
"Alhamdulillah Bang Rizqy sudah sadar. Ini khabar yang membahagiakan," ucap Laki-laki itu dengan binar-binar bahagia pada wajahnya.
"Ini ibu Tiri Abang, kan? Saya sudah menangkapnya sekarang kita apain dia? Apa kita suntik mati saja biar tidak berulah?" Lanjutnya dengan mencengkeram bahu Wina sekuat tenaga membuat Wanita itu mengaduh kesakitan. Wina berusaha memberontak sekuat tenaga agar terbebas dari cengkeraman Laki-laki tampan di sampingnya.
"Lepaskan saya Junaaa."
Teriakan Wina membuat Rizqy terkejut. Bukan itu, tapi nama Lelaki itu yang membuatnya kaget. Tadi Wina menyebut nama Juna sebagai selingkuhan Habibah. Dan sekarang Laki-laki itu ada di hadapannya. Kenapa dia ada di rumah sakit ini? Apakah benar dia di sini untuk mendekati Habibah? Pertanyaan demi pertanyaan berkiaran di otak Rizqy. Dia menatap Lelaki di hadapannya yang lebih muda beberapa tahun darinya dengan penasaran.
"Lepaskan saya Juna, saya akan memberikan apapun yang kamu inginkan," lanjutnya dengan memohon. Dia menampilkan wajah memelas dan juga penyesalan.
"Memangnya apa yang kamu miliki? Hutang di beberapa bank, iya kah?" Sahut Juna dengan ketusnya.
"Kamu itu hanya ASN, setahu saya gaji ASN itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kalaupun dia kaya kemungkinan ada dua yaitu memang dasarnya dia kaya raya sejak lahir dan mempunyai bisnis terus kemungkinan kedua kaya karena korupsi? Apa kamu berada pada kemungkinan kedua itu Ibu Wina?" Sambung Juna dengan kalimat mengejek.
"Satu hal lagi Ibu Wina tidak akan sanggup menandingi kekayaan yang saya miliki. Apa Ibu kira saya orang miskin gitu? Anda salah, saya salah satu orang terkaya di Daerah ini. Jadi saya tidak butuh apapun yang hendak Ibu berikan kepada saya, palingan hanya seberapa."
Makjleb. Ternyata Juna bisa sesombong itu saat harga dirinya terusik. Apa dia kira dirinya akan langsung silau dan matanya langsung segar dengan tawaran yang terdengar menggiurkan itu. Oh tentu saja tidak Marimar, enak saja. Juna menggerutu dalam hati.
"Saya tidak punya waktu, Habibah membutuhkan Suaminya."
Juna kemudian menghubungi seseorang agar membantunya mengawasi Wina sebelum menyerahkan Wanita jahat itu ke Polisi.
"Bang Rizqy ayok kita temui Habibah, kehadiran Abang saat ini sangat di tunggu oleh Habibah."
Usai berkata Juna mendorong brangkar Rizqy sebelumnya dia mengamankan Wina terlebih dulu agar tidak berulah.
Setelah berhasil keluar dengan membawa Rizqy bersamanya, kamar rawat inap kemudian di kunci dari luar agar Wina tidak berhasil melarikan diri.
"Siapa kamu?" tanya Rizqy.
"Saya Juna temannya Evan, anggota tujuh sahabat," jawab Juna berterus terang.
"Apa hubungannya dengan Habibah?"
"Jangan cemburu, saya kasian melihat ibu hamil apalagi Suaminya terbaring dalam keadaan koma. Melihat Habibah yang kepayahan dalam masa kehamilannya membuat saya tergerak menemaninya dan berusaha memenuhi ngidamnya. Sejujurnya Habibah sangat merepotkan saat dia ngidam. Permintaannya selalu yang aneh-aneh dan susah di temukan, tapi saya sangat senang direpotkan olehnya."
Juna bercerita sembari mendorong brangkar Rizqy menuju ruang bersalin.
"Apa kamu suka sama Isteri saya?" Tanya Rizqy dengan menyebut Isteri bukan nama Habibah. Dia ingin Juna menyadari siapa Wanita yang sekarang sedang di incarnya dan Suaminya masih hidup itu yang di tekankannya
"Suka? tidak hanya itu saja malah lebih dari itu, saya menyayangi Habibah dan juga kedua bayinya yang sebentar lagi akan lahir," jawab Juna dengan jujur tanpa memikirkan seperti apa hati Rizqy tatkala mendengarkan ada Lelaki lain yang menyayangi Isterinya. Cemburu tentu saja itu yang terjadi.
"Apa kamu berniat ingin mengambil Isteri saya?" tanyanya. Ada nada gusar tertangkap dalam pendengaran Juna.
"Jika bisa saya akan mengambil Habibah dari Bang Rizqy, tapi sayangnya itu tidak mungkin. Siapa yang tidak tertarik dengan Wanita Sholeha seperti Habibah. Dia Wanita ayu, setia kepada Suaminya dan tidak pernah meninggalkan Suaminya meskipun Suaminya dalam keadaan tidak memiliki harapan hidup. Selain itu Habibah sangat pintar menjaga kehormatannya tatkala dia tidak berada dalam pantauan Suaminya. Katakan padaku, menurut Abang Rizqy apa mungkin saya tidak akan tertarik dan jatuh cinta."
Jawaban Juna membuat kecemburuan Rizqy semakin nyata. Lelaki itu mendengus kesal, ingi rasanya melayangkan bugem mentah pada wajah songong Juna, tapi sayangnya saat ini dia tidak berdaya.
"Habibah Isteriku," ucap Rizqy kemudian dengan tegas.
__ADS_1
"Saya tahu, bukankah saya tadi sudah mengatakan jika bisa tapi sayangnya saya tidak bisa," jawab Juna dengan nada ketus.
"Sudah saya duga, Habibah tidak mungkin akan tertarik denganmu," sahut Rizqy jumawa.
"Bukan karena itu, tapi karena hal lainnya. Saya rasa Habibah tidak mungkin tidak tertarik denganku. Lihatlah, saya tampan dan kaya raya selain itu saya juga sama dengan kamu Pemilik Plat L," sahut Juna tidak mau kalah.
"Apa maksudnya? Jangan kesana kemari, terangkan saja biar saya tidak melayangkan tinju ini. Jangan membuat saya tambah kesal."
Rizqy jengah. Dia menyahuti Juna dengan nada kesal dan kepalan tangan siap melayangkan tinjunya ke wajah Juna. Juna menanggapi dengan tawa membahana, membuat Rizqy semakin kesal saja.
"Jika saja Habibah bukan sepupu saya, mana mungkin saya mau merepotkan diri mempertemukan Lelaki sok kuat tapi tidak bisa berbuat apa-apa ini pada Isterinya."
Rizqy terkejut dengan pengakuan Juna. Meskipun sakit hati dengan kalimat ejekan itu Rizqy memilih tidak membalas.
"Sepupu? Kok bisa? Bagaimana ceritanya?" Rizqy memilih mencari tahu dengan bertanya.
"Panjang ceritanya, tidak ada waktu untuk menerangkan sementara sebentar lagi kita akan sampai," jawab Juna mulai mempercepat langkahnya.
"Syukurlah kalau kamu sepupu dari Habibah. Kamu memang orang yang suka berbasa basi dan bertele-tele. Kenapa tidak langsung bilang saja dari awal," ucap Rizqy sewot karena Juna berhasil menimbulkan kecemburuan di dalam hati selain itu telah sukses mengerjainnya.
"Sengaja, hehehe. Oh ya apa kamu takut?"
Rizqy semakin kesal dengan kejujuran Juna yang tak beradap itu. Lihatlah wajah innocent itu semakin menjadi-jadi saja.
"Iya," jawab Rizqy singkat.
"Sudah sampai," ucap Juna saat tepat di depan Pintu ruang bersalin.
"Kak Rizqy sudah sadar? Alhamdulillah."
Rizqia menghamburkan diri dalam pelukan Rizqy. Dia menangis sejadi-jadinya saking bahagianya.
"Alhamdulillah."
Rizqia kembali melantunkan syukur dengan wajahnya basah dengan air mata.
Sementara di dalam terdengar suara Dokter meminta Habibah untuk terus berusaha menghadirkan bayi kembarnya dengan secara normal.
"Aaaaa."
Terdengar suara Habibah berusaha mendorong bayinya.
"Allah."
"Maaaas."
"Sedikit lagi, terus mbak Habibah," ucap Dokter Eka memberikan Habibah kekuatan.
Rizqy masuk ke ruang bersalin setelah diizinkan.
__ADS_1
"Habibah," panggil Rizqy menatap Isterinya penuh rindu.
"Mas Rizqy, Mas Rizqy sudah sadar."
Habibah menangis bahagia. Kehadiran Rizqy membuatnya kian semangat dan tidak khawatir mengenai apapun yang akan terjadi padanya
Rizqy meraih tangan yang terasa sangat dingin dan lemah itu, lalu terlihat anggukan sebagai tanda bahwa Rizqy menaruh kepercayaan kepada Habibah bahwa Wanita hebat yang akan berhasil menghadirkan kedua bayinya di dunia ini.
Habibah berjuang dengan mendorong Bayinya. Dengan sekuat tenaga dia mengej4n. Sedangkan Rizqy berjuang dengan doanya. Lantunan ayat suci menggema di ruang bersalin. Terdengar sangat merdu bercampur dengan kesedihan, harapan dan kasih sayang di sana.
"Aaaaaaaa."
Habibah berjuang sekuat tenaga, di titik terakhir teriakannya terdengar suara tangis bayinya.
Owe owe owe
Suara tangis itu terdengar sangat nyaring menandakan telah siap dengan takdir yang akan di jalani nantinya. Bayi itu telah sanggup dengan apapun yang telah di tetapkan-NYA sehingga hadir dengan selamat di dunia fana ini.
"Alhamdulillah, bayinya lahir dengan wajah yang sangat cantik. Kondisinya sempurna tidak kekurangan apapun," ucap Dokter Eka setelah memastikan bayi pertama Habibah terlahir sempurna. Dia lalu memberikan Bayi tersebut kepada Perawat untuk dibersihkan.
"Tinggal kelahiran adiknya, apa Mbak Habibah masih kuat?" tanya Dokter Eka yang mendapat jawaban anggukan oleh Habibah.
Rizqy melanjutkan kembali ayat suci Alqur'an yang dihafalnya setelah sejenak menghentikannya tatkala mendengar suara tangis bayinya yang baru lahir. Dia menitikkan air mata karena bahagia. Pandangannya tidak teralihkan dari Bayinya sebelum Bayi pertamanya di bawa oleh Perawat.
Beberapa menit kemudian Bayi kedua lahir dengan jenis kelamin Laki-laki.
"Alhamdulillah," ucap Rizqy dengan linangan akhir mata. Dia kemudian mencium kening Habibah dengan lembut.
"Terima kasih sayang," lanjutnya.
Rizqy merasa bersyukur Tuhan masih memberikannya kesempatan membuka mata dan menemani Sang Isteri di saat-saat dia membutuhkan kehadirannya. Jika saja saat ini dia tidak sadar, entah apa yang terjadi dengan Habibah dan kedua anaknya. Wina mungkin saja berhasil membunuhnya dan juga Habibah tanpa jejak tertinggal. Wanita itu sangat berniat ingin menyingkirkan Habibah dan kedua pewarisnya.
Selanjutnya setelah Habibah dan kedua bayinya dibersihkan, mereka lalu ditempatkan pada Ruang yang sama dengan Rizqy.
Keharuan terjadi. Rizqy mengumandangkan adzan di Telinga kanan Bayi pertamanya yang berjenis kelamin perempuan dengan sangat syahdu penuh dengan penghayatan. Setelahnya melantunkan iqomat pada telinga kirinya lalu baru di serahkan pada Habibah yang nampak bahagia menyambut Bayinya.
Lelaki yang baru saja menyandang Ayah itu kembali mengumandangkan adzan pada Bayi keduanya dengan jenis kelamin Laki-laki.
Hatinya sangat bergetar dan diliputi rasa syukur saat berhasil melaksanakan kewajiban pertamanya sebagai seorang Ayah yakni mengumandangkan adzan di telinga setiap bayi yang baru dilahirkan di dunia ini.
Rizqia dan Juna setia mendampingi pasangan Suami Isteri itu dalam diam dan keharuan. Mata keduanya berkaca-kaca dan berusaha menahannya agar tak tumpah. Namun apa yang terjadi? Rizqia tidak sanggup lagi, air mata itu pada akhirnya tumpah ruah saking terharu dengan apa yang di lihat.
Juna juga terlihat sedang menyeka air matanya yang merembes keluar.
Habibah dan Rizqy telah berhasil melewati kesedihan, penantian yang panjang dan perjuangan dengan senyuman indah di akhir cerita. Mereka berdua terlihat bersemangat akan membesarkan kedua buah hatinya dengan limpahan cinta dan kasih sayang.
Juna tertawa lebar saat bertatapan mata dengan Rizqia yang berlinang air mata. Gadis itu pun tergelak dengan sisa-sisa air mata yang masih mengapung di kedua mata Juna yang berbola cokelat itu.
Hahahaha
__ADS_1
***
Bersambung.