Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.14


__ADS_3

"Jangan berpikiran kolot, Mas. Kamu itu sudah lama menduda apalagi kamu yang pernah tinggal di luar negeri cukup lama pasti terbiasa dengan yang namanya sek* bebas jadi jangan sok suci, deh!" Lanjut Julaekha dengan senyum sinisnya.


"Saya tidak menyangka Wanita yang terlihat terhormat dan Wanita baik-baik sepertimu ternyata lebih rendah kedudukannya dari Kupu-kupu malam. Apa tidak malu membuka aib di depan Suami?"


Keynand menarik nafas dengan kasar usai mengeluarkan sedikit kemarahannya.


"Apa kamu tidak memiliki sedikit malu? Ah ya, saya lupa kamu sebenarnya tidak memiliki rasa malu itu. Jujur, saya jijik pada diri sendiri karena pernah menjamah tubuh kamu. Meskipun kamu Isteri saya saat ini, tidak sedikitpun ada keinginan untuk menyentuhmu, Julaekha. Coba saja kamu tidak menjebak saya, maka semua ini tidak akan pernah terjadi. Satu lagi, saya memang pernah hidup di Negara yang katanya sangat bebas, tapi saya dan keluarga tahu mana yang sangat di larang oleh agama meskipun kami bukan orang yang religius. Tidak perlu saya jelaskan, kamu bukan orang yang bodoh untuk tidak mengerti seperti apa kehidupan keluarga Ardiaz."


Usai berkata Keynand keluar dari kamar Hotel yang mereka tempati.


"Jangan lari dari kenyataan Keynand. Wanita yang kamu katakan lebih rendah dari Kupu-kupu malam ini adalah Isteri kamu. Apa kamu tidak malu mengatakan itu. Seharusnya kamu memuliakanku dan rendahkan saja Qia yang gila itu karena dia pantas mendapatkan segala caci maki dan hinaan itu."


Keynand masih sempat mendengarkan umpatan kasar dari Isterinya dan barang-barang yang berjatuhan sebagai pelampiasan kemarahan Wanita tersebut.


Keynand memilih meninggalkan kamar yang ditempati Isterinya dan memesan kamar lagi untuk dia tempati. Dia tidak mungkin meninggalkan Julaekha sendiri di Negeri orang. Meskipun dia kecewa dan marah kepada Wanita itu. Dia tetap harus bertanggung jawab karena gelar Nyonya Keynand Putra Ardiaz yang di sandang Julaekha Syarifah. Tentu Keynand tidak mungkin menelantarkannya dan tidak ingin terjadi sesuatu kepadanya. Anggap saja ini bentuk kepedulian sebagai umat Manusia.


Di sinilah dia berada sekarang menyendiri dalam keindahan Kota Paris yang membuat siapapun akan terlena.


Saat ini Keynand merasa terombang ambing tak tahu arah kemana yang harus di tuju. Dia memang tersesat kini dan tidak tahu harus seperti apa menjalani biduk rumah tangganya yang sedari awal sudah cacat. Satu hal yang di ketahuinya sebagai orang yang bertanggung jawab bahwa dia harus mempertahankan keutuhan rumah tangganya, meskipun tidak ada kebahagiaan yang tercipta di dalamnya.


Tuhan memang memperbolehkannya, tapi juga sangat membencinya. Jika ikatan halalnya terputus, maka yang paling berbahagia adalah Setan yang bertugas meretakkan rumah tangga umat manusia. Keynand tentu saja tidak mau itu sampai terjadi. Sebisa mungkin dia akan memupuk kesabaran agar tetap bertahan.


***


Di sisi yang berbeda. Rizqy dan Habibah panik melihat keadaan Qia yang tiba-tiba saja kumat. Mereka berdua sudah membantu dengan membaca Surah Al Baqarah seperti biasanya. Tapi keadaan Qia semakin tak terkendali. Dia semakin kesakitan dan nafasnya tersenggal-senggal.


Gadis itu sempat berkata membuat Rizqy dan Habibah saling pandang tak mengerti.


"Abang Keynand, dia bahagia menyentuh Isterinya. Dia sangat bahagia dan memperlihatkan kebahagiaan dengan mengembangkan senyumnya seperti mengejekku," ucap Qia parau dengan linangan air mata.


Tanpa di ketahui oleh Rizqy dan Habibah, Qia bermain media sosial padahal semua akun media sosialnya di tutup dan juga kartu selulernya sudah di patahkan agar seseorang yang mengganggunya tidak lagi meneror.


Apa mungkin Qia membuat akun baru sehingga melihat postingan pasangan itu yang sedang Honeymoon di Negeri Menara Eiffel berada. Bisa saja Qia ingin melegakan rasa ingin tahunya dengan dunia luar sehingga dengan nama samaran dia kembali aktif di dunia maya. Saat itulah dia menyaksikan Julaekha berpose di bawah ikon terkenal di Paris itu. Wanita itu terlihat sangat bahagia sedangkan Keynand nampak menikmati dengan senyum tipisnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Qia sadarlah."


Habibah mencoba menyabarkan Gadis itu yang keadaannya kian memburuk. Dia menebak hati Qia saat ini sedang terguncang karena menyaksikan Laki-laki yang dicintai menunjukkan kebahagiaannya. Sementara dirinya sedang berjuang mengobati hatinya yang patah dan melawan penyakitnya yang luar biasa sakitnya.


"Abang Keynand menginginkan kebahagiaan itu sehingga wajar saja memilih Wanita yang sehat dan juga sangat cantik."


Terlalu muluk inginnya ternyata. Mana mungkin Laki-laki nyaris sempurna seperti Keynand mau memperisteri Gadis berpenyakitan seperti dirinya. Qia mewajarkan tindakan mantan Calon Suaminya itu dan memilih merelakan saja.


Qia berbisik dalam hati dan mengajak hatinya untuk merelakan saja dari pada harus meratapi.


"Ada Ular datang, dia itu Ular bukan Pemuda tampan."


Qia lagi-lagi berucap sambil memperlihatkan wajah ketakutan.


"Abang Keynand awaaas, pergi dari Wanita itu. Dia itu Ular bukan Ibu Julaekha Syarifah. Aku melihatnya seperti Ular."


Dia melanjutkan dengan mengingatkan Keynand untuk menjauh dari Wanita yang kini telah menjadi Isterinya.


"Bibah hubungi Umi Ika. Qia pasti sedang menceritakan apa yang ada dalam mimpinya. Kita tidak bisa membantu menenangkan Qia seperti malam-malam sebelumnya. Ini pasti orang yang coba-coba ilmu hitamnya sedang menyerang Qia," ucap Rizqy kian khawatir melihat nafas Qia yang semakin tersengal-sengal dan wajahnya kian pucat seakan tidak ada aliran darah di sana.


"Iya Habibah Umi akan segera datang. Jangan berhenti membaca surat Al Baqarah untuk mengusir makhluk itu."


Habibah melanjutkan pesan dari Umi Ika kepada Rizqy agar tetap membaca Ayat-ayat Suci Al-Qur'an hingga Umi Ika datang.


Rizqy memperdengarkan ayat kursi di Telinga Sang Adik agar Qia tetap membacanya meskipun terucap dalam hati. Rizqy yakin Qia mampu mengucapnya dalam hati karena bibirnya sudah terkatup tidak mampu lagi untuk berucap.


Tidak menunggu lama Umi Ika datang bersama suaminya dan juga Rasya yang tanpa sengaja bertemu dengan pasangan Suami Isteri itu yang sedang menuju ke rumah keluar Rizqy.


Saat tengah malam ini Rasya tidak bisa tidur lagi setelah melaksanakan Sholat malam. Dia memutuskan berjalan-jalan di sekitar Pesantren. Di saat itulah dia berpapasan dengan Umi Ika dan Suaminya sehingga memilih untuk ikut.


"Malam ini hawanya terasa tidak nyaman. Semoga saja ini hanya perasaan saja kalau Qia sedang di serang. Kita memang tidak bisa melihatnya tapi kita pasti akan merasakan keberadaannya."


Usai berkata Umi Ika mulai melakukan rukyah dengan membaca Ayat-ayat suci Al-Qur'an bersama Habibah yang menemani di kamar.

__ADS_1


Sementara para Laki-laki beda generasi berada di ruang tamu dengan ikut membaca Al -Qur'an agar senantiasa selalu dalam pertolongan dan perlindungan Tuhan.


"Sakiiiiiiit."


"Sakiiiiiit."


"Pergiiiiii."


Qia berteriak merasakan kesakitan di mata kanan dan kirinya. Dia memberontak dengan sekuat tenaga untuk menghalau tangan Umi Ika. Entah dari mana tubuh lemah itu memiliki tenaga membuat Habibah kewalahan menahan pergerakan Gadis itu.


Qia pada akhirnya terkulai lemas saat apa yang ada dalam tubuhnya tidak mampu untuk memberontak. Dia terlihat mulai tenang dengan nafas yang teratur.


"Alhamdulillah."


Umi Ika mengucapkan hamdalah saat keadaan Gadis itu mulai membaik. Dia merasakan makhluk yang hinggap di mata Qia ada yang sudah tidak sanggup untuk bertahan di sana dan memilih untuk menyerah lalu pergi. Tapi ada saja yang masih tetap bertahan sehingga butuh usaha lebih keras dan tidak putus melangitkan doa agar Tuhan menyembuhkan. Sejatinya Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Sedangkan kesembuhan Tuhanlah yang memiliki kuasa.


Merasa tenang Qia mulai memejamkan mata karena kelelahan yang dia rasakan. Dia merasakan tubuhnya pegal-pegal seakan baru saja mengangkat beban berat.


"Umi terima kasih," ucap Habibah dengan tulus. Dia merasa tidak enak hati karena telah mengganggu waktu istirahat Wanita itu. Bagaimana lagi? dia dan Rizqy tidak berhasil menenangkan Qia seperti malam-malam sebelumnya.


"Sama-sama Bibah. Ini sudah kewajiban Umi untuk berikhtiar menyembuhkan Qia. Semoga saja Tuhan menganugerahkan kesembuhan kepada Qia agar bisa menjalani hari-hari dengan baik," ucap Umi Ika dengan penuh kelembutan dan harapan.


Habibah mengamini pengharapan dari Wanita bercadar itu dengan ikhlas berusaha membantu Qia agar terbebas dari belenggu penyakitnya.


Setelahnya Umi Ika bersama Suami dan Rasya berpamitan setelah dirasa Qia baik-baik saja.


Sepeninggalnya pasangan Suami Isteri itu, Rizqy masuk ke kamar Qia dan melihat keadaan adiknya itu yang terlihat tenang dalam tidurnya.


"Apa mungkin melihat kebahagiaan Keynand membuat Qia tidak mampu menekan rasa sesak itu sehingga membuatnya sangat terpuruk."


Lirih terucap, ada kesedihan terdengar dari bait-bait kalimatnya. Rizqy menatap wajah adiknya dengan penuh kasih sayang.


"Saat inilah yang Mas takutkan. Bisa saja mengikhlaskan kenyataan ini, tapi tidak bisa membohongi diri. Nyatanya Qia sangat terluka melihat orang yang dicintai bahagia bersama orang lain yang seharusnya kebahagiaan itu merupakan miliknya," lanjut Rizqy sendu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2