
Tak ada pembicaraan. Hanya keheningan yang menguasai kedua Insan itu. Rizqia pada akhirnya ikut bersama Keynand, yang sejatinya ingin bersama Rin saja.
Sungguh suasana yang terjadi di antara mereka sama sekali tidak menyenangkan. Keynand sangat tidak menyukai ini.
Gadis di sampingnya ini diam seribu bahasa. Tatapannya lurus ke depan. Sedangkan Keynand fokus menyetir dengan sesekali melirik ke arah Rizqia.
"Mau dengar cerita enggak?" tanya Keynand membuka pembicaraan. Dia melirik Rizqia berharap jawaban, tapi harapannya tak kunjung ada. Mulut Gadis itu benar-benar tergembok seakan kehilangan kuncinya.
"Kata orang jika kita keseringan bengong bikin Ayam Tetangga mati. Kenapa bisa begitu? Iya itu, kita enggak tahu kapan persisnya Ayam itu di sembelih, setelah sadar sudah jadi Ayam panggang," ucap Keynand melanjutkan ceritanya. Keynand melirik Rizqia. Ada gelengan Kepala yang terjadi. Itu pertanda Rizqia menanggapi obrolan yang sama sekali tidak ada maknanya.
"Maaf."
Rizqia menoleh seperkian detik selanjutnya kembali ke posisi semula.
"Untuk apa? Tidak ada yang perlu disalahkan. Toh udah terjadi," sahut Rizqia dengan intonasi datar.
Hening kembali terjadi. Keynand bingung harus berkata apa? Lidahnya seakan kelu. Dia hanya melirik Rizqia sebentar lalu kembali fokus. Kalimat pendek itu berhasil membuat Keynand terdiam dan tidak jadi melanjutkan obrolannya.
Huft
Keynand menarik nafas dalam-dalam mencoba mendamaikan hatinya yang di liputi penyesalan. Benar, sudah terjadi dan tidak bisa mengembalikan hari-hari Gadis itu yang kini telah berubah. Namun setidaknya bisa diperbaiki.
Selang beberapa menit berkendara, mereka sampai di tujuan. Rizqia keluar dari Mobil setelah Kendaraan roda empat itu terparkir dengan sempurna. Sedetik kemudian Keynand menyusul.
Suasana Pasar yang ramai menyambut kedatangan mereka berdua. Pasar Bintaro, nama Pasar tersebut. Di sana menawarkan berbagai jenis Ikan laut dan lainnya. Sehingga ramai di kunjungi oleh Masyarakat setempat. Pasar Bintaro merupakan tempat Pelelangan Ikan yang berada di Pesisir Pantai Ampenan yang di juluki Kota Tua.
"Baru tahu ada tempat seperti ini? Penggemar Sea food seperti saya, tempat ini adalah Surga," celoteh Keynand bersemangat memilih Ikan yang masih segar karena baru turun dari laut. Dia lantas memilih Ikan Kakap yang berukuran besar. Selanjutnya dia beralih ke Box Kepiting dan mulai memilih.
Sementara Rizqia langsung meninggalkan Keynand untuk mencari Ikan yang di pesan oleh Rin. Dia membeli beberapa Kilo Ikan laut, Udang dan Cumi. Rizqia hanya membeli sesuai dengan pesanan yang di tulis oleh Rin. Wanita itu tidak bisa membeli terlalu banyak Ikan. Sebagai Pedagang sayur keliling, dia hanya membeli sesuai dengan pesanan Pelanggan. Kalau berlebihan bisa saja tidak laku terjual.
Setelah apa yang di cari sudah di dapatkannya, Rizqia menghampiri Keynand yang sedang asyik berburu-buru Penghuni laut.
"Sudah Pak?" tanya Rizqia pada akhirnya mengajaknya berbicara.
"Belum, kamu suka apa?"
"Semua yang ada di sini saya suka termasuk makan hati," sahut Rizqia datar.
"Jangan terlalu makan hati, bikin Jantung enggak sehat. Lebih enak menerima hatiku saja untuk di miliki," ucap Keynand mulai lancar berbicara.
Rizqia mendelik membuat Keynand gemas. Baru kali ini melihat ekspresi Rizqia yang berbeda. Tidak seperti biasanya yang datar dan dingin.
Kemudian muncul ide yang membuat Duda tampan itu tersenyum jahil. Dia meraih seekor Kepiting lalu meraih Es batu. Kedua tangan itu kemudian bergerak-gerak memperagakan sebuah adegan. Dan selanjutnya dialog pun terjadi.
"Tuan Krub, Tuan Krub anda memanggil saya?"
"Iya, Spongbub apa kamu lihat di mana hati Gadis bernama Qia?"
Spongbub pun menggelengkan Kepala dengan cepat kemudian menjawab. "Tidak melihat Tuan Krub."
"Serius? cari secepatnya."
Spongbub tak langsung bergerak, dia malah bertanya. "Nyarinya di mana Tuan Krub?"
"Di Konter."
"Kalau sudah tahu kenapa minta saya untuk cari. Tuan Krub tinggal pergi ke Konter terus ambil tuh Hati. Itu saja enggak tahu."
Spongbub pun meninggalkan Tuannya sembari menggerutu.
Tumben? Lagi sensitif mungkin si Spongbub. Biasanya, kan nurut gitu!
Kita lanjutkan.
Satu menit
Dua menit
__ADS_1
Hingga seminggu lamanya Spongbub tidak kelihatan telinganya, membuat Tuan Krub di rundung gelisah.
Hati Gadis bernama Rizqia belum di temukan. Eh malah Spongbub ikut menghilang. Tuan Krub akhirnya menanyakan ini kepada teman dekat Makhluk yang berwarna Kuning itu.
"Lihat Si Kuning enggak?"
Sang teman pun berpikir cukup lama membuat Tuan Krub melanjutkan hitungannya.
"Ah haaaaa! Ketemu Tuan Krub, si Kuning udah hanyut di bawa arus sungai mungkin saja sekarang sedang mengapung di Lautan."
Tuan Krub menelan seluruh koin yang di kumpulkan saking emosinya.
"Jawaban kok ngawur."
"Yeee kok nyolot orang jawaban saya suka enggak bener dan ngawur. Apa? mau protes!" Gayanya seakan bisa mengalahkan Tuan Krub. Tak apa sok berani dulu, entar kalau beneran di geprek tinggal lariiiiiiiiii, hahahaha. Hayalnya.
Tuan Krub pun berpikir. Ternyata pertanyaannya salah membuat jawaban pun tidak sesuai dengan apa yang di inginkan.
"Yuhuiiiii, dia tak marah." Sang teman kegirangan.
"Maksud saya Spongbub."
"Oh Spongbub?"
Kembali terdiam cukup lama dengan mencari jawaban ke alam mimpi. Tidur rupanya.
Beberapa menit kemudian terdengar pekikan.
"Mana ku tehe."
Jawaban itu membuat Krub membuang seluruh uang yang di simpannya. Sudah lama menunggu, eh jawaban itu yang di dapatkannya. Tidak sopan memang, bikin kesel saja.
"Ah saya minta tolong Plantun saja untuk mencuri hati Gadis bernama Qia."
Pikir Tuan Krub, dia akhirnya mencari Binatang kecil bernama Plantun.
Keynand berpura-pura mencari Binatang yang mendapatkan julukan Plantun.
"Iyah pemeran selanjutnya enggak ada Bestie. Jadi berhubung Plantunnya enggak ada, ceritanya selesai ya teman-teman." Keynand mengakhiri dramanya.
Rizqia sedari awal berusaha memahan tawanya. Tidak menyangka Keynand sekonyol ini. Tawa itu lepas juga bersama suara orang-orang yang sedang melakukan transaksi belanja. Terdengar sangat renyah dan tidak berlebihan.
Keynand menyunggingkan senyum tipisnya. Tidak menyangka melalui perjuangan sedikit keras dia berhasil juga melihat tawa itu.
"Mas, ini mau beli atau sekedar mainin dagangan saya?" tanya Sang Pedagang sedikit kesal. Sedari tadi dia menyaksikan apa yang dilakukan Keynand dengan perasaan dongkol. Sontak saja hal itu menarik perhatian para pengunjung. Para Pengunjung memperhatikan mereka berdua dengan beragam komentar.
"Tentu tidak, saya akan memborongnya. Saya hanya butuh lima kilo Kepitingnya, sisanya di berikan kepada teman-teman kita yang tidak mampu membeli," ucap Keynand membuat Pedagang itu melongo seperkian menit selanjutnya terbitlah senyum bahagianya.
"Serius?" tanyanya memastikan. Dianggukkan oleh Keynand yang mulai memilih Kepiting untuk di bawa pulang.
Selanjutnya dengan cekatan Sang Pedagang menimbang semua Kepiting yang masih tersisa.
Keynand mengambil Dompetnya. Dia mengernyitkan dahi melihat isinya yang tinggal selembar.
"Gawaaaat," ucap Keynand terlonjak kaget.
Rizqia melirik Keynand dengan penuh tanya. Dia melihat Pria itu sedang mengintip Dompet sambil menampilkan raut wajah kebingungan.
Pedagang yang mendengarkan pekikan Pembelinya membuatnya menghentikan aktivitas menimbang semua Kepiting itu. Seketika instingnya menduga kalau Pria di hadapannya tidak mampu membayar.
"Jangan bilang Mas tidak sanggup membayar," ucap Pedagang Kepiting itu menatap Keynand dengan mencebikkan bibirnya. Dia sudah hafal gelagat orang yang tidak mampu membayar.
Keynand tersenyum kikuh seakan membenarkan ketidak mampuannya itu.
"Uangnya tinggal selembar, tadi sudah membayar Ikan, Udang dan Cumi. Jadi bisa enggak Kepitingnya di. ..."
". ... Makanya Mas kalau tidak punya uang jangan Sok-sokan membeli Kepiting. Tahu harganya mahal, eh malah mau borong. Gayanya saja tinggi eh tahu-tahu isi Dompetnya kosong melompong." Sang Pedagang memotong ucapan Keynand. Dia menggerutu dengan keras memancing perhatian para pengunjung.
__ADS_1
"Ada apa Inaq?" tanya seorang Bapak-bapak menghampiri.
"Ini orang niatnya menipu. Mau beli tapi tidak sanggup membayar. Terus dia pake acara main drama-dramaan." Pedagang itu mengadu kepada Bapak yang bertanya tadi.
Aduan itu tentu saja membuat Bapak-bapak itu menatap Keynand dengan pandangan meremehkan.
"Biasa itu Inaq, zaman sekarang banyak orang jadi Penipu. Tampangnya ganteng, keren dengan pakaian rapi siapa sangka ternyata seorang Penipu. Mas kalau tidak sanggup beli tinggalin tempat ini. Masih banyak kok orang yang mampu membayar," ucap Bapak Paruh baya tersebut dengan sinisnya.
Seketika orang-orang di sekitar menjadi bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Bersamaan itu pula terdengar bisikan-bisikan bernada mencibir.
"Inaq gini saja, boleh minta nomer rekening Banknya, kita akan transfer," ucap Rizqia menengahi suara sumbang yang tidak mengerti apa-apa.
"Mbaknya yang mau bayar? Kok enak banget ya jadi cowok, mengandalkan seorang Wanita. Apa enggak malu tuh? Atau jangan-jangan enggak tahu apa itu malu." Terdengar celotehan dari seorang Ibu-ibu.
"Iya, kalau saya punya Laki kere udah saya empaskan, semumpung lautan dekat," timpal seorang Ibu lain melanjutkan perkataan yang tak berpihak kepada Keynand.
"Jangan gitu, Inaq-inaq. Mungkin saja Masnya ini enggak punya uang tunai tapi di rekening bank nominalnya tidak mampu di hitung oleh Kalkulator yang kalian punya. Husnudzonlah, husnudzonlah, biar hati tenang," ucap seorang Bapak berkopiah putih membela Keynand.
Kini ada dua kubu yang saling menyerang. Kubu Inaq-Inaq dan Amaq-amaq. Tentu mereka sedang mempertahankan ego masing-masing. Para Inaq-Inaq yang tak puas dengan uang belanja yang di berikan, saatnya untuk memprotes.
Sedangkan Para Amaq-amaq sebagai pencari nafkah berjuang membela dirinya.
Kenapa jadi begini? Apakah sedang mengeluh dengan Pasak meninggi sementara tiang semakin terjun bebas terperosok lumpuh. Ingin berteriak sama siapa? Penyakit tuli dan buta sedang mewabah. Iya terima saja, mau tidak mau karena butuh. Hidup kita memang sangatlah legowo.
Kembali ke Keynand.
Dia sangat tenang menanggapi suara-suara sumbang yang menyerangnya. Uang memang sangat berkuasa, sehingga tak ada rasa menghargai satu sama lain, terlebih untuk mereka yang tak berpunya. Sungguh miris memang, hati Keynand terasa perih. Rasa ini mewakilkan orang-orang di luaran sana yang benar-benar tidak memiliki apapun.
Di hela nafasnya secara dalam-dalam. Kemudian melirik Rizqia yang menatapnya dengan tanya 'Bagaimana ini?'. Keynand mengangguk untuk memberikan kesempatan kepadanya menjelaskan.
"Inaq salah faham, bukan saya yang akan membayar, tapi Bos saya Pak Keynand. Saya hanya seorang Sekretaris yang bekerja padanya. Pak Bos saya ini kehabisan uang tunai gara-gara maruk. Melihat Ikan-ikan segar, jadinya semua ingin di beli. Sementara beliau tidak menyediakan uang tunai cukup banyak." Rizqia menjelaskan panjang lebar dengan mengaku sebagai Pegawai Keynand.
Bapak-bapak tadi melihat tampilan Keynand dari atas hingga ke bawah. Penampilan Keynand sangat sederhana. Dia menggunakan Celana pendek, kaos oblong dengan Jaket menutupi kaos putihnya itu.
"Mosok dia seorang, Bos? tidak meyakinkan banget, ngarang ini, pasti ngarang, kan?" ucapnya kemudian.
"Kita buktikan saja. Inaq mana nomor rekening Banknya biar di transfer," ucap Rizqia tak sabaran.
Ibu itu kemudian meraih Tas lalu menyodorkan Buku tabungannya.
"Berapa totalnya, Inaq?" tanya Rizqia sambil memperlihatkan Buku tabungan itu kepada Keynand.
Pedagang itu dengan cepat menghitung seluruh Kepiting yang ada. Setelah mendapatkan totalnya yang berjumlah jutaan, lantas dia menyebut angka itu dengan nada tidak yakin bahwa Keynand sanggup membayarnya.
"Yakin Inaq udah sesuai? Jangan sampai di naik-naikkan harganya?" ucap Rizqia memastikan. Dia ikut menghitung ulang agar tidak ada satu pun di rugikan, baik pembeli maupun penjual.
Setelah sepakat, Keynand menyalin nomor Rekening itu pada Handphone, lalu dengan cepat mentransfer uang tersebut melalui gawainya.
"Saya sudah membayar dengan sejumlah harga yang ibu berikan," ucap Keynand dengan intonasi datar.
"Secepat itu? Mas ini tidak menipu saya, kan?" tanya Pedagang Kepiting itu terkejut.
"Tidak, coba di cek aja di ATM, saya akan menunggu di sini," jawab Keynand dengan santainya.
"Mas ini menggunakan E-banking, dia bisa mentransfer uang lewat Handphone. Jadi tidak perlu lewat ATM atau Bank," ucap seorang Laki-laki muda yang kebetulan mendekat karena rasa ingin tahunya.
Tak ingin tertipu, Pedagang itu meminta anaknya untuk mengecek.
Selang beberapa menit, Sang anak kembali dengan bukti di tangannya. Setelah itu barulah Keynand dan Rizqia di izinkan meninggalkan Pasar itu.
"Inaq tahu enggak siapa Laki-laki tadi?" tanya Pria muda tadi sepeninggalnya Keynand dan Rizqia.
"Emangnya siapa dia? Orang penting gitu?" tanyanya dengan masih menyimpan rasa dongkol itu.
"Dia Keynand Putra Ardiaz, Direktur Hotel Ardiaz. Inaq tahu Reynand Putra Ardiaz, Pemilik Hotel Ardiaz, Rumah Sakit Ardiaz dan Yayasan Putri Mandalika, kan? Nah Pria tadi adalah adiknya." Pria muda itu menjelaskan dengan sedetailnya membuat orang-orang yang mendengarkannya terkesiap.
"Gawaaat," ucap Bapak Paruh Baya itu gemetaran.
__ADS_1
Bersambung.