
Gadis berkaca mata tidak menyahuti Julaekha. Dia lebih memilih meraih Handphonenya lalu menghubungi seseorang.
"Assalamu'alaikum Dokter Rasyid. Pak Keynand terluka, bisakah datang ke kediaman beliau."
Enah mengakhiri panggilan setelah Dokter keluarga Ardiaz mengiyakan.
"Saya itu bekerja untuk Tuan muda Raski dan juga Pak Keynand, bukan anda Nyonya Julaekha. Dan satu hal lagi bukan anda yang menggaji saya tapi Pak Reynand."
Enah memilih meladeni karena tidak ingin harga dirinya di injak-injak oleh Julaekha yang mengaku dirinya menjadi Nyonya rumah.
"Kamuuu!"
"Apa!?"
Enah menatap Julaekha dengan ekspresi menantang. Kedua Wanita itu bersitegang menguarkan aroma permusuhan yang terlihat kentara.
Satu menit dua menit hingga beberapa menit berjalan, keduanya masih saja bersitatap tak bersahabat. Julaekha dengan sorot mata tajam mengintimidasi. Sedangkan Enah dengan senyuman mengejek dan terlihat tenang.
Tok
Tok
Tok
Terdengar ketukan Pintu menyadarkan keduanya dari perang dingin yang menjemukan. Enah dengan cepat melangkah ke arah Pintu karena sangat yakin yang datang adalah Dokter Rasyid.
"Assalamu'alaikum," salam seorang Laki-laki berjas putih dengan diiringi senyum ramah nan tulus. Di belakangnya terdengar salam dua orang lagi. Seorang Laki-laki dan seorang Wanita yang sedang mengandung.
"Dengan Dokter Rasyid ya? silahkan, Pak Keynand ada di ruang keluarga," ucap Enah setelah membalas salam.
"Iya, kamu Enahkan? Orang yang menghubungi saya tadi?" Tanya Dokter Rasyid dengan sinar mata yang bertanya.
"Iya Dokter, saya Enah Baby Sitter Dadek Raski. Terus saya mendapatkan nomor Dokter dari Pak Reynand. Katanya sih kalau terjadi apa-apa dengan Pak Keynand maupun Raski saya harus menghubungi Dokter Rasyid," ucap Enah menjelaskan.
"Jadi begitu?"
__ADS_1
Dokter Rasyid mengangguk mengerti, tidak lupa juga mengenalkan Dokter Aditya dan Dokter Vidya yang kebetulan ikut bersamanya. Saat Enah menghubunginya kebetukan pasangan Suami Isteri itu sedangkan bersamanya sehingga ikut menemani saat mendengar khabar tidak baik yang menimpa Keynand.
Sesampainya di ruang keluarga tempat Keynand berada ketiganya mengucapkan salam lalu di balas salam oleh Keynand. Tidak ada siapapun yang menemani selain Jilbab Qia yang dipeluknya dengan erat. Sementara Julaekha pergi begitu saja saat terdengar salam terucap dari tamu yang berkunjung ke rumah.
"Dokter Rasyid, Dokter Aditya dan Dokter Vidya? Maaf tidak bisa menyambut tamu dengan baik. Harap maklum saja kondisinya dalam keadaan tidak memungkinkan seperti ini. Tumben kompak? Apa sudah janjian sebelumnya?" ucap Keynand tidak enak hati. Dia mengira ketiga Dokter kebanggaan Rumah Sakit Ardiaz itu datang ke rumah untuk bertamu.
"Tidak juga, kita hanya kebetulan saja bertemu terus memutuskan bersama-sama mengunjungi Pak Keynand, tadi Enah menghubungi Dokter Rasyid dan mengabarkan kalau Pak Keynand terluka," jawab Dokter Aditya menjelaskan akan kehadiran mereka yang tiba-tiba tanpa rencana.
Dokter Rasyid mulai melaksanakan tugasnya. Dia terlebih dahulu memeriksa tekanan darah Keynand lalu beralih memeriksa luka yang berada di bahu sebelah kiri.
"Apa yang terjadi? Sepertinya ini luka bacok," tanya Dokter Rasyid.
"Iya, tadi saya sama Julaekha di hadang oleh Mobil yang berisi empat orang Begal."
Keynand menceritakan apa yang menimpanya termasuk Julaekha yang berhasil melarikan diri dengan membawa kabur Mobil miliknya.
"Rupanya ada tamu." Julaekha tiba-tiba saja datang lalu menyela cerita Keynand. Dia duduk dengan anggun sembari menampilkan senyum ramah yang dibuat-buat. Dengan waktu bersamaan pula Enah datang membawa minuman dan kudapan untuk menjamu tamu.
"Silahkan Dokter, maaf seadanya."
"Jadi Isteri Pak Keynand berhasil melarikan diri dan membiarkan Suaminya dalam bahaya. Beruntung sekali Pak Keynand di tolong oleh seseorang? Siapa dia?" tanya Dokter Vidya. Dia sesekali melirik ke arah Julaekha dengan isyarat yang sulit di artikan.
"Aku tidak melarikan diri. Aku hanya menyelamatkan diri, apa salah? Siapa sih yang mau mati konyol jika berdiam diri di tempat bahaya. Hanya orang bodoh saja yang mau seperti itu," sahut Julaekha membela diri.
"Isteri macam apa bertindak semaunya tanpa peduli akan keselamatan Suaminya? Seharusnya Ibu Julaekha mencari bantuan setelah berhasil lolos dari bahaya. Anda tidak melakukan itu, kan? Malah sibuk menyelamatkan diri sendiri selanjutnya masa bodo seolah tidak terjadi apa-apa." Dokter Vidya tidak mau kalah. Dia meradang saat mendengar Wanita itu seakan tidak peduli dengan keselamatan Suaminya sendiri.
"Aku panik, mana sempat memikirkan keselamatan Keynand sementara keselamatanku saja belum terjamin. Aku juga terluka. Apa kalian mau Kepalaku di tebas oleh mereka? Tentu saja aku tidak mau, yang benar saja? Tidak ada dalam kamus hidupku sehidup semati. Jika Keynand mati, iya aku harus tetap hidup untuk meneruskan apa yang di tinggalkannya."
Keynand dan ketiga Dokter itu terkejut dengan perkataan Julaekha yang terdengar sangat jujur. Itu mungkin saja murni dari lubuk hatinya yang terdalam.
Keynand menarik nafasnya dengan berat. Sementara ketiga Dokter itu menatap dengan pandangan prihatin.
"Kok seperti itu reaksinya? Jangan lebai deh! Aku hanya berkata realistis," imbuh Julaekha merasa tak bersalah.
"Alhamdulillah luka Pak Keynand tidak terlalu parah meskipun lukanya sangat dalam. Obat herbal yang diberikan telah berhasil menghentikan darah yang keluar. Sepertinya orang yang membantu anda sangat mengetahui pengobatan tradisional," ucap Dokter Rasyid menjelaskan. Dia mengalihkan pembicaraan karena tidak mau mendengarkan ocehan yang tidak mengenakkan dari bibir Julaekha.
__ADS_1
"Tadi Enah yang mengolesi Jel Lidah Buaya," jawab Keynand memberitahu.
Dokter Rasyid mengernyitkan dahinya berpikir. Dia memang melihat Jel Lidah buaya itu, tapi bukan Lidah Buaya yang menjadi perhatiannya. Dia kemudian melihat Jilbab yang dipegang sangat erat oleh Keynand dan terlihat ada bercak darah di sana.
"Bukan Lidah Buaya, tapi obat herbal lainnya. Apa mungkin orang yang menolong Pak Keynand yang memberikan Obat herbal itu?"
Pertanyaan Dokter Rasyid membuat Keynand diliputi tanya. Apa mungkin Qia yang berhasil menghentikan darah yang keluar dengan obat herbal yang diketahuinya? Keynand melihat cairan yang bercampur dengan bercak darah di Jilbab milik Qia. Cairan itu terlihat mengkilat seperti minyak.
"Siapa dia Pak Keynand? Saya kok jadi kepo?" tanya Vidya penasaran. Pertanyaan Dokter Vidya dianggukkan juga oleh Dokter Aditya yang ikut penasaran dengan Gadis yang menolong Keynand. Sepertinya Gadis itu mengerti dunia medis. Itu yang ada dalam pikiran Aditya.
Keynand melihat Jilbab milik Qia dan kini yakin Qia juga memberikan obat herbal sebelum luka itu dibalut oleh jilbabnya. Tentu saja dia mengetahui ini dari penjelasan Dokter Rasyid. Tidak menyangka Gadisnya banyak perubahan. Kini dia menjadi pemberani dan mengerti obat-obatan tradisional. Apa sebenarnya dia belumlah benar-benar mengenal Qia. Keynand larut dalam pikiran tentang Qia dan tanpa sadar menyunggingkan senyum menawannya.
"Sepertinya yang menolong Pak Keynand seorang Gadis? Jika bukan, tidak mungkin senyum itu terbit begitu saja," ucap Dokter Aditya menggoda Keynand.
Julaekha seketika melirik ke arah Keynand. Dia mendapati wajah tampan Keynand dengan berhias senyum indah. Senyum yang tidak pernah sama sekali di berikan untuknya. Dia mendadak cemburu dan diliputi oleh kemarahan.
"Siapa?"
Dokter Vidya memburu Keynand. Dia sengaja memanas-manasi Julaekha.
"Dia adalah Qia," jawab Keynand jujur. Terlihat matanya berbinar cerah saat menyebut nama Gadis itu.
"Apaaa? Orang yang menolong kamu adalah Qia? Tidak mungkin ini. Qia ada di Mentaram dan mana mungkin dia tiba-tiba ada di daerah ini. Apa dia membuntuti kita? Jangan-jangan dia yang bekerja sama dengan para Begal itu kemudian berpura-pura membantu. Dasar Wanita murahan dan licik."
Julaekha berang dan memaki-maki Qia dengan berapi-berapi. Amarahnya kian membucah tak senang dengan apa yang dilakukan oleh Qia untuk menyelamatkan Keynand. Padahal dia berharap Keynand terluka parah. Dengan itu dia mempunyai kesempatan yang bagus untuk mencapai tujuannya.
"Tidak, tidak, tidak Keynand harus baik-baik saja agar rencanaku berhasil. Aku tidak mau kehilangan Keynand untuk saat ini," batin Julaekha. Di sisi lain seharusnya dia berterima kasih kepada Qia. Dan sisi lain yang berseberangan, dia sangat membenci Gadis itu. Bisa saja kehadirannya akan mengacaukan segala rencana yang telah di susunnya dengan baik. Julaekha tidak ingin kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan Keynand dan statusnya menjadi Isteri Keynand Putra Ardiaz. Tidak ada lagi cinta, baginya itu bulshit. Sedari awal dia mendekati Keynand dengan tujuan untuk menyelamatkan hidupnya yang sewaktu-waktu wajah aslinya diketahui oleh orang lain. Keynandlah yang akan melindunginya, itulah tujuannya menikahi Keynand. Selain itu dia mendapatkan limpahan kemewahan dari harta yang dimiliki Sang Suami. Betapa beruntungnya dia bukan? Sebab itulah orang lain tidak boleh merasakan apa yang didapatkan kini, siapapun dia.
"Cara Qia murah*n itu sungguh lagu lama. Kalau ingin mendekati dan menggoda Suamiku jangan menggunakan siasat bodoh itu. Lihat saja akan aku balas," sambung Julaekha tegas.
Wajah Vidya terlihat masam. Dia tidak suka mendengar hinaan yang gampang sekali diucapkan oleh Isteri dari Keynand. Dia tidak tahan ingin memaki Wanita itu ataupun bila perlu menarik bibir berwarna merah menyala itu hingga putus. Meskipun dia tidak mengenal Qia dan hanya sebatas tahu saja, tapi kenapa hatinya merasakan sakit mendengarkan Gadis itu di rendahkan begitu saja.
Bersambung.
.
__ADS_1