
Hari terus berlanjut, tidak terasa kehamilan Habibah berumur sembilan bulan, tinggal menanti hari perkiraan lahir, mungkin tinggal beberapa hari saja.
Selama itu pula tidak ada tanda-tanda Rizqy akan tersadar dari komanya. Hati Habibah sangat gundah dengan kenyataan ini. Coba saja tidak ada Rizqia dan orang-orang yang begitu peduli padanya, entah seperti apa dia akan menjalani hidupnya ini.
Tangan Rizqia yang menggenggamnya sangat erat merupakan penyematan untuknya dan anak yang di kandungnya adalah alasan untuk tetap kuat melalui hari-hari ini. Satu hal yang di yakininya ialah suatu saat nanti Rizqy akan sadar dari komanya.
"Assalamu'alaikum, Mamiq. Apa khabarnya hari ini?" tanya Habibah kembali mengajak Rizqy berbicara.
Wanita hamil itu meraih tangan Rizqy lalu menggenggamnya dengan sangat erat. Sesekali dia mengecup punggung tangan itu cukup lama. Itu cara satu-satunya meluapkan kerinduan dengan aktivitasnya yang senantiasa mencium punggung tangan Rizqy saat dia pergi dan kembali lagi ke rumah. Puas dengan tangan itu, lalu Habibah mendekatkan diri pada wajah Rizqy. Dengan berlahan dia mendaratkan ciuman lembut pada bibir Lelakinya yang amat sangat pucat.
"Mas bangunlah, tidak inginkah menemani saat aku bersalin nanti," lanjutnya sembari membelai pipi tirus Rizqy.
"Siapa yang akan mengadzani putra dan putri kita saat lahir? Apakah Mas rela orang lain yang akan mengadzani mereka? Padahal momem-momen inilah yang Mas tunggu."
Puas berbicara, Habibah merebahkan kepalanya di Ranjang dengan tetap memegang erat tangan Rizqy. Wanita hamil itu lalu tertidur dan tak lama kemudian dia terbuai dalam mimpi.
"Mas, Alhamdulillah kita akhirnya bertemu. Ayok kita pulang?"
Rizqy hanya tersenyum tanpa berkata apapun. Dia mencoba menggapai tangan Habibah yang terulur. Sangat sulit tangan keduanya saling tergapai. Habibah sekuat tenaga meraih tangan itu seperti halnya Rizqy yang berusaha mendekat untuk meraih tangan Isterinya.
"Mas, maaaaaas."
Habibah berteriak memanggil Rizqy yang berlari mendekat berusaha menggapainya, tapi apa yang terjadi? Jarak itu semakin memisahkan mereka. Dekat, tapi kenapa tangan itu sangat sulit di sentuhnya.
"Mas Rizqyyyyy."
"Awwww."
Habibah terbangun, dia merasakan rasa sakit di perutnya. Tangannya secara reflek melepaskan genggaman tangan Rizqy lalu beralih mengelus perutnya.
"Astaghfirullah, kenapa perut ini rasanya sakit sekali? Apakah ini yang namanya kontraksi palsu?" Tanya Habibah sembari berusaha menahan kesakitan. Sesekali terdengar ringisan darinya bersamaan bulir keringat yang merembes keluar. Habibah menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Berulang-ulang dia lakukan hingga rasa sakitnya tidak terasa lagi.
"Astaghfirullah."
"Astaghfirullah."
"Astaghfirullah."
Lantunan istighfar terucap secara lirih dari bibir Habibah, setelah dia merasakan lapang dari rasa sakit yang seakan membuat sesak dan sulit menghirup udara.
"Kak Habibah kenapa?" tanya Rizqia yang baru masuk ke kamar inap Rizqy. Gadis itu melihat wajah Habibah terlihat sangat pucat dan keringat dingin memenuhi sebagian wajahnya.
"Kak Bibah tidak apa-apa, ponakannya saja yang aktif ngajak inaqnya bercanda. Mungkin saja enggak sabaran pingin ketemu Mamiq sama inaqnya," jawab Habibah seraya menyunggingkan senyum cerianya.
"Yakin Kak?" selidik Rizqia. Tangannya kemudian mengelus perut buncit Habibah dengan lembut.
"Assalamu'alaikum Nune dan Tatiknya Aunty. Lagi godain Inaqnya ya?" sambungnya.
__ADS_1
"Nggih Aunty cantiiiik. Hahahaha geli Aunty tangan Aunty cantiiik kok gelitik perut Inaq?"
Habibah menirukan suara anak kecil sembari terkekeh.
"Mereka gerak lo!"
Rizqia antusias. Dia mendekatkan telinga berharap mendengarkan tawa lucu mereka. Alih-alih suara, tendangan dia dapatkan. Rizqia sungguh konyol!
Reaksi itu membuat Habibah mengaduh sembari memperdengarkan tawanya.
"Masih di dalam perut saja sudah ngerasa diri jagoan, gimana nanti lahirnya? Aunty tantang adu sepak takraw, kita lihat siapa yang paling kuat kakinya," ucap Rizqia berkata konyol. Kemudian dia tersenyum geli melihat Habibah menatapnya dengan ekspresi cemberut.
"Kaki lucu, mungil dan lembut gitu mau di tantang main sepak takraw, enggak rela lecetnya," ucapnya kemudian memamerkan wajah tidak relanya.
"Iya dah, iya dah. Enggak jadi main sepak takrawnya mendingan Aunty ajarin main petak umpet biar Inaq capek nyariin kita bertiga, setuju?" sahut Rizqia kembali menjahili Kakak iparnya tersebut.
"Belum aja keponakan lahir, udah ada niat ngajarin yang tidak bener sama Ponaannya. Bener-bener Aunty menyesatkan."
Habibah menambahkan dengan memanyunkan bibirnya kian cemberut.
Hahahaha
Rizqia kembali tertawa lebar dengan candaan terus saja berlanjut.
Habibah merasakan suasana hatinya menghangat. Tidak ada kerisauan yang mencoba menyusup masuk ke celah-celah hatinya.
"Ikut gabung, dong?"
"Kok enggak ada salam?" tanya Habibah heran, tidak seperti biasanya Juna melupakan hal itu.
Juna menggaruk kepalanya salah tinggah.
"Tadinya inget kok! Tapi pas lihat kalian bercanda ria, lidah ini jadinya keseleo. Licin kayaknya," sahut Juna sembari menampilkan wajah innocentnya.
"Assalamu'alaikum Abang Rizqy, saya Juna datang lagi, nih? Enggak bosan ama suara maskulin saya, kan? Kalau bosen bangun, dong! Saya rela kok, di bogem mentah atau di teriakin berisik banget, sih elo! Gara-gara tiap hari ngoceh tidak jelas di Telinga Abang Rizqy terus mana tidak kenal pula."
Juna beralih mengajak Rizqy berbicara. Namun apapun yang di sampaikan oleh Juna tidak satupun di tanggapi oleh Rizqy. Dia tetap bergeming dalam komanya.
"Abang Rizqy pasti bertanya-tanya siapa orang ini, iya kan? Pasti itu," lanjutnya.
Juna terdiam sesaat seakan menimbang sesuatu. Dia menatap Habibah dengan penuh kasih sayang.
"Tidak seru berkata jujur sekarang, jadi Abang Rizqy harus sadar dulu, cepetan! Ini perintah bukan permohonan. Kalau ogah siumannya, jangan salahkan Habibah kalau mau dirinya di culik." Juna menjawab sendiri pertanyaannya sendiri dengan sedikit membubuhi ancaman.
Hahahaha
Habibah tertawa lebar. Tidak menyangka Juna sekonyol itu. Memangnya ada orang yang meminta dirinya di culik?
__ADS_1
Mungkin saja!
Sementara Rizqia hanya melongo dengan apa yang diucapkan oleh Pria berparas timur tengah itu.
"Eh iya, saya lupa. Ini Asinan mangga dan bunga mangga pesanan kamu Bibah," ucap Juna sembari menyodorkan dua kresek yang di pegangnya sedari tadi.
"Ya ampun."
Rizqia menepuk kening dengan berlahan. Sudah lama Juna datang kemudian mengajak mengobrol, baru sekarang dia sadar di tangannya ada yang dipegangnya.
"Hehehehe lupa. Berasa tidak bawa apa-apa."
Juna menggaruk Kepalanya bertingkah lucu sembari tersenyum konyol.
"Terima kasih, Bang! Ponaannya pasti seneng nih" balas Habibah merasa senang dengan apa yang dibawakan oleh Juna. Ngidamnya benar-benar kesampaian saat ini.
"Ini demi ponaan Mamiq Rari yang tampan ini. Apa kalian tahu Bibah dan kamu Qia?" jawab Juna lalu menatap Habibah sedetik kemudian beralih ke wajah Rizqia.
"Enggak, Mamiq Juna belum bisikin," sahut Rizqia dengan ekspresi penasaran.
Sedangkan Habibah hanya menggelengkan Kepalanya. Mulutnya sibuk mengunyah sehingga tidak bisa berkata-kata untuk menjawab.
"Itu mah lirik lagu. Oh ya jangan suka bisik-bisik nanti bikin orang salah faham terus su'uzon terus sakit hati lalu ada dendam, deh! Padahal bukan itu maksudnya," ucap Juna berkata bijak.
"oh ya hampir lupa mau bilang apa tadi. Tau enggak saya rela menerobos teriknya Matahari terus panas-panasan sepanjang jalan kenangan demi ini asinan dan Bunga Mangga. Untung saja yang jualan ada di jalan pemuda, coba enggak ada? Apa mungkin saya ke Negara Sharuk khan untuk mendapatkannya. Kamu tuh Bibah kira-kira ngidamnya? Jangan minta Abang bawain Abang Quartararo enggak sanggup Abang," cerita Juna yang memperjuangkan keinginan Habibah menikmati asinan mangga dan bunga mangga yang adanya di Mentaram.
"Loh! Emangnya Abang enggak pakai Mobil?" tanya Habibah heran.
"Lupa kalau punya mobil banyak, apa ada di depan mata yang dipakai jadinya," sahut Juna asal.
"Jogang (gila)," sahut Rizqia diakhiri dengan tawa geli.
Ada-ada saja tingkah laku lajang satu itu. Mana lapuk lagi.
"Udah ah, abang pulang. Mau pesen apalagi? Asal jangan minta bawain Vinales, enggak sanggup. Lagian mereka mau dateng jadi minta Masnya saja yang bawa dia ke sini. Kalau masih tidur saja, seret dia biar sadar. Dimana-dimana yang ada Putri tidur bukan Putra tidur. Benar-benar laki mau enaknya saja."
Setelah puas mengomel Juna meninggalkan ruang rawat inap Rizqy dengan wajah puas. Sengaja berkata itu agar Rizqy sebal kepadanya lalu cepat-cepat berusaha untuk bangun dari tidurnya. Itu harapannya.
***
Tengah malam saat orang-orang tertidur lelap, Habibah terbangun. Rasa sakit itu kembali menyerangnya.
"Ya Allah sakit sekali."
Habibah meringis kesakitan. Dia merasakan pakaian dalamnya basah, dengan berlahan dia menuju Toilet yang tersedia di ruang rawat inap Rizqy. Di sampingnya ada Rizqia yang tidak terjaga sama sekali dengan pergerakan Habibah. Gadis itu terlihat sangat capek sehingga tidak terusik sama sekali.
"Saatnya aku lahiran," ucap Habibah menyadari adanya air ketuban dalam pakaian dalam yang di kenakan. Rasa sakit itu tetap saja menyerang tidak henti-hentinya, hanya doa yang dilantunkan berharap persalinan yang akan di hadapinya dilancarkan oleh Tuhan.
__ADS_1
"Mas bangun, aku mau lahiran dan rasanya sakit sekali Mas. Kau denger, kan? Jangan tidur saja, aku benci sama Mas Rizqy. Awas saja kalau Mas Rizqy tidak bangun saat aku kesakitan melahirkan anak kita, aku tidak akan menegur Mas Rizqy apalagi tersenyum sama Rizqy. Aku akan ngambek dan enggak mau melihat Mas Rizqy. Kau dengar, aku akan ngambek."
Bersambung.