
Reynand masih saja menggendong Baby Nine dan membiarkan kedua orang tuanya gelisah. Sebenarnya ucapannya hanyalah becanda, namun terdengar serius dengan ekspresinya yang datar.
Dalam gendongannya Baby Nine mulai bergerak-gerak. Bibirnya mulai menempel pada dada bidang Reynand untuk menemukan sumber kehidupan.
Melihat itu membuat Reynand tertawa. Menurutnya bibir mungil itu terlihat amat lucu tatkala menunjukkan rasa lapar dan hausnya.
"Babynya lapar, Mas," ucap Lika yang masih saja asyik bermain-main dengan Baby Nine.
"Oh jadi ini tandanya?"
Reynand tak tega melihat Baby lucu itu bergerak-gerak menempel pada d*adanya, sementara bayi itu tidak menemukan sumber kehidupannya. Dia pada akhirnya mengembalikan Bayi tersebut pada Adly agar diserahkan pada Fitri.
"Nampaknya Pak Bos enggak rela Bayi ini saya ambil kembali. Ini Bayi kami Pak Bos," ucap Fitri berguyon.
"Emang! siapa bilang bayi saya sama Lika. Saya gemes saja jadinya pingin saya bawa pulang."
Ucapan Reynand membuat Adly dan Fitri geleng-geleng kepala. Baik Adly dan Fitri tidak menyangka Reynand sesuka itu pada Bayinya.
"Sayang, Mas tidak sabar menunggu lahirnya Bayi kita. Mas sudah melewatkan kebersamaan dengan Renia semasa masih Bayi. Mas ingin merasakan itu, makanya antusias banget menyambut kehadiran Baby Nine, biar nanti pas bayi kita lahir Mas tidak kaku. Persiapan gitu loh!"
Reynand berucap dengan mata berkaca-kaca. Ingatannya kembali saat meninggalkan Isterinya. Dimana pada waktu itu Lika sedang mengandung buah hatinya. Dia kemudian terombang ambing dalam ketidak jelasan hidupnya.
Reynand melewatkan kesempatan untuk mengadzani bayi pertamanya dan tidak menemani tumbuh kembang Renia dari baru lahir hingga berumur lima tahun.
Namun dia tetap bersyukur, Tuhan masih memberikan kesempatan untuk kembali bersama orang-orang yang disayanginya, maka dia tidak akan pernah menyakiti mereka. Kebahagiaan mereka yang kini akan dia perjuangkan.
Lika tersenyum sembari mengelus telapak tangan Suaminya yang kini menempel pada perut. Mereka saling menguatkan satu sama lain.
"Pak Bos kok melow? lupa ya? dulu siapa ya yang bilang 'Hey Gadis Tenun, Gadis Euphorbia, Lika liku denger ya, diinget dan dicatet dalam Otak lu, siapa tahu saja elu pikun. Gue, Reynand Putra Ardiaz enggak bakalan jatuh cinta sama elu walaupun pesona elu ngalahin cantiknya Putri Mandalika. Elu itu bukan tipe gue apalagi body elu kayak Liliput, terus tipis lagi. Mana ada yang enak-enak untuk di pegang'. Inget enggak tuh? nah sekarang kenapa jadi Bucin gini?"
Adly mengingatkan awal-awal Reynand dan Lika bertemu. Terjadi pertengkaran yang berujung Reynand cemburu dengan Evan. Laki-laki yang mencintai Lika dalam diam.
Adly dan Fitri tersenyum simpul dengan tingkah Reynand yang kikuk. Sedangkan Lika senyam senyum jika mengingat pertengkaran mereka di awal berjumpa.
"Ah Adly, itukan waktu masih unyu-unyu. Saat itu Lika belum tahu rasanya di marahin sama cowok keren, tajir dan tampan. Memancingnya dengan cara berbeda biar dia menanggapi. Kalau dengan cara baik-baik, bisa gede kepala dia terus meleleh. Jadinya enggak seru dan terkesan biasa saja."
Reynand membela diri dengan penjelasan panjang. Dia seakan bernostalgia dengan masa lalunya.
"Siapa yang bakalan besar kepala, biar kata Mas Reynand bakalan bersikap manis pada saat itu aku enggak akan terkesima kok! aku malah bingung, dengan dugaan sudah habis obatnya atau sedang healing karena hatinya di patahin oleh seorang Wanita. Aku mungkin takut terus kabur deh!"
Lika membantah dugaan Reynand yang kini sudah menjadi Suaminya. Di dalam hati jelas saja berbeda. Jika diperlakukan manis oleh Pria tampan tentu saja hatinya bakalan melayang ke awang. Namun muru'ah sebagai seorang Gadis harus ditampilkan dengan tegas. iya kan?.
"Nah itu Mas sudah prediksi. Kamu kan orangnya pemalu pasti bakalan ngerasa insecure ditaksir oleh cowok terkeren, tampan dan tajir melintir seperti Reynand Putra Ardiaz, iya kan?"
Reynand tidak mau kalah dengan apa yang diucapkan oleh Isterinya. Dia tersenyum puas melihat wajah Lika yang mengernyitkan dahinya sedang berpikir.
"Mas Reynand ternyata jago menebak pikiran orang saat itu. Kalau boleh jujur memang iya. Pria bernama Reynand Putra Ardiaz tidak termasuk kriteria Suami idaman. Dalam mimpi dan angan pun tidak ada. Aku sangat realistis, Gadis biasa seperti aku tentu saja hanya boleh mengangankan yang sama juga yakni Pria biasa dengan kedalaman ilmu agama yang lumayan mumpuni."
Lika membenarkan apa yang disampaikan oleh Reynand. Dia tidak pernah bermimpi akan bersuamikan Pria kaya raya dari latar belakang keluarga yang terpandang dalam Masyarakat. Dia hanya berharap mendapatkan Jodoh yang baik agamanya dan taat kepada ajaran agamanya. Sebab itulah dia berusaha memperbaiki dirinya agar apa yang diharapkan terkabulkan.
"Ternyata harapanmu terkabulkan oleh Tuhan. Bertemu denganku yang biasa ini sehingga menjadi orang yang luar biasa karena bersamamu. Kamu pada akhirnya mau juga."
Reynand tersenyum sembari mengelus pucuk kepala Isterinya yang tertutupi jilbab.
"Karena seorang Reynand Putra Ardiaz mau, iya jadinya saya mau lah. Masak nolak jodoh," sahut Lika terdengar mantap.
Adly dan Fitri hanya saling pandang diiringi geleng kepala menyaksikan pasangan Suami Isteri yang saling berbalas kalimat.
__ADS_1
"Duhai Baby Nine inges buaq ate kembang mate. Tidur nyenyak ya sayang, jangan terusik dengan perdebatan Amaq Kake dan Inaq Kake."
Adly bertembang asal-asalan menina bobokan Bayi mungilnya. Tembang itu mampu mengalihkan pasangan itu dari dunianya sendiri. Mereka berdua tersenyum kikuk dengan berusaha mengenyahkan rasa malu.
Usai bermain-main dengan Baby Nine, pasangan Suami Isteri itu pada akhirnya berpamitan.
***
Reynand dan Lika hendak melajukan Mobilnya, namun urung karena Keynand meminta mereka untuk bertemu di ruang kerjanya.
"Ada apa?"
Reynand menggelengkan kepalanya tanda belum mengetahui apa yang diinginkan oleh Adiknya itu. Dia hanya meminta menemuinya di ruang kerja.
"Iya sudah kita temui Abang Keynand saja, siapa tahu penting," ucap Lika memutuskan.
Pasangan itu kemudian mengarahkan Mobilnya ke Hotel Ardiaz yang tidak terlalu jauh dari Rumah Sakit Ardiaz. Sebenarnya berjalan Kaki pun bisa, hanya saja Lika sedang mengandung membuat Reynand tak tega melihatnya harus bolak balik berjalan Kaki.
Tidak terlalu lama, Mobil berwarna Biru itu sampai juga diparkiran. Bergegas mereka melangkahkan kaki menuju ke ruang kerja. Disepanjang jalan kenangan, para karyawan menyapa pasangan itu dengan salam dan dengan ramah keduanya membalas salam mereka.
"Ada apa Key?" tanya Reynand ketika mereka sudah duduk di Sofa yang tersedia disana.
"Tidak ada yang urgent, sih! saya hanya ingin curhat," sahut Keynand merasa tidak bersalah.
"Kamu tuh menyia-nyiakan waktu kami saja. Padahal waktu kami sangat penting untuk Renia dan Raski eh malah ditahan disini," ucap Reynand sewot.
Keynand tertawa menyaksikan raut lucu yang ditampilkan Pria itu.
"Sorry, sebenarnya saya meminta Abang ke sini untuk membahas kerjasama dengan Pak Anton." Keynand mulai terlihat serius. Dia menyodorkan Dokumen kerjasama yang diberikan oleh perwakilan dari Perusahaan Anton yang bergerak di bidang Perikanan. Reynand berniat melebarkan sayapnya. Kini Pengusaha itu melirik Budidaya Lobster dan Udang.
"Saya lebih tertarik penawaran dari Perusahaan Hermawan daripada Perusahaan Anton." Keynand melanjutkan penjelasannya.
"Abang Reynand sangat tepat menebak. Itu merupakan salah satu alasannya. Selain itu juga perusahaan itu ternyata bukan perusahaan bersih. Mereka sering kali bermain curang karena itulah alasan yang tepat untuk menolaknya."
Keynand menjelaskan hasil penyelidikan terhadap dua perusahaan yang sedang mengajukan kerjasama dengan Hotel Ardiaz.
"Okay, kalau memang Perusahaan Hermawan lebih unggul kenapa kita harus pilih yang buruk." Reynand pada akhirnya memutuskan kepada siapa kerjasama itu diberikan.
"Jika Abang sudah memutuskan saya secepatnya akan menjadwalkan pertemuan dengan Pak Riandra Hermawan, Ceo dari Perusahaan Hermawan. Insyaa Allah Perusahaan Hermawan termasuk perusahaan yang bersih dan menghasilkan produk yang bermutu. Produk mereka untuk memenuhi pasar eksport. Sudah jelas jika produknya sudah memenuhi syarat dan standart yang ditentukan."
Keynand melanjutkan penjelasan tentang perusahaan yang akan menjalin kerjasama dengan Ardiaz.
Reynand mengangguk setuju. Dia kemudian mengembalikan Dokumen itu kepada Keynand.
"Sebenarnya ada yang lebih penting yang ingin saya sampaikan kepada Abang," ucap Keynand kemudian setelah selesai membahas pekerjaan.
"Penting? sepertinya serius banget bang?" Lika kini ikut terlibat dalam obrolan karena sepertinya tidak berhubungan dengan pekerjaan.
"Iya, Ka. Saya mau cuti dan meminta Abang kembali memimpin Perusahaan," ucap Keynand serius.
"Beneran Key? cuti untuk apa?" Reynand memperhatikan permintaan Adiknya itu yang tiba-tiba dan mendadak.
"Cuti untuk mengejar calon Ibu Sambung untuk Raski."
Ucapan Keynand membuat Lika dan Reynand saling pandang. Tidak biasanya Keynand akan meminta waktu hanya untuk mengejar seorang Gadis.
"Are you serious?"
__ADS_1
"Yes, saya tidak mau lagi tiba-tiba ditodong untuk menikahi seorang Wanita," ucap Keynand berterus terang.
Kejujuran itu membuat Lika dan Reynand terkejut. Tidak menyangka ada yang mengajak Duda tampan itu menikah. Berani sekali Wanita itu dan tentunya patut mendapatkan penghargaan.
"Kenapa Abang tidak terima saja?" sahut Lika dengan wajah seriusnya.
"Gila kali, Ka. Wanita itu bikin saya tinjot kembelas (kaget yang amat sangat kaget)." Keynand menjawab pertanyaan Lika dengan mengekspresikan keterkejutannya. Melihat ekspresi Keynand membuat Suami Isteri itu tertawa. Reynand juga mengerti arti bahasa yang digunakan Keynand.
"Terus penampilannya itu loh! bikin saya merinding. Kata orang sini Tuselak kenjelo. Lika pasti tahu seperti apa rupanya."
Lika tertawa dengan jawaban Keynand. Dia geli tatkala membayangkan wajah Wanita yang dimaksudkannya.
"Jangan ngolok Bang, awas entar kena senggegernya. Dia marah sama Abang terus dukun beranaklah yang bertindak" Lika menakuti Keynand dengan aksen serius. Secepat kilat Keynand membaca Ayat Kursi. Nampaknya dia menganggap apa yang diucapkan Lika benar adanya. Bisa jadi pesona itu bercampur aduk dengan bedak. Tidak salahnya meminta perlindungan kepada Tuhan.
Reynand dan Lika hanya diam menyimak bacaan Keynand yang sudah di hafal oleh mereka. Setelah Keynand selesai membaca ayat kursi barulah mereka melanjutkan obrolan.
"Oh ya palingan cuma boros di bedak sama gincu saja. Dua benda itu tidak membuat Dompet Abang Keynand bolong, kan?" Lika melanjutkan.
"Iya enggak sih! hanya saja meteran nangis mengukur ketebalan bedak itu. Kenapa enggak sekalian pakai Cat putih biar awet."
Hahahahaha
Lika dan Reynand kembali memperdengarkan tawanya. Ekspresi mengenaskan yang ditunjukkan Keynand membuat keduanya tidak bisa lagi menahan tawanya.
"Emangnya siapa yang mau ngukur?" tanya Lika.
Keynand menggelengkan kepala sejurus kemudian terdengar suaranya menyahuti Lika. "Boleh juga diukur, kira-kira berapa CM ketebalannya? penasaran!"
Lika tergelak, dia tidak menyangka Iparnya sekonyol itu.
"Memangnya siapa Wanita itu?" tanya Reynand penasaran.
"Wanita yang diutus oleh Pak Anton. Dia ternyata Sekretaris sekaligus Kekasih gelap Pak Anton. Masak iya tiba-tiba meminta saya untuk menikahinya. Katanya, sih bonus kerjasama. Dia malah memamerkan auratnya agar saya tergoda. Bukannya tergoda malah saya syock dan langsung meminta Satpam mengamankan Wanita itu." Keynand menceritakan apa yang terjadi saat pertemuannya dengan Clientnya.
"Ya Allah, salut dengan keberanian Wanita itu. Dia memang sangat percaya diri. Kenapa Abang tidak iya kan saja?"
Keynand cemberut mendengarkan perkataan Lika yang terkesan meledeknya.
"Saya sudah menemukan calon Ibu sambung untuk Raski, makanya minta cuti agar bisa mendekati Gadis itu dengan maksimal." Keynand pada akhirnya berkata mengeluarkan kekesalannya.
"Siapa?" tanya Lika dan Reynand bersamaan.
"Saya juga belum terlalu mengenalnya. Agar saya mengenal Gadis itu rencananya saya mau kembali ke Kampus," jawab Keynand terdengar mantap dengan rencana yang ada di Otak. Dia tersenyum membayangkan skenario yang akan dijalankan secepatnya.
Lika dan Reynand saling pandang dengan rencana yang akan dilakukan oleh Keynand. Sepertinya Keynand sangat serius dengan misinya kali ini.
"Oh ya sepertinya kita telah berdosa membicarakan orang lain. Astaghfirullah, Abang Keynand, sih?" Lika berkata disaat keheningan yang menguasai.
"Iya, iya. Saya hanya bercerita pengalaman tadi semoga saja tidak termasuk gibah." Keynand menyahuti diakhiri dengan istighfar mengikuti apa yang dilakukan Lika.
Bersambung
Hai teman-teman mohon maaf baru bisa up lagi. Semoga saja suka dan tidak bosan menunggu kehadiran Keynand yaaa!.
Jangan lupa Like, komentar dan votenya.
Oh ya, Riandra Hermawan, Ceo dari Perusahaan Hermawan yang akan bekerja sama dengan Hotel Ardiaz sebenarnya ada ceritanya. Judul Novelnya Keteguhan Hati dan di up pada platforn lain. Ini hanya sekedar informasi semoga saja ada yang berkenan ingin membacanya.
__ADS_1
Terima kasih.