Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.75


__ADS_3

Keynand merasa dirinya di perhatikan oleh seseorang. Dia mendongakkan wajahnya, matanya langsung bersirobok dengan mata Enah yang sedang memperhatikannya. Keynand tersenyum tipis yang disambut anggukan dan senyuman lebar dari Enah. Ada rasa malu tercetak di wajahnya dan debaran hati yang kian nyata. Enah memalingkan wajahnya tidak sanggup mendamaikan jantungnya yang deg-degkan dan bertalu dengan hebatnya.


Keynand kembali memberikan perhatiannya kepada Renia, Raski dan Andreas, baginya kini ketiga bocah itu adalah dunianya.


Hari itu juga, Keynand langsung mengeluarkan dana yang lumayan besar kemudian disalurkan kepada Pondok Pesantren, Panti asuhan dan juga para Pedagang kecil atau asongan dan bakulan. Semua itu dia lakukan sebagai ucapan rasa syukur atas kebebasannya dari fitnahan.


Lalu Malam harinya, seluruh keluarga berkumpul di kediaman Reynand dan tidak ketinggalan tujuh sahabat di undang untuk menikmati jamuan makan malam.


Lexi hadir bersama Lily membawa kedua anaknya bernama Anisa dan Qausar.  Sedangkan Evan maupun Rian menggandeng Sang Isteri dan anak masing-masing sementara Dipta dan Juna, seperti biasa mereka berdua datang sendiri tanpa gandengan dan bocah-bocah cantik ataupun tampan mengiringi mereka. Jomblo fisabilillah itu dengan santainya melangkah menuju ke tempat jamuan. Di sana tidak nampak Rizqia dan Habibah. Kedua Wanita itu kini sedang ada di rumah sakit menemani Rizqy yang masih betah dalam tidurnya.


"Mari semua, jangan malu-malu," ucap David Ardiaz mempersilahkan para tamu yang hadir.


Setelah menikmati makan malam, mereka larut dalam obrolan dan canda tawa yang semakin mengakrabkan mereka. Tidak ada ketakutan, kecemasan dan kegelisahan lagi. Kini yang mereka rasakan adalah kebahagiaan dan senyum tawa.


Keynand kembali di tengah-tengah mereka dan berkumpul kembali dengan anak tercinta. Itulah yang mereka perjuangkan setelah beberapa bulan lamanya mereka berjibaku mencari bukti-bukti untuk membebaskan Keynand dan juga harus menghadapi serangan Wanita itu.


"Key, apa kamu tidak ingin menikah lagi?" tanya David memulai obrolan.


"Tuan David, kok saya ama Abang Juna tidak di tanya?" Sela Dipta.


Juna yang ada di sampingnya menyikut lengan Dipta yang membuatnya mempelototi Juna.


Hamiz tidak berkomentar, walaupun dia jomblo fisabilillah juga. Saat ini dia masih memperjuangkan salah satu mahasiswinya yang sepertinya enggan menerimanya, karena merasa dirinya tidak pantas untuk seorang Lalu Hamizan Riski. Ah galau rasanya saat dirinya di tolak.


Lantas bagaimana khabarnya dengan Keynand? "Apakah dia akan berhasil menikahi Baiq Rizqia Anggeraini?" Hamiz membatin.


"Enggak sopan tahu!"


"Maafkan, aku khilaf," jawab Dipta tersenyum malu-malu.


"Memangnya kalian berdua ingin nikah juga?" tanya David menatap Dipta dan Juna secara bergiliran.


"Pingin, sih! Tapi itu dia, saya belum ada calonnya, mau nikah sama siapa coba?" Jawab Dipta malu-malu.


"Keynand belum memikirkan hal itu, Daddy," jawab Keynand singkat.


"Serius, Son? padahal Daddy sudah berbicara dengan seorang Gadis. Dia setuju menikah dengan kamu, bahkan dia mengaku jatuh cinta kepada kamu. Gadis itu juga sangat menyayangi Raski. Daddy rasa kamu cocok dengannya," ucap David berterung terang, tentu saja hal itu membuat Keynand terkejut.


"Siapa?"


"Enah, baby sitter Raski," jawab David antusias.


Keynand menggelengkan kepalanya. Dia langsung bangkit dari duduknya kemudian menjauh dari tempat mereka berkumpul.

__ADS_1


"Daddy tahu sendiri Keynand hanya ingin menikahi satu Gadis yaitu Qia," ucap Keynand sebelum benar-benar pergi.


"Kamu telah menyakiti hati Qia, apa Qia mau menerima kamu kembali, Key? Daddy hanya tidak ingin kamu terluka lagi dan berharap sesuatu yang tidak pasti. Enah Gadis yang baik dan sholeha. Dia juga sangat menyayangi Raski, apalagi yang kamu cari, Nak?" ucap David berusaha untuk memberikan pengertian kepada Putranya itu.


"Cinta, Daddy. Key tidak menemukan cinta pada diri Enah. Hanya Qia pemilik hati ini, dan jangan menghadirkan Gadis lain di sisi Key dan Raski. Key tidak ingin membuat Enah terluka dan membuat diri ini berdosa dengan apa yang akan terjadi."


Keynand teguh dalam pendiriannya. Dia akan memperjuangkan Rizqia kembali dan berusaha menaklukkan segala rintangan yang mungkin saja menghadangnya menuju ke hati Rizqia.


"Baiklah, Daddy akan memberikan waktu untuk menaklukan kembali hati Rizqia dan mendapatkan restu Rizqy kembali. Jika Rizqia tidak bersedia menikah denganmu, maka kamu harus menikah dengan Enah," ucap David tegas. Dia menepuk bahu Keynand kemudian terbitlah senyum penuh arti darinya.


Keynand menganggukkan kepalanya setuju. Mulai hari ini dia akan memperjuangkan Rizqia dan mendapatkannya kembali.


Malam kian larut, para tamu kembali ke rumah masing-masing. Sedangkan tujuh sahabat memilih menginap di hotel sebab jarak rumah mereka cukup jauh, jadi tidak memungkinkan melakukan perjalanan pulang.


***


Di rumah sakit Ardiaz.


Habibah menggengam tangan Sang Suami dengan erat. Sesekali dia menaruh tangan Rizqy pada perutnya menuntun tangan itu untuk mengelusnya.


"Anak kita bergerak, sayang. Mereka tahu, tangan yang mengusapnya adalah tangan Mamiqnya," ucap Habibah terus saja menuntun tangan Rizqy mengelus perutnya yang mulai membesar.


"Mamiq cepat sadar, dong! Bibah janji tidak akan nangis lagi," lanjutnya. Kini dia beralih mengelus Kepala Rizqy yang ditumbuhi rambut yang lebat. Lalu beralih pada wajah putihnya yang pucat. Habibah setiap hari membersihkan tubuh Sang Suami dengan air hangat. Dan malamnya setelah melaksanakan shalat Magrib Wanita hamil itu mengaji hingga waktu Isya tiba.


Habibah menggangguk. Wanita hamil itu terlihat sangat lelah. Ingin rasanya tidur satu Ranjang dengan Suaminya, tapi sekarang tidak bisa dia lakukan seperti saat perutnya masih datar. Agar nyaman dengan perutnya yang membesar, Habibah memilih tidur di Ranjang yang telah tersedia untuk keluarga pasien.


Rizqia duduk di sisi Rizqy, menatap wajah pucat kakaknya yang terlelap dalam tidurnya.


"Sampai kapan kak Rizqy akan terus lelap dalam koma? Kiano sudah mendapatkan keadilannya, sedangkan Abang Keynand sudah bebas. Nama baiknya sudah dibersihkan," ucap Rizqia mulai mengajak Rizqy berbicara.


"Apa Kak Rizqy tidak ingin menikmati momen kehamilan Kak Habibah? Apa Kak Rizqy tidak kasihan dengan Isteri Kakak itu? Tentu saja Kak Bibah ingin di sayang dan di manja oleh Suaminya sendiri. Qia sedih melihat Kak Bibah menjalani kehamilannya dengan susah payah. Saat dia mual, tidak ada Kakak yang siaga menemaninya dan merawatnya. Saat dia mengalami kram pada perut tidak ada Kakak yang menenangkannya. Kak Bibah sendirian menjalani kehamilan yang tidak mudah. Kak Rizqy sadar, dong?"


Rizqia mengomeli Sang Kakak yang masih asyik terlelap dalam komanya. Dia seakan enggan beranjak dari tempatnya. Apa mungkin di sana dia merasakan ketenangannya? Apakah selama ini Rizqy merasakan hidupnya sangat sulit sehingga ingin menikmati rasa nyaman dalam komanya.


"Kak Rizqy sangat tega! Kak Rizqy tidak cinta lagi ya sama Kak Bibah? Apakah Kak Rizqy tidak ingin bertemu dengan calon bayi kak Rizqy ya? Kak Rizqy pengecut! Kak Rizqy lemah! Katanya kak Rizqy sangat kuat, tapi apa? Kak Rizqy bohooooong!"


Rizqia menumpahkan keluh kesahnya. Dia menenggelamkan wajahnya pada ranjang. Air matanya mengalir sangat deras melihat Sang Kakak tak kunjung sadar. Dan dia sangat kasihan melihat Kakak iparnya yang setiap hari menangis walaupun Habibah berusaha untuk kuat dan menerima kenyataan ini. Namun kondisinya sedang hamil membuat Habibah sangat sensitif.


Sedangkan di luar sana terlihat Juna sedang berdiri melihat ke arah dalam. Sepulang dari kediaman Reynand, Juna memilih langsung ke rumah sakit. Dia mengetuk Pintu, lalu masuk ke ruang rawat Rizqy.


"Bang Juna," ucap Rizqia saat melihat keberadaan Juna. Rizqia menyeka air matanya dan berusaha untuk tersenyum meskipun tak seindah biasanya.


Juna setiap hari menyempatkan diri untuk menjenguk Rizqy dan membawa apapun yang di minta Habibah.

__ADS_1


"Apa Kak Bibahnya sudah tidur?" tanya Juna melihat Habibah tidak ada di ruang rawat tersebut. Ranjang untuk keluarga pasien ada di ruang yang sama, tapi di sekat Kelambu, sehingga Juna tidak melihat keberadaan Habibah.


"Iya, bang."


Rizqia mengajak Juna keluar, lalu mereka berdua duduk di Kursi panjang yang tersedia di sana. Keduanya duduk sembari menatap ke arah depan, terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Abang baru saja dari rumah Bang Reynand." Juna memulai pembicaraan.


"Iya, mbak Lika sudah mengabari. Ada jamuan makan malam menyambut kebebasan Abang Keynand, kan? Maaf aku tidak bisa datang, tidak ada yang menemani Kak Bibah," ucap Rizqia menanggapi pemberitahuan Juna.


Juna terdiam. Dia sebenarnya ingin menanyakan hubungan Rizqia dengan Keynand yang nampakkan sangat rumit. Dia mendengar, Keynand akan dijodohkan dengan Gadis lain, tapi Lelaki itu menolaknya.


"Qia, apakah Abang boleh bertanya?" tanya Juna pada akhirnya ingin mengetahui perasaan dari Gadis di sampingnya.


"Abang mau tanya apa?" tanya Rizqia memandang Juna sebentar, lalu kembali ke semula, menatap depan.


"Apa khabar dengan hatimu? Apakah baik-baik saja? Apa di sana masih tersimpan satu nama Laki-laki yaitu Keynand Putra Ardiaz?" tanya Juna dengan hati-hati. Dia menatap Rizqia yang arah pandangnya tetap ke depan sehingga Juna hanya melihat sedikit pipi kanannya.


huft


Rizqia menarik nafas dengan panjang dan dalam, lalu menghembuskan dengan perlahan. Dia tidak menjawab, sebaliknya terdiam menikmati keheningan dan kesepian yang merajai.


"Bukankah Abang Keynand akan di jodohkan dengan Gadis Sholeha bernama Enah?" ucap Rizqia memilih tak menjawab.


Keynand yang ada di sana dan ikut mendengarkan pembicaraan mereka berdua hanya terdiam, tak mampu menyampaikan keinginannya. Dia menunggu kejujuran Rizqia, bahwa dirinya masih bertahta di hatinya, tapi sepertinya Rizqia enggan mengakui, atau mungkin saja sudah tidak ada dirinya sehingga tidak diperlukan pernyataan itu.


"Jadi gitu? Sebaiknya Abang balik ke Hotel, kamu istirahat, gih!" ucap Juna tidak memperpanjang pembicaraan.


"Ada apa dengan kalian berdua? saya melihat cinta Keynand amat besar untuk Qia. Pun begitu juga dengan Rizqia. Kalian berdua saling mencintai satu sama lain, tapi mengapa sangat sulit untuk bersama? Tidak ada ruang lagi untuk Laki-laki lain, hanya Keynand di sana. Bukankah Keynand juga sama, hanya Qia di sana. Mana ada untuk orang lain di hati keduanya. Seperti halnya aku, hanya ada Ega di sini," ucap Juna sembari memegang dadanya, menikmati debar-debar yang terdengar syahdu. Dia masih mencintai satu Wanita, yaitu sahabatnya yang kini bersanding dengan Lexi Aditama. Entah sampai kapan Juna memegang rasa itu.


Juna tersenyum sembari menggelengkan Kepalanya.


"Aku sungguh tak waras, jangan sampai itu terjadi padamu, Keynand. Itu sungguh sangat tidak mengenakkan. Aku tahu Lili adalah Ega, tapi aku berpura-pura tidak mengetahui itu. Mana mungkin aku tidak mengenali Wanita yang membuat Jantung ini berdetak dengan hebat, meskipun seandainya dia mengubah wajahnya seperti yang dilakukan Evelyn."


Juna membatin. Dia melihat Keynand berdiri di sana, menatap Rizqia yang masih duduk dalam kesendiriannya.


"Dapatkan hati dan dirinya. Saya melihat cinta itu hanya untuk kamu," ucap Juna sembari menepuk bahu Keynand.


Keynand terkesiap. Dia tidak menyadari Juna ada di sampingnya. Kapan Laki-laki itu mendekat? Batin itu bertanya.


Selepas berkata, Juna menjauh meninggalkan dua insan yang saling merindukan itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2