
Adrian memandang Rizqy dengan tatapan tak percaya.
"Mungkin hanya akal-akalan Om tua ini saja. Sengaja menulis dua gelar dan Jabatannya agar terlihat keren." Adrian membatin. Dia tertarik dengan Fhoto-fhoto dibalik Folder EO LRA.
Benar saja, terlihat Rizqy sedang mengangkat dan mengatur kursi saat Event Organizer tempat dia bekerja di sewa untuk sebuah acara. Di fhoto yang berbeda terlihat dia bersama pekerja lainnya sedang memasang Terop.
"Tuh, kan! Pria ini pembohong," guman Adrian.
"Siapa Pria yang kamu maksudkan pembohong?" tanya Rizqy. Dia duduk tidak jauh dari Adrian. Karena hanya keheningan yang terjadi, tentu saja suara sekecil apapun masih bisa di dengar.
"Pria yang ada di fhoto ini. Siapa lagi kalau bukan Lalu Rizqy Anggara. Itu nama Om Tua, kan?" jawab Adrian dengan tatapan mengejek.
"Lancang kamu!" ucap Rizqy menggelegar. Dia meraih Laptop yang sedang di gunakan oleh Adrian.
"Saya meminjamkan Laptop ini agar kamu bisa bekerja bukan untuk mengintip file pribadi saya," sambung Rizqy dengan dingin. Dia kemudian beristighfar dalam hati untuk menenangkan diri. Jika tidak ingat kalau dirinya sedang berpuasa. Mungkin saja Pria di hadapannya saat ini berubah menjadi babak belur.
"Ada apa Mas?"
"Suami Kak Oci ternyata pemarah," sahut Adrian mendahului jawaban dari Rizqy.
Habibah memandang Rizqy lalu beralih ke wajah Adrian dengan tatapan gelisah. Wanita itu sangat mengenal Rizqy. Dia tidak bereaksi jika orang lain tidak menganggu apalagi sudah berada di ambang toleransinya.
"Mas Rizqy tidak akan marah jika kamu tidak mengusiknya," ucap Habibah datar.
"Jadi kamu membela Om Tua ini?. Sadar Kak Oci, dia hanya memanfaatkan kepolosan Kak Oci saja. Om Tua ini hanya numpang hidup enak dan tidak mau susah," sahut Adrian kesal.
"Mas Rizqy tidak menyusahkan apalagi numpang hidup. Dia Suami saya, wajar saya membelanya."
Mendengarkan pembelaan dari Habibah membuat Adrian tambah kesal. Dia menatap Habibah dengan pandangan kecewa.
"Kak Oci berubah, sekarang tidak seperti Kak Oci yang aku kenal. Semenjak menikah dengan Om Tua ini, Kak Oci menjadi buta."
Setelah berucap, Bujang itu langsung saja pergi meninggalkan pasangan Suami Isteri itu.
"Wa'alaikumussalam. Loh kok dia nyelonong begitu saja. Memang ya, kemarahan itu berhasil membuat seseorang lupa yang namanya sopan santun," ucap Rizqy geleng-geleng Kepala.
"Sabar, kita yang harus ngalah dan jangan ikut-ikutan panas. Percuma, jangan sampai ibadah kita menjadi sia-sia, hanya lelah yang kita dapatkan," sahut Habibah. Dia tersenyum, tangannya langsung menyodorkan Laptop yang di pegangnya.
"Maksudnya?" tanya Rizqy berpura-pura tidak mengerti.
"Tolong dicek, apanya rusak," jawab Habibah cemberut.
"Wajahnya jangan seperti itu! Pahalanya berkurang entar," ucap Rizqy diakhiri kekehan.
"Lasingan, Mas Rizqy sengaja tidak mengerti maksud dari hati ini. Padahal Mas Rizqy tadi yang meminta diambilin Laptop ini untuk di cek," sahut Habibah sewot.
"Oloh-oloh ngambek, padahal Mas hanya menganggu." Selesai berkata Rizqy mencubit hidung mancung Wanita itu. Sedangkan Habibah kian cemberut. Dia mengelus hidungnya dengan memamerkan wajah yang malu-malu.
Hahahaha
Tawa itu menggema mendampingi Habibah yang kian malu.
"Sini, biar Mas lihat dulu." Rizqy mengambil Laptop itu selepas dia berhasil meredakan tawa.
Dia mulai mengecek apa yang terjadi dengan benda teknologi itu. Setelah beberapa menit memeriksa kerusakannya. Rizqy memandang Habibah dengan wajah gelisah.
"Bibah, Mas nyerah deh! Laptop ini ngambek parah sama seperti Pemiliknya saat ini. Apa kita bawa ke Desa Ganti, ya? bagaimana menurutmu?" tanya Rizqy serius.
"Desa Ganti? kenapa enggak bawa ke Bengkel saja biar direnov hatinya agar tidak ngambek lagi," sahut Habibah serius.
"Ide cerdas."
Selesai berkata Rizqy bangkit dari duduknya. Dia turun dari Berugak sembari menenteng Laptop itu.
"Mas Rizqy mau kemana?"
"Mau ke hatimu," sahut Rizqy serius.
Habibah tergelak mendengar perkataan Suaminya yang terdengar serius. Dia tidak menyangka Suaminya itu pandai bergurau.
__ADS_1
"Udah tawanya? bahagia banget sepertinya?"
"Mas Rizqy, sih? lebay banget," sahut Habibah. Tawanya menggema mengiringi langkah kaki Prianya itu.
"Katanya mau ke hatiku tapi kok malah pergi? Seharusnya mendekat, dong!"
Rizqy menghentikan langkahnya kemudian mengarahkan pandangannya pada wajah Habibah.
"Mas takut khilaf sayang, jadi tunggu nanti malam saja," jawab Rizqy serius. Dia berbalik arah melanjutkan langkahnya menuju ke dalam rumah.
Habibah tersenyum menanggapi apa yang terucap dari Pria tampan itu.
"Mas Rizqy, Mas Rizqy kenapa keren sekali," ucap Habibah sembari mengembangkan senyumnya.
***
Dua minggu telah berlalu. Selama itu Rizqy sudah melakukan banyak hal di Desa. Dia akrab dengan para Nelayan dan beberapa Pemuda. Tidak itu saja, dia benar-benar membantu Habibah mengelola sawahnya. Selain itu Rizqy juga berhasil menanam Pohon di Hutan yang gundul dengan Pohon berbuah.
Rizqy sengaja menanam pohon berbuah agar tersedianya sumber makanan bagi Penghuni hutan. Tentu hal itu berefek pada Masyarakat di sekitar. Karena dengan tersedianya buah-buahan, maka penghuni hutan tidak akan mencari makanan hingga ke pemukiman warga dan juga tidak merusak apa yang ditanam warga. Selama ini warga mengeluh dengan kedatangan penghuni hutan ke lahan pertanian terutama orang hutan dan binatang berbulu Abu-abu. Kehadirannya itu meresahkan Masyarakat. Bagamana tidak! Mereka datang untuk menggagalkan panen dengan merusak tanaman, tidak hanya sekedar melangsungkan hidup.
"Bibah, rasanya berat banget meninggalkan kamu," ucap Rizqy sedih. Dia memperelat rangkulannya.
Saat ini mereka sedang berada di Peraduan untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah.
"Jika berat, bagaimana kalau aku ikut Mas saja?" ucap Habibah berpendapat.
Rizqy menggelengkan kepalanya menolak. Sebenarnya dia sangat ingin Isterinya itu hidup bersamanya dan tidak berpisah. Namun harus bagaimana lagi? demi keselamatan Habibah, Rizqy harus menahan dulu segala keinginannya.
"Tidak sayang, Mas belum mampu menjagamu dengan baik. Bagaimana jika orang tahu identitas Mas? Terus tahu juga kalau kamu adalah Isteri Mas. Itu sangat berbahaya sayang. Mas tidak ingin menempatkan kamu dalam bahaya jika bersama Mas saat ini."
Rizqy menjelaskan alasannya. Habibah memahami itu setelah mengetahui siapa Suaminya. Dia juga tidak mau Suaminya mengkhawatirkannya sehingga tidak fokus dengan misi rahasia yang sedang diembannya.
"Iya Mas, Bibah mengerti," sahut Habibah berusaha bersikap tenang.
"Sayang, bukan itu saja yang menjadi alasan, tapi ada hal lain juga. Mas tidak ingin merusak impianmu untuk kedua kalinya. Mas merasa bersalah karena telah menggagalkan cita-cita kamu. Jika saja Mas tidak melakukan itu dulu mungkin saja saat ini kamu juga sudah menjadi PNS seperti Mas. Maafkan Mas, sayang?" ucap Rizqy tulus. Dia menangkup kedua Pipi itu. Menatap wajah Habibah dengan sangat lekat. Dibalik mata Pria itu tersimpan rasa bersalah. Pedih, itulah yang tergambar dari sinarnya.
"Mas tidak salah, itulah takdir. Lagipula sekarang impianku sudah berubah. Aku hanya ingin mengabdi sama Mas Rizqy. Menjadi seorang Isteri yang baik dan seorang Ibu yang mampu mendidik anak-anak kita." Habibah mengutarakan isi hatinya dan apa yang diinginkannya setelah menjadi seorang Isteri.
"Di Desa ini cita-cita kamu berada dan Mas tidak akan menghentikan langkah itu." Rizqy menyambung kata-katanya setelah ciuman itu berganti elusan di pucuk Kepala.
"Untuk sementara, kita tahan ya sayang demi kebersamaan indah kita pada akhirnya nanti. Mas janji akan menyelesaikan tugas Mas dengan cepat. Kamu juga harus berhasil dengan mimpi itu. Setelah itu baru Mas akan membawa kamu ke Istana kita untuk merajut kebersamaan. Mas janji sayang." Rizqy mengakhiri kalimat panjang dengan senyum. Pada kalimat itu dia menumpahkan janji. Disana bukan hanya sekedar janji, akan tetapi harapan yang ingin di rajut bersama Habibah. Harapan itu adalah kebersamaan yang indah.
Habibah mengangguk menyetujui segala keinginan Suaminya. Toh ini juga untuk sementara waktu. Itu yang ada dalam pikiran Wanita itu.
"Mas akan ke sini pada Jum'at sore untuk mendatangi Garasi dan tentu saja setor tunai," ucap Rizqy setelah keheningan beberapa menit melanda.
"Mas ini!"
Habibah mencubit pinggang Rizqy saking gemas. Dia sudah mengerti arah pembicaraan Suaminya yang berbau dewasa. Pria itu mengaduh menahan kesakitan dengan dilanjutkan tawa.
"Jika pingin, tidak apa-apa kamu yang datang merambat ke Garasi. Diam-diam caranya datang, Mas akan menyambutmu dengan sangat mendamba," lanjut Rizqy.
Melihat senyum nakal Suaminya membuat Habibah kian merana. Jujur diakui, dia belum siap berpisah dengan Pria yang sudah sah menjadi Suaminya itu. Namun keadaan yang menuntut seperti itu, berpisah dan bertempat tinggal berbeda. Mereka harus dipisahkan oleh jarak dan keadaan. Tanpa sadar Habibah menitikkan air mata. Dia tidak sanggup hidup jauh dari Suaminya.
"Kok nangis sayang?"
Dia menyeka air mata yang menetes itu. Semakin di hapus, semakin deras air mata itu mengalir.
"Hikz, hikz, hikz
"Jangan nangis." Rizqy mencium kedua mata yang basah itu secara bergiliran.
"Rasanya asin sayang. Jangan biarkan Betis Suamimu ini bengkak gara-gara terlalu banyak menyerap air mata ini," ucap Rizqy bergurau.
"Mas ini, seperti Ibu hamil saja yang enggak boleh terlalu banyak makan garam, entar kakinya bengkak. Itu sih katanya orang tua zaman dulu."
Rizqy menanggapi kalimat panjang Habibah dengan raut keheranan. Dahinya mengkerut menandakan bahwa dia sedang berpikir berat.
Setelah beberapa menit berpikir, terdengar suara yang sangat lirih. "Iya, kah? Mas penasaran ingin melihatnya. Semoga secepatnya dianugerahi keturunan."
__ADS_1
Habibah tersenyum.
Dia mengamini harapan Suaminya. Meskipun diawali karena rasa penasarannya.
"Aamiin."
Cukup lama mereka mengobrol, tanpa sadar mereka menyatukan diri. Entah siapa yang memulai? Jelasnya, mereka berdua menginginkannya.
Malam syahdu ini, terasa indah bagi sepasang Suami Isteri itu tatkala mereka berdua memadu kasih. Ibadah sudah ditunaikan, selanjutkan mereka menunaikan ibadah lainnya.
Bukankah boleh?.
***
Minggu pagi, Habibah melepaskan kepergian Suaminya menuju Mentaram. Hari ini terakhir cuti, tentu dia harus kembali ke Mentaram untuk beraktivitas seperti hari-hari sebelumnya.
"Sayang, hati-hati. Nanti kalau sudah sampai rumah segera hubungi, ya!" ucap Habibah masih asyik bermanja dalam dekapan Suaminya.
"Siap," sahut Rizqy singkat.
"Jaga hatinya hanya untuk Bibah," lanjut Wanita itu. Kini dia mengurai pelukan. Menatap kedua bola mata teduh itu. Terlihat anggukan sebagai jawaban.
"Iya sayang," jawab Rizqy singkat.
"Kamu juga hati-hati di sini. Jika terjadi apa-apa langsung minta bantuan Tetangga. Satu lagi, ini penting banget. Jaga jarak dengan Adrian." Rizqy berpesan. Dalam hati, dia cemburu dengan keberadaan Adrian. Tidak mungkin Adrian tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan berusaha mengambil kesempatan untuk mendekati Habibah. Merayu dan juga memberikan perhatian agar Isterinya itu luluh.
Namun, Rizqy mempercayai Isterinya. Habibah bukan Wanita gampangan. Dia sangat teguh memegang prinsip hidupnya. Setia dan menjaga kehormatannya sebagai Wanita dan Isteri.
"Iya Mas, tenang saja. Mas harus percaya sama Isteri Mas seperti aku percaya kepada Suamiku Mas Rizqy. Kita sama-sama menjaganya," jawab Habibah meyakinkan Suaminya.
Rizqy tersenyum lega meskipun dalam hati dia sangat berat berpisah dengan Isterinya.
Empat hari ke depan, rasanya sangat berat jauh dari belahan jiwanya itu. Mau bagaimana lagi? tidak mungkin bisa mengikis hari dan melipat jarak agar cepat bersua dengan Kekasih halalnya itu.
Sungguh egois! jika berpisah kita ingin mempercepat waktu agar lekas berjumpa. Sedangkan ketika bersama, kita ingin memperlama waktu agar hari perpisahan itu tak kunjung tiba.
Sebenarnya waktu itu tetap sama hanya momen yang kita hadapi yang membuat terasa berbeda. Hiasi hari-hari dengan sabar dan syukur agar kita bisa melewatinya dengan baik. Kalimat itu seperti mengingatkan Rizqy saat keadaan membentangkan jarak pada tempat yang tak sama.
Rizqy mendaratkan ciuman pada kening Habibah. Setelah puas menikmati perpisahan untuk sementara. Rizqy melangkah menuju Mobil kemudian masuk ke dalamnya.
Secara perlahan Mobil itu meninggalkan halaman rumah Habibah. Kepergian Suaminya dia iringi dengan doa agar senantiasa mendapatkan perlindungan dari Tuhan.
Saat malam tiba.
Apa sebab rindu itu terjadi?
Kita mengingat seseorang dan ingin berjumpa dengannya.
Rindu mendatangkan kegelisahan. Perasaan itulah yang membuat perjumpaan harus terjadi. Bertemu dengannya membuat rasa yang gelisah menjadi lega.
Habibah menulis kalimat panjang yang menggambarkan hatinya. Tak ada Rizqy di sampingnya membuat malamnya terasa sangat sunyi.
Ting
(Mas rindu sayang)
Lumayan, kalimat itu mengobati rasa gelisah pada masing-masing hati.
(Istirahatlah Mas, aku juga rindu)
(Iya, kamu duluan pejamkan mata. Mas akan menemani disini)
(Iya)
Habibah memejamkan mata. Sayup-sayup terdengar suara yang membuat Habibah terjaga.
Praaaaang
(Habibah, suara apa itu?)
__ADS_1
Bersambung.