
Hari minggu ini, Rizqy dan Habibah sedang melaksanakan Nyumbe. Rombongan itu diikuti oleh keluarga dari Adik Ayahnya dan beberapa tetangga. Sedangkan orang tua kandung Rizqy tak sama sekali terlihat dalam kegiatan adat.
Mereka melakukan perjalanan selama tiga jam lamanya. Dan pada akhirnya rombongan itu sampai di kediaman Habibah yang ada di Desa Gumbang.
Disana mereka di sambut oleh Inaq Kake, Para Tetangga dan keluarga besar Madrasah tempat Habibah mengajar.
Dengan penuh kesederhanaan mereka menjamu Pengantin dan keluarga dari Pengantin Laki-laki.
"Kak Oci izin untuk ikut pelatihan UKM, pulangnya bawa oleh-oleh Suami. Memang luar biasa Kak Oci ini." Adrian berkomentar membuka pertemuan di antara kedua keluarga.
Semua tergelak mendengarkan komentar dari pemuda itu.
"Habibah ingin membuktikan sama kamu, biarpun jelek tapi dapat Suami tampan. Kamu dulu pernah ngatain dia jelek, lihat sekarang Suaminya lebih tampan dari kamu. Berarti Suaminya Habibah itu melek sedangkan kamu buta. Dia tahu mana yang benar-benar cantik," sahut seorang Bapak-bapak yang pernah berniat menjodohkan Adrian dengan Habibah.
Adrian tentu saja terbungkam. Dia memang pernah mengolok Habibah. Itu karena kesal sama Gadis itu yang tak menanggapi. Kini ketika dia tahu bahwa Habibah adalah Kak Oci, tentu dia sangat menyesal.
"Bagaimana ceritanya kalian mendadak menikah?" tanya seorang Ibu penasaran.
"Iya Ki, Inaq Rari penasaran dengan kisah kalian. Kata Mamiq kamu baru ketemu dengan Habibah terus langsung mengajak nikah." Tante Rizqy penasaran dengan kisah cinta keponakannya yang tiba-tiba saja menikah. Tak ada isyarat maupun rencana dan pada akhirnya sah.
Habibah dan Rizqy saling pandang. Mereka berdiskusi siapa yang akan bercerita melalui isyarat.
"Sebenarnya Habibah ini dulunya Calon Isteri saya," ucap Rizqy memulai cerita.
"Calon Isteri?" tanya Tantenya Rizqy dan lainnya penasaran.
"Iya, lima tahun yang lalu saya melamar Habibah. Kita dulu satu Kantor, pada saat itu kita masih status tenaga kontrak. Karena kesalah pahaman sehingga membuat Habibah resign dari Kantor dan kembali ke Desa. Saat ketemu kembali di tempat pelatihan, tanpa berpikir lagi saya langsung mengajak Habibah ke KUA." Rizqy menceritakan kisah kasih antara dirinya dengan Habibah yang sempat terpisah cukup lama.
"Oh gitu? pantesan Habibah menutup diri. Menjaga jarak dengan lawan jenisnya. Sebenarnya ada sih yang tertarik dengan Habibah. Hanya saja mereka malu mendekati Habibah. Takut duluan mereka, tidak berani ditolak katanya." Seorang Ibu membuka rahasia.
"Benar begitu?" tanya Tante penasaran.
"Nggih! Habibah itu calon Mantu idaman Inaq-Inaq. Selain Soleha, menjaga diri dari pergaulan dengan Laki-laki, dia itu juga pekerja keras, pantang menyerah dan mandiri. Buktinya Habibah berhasil memperdayakan Inaq-inaq dan Remaja disini dengan membangun usaha." Seorang Ibu menjawab pertanyaan dari Tantenya Rizqy.
Mereka mengangguk setuju dengan apa yang diterangkan oleh Ibu-ibu itu.
Habibah hanya tertunduk merendahkan hati.
"Inaq-inaq terlalu berlebihan. Saya tidak melakukan apapun, semua ini terjadi karena kita melakukan secara bersama-sama," sahut Habibah.
"Tuh kan? Habibah emang gitu! selalu mengatakan ini semua bukan karena saya. Nah terus siapa yang menggerakkan kami? apa bayangannya?" Seorang Ibu berkelakar membuat semua tergelak.
"Hebat," bisik Rizqy di telinga Habibah yang membuat hati Habibah berdesis. Suara itu terdengar hangat dan macho yang mampu membuatnya meremang.
"Terima kasih, Mas," sahut Habibah berbisik pula.
"Cieeeee, bisik-bisik tetangga. Apa sedang berdiskusi entar malam pakai Gaya apa?" Komentar Adrian yang membuat Para Ibu langsung melempar Adrian dengan sorakan.
"Anak kecil juga, famali tahu."
Adrian yang mendapat serangan dari Para Inaq-Inaq hanya menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.
Mereka larut dalam obrolan sehingga tak menyadari Matahari telah meninggi.
Siang menjelang, mereka makan siang bersama-sama. Setelah selesai mereka bersiap-siap melaksanakan Shalat Dzuhur di Masjid yang ada di Desa.
Kewajiban sudah di tunaikan, Keluarga Rizqy dan Para Tetangga Rizqy yang ikut serta dalam rombongan kembali ke Mentaram. Sedangkan Rizqy untuk beberapa hari akan tinggal di Desa.
***
"Sunyi banget, Mas suka. Disini tidak ada yang ganggu dengan suara teriakan dan musik tetangga, hanya suara Binatang saja," sahut Rizqy. Saat ini mereka sedang menikmati malam bertabur bintang dari beranda rumah.
"Iya, kemaren aku sendiri sekarang ada Suami yang menemani. Sungguh, tidak menyangka ini semua terjadi," sahut Habibah. Pandangan lurus ke depan mengenang kesendiriannya dulu.
"Selama itu, tidakkah terbersit dalam hati untuk menemuiku?" tanya Rizqy.
Habibah tak menjawab, dia memilih memandang Rizqy. Bersamaan itu pula Rizqy menatapnya lekat menunggu jawaban.
"Aku ingin tapi jika mengingat apa yang aku dengar. Ketakutan itu seakan menahanku agar tak beranjak menemui Mas Rizqy."
Rizqy meraih tubuh Habibah lalu menempatkan dalam dada bidangnya.
"Aku mencarimu tapi tak ada kamu dimanapun," ucap Rizqy setelah mendengar jawaban yang teramat ingin diketahuinya.
"Apa pernah Mas ingin melupakanku?" tanya Habibah lirih.
__ADS_1
"Tidak, tentangmu selalu tersimpan di hati. Mas hanya berdamai dengan kenyataan jika ternyata kamu tidak mampu Mas raih. Saat menikah dengan Jessi, serapat mungkin tentangmu Mas simpan. Mas sangat menghargai Jessi yang saat itu sebagai Isteri Mas." Rizqy menjawab dengan jelas. Saat itu Habibah masih ada di hatinya namun berusaha melepaskan rasa itu. Dia tidak ingin Wanita yang mendampinginya tersakiti karena memikirkan Wanita lain. Rizqy tak pernah mengabaikan tanggung jawabnya sebagai Suami meskipun saat itu cinta itu tak kunjung datang.
"Mas, seandainya Jessi tidak berulah dan dia menjadi Isteri yang baik dan soleha terus aku tiba-tiba muncul. Apa yang akan Mas lakukan?" tanya Habibah.
Rizqy terdiam, memikirkan jawaban dari pertanyaan yang menurutnya rumit. Menuruti perasaan atau menunaikan tanggung jawab.
"Bagaimana kalau Mas tidak jawab? karena pertanyaan itu tidak terjadi. Buktinya Mas bersama kamu," ucap Rizqy dengan jawaban yang berbeda.
"Mas, kok gitu jawabannya? di tanya apa jawabannya apa? ini mah Jaka Sembung bawa golok," ucap Habibah cemberut.
"Untuk apa bawa golok?"
"Untuk nakutin Mas Rizqy agar bisa menjawab dengan benar. Siapa tahu gara-gara golok yang di ayun-ayunkan oleh Jaka Sembung di depan wajah, Mas jadi keder gitu!" sahut Habibah serius.
Hahahahahaha.
Terdengar suara Rizqy menggema mengalahkan suara Jangkrik yang sedang berpesta. Setelah reda dari tawanya, Rizqy mengelus pucuk kepala Habibah dengan lembut penuh rasa.
"Apa kamu tidak takut sendirian disini? bagaimana tiba-tiba Makhluk tak terlihat muncul menemuimu?" tanya Rizqy mengalihkan pembicaraan.
"Maaaaas." Habibah cemberut karena Rizqy mengalihkan pembicaraan. Dia seakan enggan menjawab pertanyaan yang mungkin berpotensi menyesakkan dada. Rupanya Rizqy memperhatikan kekecewaan yang mungkin saja terjadi jika dia menjawab.
"Jawab saja pertanyaan Mas," ucap Rizqy sambil menarik hidung mancung itu.
"Egois! pertanyaanku enggak mau di jawab sedangkan pertanyaan Mas harus dijawab, pake maksa segala." Habibah cemberut.
"Sayang, terkadang ada pertanyaan tidak harus dijawab, kenapa? karena tidak ada maknanya. Mas bukan egois, hanya ingin kamu memahami mana yang harus diprioritaskan. Pertanyaan Mas atau pertanyaan kamu." Rizqy menjelaskan.
Habibah termenung memikirkan apa yang di katakan oleh Suaminya itu. Memang benar, tidak mesti mengetahui jawaban karena tak akan mempengaruhi apapun bahkan pertanyaan itu terkesan basi.
"I see, tapi pingin juga tahu apa yang akan Mas lakukan jika itu terjadi," sahut Habibah kemudian.
"Okay, jika kamu penasaran, bagaimana kalau kamu menjawab terlebih dahulu," ucap Rizqy tak menyerah.
"Iya, iya."
Habibah terdiam sejenak, merebahkan diri dibahu lebar Suaminya. Tangannya tergenggam erat oleh tangan kekarnya.
"Awalnya aku takut, lama kelamaan terbiasa dengan suara binatang-binatang malam dan bisikan-bisikan pengganggu. Aku mencoba melawan rasa takut itu dan berdamai dengan keadaan. Lambat laun, jadi terbiasa."
"Maaf."
Habibah tersentak dengan permintaan maaf dari Sang Suami.
"Maaf untuk apa?"
"Gara-gara Mas, kamu mengalami masa-masa sulit. Jika saja Mas tidak menuruti keinginan Dion. Hal itu mungkin saja tidak akan terjadi dan kamu tentu saat ini sudah di angkat menjadi PNS," jawab Rizqy lirih. Ada rasa sesak karena kejadian itu membuat cita-cita Habibah harus kandas. Jika saja saat itu Habibah tidak resign mungkin kini dia berstatus sama dengan dirinya.
"Siapa bilang, saat ini juga aku sudah di angkat PNS," sahut Habibah tersenyum lebar.
"Masak? kok Mas enggak ngerti," sahut Rizqy berpikir, sejurus kemudian mengangkat tubuh Habibah dengan tawa menggemanya.
"Ini maksudnya?"
Hahahaha
"Meskipun aku enggak jadi PNS setidaknya setiap hari diangkat PNS," ucap Habibah disela tawa.
Hahahaha
"Kamu tuh ya? bisa aja," ucap Rizqy mengajak Habibah berputar-putar.
"Mas, kecilin suaranya takutnya entar Makhluk lain terganggu. Berabe kalau tiba-tiba menyerang kita."
"Oh iya."
Rizqy membungkam diri dengan mengecup bibir merekah itu. Mereka terhanyut dalam rasa panas yang menggelora kemudian bermuara dalam kenikmatan yang melegakan.
Wuuuuz
Angin malam menambah syahdu sepasang insan yang sedang merengkuh manisnya cinta.
Hap hap hap
Habibah menghirup oksigen sepuasnya. Ada senyum bahagia yang tak mungkin akan pudar tertepa dinginnya angin malam.
__ADS_1
"Puas? apa ingin lagi?"
Belum saja menjawab, Wanita itu diserang lagi oleh kenikmatan yang diberikan oleh Suaminya.
"Ah Mas Rizqy." Habibah berguman.
Setelah puas, mereka kembali terduduk dengan senyum penuh rasa.
"Bibah, pernah mengalami hal aneh? misalnya tiba-tiba ada orang dateng tengah malam, mengetuk Pintu terus kamu buka, ceklek wajah Mas yang nongol. Kira-kira apa yang terjadi?" tanya Rizqy serius, aroma mistis tergambar jelas dari mimik mukanya.
"Auto pingsan karena mana mungkin Mas Rizqy tiba-tiba datang tengah malam. Darimana Mas Rizqy tahu rumah ini kalau enggak Jin yang menyamar menjadi Mas Rizqy," sahut Habibah bergidik.
Hahahahaha.
Rizqy tertawa mendengarkan jawaban polos dari Isterinya.
"Terus darimana mereka tahu wajah Mas? Kan, mereka belum bertemu dengan Mas dan kenalan," sahut Rizqy.
Habibah berpikir sejenak, seketika wajahnya terlihat panik. Dia bangkit dari duduknya lalu meraih tangan Rizqy.
"Mas masuk rumah, nanti mereka melihat wajah Mas Rizqy. Sewaktu-waktu kalau Mas tidak di rumah bisa jadi mereka menyamar jadi Mas Rizqy," ucap Habibah serius.
Rizqy tersenyum geli mendengar perkataan Isterinya.
"Kamu yakin bahwa orang yang kamu pegang adalah Suamimu?" ucap Rizqy serius dengan raut dibuat seram.
"Mas Rizqyyyyy."
Habibah berteriak sejurus kemudian mencubit pinggangnya.
"Awwww sakit, tanganmu sangat berbahaya sayang." Rizqy meringis.
"Siapa suruh nakutin," sahut Habibah melangkah cepat menuju kamarnya.
"Maaf sayang." Rizqy menghampiri. Setelah sampai dia merebahkan diri di kasur.
"Hem, sekarang kamu mau gaya apa?" tanya Rizqy menggoda.
Habibah yang bersiap-bersiap mencari posisi untuk tidur seketika mengarahkan pandangannya ke wajah Rizqy.
"Gaya?"
"Iya gaya? apa mau gaya kupu-kupu, gaya dada, gaya punggung atau gaya botol nyemplung? tinggal Bibah pilih mana yang disuka," sahut Rizqy. Setelahnya mengedipkan mata diiringi tawa renyahnya.
"Mas Rizqy, mulai becanda deh! siapa juga mau merenang malam-malam," sahut Habibah sebal.
"Mas, dong! mau berenang di hatimu."
"Garing!"
"Mas suka yang garing-garing apalagi kenyal punya kamu," sahut Rizqy kembali melancarkan godaan.
"Udah ah, aku mau tidur," ucap Habibah menarik selimut kemudian menutup seluruh badannya.
"Iyah ngambek."
Rizqy merebahkan diri di samping Habibah lalu memeluk tubuh itu dengan erat.
"Mas akan mempertahankan pernikahan karena pernikahan itu bukan permainan yang seenaknya dilepaskan. Kita sudah mengucapkan Ijab kabul, maka sebisa mungkin ikatan itu harus dijaga. Meskipun di hadapan ada orang yang kita cintai dan di samping ada pula orang yang tidak kita cintai. Mas akan memilih bersama Wanita yang sudah menjadi Isteri Mas. Kenapa? karena itulah jodoh dan takdir. Yang kita harus lakukan adalah menerimanya, mungkin itulah jalan hidup masing-masing." Rizqy menjawab pertanyaan Habibah dengan jujur dan sangat jelas. Itulah sejatinya yang harus dilakukan. Bukan pasrah tapi taat dengan apa yang telah Tuhan tetapkan. Jika telah terjadi mana mungkin Manusia bisa menolaknya.
Habibah terharu, dia memeluk tubuh Suaminya dengan erat. Ada rasa syukur, karena mereka ternyata berjodoh tanpa merasakan rasa yang rumit.
"Mas aku ingin mendengarkan sesuatu."
"Apa?"
"Itu, kata Oppa Saranghaeyo," ucap Habibah malu-malu.
"Apaaaa? Oppa pernah mengatakan Saranghaeyo sama kamu?" ucap Rizqy dilanda cemburu. Ada senyum tipis tak nampak.
Habibah melongo
"Hadeh!"
Bersambung.
__ADS_1