
Ceklek
Rizqia, Keynand dan orang kepercayaan Rizqy masuk ke dalam sebuah ruangan setelah pintu terbuka.
Di sana beberapa pasang mata melihat ke arah pintu tatkala mendengar suara pintu terbuka yang secara otomatis mengganggu aktivitas mereka.
Pada kursi yang berada di tengah, berdiri sendiri dan terpisah dari yang lainnya duduk seorang Wanita yang terlihat anggun dan elegan.
Mata Wanita itu langsung menukik dengan tajam ke arah tiga orang yang baru saja mengganggu keseriusannya.
"Assalamu'alaikum," ucap Rizqia dengan tenang. Dia berusaha menahan ketersinggungannya karena Wanita di hadapannya dengan tidak tahu malu duduk di Kursi kebesaran yang merupakan tahta dari Pemilik Perusahaan ini.
"Kamu siapa? Saya tidak menerima Pedagang untuk jualan di sini. Apa kamu tidak tahu kalau kita sedang Meeting. Lancang sekali kalian," ucap Wanita dewasa dengan nada ketus dan berwajah masam.
"Mana satpam, sih? Kenapa biarkan orang lain masuk. Siapapun seret mereka, suruh mereka keluar," lanjutnya menunjuk seorang Laki-laki yang duduk di sampingnya untuk mengusir Rizqia, Keynand dan juga Fathan yang merupakan orang kepercayaan Rizqy.
"Maaf semuanya, Bapak-bapak dan Ibu-ibu, saya bukan Pedagang. Saya hadir di sini atas permintaan Pak Fathan selaku Direktur Perusahaan ini yang di tunjuk secara sah oleh Bapak Lalu Rizqy Anggara, Pemilik sah Perusahaan BAA Garden," ucap Rizqia dengan tenang.
Wina Winata terkejut dengan apa yang dikatakan Rizqia. Dia mengamati Gadis berhijab itu dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan.
"Maaf bolehkah saya duduk? Tidak sopan rasanya kita berdiri sementara yang lainnya sedang duduk, apalagi di antara Bapak-bapak dan Ibu-ibu ada yang lebih tua dari kami," ucap Rizqia lembut dan santun.
Fathan, orang kepercayaan Rizqy melangkah maju lalu duduk di kursi yang tersedia. Tidak lupa mempersilahkan Rizqia dan Keynand untuk duduk pada kursi yang sengaja di persiapkan.
"Ibu Wina Winata, perkenalkan saya Fathan Direktur dari Perusahaan BAA Garden yang ditunjuk oleh Lalu Rizqy Anggara. Sebab tidak tahu, mungkin karena itulah anda mengira kami Pedagang yang sering kali masuk ke Kantor Pemerintahan atau bisa saja dalam pikiran anda bahwa kita LSM yang selalu datang menyambangi Kantor Pemerintahan. Apa karena itu membuat Ibu Wina Winata merasa terganggu," ucap Fhatan memperkenalkan diri sekaligus menyindir Wanita itu.
"Benarkah Gadis ini orang yang di utus oleh Rizqy? Kenapa tidak Rizqy sendiri yang datang? Kenapa di saat genting begini dia malah asyik-asyiknya terlelap?" sahut Wina dengan ketus lalu terlihat senyum cemoohan tersungging dari bibir bergincu tebal itu.
"Anda tahu sendiri seperti apa keadaan Pak Rizqy. Lagipula Pak Rizqy telah memberikan tanggung jawab kepada saya untuk mengelola Perusahaan. Apapun yang terjadi dengan Perusahaan merupakan tanggung jawab saya," sahut Fathan dengan tenangnya.
__ADS_1
"Hal genting apa yang anda maksudkan? Perusahaan baik-baik saja. Hasil panen kita tidak ada yang gagal, bahkan eksport kita meningkat dan secara otomatis profit dari itu semua tentu saja meningkat dari bulan lalu. Terus apalagi nilai saham kita masih yang tertinggi. Anda bisa melihatnya dari semua laporan yang ada. Kita menyajikan Laporan yang akurat, bukan hanya omong kosong belaka."
Fathan menampilkan semua laporan di layar. Memperlihatkan perkembangan perusahaan yang meningkat signifikan.
"Tetap saja, sebuah Perusahaan tidak ada pemimpinnya, maka akan dipertanyakan legalitasnya. Mulai sekarang saya yang akan mengambil alih perusahaan ini, sebab Rizqy dinyatakan tidak mampu mengemban tugasnya apalagi anda bukanlah ahli waris. Anda hanya orang luar, jadi anda tidak berhak untuk duduk di kepemimpinan. Apalagi Para Direksi dan Pemegang saham tentu saja memihak kepada saya yang merupakan Isteri sah dari Lalu Wira Ariadi, Pemilik dari Perusahaan BAA Garden."
Wina berbicara panjang lebar sembari menatap Fathan dengan sinisnya.
"Maaf apa boleh saya berpendapat?" ucap Rizqia menyela Wina yang terdengar bersemangat dan berapi-api.
"Saya tidak butuh pendapat orang luar yang tidak ada kepentingan sama sekali di perusahaan ini, apalagi teman Laki-laki yang kamu bawa itu, seorang pengangguran," sahut Wina cepat, tidak mengizinkan Rizqia bersuara. Wanita itu akan berusaha membuat Gadis di hadapannya terbungkam.
"Apa Ibu Wina Winata yakin dengan perkataan anda? Apa anda tidak mengenal Laki-laki di samping saya?"
Rizqia menatap Wina dengan datar tidak ada kemarahan di sana. Gadis itu sangat santun dengan senyum tulus.
Orang-orang yang ada di sana memusatkan perhatiannya ke arah Keynand yang sedang duduk dengan tenangnya di samping Rizqia.
Mereka tentu saja langsung menyapa Keynand yang mengenalnya sementara yang lainnya tersenyum penuh muslihat hanya demi mendapatkan muka di hadapan Pengusaha satu itu.
Sementara Wina menatap angkuh kepada Keynand.
"Ternyata ini yang namanya Keynand Putra Ardiaz, Pemilik Narkotika itu. Tidak menyangka anda bisa bebas juga ya? Maklumlah orang berduit, semua bisa di atur, bukankah begitu?" ucap Wina dengan sinisnya.
"Maaf Ibu Wina yang terhormat, apakah perkataan anda tadi sopan menurut anda? Mungkin iya? Tapi sebagai seorang Pejabat rasanya tidak etis berkata sefrontal itu. Bagaimana jadinya jika apa yang anda katakan tadi di dengar oleh Bapak nomor satu di Daerah ini? Kira-kira menurut anda apa yang akan terjadi?
Keynand menimpali dengan nada datar dan pembawaan yang tenang. Namun dibalik itu semua tentu terselip perkataan yang menohok jika di sadari oleh yang mendengarkan terutama oleh Wina.
"Ibu Wina, tanpa sadar anda tidak percaya dengan hukum di negeri ini dan para penegak hukum yang benar-benar mengabdikan diri agar tertegaknya hukum bagi mereka yang bersalah tanpa memandang siapa. Mereka bekerja demi tercapainya keadilan bagi seluruh rakyat, meskipun pada kenyataannya masih ada oknum yang berkhianat dengan sumpahnya. Dan sekarang, anda dengan sadar melukai hati mereka dan membuat mereka tersinggung dengan pernyataan anda barusan. Anda sungguh luar biasa telah mencemarkan nama baik beliau-beliau, hanya karena membebaskan saya yang tidak bersalah. Jika anda cerdas, maka tidak mungkin akan berkata seperti apa yang anda ucapkan tadi. Saya tidak ingin mengucapkan, karena tidak sopan tapi semua orang pasti akan sependapat dengan saya bahwa anda itu bodoh. Berucap sesuka hati, tanpa mencari kebenaran mengenai berita yang anda dengar."
__ADS_1
Keynand menyambung kalimatnya dengan sangat runut penuh penekanan.
"Oh ya saya ke sini bukan untuk membahas masalah hidup saya apalagi mendengar perkataan tak perguna dari anda, melainkan keberlangsungan perusahaan ini. Tolong jangan dicampur adukkan."
Keynand mengakhiri kata sambutannya yang amat panjang dan dipastikan bisa membuat telinga Wina memerah.
"Biarkan saja! Marah-marah saja! Geram-geram saja, saya tidak peduli. Saya hanya peduli pada Melong pujaan hati," batin Keynand memandang Rizqia dengan dalam penuh perasaan.
"Maaf Pak Keynand, apakah sudah selesai berbicaranya? Bisakah saya mengambil alih?" tanya Rizqia menatap lawan bicaranya dengan sedikit menunduk.
"Tentu."
Keynand menjawab dengan diiringi anggukan.
"Baiklah terima kasih," balas Rizqia dengan senyum ramahnya
"Mohon izin Bapak- bapak dan Ibu-ibu," sambungnya kini mengalihkan perhatiannya kepada mereka yang hadir.
"Saya tidak memberikan izin kepada anda untuk mengeluarkan sepatah katapun. Sebaiknya tinggalkan ruangan ini, kamu tidak dibutuhkan di sini," sahut Wina dengan cepat mencoba untuk mendepak Rizqia. Ada kekhawatiran dalam dirinya bahwa gadis yang ada di hadapannya akan membuatnya kesulitan, apalagi adanya Direktur Hotel Ardiaz bersamanya membuat langkahnya pasti akan tersandung.
"Silahkan Nona, kami akan mendengarkan apapun yang Nona sampaikan sebagai utusan dari Pemilik Perusahaan ini. Tidak sopan rasanya mencekal Nona," ucap seseorang yang merupakan bagian dari Direksi.
"Terima kasih, Pak. Saya di sini hanya ingin mengkomfirmasi kepemilikan BAA Garden agar pihak yang tidak berkepentingan tidak seenaknya mengklaim perusahaan ini dan berniat menjadikan perusahaan ini miliknya," ucap Rizqia berterima kasih sekaligus menyampaikan tujuan akan kedatangannya.
"BAA Garden merupakan perusahaan yang didirikan oleh Kakek Lalu Akhmad Anggara. Beliau memiliki Putri tunggal bernama Baiq Aisyah Anggara, dimana saat Sang Putrinya di anggap cakap untuk memimpin Perusahaan, beliau mewariskan Perusahaan yang sudah diberi nama BAA Garden kepada Baiq Aisyah Anggara. Kemudian Ibu Aisyah menikah dengan Lalu Wira Ariadi. Dari hasil pernikahannya, mereka dikarunia tiga orang anak yakni Lalu Rizqy Anggara, Lalu Kiano Anggara dan Baiq Rizqia Anggeraini. Saat beliau wafat barulah perusahaan di ambil alih oleh Mamiq Wira Ariadi, dan beliau pun tahu bahwa Perusahaan ini di wariskan kepada ketiga anaknya, sedangkan Mamiq Wira Ariadi hanya di beri kuasa untuk mengelola Perusahaan ini. Itulah yang tercantum dalam surat Wasiat yang dibuat ibu Aisyah. Jadi menurut Bapak-bapak dan Ibu-ibu siapa yang berhak di sini? apakah Ibu Wina yang tidak ada hubungan apapun dengan Ibu Aisyah?" Rizqia bertanya memandang ke arah semuanya yang nampak menunggu apa yang ingin di katakan oleh Rizqia selanjutnya tanpa menjawab.
"Tentu saja tidak! Sebab Ibu Wina hanyalah Isteri kedua dari Mamiq Wira Ariadi. Ibu Wina tidak berhak sama sekali dengan perusahaan ini, kecuali Perusahaan ini milik dari Mamiq Wira Ariadi, silahkan anda kuasai, saya maupun Pak Rizqy pasti tidak akan keberatan. ...!"
Bersambung.
__ADS_1