
Selesai memasak Lika kemudian membersihkan diri. Tidak lama kemudian dia keluar dari kamarnya menghampiri tamunya yang masih duduk dengan cantiknya.
"Bu Gadis, apa tidak bosan menunggu?" tanya Lika berbasa basi.
"Tidak, tentu aku senang menunggu kedatangan pujaan hati apalagi kita berbalas pesan itu yang membuat tidak jenuh," sahut Gadis santai. Dia mengulas senyum sesaat lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Handphone.
"Sejak kapan kamu menjadi Kekasih gelap Suami saya?" tanya Lika dengan sangat tenang. Dia memperhatikan Gadis mengalihkan perhatian dari Handphone. Dia berpikir sejenak untuk melakukan kebohongan apa selanjutnya.
"Baru-baru ini, kenapa kepo, ya?" jawabnya kemudian.
"Sudah melakukan apa saja?" tanya Lika lagi mengabaikan perkataan terakhirnya.
"Apa ya?" terlihat Gadis berpikir.
"Sebenarnya itu pribadi banget tapi berhubung Isteri dari Kekasih aku ingin tahu, iya di beberkan aja kali ya?" sahut Gadis mengantungkan kalimatnya.
"Mas Reynand butuh kehangatan dan kehangatan itu tidak dia dapatkan lagi dari Isterinya. Mbak Lika pasti tahu apa maksudnya, kan? mungkin Mas Reynand telah bosan dan jenuh, tentu aku yang mengambil bagian itu," ucap Gadis selanjutnya dengan lancar. Tak ada beban disetiap kata apalagi rasa malu.
"Astaghfirullah. Kenapa Wanita ini memfitnah Suami saya hanya demi menghancurkan saya. Apa sebenarnya yang di incar? jika ketampanan, Mas Reynand sudah tidak memiliki itu? apa karena kaya?" batin Lika miris. Dia mengelus dadanya yang sesak karena terkejut dengan kebohongan yang diperankan Wanita ini. Berani sekali dia.
Dia seorang pendidik, tapi ternyata dia bukan pendidik sejati. Gadis hanya beruntung saja di rekrut menjadi Guru Honorer di Yayasan tempat Renia menimba ilmu. Padahal Guru-guru disana sangat menjaga marwah mereka, tapi kenapa hanya dia yang berbeda.
"Jadi begitu? sudah apa saja yang diberikan oleh Suami saya?" lanjut Lika lagi bertanya.
"Mas Reynand menjanjikan rumah mewah lebih megah dari rumah ini dan juga Mobil sport yang tentunya lebih mahal dari mobil yang mbak punya," jawab Gadis mengada-ngada. Mungkin saja itu khayalannya yang sangat tinggi.
Lika tersenyum.
"Sudah cukup, apa kamu ingin tahu syarat menjadi Isteri Reynand."
Gadis buru-buru mengangguk.
Lika tersenyum lagi. Wanita itu menuntun Gadis menuju halaman belakang rumahnya. Saat itulah Gadis tertegun melihat penampilan Lika yang sangat cantik dan anggun.
Gamis berbahan jersey dengan desain sederhana namun terlihat mewah membalut tubuh Lika. Gamis itu hasil rancangan Lika sendiri sehingga tidak ada di pasaran.
Gadis mengikuti Lika dengan terkagum-kagum sekaligus bingung hendak dibawa kemana dirinya.
"Mas Reynand tidak suka makanan instan alias junk food. Mas Reynand suka opor ayam kampung dan bahannya dari santan alami." Lika menerangkan. Gadis menatap Lika dengan tanda tanya besar.
"Santan berasal dari kelapa dan untuk mendapatkan kelapa itu berarti Ibu Gadis harus memetiknya, mengupas lalu memarutnya," ucap Lika selanjutnya.
"Apa? apa mbak Lika babunya Mas Reynand? Hey aku itu akan menjadi Nyonya Reynand dan tugasnya ongkang-ongkang doang. Tinggal main perintah jadi untuk apa seorang nyonya manjat-manjat pohon kelapa. Mbak Lika saja yang jadi Babu, aku yang jadi Ratunya Mas Reynand," ucap Gadis tak tahu malu. Di awal dia sempat terkejut namun keangkuhannya muncul selanjutnya.
"Mas Reynand tidak suka Wanita manja. Dia suka wanita mandiri dan bekerja keras. Menjadi Isteri Reynand itu tidak mudah. Dia harus bisa memasak, bisa menenun dan menguasai ilmu bela diri. Tidak hanya itu saja Isteri Reynand harus menguasai senjata seperti panah dan door door doooor. Intinya multi talent."
Ucapan Lika membuat Gadis terkejut. Wajahnya mendadak pucat saat mendengar bunyi yang indentik dengan Senjata para anggota. Lika memainkan tangannya membentuk Pistol.
Gadis masih berdiri mematung dengan wajah pucat apalagi melihat Lika mengambil sebilah pisau kemudian memainkannya.
"Isteri seorang Reynand itu harus tangkas dan cerdas. Saya di peristeri bukan hanya untuk ongkang-ongkang, main perintah, shopping menghabiskan uang. Tapi lebih dari itu, setia mendampingi dalam keadaan aman maupun dalam keadaan tidak nyaman."
__ADS_1
Lika sejenak memperhatikan ekspresi Gadis yang syock dan ketakutan.
Tak
Lika melempar Pisau yang ada di tangannya melewati kepala Gadis lalu menancap pada Sebatang Pohon Pepaya yang ada di belakang Gadis.
Wanita itu kian pucat. Keringat dingin mulai bercucuran saking paniknya. Dia menyeka keringat sembari menatap Lika.
Lika terlihat tenang dengan senyum indah. Senyum itu terlihat begitu tulus dan tak di buat-buat.
Isteri Reynand berjalan menuju Pohon Pepaya itu lalu mengambil Pisau yang tertancap di sana. Dia kembali lagi di posisi semula.
"Maaf Ibu Gadis, tadi saya sedang latihan. Saya tidak menyangka kali ini tepat sasaran, biasa gagal lo!" ucap Lika terlihat antusias dengan keberhasilannya. Sejatinya dia hanya menakuti Gadis, padahal Lika sudah terlatih.
"Hah?!"
Lagi-lagi Gadis terkaget dengan wajahnya kian pucat saja.
"Isteri seorang Reynand harus bisa mendeteksi kejahatan apalagi mendeteksi hadirnya Wanita ketiga yang ingin menggantikan posisi Isteri sahnya. Kenapa harus cerdas, karena Daddy dan Mommy tidak suka dengan perselingkuhan apalagi fitnahan. Mereka berdua akan menghukum siapa saja yang berani bermain-main dengan keluarga Ardiaz."
Selesai berkata Lika kembali melempar Pisau membuat Gadis bergidik ngeri. Dia memejamkan mata takut jika lemparan Lika meleset.
"Kapoooook," pekik Gadis saat menyadari Pisau melesat mengarah kepadanya.
Tak
Kembali Pisau itu tertancap pada Pohon Pepaya yang berdiri tegak di sana.
Namun tidak dengan Gadis yang terlihat panik. Tadinya dia yang mengintimidasi Lika, kini berbalik mengarah kepadanya.
Gadis berusaha menenangkan diri karena Lika terlihat tidak melanjutkan aksinya dan tidak berkata lagi.
Cukup lama Gadis modis itu menenangkan dirinya, sejurus kemudian dia teringat dengan pembicaraan mesra Lika dengan seseorang yang berhasil di rekamnya. Gadis menyunggingkan senyum kemenangannya.
"Boleh saja aku tidak menguasai salah satu Senjata seperti Mbak Lika, tapi aku memiliki bukti perselingkuhan kamu dengan Pria yang bernama Umar itu. Bukankah itu Senjata ampuh untuk melumpuhkanmu. Apa jadinya jika Daddy dan Mommy, Mertua kamu sampai tahu kalau ternyata salah satu Menantu keluarga Ardiaz berselingkuh, pastilah sangat gempaaaaar."
Gadis kemudian berkata membalikkan keadaan. Dia menjeda kata-kata untuk mengetahui ekspresi lawan bicaranya. Terlihat Lika begitu tenang dengan senyum kian mengembang. Gadis mengernyitkan dahi tak percaya dengan tanggapan Lika.
Seharusnya Lika ketakutan dengan wajah pucat pasi bukan malah tenang-tenang saja dengan tetap memperlihatkan wajah cantiknya. Gadis, tidak mau lagi syock apalagi ketakutan dengan segala instrik yang diperbuat Lika. Dia ingin menang, dimana-mana Perebut pastilah bakalan menang.
"Kira-kira hukuman apa yang akan diterima oleh Menantu kesayangan Keluarga Ardiaz dengan perselingkuhan Isteri dari Reynand ini. Apa dijadikan sasaran Pisau, panah atau peluru? pasti rasanya sangat, sangat, sangat sakit." Gadis melanjutkan kalimatnya dengan penuh intimidasi.
Lika tersenyum sembari menggelengkan Kepalanya. Tidak menyangka Gadis di hadapannya segigih ini.
"Silahkan saja Bu Gadis mengadukan apa yang saya perbuat. Bukannya Daddy dan Momny percaya melainkan beliau akan menertawakan anda. Bisa jadi pengakuan Bu Gadis menjadi Bumerang untuk diri sendiri. Senjata untuk menyerang saya ternyata berbalik arah mematikan Tuannya." Lika menyahuti dengan setenang mungkin. Namun dibalik kalimat itu tersimpan kata-kata ancaman yang menohok.
"Coba saja membeberkan sama Daddy dan Mommy. Oh ya jangan jauh-jauh ke Jakarta berat di ongkos. Cukup sama Mas Reynand saja. Mas Reynand pasti dengan senang hati memprosesnya..."
". ... Akan aku lakukan saat Mas Reynand pulang." Gadis memotong kalimat Lika yang belum selesai di ucapkannya.
Selain tidak memiliki malu ternyata Wanita di hadapannya tidak memiliki etika dalam berkomunikasi. Hati Lika membatin.
__ADS_1
"Silahkan! apa Bu Gadis yakin bahwa Laki-laki bernama Umar itu selingkuhan saya? apa jadinya kalau ternyata Umar itu. ..."
Lika belum menyelesaikan kalimatnya karena terdengar suara Gerbang di buka kemudian terdengar mesin Mobil melaju menuju Parkiran.
"Suamiku sudah datang," ucap Lika bahagia. Dia bergegas menuju depan rumah hendak menyambut kehadiran Reynand.
Gadis juga tidak ketinggalan mengambil bagian dalam menyambut Pengusaha itu. Dengan langkah cepat dia mendahului Lika dengan menampilkan senyum menggodanya.
Reynand keluar dari Mobilnya dengan menenteng Tas kerjanya dan satu tangannya bersembunyi di balik punggung. Dia menyugingkan senyum dengan tatapan mesra mengarah pada Bidadarinya.
Langkahnya terlihat gagah meskipun Reynand tidak setampan dulu. Tetap, pesonanya mampu menggetarkan hati Wanita.
Reynand semakin mendekat, Gadis semakin tersenyum bahagia. Dia yakin Pria mapan di hadapannya akan mampu di dapatkannya.
Namun naas, Gadis pikir senyum bahagia Reynand hanya untuknya. Dia sudah berharap Pria itu menghampirinya, tapi berlalu begitu saja melewatinya.
Gadis kesal dan memendam kemarahan. Katanya kangen tapi ketika bertemu malah mengabaikan. apa karena ada Sang Isteri membuat rasa kangen itu tertahan. Itu yang dipikirkan oleh Gadis. Dia menghentakkkan kakinya memberikan petunjuk bahwa dia tak suka diabaikan.
"Assalamu'alaikum." Reynand memberi salam.
Lika membalas salam dengan senyum bahagia.
"Alhamdulillah Mas sudah sampai rumah," sambutnya bahagia.
"Ini untuk Isteri tercinta Mas," ucap Reynand. Dia menampakkan sesuatu yang disembunyikan di balik punggung. Sebuket mawar merah yang terlihat sangat indah dan segar.
"Terima kasih, Aljawz," sambut Lika antusias sekaligus bahagia. Mata berbinar-binar saat mencium keharuman yang bertahta di kelopak bunga itu.
"Cieeeee, Ayah sama Ibu romantis banget. So sweeeet," teriak Renia yang tiba-tiba muncul. Kemunculan Renia dan Raski sukses membuat Lika tersipu malu.
Reynand dan Lika ikut tertawa melihat kelucuan yang ditampilkan kedua anaknya.
"Ada apa ini? kok bahagia banget. Daddy ikutan, dong?" Keynand ikut bergabung. Tidak ada yang menyadari kehadiran Keynand karena larut dalam canda tawa. Pun begitu dengan tamunya yang tersisihkan dengan hati bergemuruh menahan kekesalannya.
"Udah puas mbak Lika tertawanya? saatnya aku memutuskan kebahagiaan kamu." Gadis menyela obrolan mereka sembari mempermainkan Handphone.
Keynand menatap Lika dengan tanda tanya. Lika seolah mengerti.
"Kakak Renia sama Dadek masuk, gih! Ibu mau bicara dulu sama Ibu Gadis, Ayah dan Daddy," ucap Lika meminta kedua anaknya untuk masuk terlebih dulu.
Renia mengerti. Gadis kecil itu mengajak Raski untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Ibu Gadis, Guru Renia," jawab Lika setelah Renia dan Raski tidak berada di sekitarnya.
"Oh gitu," ucap Keynand datar. Sementara Reynand hanya diam dengan sikap tidak ramahnya, dingin tak bersahabat.
"Semumpung dua pangeran Ardiaz ada di sini. Aku ingin membeberkan perselingkuhan Isteri Reynand Putra Ardiaz bernama Baiq Mandalika dengan Laki-laki bernama Umar," ucap Gadis dengan penuh percaya diri.
Reynand tersentak kaget dengan bukti yang disodorkan oleh Gadis. Wajahnya berubah merah padam dengan sikap yang amat sangat dingin. Sedangkan Keynand tercengang. Dia diam sejenak untuk mencerna apa yang sedang terjadi.
Bersambung.
__ADS_1