Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.87


__ADS_3

Sungguh, Keynand masih tidak percaya dengan kenyataan ini. Hari ini kembali dia akan melepaskan masa Dudanya.


Seharusnya ia bahagia dan tersenyum ceria menyambutnya. Namun apa yang dirasa? Tidak! Bukan bahagia yang terasa dalam hatinya melainkan kesedihan dan nelangsa. Tidak di sangka takdirnya bukan bersamanya melainkan Gadis lain.


"Seperti apa aku akan merangkai kehidupan ini bersama Wanita lain, Qia? Apakah aku akan pura-pura mencintai dan menggoreskan luka setiap hari pada hati ini agar dia juga tidak merasakan kesakitan itu?"


Lamunan itu mengajaknya berdialog. Berusaha membuka pikiran Keynand agar mau menerima semua ini yang merupakan jalan hidupnya.


"Kata orang cinta akan tumbuh seiring kebersamaan itu terlaksana. Mungkin saja itu yang akan terjadi? Tapi kapan? Apakah diujung kelelahannya lalu memilih menyerah? Apakah di saat itu aku akan menyesal lalu memilihnya? Apa mungkin di saat itu aku sudah bisa, Qia? Melupakanmu dan mengharapkannya?"


"Kamu sudah siap Key?"


Suara bariton menyadarkannya dari lamunan yang panjang. Tepukan dia dapatkan dari tangan kekar Sang Kakak.


Keynand tersenyum kecut, lidahnya kelu untuk menjawab apalagi Kepalanya, dia sepertinya enggan untuk menggangguk siap.


Lihatlah wajah Reynand menyimpan senyum penuh arti yang membuat Keynand seketika menjadi muak. Tidak ada yang mengerti apa mau hatinya. Rizqia pun tidak berusaha untuk memahaminya. Gadis itu lebih memilih menjauh pergi meninggalkan harapan yang berserakan.


Gadis itu terlalu naif dan sangat pandai membodohi diri. Hanya demi bakti dan entah apapun itu namanya dia rela mengorbankan diri agar tak bahagia. Dia sendiri yang memilih menderita dari pada berjuang merekatkan rasa.


Takdir. Itulah yang tidak bisa mereka lawan. Lantas mau berbuat apa?


Hanya menerima walaupun hati perih. Kata orang waktu yang akan memulihkan rasa sakit itu. Namun bisakah itu? Keynand meragukan kesanggupannya menata hatinya lagi setelah di porak porandakan oleh Wanita keduanya Julaekha Syarifah alias Evelyn Sanjaya. Rizqia pun tidak mau membantunya untuk merasakan bahagia bersamanya. Kini mereka berdua saling berpaling lalu melangkah menjauh seraya menggenggam sekeping rasa yang masih tersimpan di hati masing-masing. Dan rasa cinta itu sangat perih dan siap menggerogoti keduanya dengan rindu yang mendekam tak bersua lalu berlabuh.


Keynand berjalan tertatih-tatih menuju Singgasana Akad nikah. Dia seakan di giring menuju kepesakitan, itu yang terasa. Wajah itu menunduk lesu dengan hati ingin memberontak pergi. Melarikan diri, tapi tidak ada tujuannya. Hanya patuh yang kini harus diperbuatnya untuk melegakan hati mereka yang katanya sangat menyayanginya.


Di sana terlihat David Ardiaz tersenyum menyambutnya. Wajah-wajah bahagia dia absen satu persatu dengan sinar mata yang redup dan sendu.


"Key duduklah," ucap David Ardiaz mempersilahkan Keynand yang berdiri mematung cukup lama.


Lelaki itu kemudian duduk dengan tanpa jiwa. Dia melirik ke arah para Wanita berada. Tanpa sengaja matanya bersirobok dengan mata bening milik Gadis Baby Sitter itu. Dialah calon Isterinya bukan Rizqia. Gadis itu terlihat anggun dengan balutan gaun pengantin berwarna putih dengan jilbab panjang menutup bagian depannya. Pada Kepalanya bertahta Mahkota berkilauan yang terlihat sangat indah.


Andai itu Rizqia, mungkin hatinya langsung berdesir tatkala melihat keindahan itu. Tidak ragu-ragu lagi dia akan memberikan seulas senyum yang tulus sebagai ungkapan menyambut hadirnya pada kehidupan seorang Keynand.


Sayangnya Gadis berkaca mata itu bukan Gadis bermata belo pujaan hatinya. Rizqia memilih hati lain tempat dia melabuhkan hari-harinya. Sedangkan dia, Gadis lain yang akan bersedia mempersembahkan baktinya. Di samping Enah ada Gadis yang amat sangat dia kenal. Dialah sahabat Rizqia.


"Sumayyah Hanara Rien, apakah dia seorang penghianat?"


Keynand membatin melihat seraut wajah ayu tersenyum bahagia mendampingi Gadis yang berhasil menaklukkan hati keluarganya lalu memilihnya untuk membuat hati ini kian terluka.


Keynand tergugu pilu.


"Apakah sudah siap?"


***

__ADS_1


Sementara di kediaman Rizqy, saat ini mereka sedang melaksanakan medak api atau pemberian nama kepada bayi kembarnya sekaligus melaksanakan sunnah sebagai penganut agama Islam yaitu melaksanakan Aqiqah dan mencukur rambut.


Tepat hari ini merupakan hari ketujuh dari hari lahir kedua buah hati Rizqy dan Habibah. Meskipun dalam keadaan masih kurang sehat dan hanya bisa duduk di kursi roda, hal itu tidak menyusutkan kebahagiaan Rizqy dan Habibah.


Hari inilah yang di tunggu-tunggu oleh keduanya setelah mengarungi bahtera rumah tangga yang cukup lama. Mereka tak lelah berjuang dan berdoa hingga akhirnya doa pasangan itu terkabulkan, meskipun harus melewati kesakitan dan keresahan terlebih dahulu.


Basmalah terucap lalu Rizqy menyebut nama bayi kembarnya dengan wajah berbinar-binar cerah tanpa keraguan.


"Untuk anak Perempuan kami yang merupakan Kakaknya saya akan menyematkan nama yakni Baiq Rania Anggara dan untuk Sang Adik saya akan menyematkan nama Lalu Tobias Anggara."


Setelah diberikan nama, selanjutnya dilaksanakan Aqiqah dengan memotong tiga ekor kambing. Satu ekor untuk Putrinya Rania dan dua ekor untuk Putranya Tobias. Hal itu sesuai dengan yang di syaratkan dalam syariat agama.


"Alhamdulillah, nama si cantik adalah Rania. Rania kalau tidak salah artinya Ratu, iya kan paman?" ucap Rizqia yang saat ini terlihat bahagia mengendong Baby Rania. Sementara Pemuda tanggung berparas teduh itu menganggukkan Kepala sembari memberikan senyum tulusnya.


Pemuda itu sedang menggendong saudara Rania yang tidak lain adalah Tobias.


"Nggih Tante. Rania itu berarti Ratu sedangkan Tobias berarti Raja. Semoga kelak menjadi anak-anak yang sholeh dan Sholeha," ucap Pemuda itu dengan dilanjutkan doa untuk kebaikan Rania dan Tobias.


Mereka berdua larut dalam obrolan setelah sekian lama terpisah oleh jarak.


"Qia sudah waktunya di rias," ucap Habibah mengambil alih Rania dalam gendongan Gadis itu.


"Kamu juga Rasya."


***


Di kediaman Reynand Putra Ardiaz.


Terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an sebagai salah satu bagian dari prosesi akad nikah.


Keynand menundukkan wajah. Hatinya bergetar tatkala mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an yang amat sangat merdu dari seorang Qori. Suara itu sangat familiar di telinganya. Keynand memberanikan diri untuk menatap pemilik suara itu yang tidak lain adalah Lalu Rasya Fauzan. Dia hadir untuk menyaksikan akad nikah Keynand Putra Ardiaz. Pemuda itu hari kemarin langsung terbang dari Madinah saat mendengar khabar pernikahan Keynand yang di majukan. Di hari ini pula Rizqy melaksanakan Aqiqah, pemberian nama dan juga mencukur rambut bayi kembar mereka.


Tanpa sadar Keynand meneteskan air mata. Ada getaran aneh menyusup masuk ke relung hati saat mendengar suara Rasya. Bersama itu pula hati teriris kunai karena Pemuda itu pula yang akan mengisi hari-hari Rizqia bukan dirinya.


"Jika Gadis itu merupakan jodoh hamba lapangkan hati ini untuk menerimanya. Sesungguhnya setiap saat hati ini berada dalam pengawasan-MU."


Keynand membatin berusaha untuk menerima takdirnya. Saat ini dia sudah terlanjur duduk di hadapan Penghulu dan seorang Laki-laki tampan yang siap menjabat tangannya. Tidak bisa lagi menolak apalagi memundurkan langkah lalu lari menjauh dari tempat sakral ini.


Tidak bisa! Dia bukan laki-laki pencundang sehingga memilih menghadapinya walaupun hati terluka. Entah seperti apa wajah pernikahannya beberapa jam nanti, Keynand tidak ingin memikirkannya terlebih dahulu. Biarlah dia akan terluka pada akhirnya.


Keynand menerima uluran tangan itu dengan wajah menunduk berusaha menyembunyikan kesedihannya. Wali nikah Enah beringsut maju duduk di hadapannya setelah dipersilahkan dan Keynand sudah siap mengucapkan ijab kabul atas nama Gadis Baby sitter itu.


Seulas senyum tersungging dari bibir Laki-laki di hadapan Keynand sembari menjabat tangan Keynand dengan erat.


Lalu terucap ijab dengan suara lantang yang juga mengalirkan dengan balasan kabul dari bibir Keynand yang terdengar lantang meskipun seakan berada dalam lamunannya.

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya Baiq Rizqia Anggeraini binti Lalu Wira Ariadi dengan maskawin seperangkat alat sholat dan segelas air zam-zam di bayar tunai."


"Sah."


"Sah."


"Sah."


Keynand tersentak kaget saat mendengar kata 'sah' dari orang-orang yang menyaksikan akad nikah.


Dia mengira berada dalam lamunan saat wali nikah mengucapkan nama seorang Gadis yang amat sangat di ingatnya, baik dalam hati maupun dalam benaknya.


Keynand memberanikan diri memandang sekelilingnya dan masing-masing dari mereka berusaha menahan tawa. Ada David Ardiaz, Ali Hasan, Hamiz, Adly dan lebih kentara adalah Nelson, Kakak iparnya itu. Laki-laki berkebangsaan Amerika itu berusaha menahan tawanya yang siap meledak.


Sedangkan para undangan lainnya menatap Keynand dengan wajah keheranan karena pengantin Laki-laki terlihat kebingungan.


"Ada apa ini?"


Puas menatap wajah-wajah mereka, Keynand mengalihkan pandangan lurus ke depan di mana keberadaan Wali nikah yang tadi telah menikahkannya dengan Gadis bernama Enah itu.


Deg


Keynand lagi-lagi membeliak kaget saat menyaksikan wajah siapa yang ada di hadapannya dalam jarak beberapa jengkal. Orang yang tadi menjabat tangannya lalu menuntunnya untuk mengucapkan ijab kabul.


"Ri Rizqy."


Dengan intonasi terbata dia menyebut nama Laki-laki di hadapannya.


Plak


Tepukan pada pipinya dia dapatkan dari Rizqy sehingga Keynand kembali terkesiap kaget.


"Banguuun! Apa kamu pikir berada dalam dunia lamunan, Keynand?"


Hah?


Keynand masih linglung tidak mengerti apa yang tengah terjadi.


Satu hal yang diyakininya bahwa ia sadar saat mengucapkan ijab kabul menyebut nama pengantinnya dengan lantangnya tadi tanpa keraguan. Itu nyata dan sangat jelas terdengar.


Tidak cukup di sana saja, matanya dia tujukan pada Pengantinnya, namun apa yang terlihat di sana. Wajah Enah yang nampak bukan Rizqia. Wajah yang dihiasi kaca mata dengan kulit berwarna cokelat.


"Apa gue sedang di prank?"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2