Kawasan Pusuk terkenal dengan penghasil air aren murni. Karena itulah semua Lapak menyediakan minuman air aren murni dan juga Gula aren.


“Permisi Inaq, ada buah Kepundungnya?” Reynand bertanya kepada Pemilik Lapak yang sedang duduk menunggu Pembelinya.


“Belum musim, Mas.”


“Belum musim ya Inaq, terus kira-kira nyari dimana, ya?” tanya Reynand seperti berkeluh kesah.


“Butuh banget ya Mas? Pasti Isterinya lagi ngidam ya?” tebak Wanita itu dengan tepat.


“Iya Inaq,” jawab Reynand lesu.


“Gini saja Mas, saya punya pohonnya tapi buahnya


masih kecil-kecil. Mas bawa itu saja yang penting mengobati rasa kepinginnya. Kalau orang sini bilang Oat melet," ucap Ibu itu memberikan solusi.


Reynand mengangguk. Dia sangat senang bertemu dengan orang baik dan orang itu mempermudah pencariannya.

__ADS_1


"Emang rezeki anak soleh, lihat Nak dipermudah oleh Allah. Alhamdulillah," ucap Reynand yang membuat Ibu itu tersenyum.


Wanita itu lantas memanggil seseorang untuk menjaga Lapaknya. Setelah ada yang menjaga baru ia mengajak Reynand ke Kebun miliknya. Reynand berjalan menuruni tanjakan masuk ke arah Hutan Pusuk. Setelah menemukan Pohon Kepundung yang dimaksud, mereka berhenti disana.


"Mas bisa manjat, kan?"


Reynand terdiam, dia nampak malu menjawab tidak bisa. Dia melihat Pohon itu yang lumayan tinggi.


"Sebenarnya saya tidak pernah panjat Pohon tapi akan saya usahakan. Panjat itu saja saya bisa masak panjat pohon enggak bisa, sih?" ucap Reynand pede.


Dia mengambil Handphone lalu meminta Ibu itu merekam perjuangannya memanjat Pohon Kepundung.


Wanita itu tertawa mendengarkan pengakuan jujur dari Pria buruk rupa yang baru ditemuinya.


Reynand berusaha memanjat pohon Kepundung di hadapannya. Baru saja menjejakkan Kaki seketika itu dia terjatuh membuat Sang Ibu tertawa lebar.


Bruuugh


Bruuuugh


Buuuugh


Berulang-ulang mencoba, berulang-ulang pula dia terjatuh. Namun semangatnya tidak kendor untuk menaklukan Pohon Kepundung itu.


Lautan saja bisa dia taklukkan, mengapa Pohon Kepundung tidak bisa? tidak mungkin itu, kan? Bukan Reynand namanya jika tidak bisa mencapai tujuannya.


"Bismilah, demi Isteri dan anak tercinta," ucap Reynand kembali mencoba setelah dia beristirahat.


"Ayo Mas semangat," ucap Ibu Pemilik Pohon Kepundung memberikan semangat.


"Tangan dulu meraih dahan yang dijangkau baru Kaki menapaki batang yang sedikit ada tonjolannya." Sang Pemilik Pohon Kepundung memberikan pengarahan.


"Raih dahan yang diatas terus jejakkan Kaki pada tahan kiri yang terdekat," ucapnya sekali lagi memberikan arahan melihat Reynand sudah berhasil menuju ke atas pohon.


"Alhamdulillah, Inaq saya bisa," ucap Reynand berbinar-binar tatkala sudah berada di atas pohon. Dia berteriak mengungkapkan kegembiraannya. Sekali-kali bolehlah menjadi orang gawah.


Sang Ibu hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala melihat tingkah Reynand. Handphone tidak lupa dia arahkan kepada Sosok Reynand yang sedang bertengger pada dahan yang terendah.


"Inaq benar, buahnya masih kecil-kecil dan hijau. Ini mah belum ada isinya," ucap Reynand dari atas. Dia memetik tiga tangkai kemudian memasukkan pada Kantong Kresek dibawanya.


Tidak perlu banyak, dia hanya mengambil tiga tangkai untuk dibawa pulang. Itupun tidak akan habis, palingan Lika hanya mengambil sebiji atau tidak dua biji untuk memenuhi keinginan Jabang Bayi.


"Sini buah Kepundungnya biar Inaq tangkap," ucap Sang Ibu dari bawah.


"Apaaa? Inaq mau menangkap saya, berat Inaq," ucap Reynand sedikit berteriak.


Hahahahaha


Sang Ibu tertawa membuat Reynand mengernyitkan dahinya berpikir. Setelah dia tersadar baru dia menepuk jidatnya.


"Maaf Inaq salah pengertian, tak pikir Inaq yang mau menangkap tubuh saya," sahut Reynand diakhiri dengan kekehan. Dia melempar Kepundung yang berhasil dipetiknya. Lalu dengan sigap Sang Ibu berhasil menanggap Kantong kresek berisi Kepundung dengan selamat.


Nah sekarang, tinggal Reynand yang akan berusaha keras agar bisa mendaratkan tubuhnya di Bumi yang dipijak.


Dia menjejakkan Kakinya pada dahan-dahan tempat dia menapaki Kaki saat dia naik. Saat terakhir, salah perkiraan dan perhitungan tubuhnya langsung meluncur ke tanah yang mengakibatkan bunyi keras yang membuat Sang Ibu terkejut.


Bugh


"Aduuuuh, sakiiit," ucap Reynand meringis mendapati tubuhnya ambruk di tanah saat dia terjatuh dari atas pohon Kepundung.


Sang Ibu hanya melongo berusaha menahan tawa. Tidak enak saja melihat penderitaan Pria di hadapan jika tawa itu berhasil diperdengarkannya. Alhasil Sang Ibu hanya memilih tersenyum.


"Mas tidak apa-apa?" tanya Sang Ibu dengan memperlihatkan empatinya.


"Tidak apa-apa Inaq, hanya pinggang sedikit sakit," ucap Reynand berusaha menahan rasa sakit.


"Masih bisa berdiri, kan?"


"Bisa," ucap Reynand singkat.


Dia kemudian duduk sebentar untuk meredakan rasa sakitnya setelah itu baru dia bangun dari duduknya.


"Terima kasih karena sudah memberikan buah Kepundungnya. Boleh minta bibitnya biar saya tanam di pekarang rumah," ucap Reynand saat mereka hendak kembali ke Lapak.


"Boleh, sebentar," ucap Sang Ibu. Dia melangkah ke arah Pohon yang terlihat masih kecil-kecil. Dia mengambil satu bibit lalu kembali menghampiri Reynand yang diam menunggu.

__ADS_1


"Ini dibawa saja." Sang Ibu menyodorkan satu Bibit Pohon Kepundung. Dengan senang hati Reynand menerimanya.


Selanjutnya mereka beriringan menuju Lapak Sang Ibu. Reynand melangkah ke arah Mobil, dia menaruh Bibit itu pada Bagasi mobil sedangkan buah Kepundung dia taruh di Jok Belakang.


Reynand kembali menghampiri Sang Ibu dengan memberikan sejumlah uang.


"Mas enggak usah, Ibu ikhlas memberikannya," ucap Sang Ibu menolak pemberian Reynand.


"Tidak apa-apa, saya juga ikhlas memberikan untuk Inaq. Ambil saja Inaq sebagai tambahan modal," ucap Reynand meyakinkan Sang Ibu.


"Tampi asih, kalau begitu bawa air aren murni ini sama Gula aren. Ini bagus untuk Ibu hamil," ucap Sang Ibu sembari mengambil dua botol air aren murni dan dua buah gula aren berukuran besar.


"Inaq, tidak perlu repot-repot"


"Kalau gitu, Inaq juga tidak akan menerima uangnya," ucap Sang Ibu memaksa.


Mendengarkan itu, Reynand terpaksa mengambil apa yang diberikan oleh Sang Ibu. Reynand mengucapkan terima kasih lalu berpamitan.


Saat baru saja melangkah menuju Mobilnya, dia mendengar suara orang mengaduh. Dia lekas menuju seseorang yang sedang terjatuh.


"Mbak enggak apa-apa?" tanya Reynand setelah sampai di hadapan seseorang yang ternyata seorang Wanita muda.


"Kaki saya keseleo, saya tidak bisa berdiri apalagi jalan," ucap Wanita muda itu sambil meringis menahan sakit.


Reynand berjongkok lalu memperhatikan Kaki Wanita muda itu. Dia melihat Kaki itu terlihat baik-baik saja, tidak ada lebam apalagi kebiru-biruan tanda Kaki keseleo.


"Mas bantu saya, Kaki tidak bisa digerakkan sakit banget ini. Mas bisa enggak anter saya ke rumah sakit," ucap Wanita muda meminta tolong.


"Mbak bagaimana caranya," tanya Reynand bingung.


"Mas bawa Mobil, kan? nah saya nebeng sampai rumah sakit tapi Mas harus bopong saya menuju Mobil. Mas bantu saya ya? please."


Wanita itu menunjukkan wajah memelas dan juga mengaduh berusaha menahan rasa sakit.


Reynand terdiam, pandangannya lurus pada Kaki yang sepertinya tidak sakit apalagi Keseleo.


"Mas kenapa diam, bantuin dong? kok enggak ada rasa empatinya? tega banget," ucap Wanita lain yang entah siapa.


"Sebentar," ucap Reynand. Dia kembali menghampiri Lapak Sang Ibu lalu meminta bantuannya untuk mencari Tukang Pijat.


"Inaq bisa Mas Reynand," ucap Sang Ibu. Reynand tersenyum bahagia. Dia kemudian mengajak Sang Ibu untuk membantu Wanita muda yang terjatuh itu.


"Mbak, Inaq ini tukang urut, biar diurut Kakinya agar tidak semakin parah," ucap Reynand memberitahu.


Mendengarkan itu membuat Wanita muda itu mendadak pucat. Dia menggelengkan kepala menolak. Penolakan itu membuat Reynand dan Sang Ibu saling pandang dengan raut keheranan.


"Mas bawa saya ke rumah sakit saja. Sakit banget ini tidak tahan lagi," ucap Wanita muda memohon.


"Biar Inaq pijetin, Mas Reynand sedang buru-buru tidak bisa mengantar mbaknya ke rumah sakit. Lagipula mbaknya hanya keseleo tidak sampai patah tulang, kan?" ucap Sang Ibu berjongkok. Tangannya terulur hendak menyentuh Kaki Wanita muda itu. Namun buru-buru Wanita muda itu menggeser Kakinya.


Sang Ibu kembali berdiri dan memandang Reynand dengan isyarat.


"Iya sudah kalau enggak mau, Inaq kembali saja," ucap Sang Ibu berbalik lalu melangkah ke arah Lapaknya.


"Ada uleer," ucap Reynand berteriak berusaha menghindar.


"Mana?"


Sontak Wanita muda itubbangkit dari duduknya lalu berlari menyelematkan diri.


"Nah tuh, modus, kan?"ucap Reynand geleng-geleng Kepala.


Sang Ibu yang berada di seberang jalan tertawa melihat tingkah Wanita muda yang lari terbirit-birit.


"Mau mencoba jadi Pelakor mbak?" teriaknya.


Wanita muda itu mendengus kesal, dia menghampiri Reynand yang hendak masuk ke dalam Mobil.


"Pokoknya saya mau ikut karena Pak Reynand sudah menipu saya," ucap Wanita muda itu hendak masuk ke dalam Mobil.


"Apa saya enggak salah dengar? mbak yang menipu saya. Saya enggak kenal dengan mbak jadi untuk apa memberi tumpangan," ucap Reynand dingin. Dengan cepat Reynand masuk ke dalam Mobil tidak memberikan kesempatan untuk Wanita muda itu masuk.


"Mbak, minggir, enggak usah gangguin Suami orang," teriak Sang Ibu. Teriakan itu berhasil menarik perhatian orang-orang disekitar. Seketika Wanita itu menjadi pusat perhatian dengan beragam tanggapan.


Karena mendadak menjadi pusat perhatian membuat Wanita muda itu kesal. Dia menghentakkan Kakinya sebagai cara mengungkapkan kemarahan.

__ADS_1


(Gadis, katanya kamu akan berhasil membuat Pak Reynand bertekuk lutut melihat pesona cantikmu. Nyatanya dilirik pun tidak, maksa, sih? siap-siap besok kamu dipecat), ucap seseorang diseberang sana menyaksikan Vidio yang baru saja dikirim oleh teman Gadis.


Bersambung.


__ADS_2