
"Hahahahaha."
Keynand tertawa lebar melihat raut wajah kebingungan Rizqia, benar-benar lucu.
"Apa tadi? Lupa nyetor kredit? Ya ampun Qia. Apa dia meragukan kemampuan keuanganku yang Alhamdulillah sangat berlimpah. Lupa kayaknya saking paniknya?" Keynand membatin.
Rizqia mengkerutkan keningnya mendengarkan tawa Keynand yang membahana.
"Motor sudah aku ganti jadi Mobil. Aku bisa menjadi apa yang kamu butuhkan, Qia? Rider, Bodyguard dan sekarang jadi Sopir Pribadi kamu, tapi hanya satu yang belum bisa aku lakukan, menjadi Suami kamu, jadi kapan?" ucap Keynand diiringi godaan membuat Rizqia tak sanggup berkata-kata.
"Hahahahaha."
Kemudian tawa Rizqia menggema saat menyadari kepolosan dan keluguannya.
"Aku lupa kalau Tuan Bodak kaya raya, kalau cuma ganti Mobil gampang itu, mah? Tinggal telepon, sat set sat set, langsung ada. Horang kaya emang, apapun bisa sekejab mata."
Menahan malu Rizqia panjang lebar berkata sembari menepuk keningnya perlahan untuk mengingatkan dirinya.
Gadis itu membalikkan tubuhnya tidak sanggup berhadapan dengan Keynand yang masih saja menertawakannya.
"Ya ampun Qia, kok bisa bertingkah seperti itu? Duh malu aku?" batin Rizqia memaki dirinya sendiri.
"Lasingan siapa yang enggak panik melihat motor bagus dengan harga mahal itu tiba-tiba tidak ada di tempat. Asumsinya membias kemana-mana jadinya? Tidak salahkan aku berasumsi seperti itu, tapi kalau bilang Keynand enggak sanggup bayar kreditan, itu ngolok namanya." Rizqia menjawab kata hatinya membela diri.
"Kok punggungi Abang? Malu ya? Tidak apa-apa, kok! Saat ini kamu sedang khilaf jadi di maklumi saja, meskipun kesannya kamu ngolok aku yang tidak sanggup bayar tunggakan kreditan Motor." Keynand kembali menggoda Rizqia.
"Eh enggak kok!" sahut Rizqia sembari berbalik dengan senyum lucu berusaha menahan rasa malunya. Ingin rasanya menghilang dari hadapan Keynand biar dia kelimpungan mencarinya terus minta orang-orang pukul kaleng agar bergaduh ribut.
"Bebodo, bawa aku ilang," batin Rizqia tetap mempertahankan nyengiran khas orang di rundung malu dan salah tingkah.
Keynand kembali tertawa dan ingin sekali mencubit Pipi yang menggemaskan itu. Kalau saja tidak ingat, tangan jahilnya mungkin saja mendarat di sana. Tidak ada mencubit, menguyel ataupun mengelus, mungkin saja akan mendaratkan sentuhan di pipi mulus itu
"Tingkahmu membuat Abang mengkhayal yang bukan-bukan. Ayok berangkat," ucap Keynand tidak tahan dengan drama di parkiran yang mengundang banyak tanya dari mereka yang ingin tahu, termasuk Semut yang kebetulan lewat menggigit sepotong roti. Benarkah?
Rizqia manut. Dia masuk ke dalam Mobil yang sebelumnya dibukakan oleh Keynand dengan tangan berada di atas Kepalanya.
"Perhatian banget, apa takut Kepala ini kejedot ya Bang? Ketahuan dah aku grasak grusuk tidak elegan."
"Bukan begitu? Abang hanya takut kamu lupa sama Tuan Bodaknya gara-gara kejedot, kan enggak keren itu?" sahut Keynand diiringi tawa renyahnya.
"Ya ampun hari ini aku tetawa melulu saking bahagianya. Itu semua gara-gara kamu, Qia." Keynand menambahkan.
__ADS_1
Mobil kemudian melaju menuju tempat wisata Kuliner yang di rekomendasikan oleh Rizqia. Sentra Kuliner Loang Baloq kini yang menjadi tujuan mereka. Di sana tersedia Ikan bakar dan olahan hasil laut lainnya.
"Apa Abang tidak apa-apa makan di sini?" tanya Rizqia setelah sampai di tempat tujuan.
"Tidak masalah," sahut Keynand memarkirkan Mobilnya di bahu jalan.
Di pinggir jalan raya Loang Baloq menuju Pantai Gading berderet warung-warung yang menyajikan Kuliner khas Daerah ini.
"Abang Keynand mau Ikan apa?" tanya Rizqia saat mereka sudah berdiri di trotoar tempat Box berisi ikan itu berada.
"Apapun yang kamu pesan aku pasti suka terus jangan lupa Cumi, Pelecing Kangkung dan Terong bakarnya. Kalau ada Kepiting, Udang sama Kerang, boleh juga," sahut Keynand.
"Okay."
Rizqia mengangguk meskipun ada keraguan di hatinya, apakah mereka sanggup menghabiskan pesanan yang lumayan banyak itu.
Selesai memesan Rizqia menghampiri Keynand yang sudah duduk bersila pada sebuah berugak dengan beratap ilalang. Gadis itu melepaskan Sepatunya lalu ikut mendudukkan diri tepat di hadapan Keynand.
"Aku pikir Direktur Ardiaz alergi makan di warung kelas menengah ke bawah," ucap Rizqia mengawali pembicaraan.
"Tuh kan amnesia, ini yang Abang takutkan? Bukankah dulu semasa kita masih pedekate, Abang sering mengajak kamu makan di warung pedagang kaki lima, masak lupa?" sahut Keynand. Dia tentu saja tidak melupakan masa-masa bahagia bersama Rizqia. Dia selalu menyediakan waktu untuknya di sela-sela kesibukan. Meskipun saat itu mereka tidak pernah berdua selalu berempat bersama Hamiz dan Rin untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan oleh mereka berdua sebelum menuju halal.
"Baru kali ini kita makan berdua, biasanya kita berempat, kan? Kalau tidak bertiga sama Bibik itupun di rumah."
Keynand kembali mengingat kebersamaan mereka berdua yang di dampingi orang-orang tersayang Rizqia.
"Qia, kamu mau kan nikah sama aku? Kalau tidak, Daddy akan menikahkan aku dengan Enah, Baby sitter Raski," lanjutnya dengan serius.
"Abang setuju?"
"Tentu saja tidak. Abang ingin memperjuangkan kamu kembali," jawab Keynand serius. Dia menatap Rizqia yang menunduk seperti biasanya.
"Kayun?" tanyanya lagi dengan harapan yang sangat.
"Aku tergantung apa kata Kak Rizqy? Kak Rizqy adalah keluarga satu-satunya yang aku punya. Iya walaupun aku masih punya Mamiq, tapi rasanya sangat tidak mungkin berharap dengannya. Mamiq pasti tidak akan merestui. Aku tahu seperti apa keinginan Mamiq dan seperti apa wataknya. Keras banget dan tidak boleh di bantah."
Rizqia terlihat sedih jika berbicara perihal orang tuanya. Meskipun dia tidak akrab dengannya dan saat ini dia berseberangan dengan Sang Ayah, tapi sebagai anak ada rasa sayang yang masih terselib di hatinya untuk Ayahnya. Sejahat apapun beliau terhadap Ibu yang telah melahirkannya dan juga terhadapnya tetap saja rasa ingin berbakti itu pasti ada. Namun rasa kecewa masih berkecamuk dalam hatinya dan mendominasi, meskipun berdamai dengannya tidak bisa di pungkiri. Hanya perkara waktu yang mungkin akan berhasil mendewasakannya dan menerima apapun kejadiannya dengan legowo. Sudah terjadi, tidak bisa diperbaiki, diubah ataupun di halau agar kejadian buruk itu tidak musti terjadi. Tidak bisa, kan?
Sekarang yang bisa dilakukan hanyalah berdamai dengan masa lalu itu dan berusaha agar hal-hal meretakkan hubungan antara orang tua dan anak tidak musti terjadi lagi.
"Kalau begitu Abang akan menemui Mamiq untuk bersilaturahmi dan meminta restu beliau," balas Keynand dengan serius.
__ADS_1
"Apa Abang yakin?"
"Tentu, Abang sangat yakin dan akan meminangmu langsung ke Mamiq."
Jawaban tegas Keynand membuat Rizqia sedikit menghangat, meskipun ada keraguan di sana. Tidak ada salahnya untuk mencoba, walaupun kecil kemungkinan agar terlaksana seperti apa yang diangankan.
"Kamu masih memakai cincin akar ini, Qia? Apa itu artinya masih ada aku di hatimu?"
Keynand tidak mengalihkan perhatiannya dari jari manis Rizqia yang masih tersemat cincin akar yang di buatnya. Melihat cincin itu harapannya kini diyakininya akan terwujud. Keynand sangat bahagia dan langkah ke depannya semakin mantap. Dia tinggal melangitkan doa agar harapannya terwujud. Dia tidak menyebut nama Rizqia dalam doanya, sebab namanya sudah terukir dalam hatinya.
"Aku suka dengan cincin ini. Apalagi Abang membuatnya dengan susah payah. Tentu saja aku harus menghargai jerih payah orang yang telah membuatnya," jawab Rizqia tidak langsung mengakui akan hatinya.
Hubungannya dengan Keynand, bukan hanya berbicara soal cinta, tapi mereka berdua harus sejalan, saling memahami dan juga mengerti. Adanya rasa nyaman dan resfeck dalam hubungan mereka. Itu yang penting.
Bukankah menikah merupakan ibadah terpanjang. Untuk itulah Rizqia ingin mendapatkan imam yang tepat, dimana mereka berjuang bersama, satu kata dan satu pendapat meskipun ada perbedaan di sana, tapi karena mereka saling mengerti dan memahami, maka tidak ada perbedaan yang akan menguraikan simpul ikatan itu.
Cinta bisa pupus, tapi adanya respect di antara mereka berdua akan membuat cinta itu kian ada.
Pesanan datang, Rizqia dan Keynand menikmati hidangan yang nampak menggugah selera. Keynand tidak lupa memposting kebersamaannya dengan Rizqia sembari memberikan caption yang begitu berarti.
(Apa elu sudah bangkrut Keynand? Untung saja gue nolak elu dulu kalau enggak bakalan nyeker di jalanan berdebu, enggak banget, deh!)
Postingannya menimbulkan reaksi yang berlebihan dari barisan Sang Mantan pacar. Keynand dianggap jatuh miskin saat melihat di mana Pria tampan itu berada.
("Apa peduliku, terpenting aku mendapatkan berlian dan kami berdua akan berjuang bersama dalam ibadah terpanjang hingga jannahNYA. Aku juga beruntung tidak terpilih oleh elu!")
"Ah Abang Keynand usil juga dia."
Rizqia tersenyum dengan beberapa balasan Keynand yang kocak dengan kejulidan teman-temannya.
"Berapa banyak mantan pacar Abang Keynand? Apa ada selusin?" tanya Rizqia memandang Keynand sekilas kemudian kembali menunduk.
"Selusin itu berapa?" tanya Keynand terlihat tidak faham.
"Abang Keynand tidak tahu? Tadi yang terlihat seperempat lusin, lo!" jawab Rizqia dengan senyum mengembang.
"Siapapun, bantu aku menjawabnya?" ucap Keynand frustasi yang tak beralasan.
"Apa kepintaranku tidak lagi mau bersahabat dengan diri ini, Ya Tuhan."
Bersambung.
__ADS_1