
"Abang Keynand?"
Rizqia berdiri mematung tak percaya dengan apa yang di dengar dan di lihatnya. Gadis itu tidak mempercayai penglihatannya yang masih jelas dan terang.
"Kak Qia?" panggil Raski terlihat bahagia melihat Rizqia yang masih berdiri mematung di hadapan mereka.
Rizqia masih tak percaya dengan apa yang di dengar dan dilihatnya. Di atas Berugak dia melihat Keynand sedang menatapnya dengan isyarat yang entah. Di sana juga ada Riski yang juga mengarahkan mata ke arah dirinya. Semua pasang mata terpusat mata dirinya yang mematung dengan sebuah Kresek berukuran sedang di tangannya.
"Dek kenapa berdiri di sana? Ini ada tamu ingin bertemu dengan kamu lo, Dek," ucap Habibah terdengar antusias. Dia turun dari Berugak lalu melangkah ke arah Rizqia yang masih tak bergeming. Sentuhan tangan di pundaknya membuat Rizqia kembali dalam kesadarannya. Tadi dia merasa seakan berada di Planet Mars, sendiri dalam keheningan. Terasa, buktinya oksigen sulit sekali menembus paru-parunya.
"Astaghfirullah." Rizqia beristighfar untuk menyadarkan diri dari keterpakuan sesaat.
"Pak Keynand, Pak Hamiz, Dadek Raski," ucapnya kemudian. Sejenak dia berhasil kembali ke Bumi setelah beberapa menit dia merasa berada di Mars.
"Kak Qia?" Lagi, Raski memanggil sembari memperhatikan Gadis yang berdiri di hadapannya.
"Daddy orang yang berdiri di sana Kak Qia, kan?" tanya Raski kepada Keynand.
"Iya itu Kak Qia, rupanya Dadek Raski masih ingat," jawab Keynand dengan antusias.
"Iya Daddy, masih ingat dong," sahut Raski. Bocah itu kegirangan bertemu kembali dengan Rizqia. Terlihat senyumnya mengembang bersama binar-binar bahagia di pelupuk matanya. Sementara Rizqia masih terpaku dalam kediaman. Dia belum percaya dengan penglihatan dan pendengarannya sama sekali.
"Dek dari mana saja?" tanya Habibah melihat penampilan Rizqia yang berantakan.
"Ini Kak, saya dari Hutan. Tadi saya ketemu Pohon Kesambik dan buahnya sudah pada matang, terus saya panjat makanya jadi berantakan gini," jawab Rizqia pada akhirnya tersadar. Dia tersenyum canggung membuat Raski tak berhasil menahan tawanya menyaksikan raut lucu itu
Sedangkan Keynand, Duda tampan itu hanya tersenyum kikuh
"Buah kesambik? Mana saya mau, dong!" ucap Riski sembari menyodorkan tangannya. Bujang itu tak terpengaruh sama sekali dengan suasana canggung yang mengikat dua insan itu. Dia lebih tertarik dengan buah Kesambik yang dibawa oleh Rizqia.
"Mamiq Rari, buah Kesambik itu apa, sih? Emangnya enak ya?" tanya Renia penasaran dengan isi Kresek yang diberikan oleh Rizqia. Keynand juga penasaran dengan buah yang baru di dengar namanya itu, terlihat dia mendekat untuk melihatnya.
"Eh ada buah ini juga, apa sih namanya?" Tanya Riski menunjukkan buah berwarna merah terang.
Rizqia menggelengkan Kepala karena tidak mengetahui nama buah hutan itu. Tadi dia menemukan buah tersebut sebelum menemukan Pohon Kesambik. Dia mencoba buah berwarna merah itu yang rasanya ternyata manis dan sedikit asam.
__ADS_1
Habibah meraih satu bije buah itu lalu mengamatinya dengan seksama. Keningnya mengkerut seperti mencoba mengingat-ingat.
"Buah ini tumben ketemu lagi, sudah langka ini. Kalau orang-orang di sini menyebutnya buah Kelak terus kalau bahasa Indonesianya kita tidak tahu," jawab Habibah kemudian setelah mengingat buah tersebut.
Dulu sewaktu masih kecil dia bersama teman-teman sering berburu buah-buahan yang tumbuh liar di Hutan maupun di lahan pertanian. Ada buah Mureng (blewah yang ukurannya kecil), kenyamplokan, Kesambik, buah Gol atau Bidara dan buah Ketemusan. Sekarang buah-buahan tersebut jarang ditemukan sepertinya sudah mulai langka.
"Buah ini seperti Kelenkeng, tapi rasanya agak asem dan ada rasa manis-manisnya. Seger pokoknya," ucap Keynand mengomentari rasa buah Kesambik yang sedang di makannya.
Renia dan Raski terlihat mencoba kedua buah tersebut. Terlihat mereka menyukai kedua buah langka itu, terbukti mereka saling rebut untuk mendapatkan satu tangkai yang lebat isinya.
"Dulu sewaktu kita masih kecil, kita menambahkan Gula pada buah Kesambik yang sudah di kupas agar tidak terlalu asem," ucap Habibah menceritakan pengalaman masa kecilnya.
Selanjutnya mereka menikmati buah-buahan tersebut diselingi obrolan dan tawa yang penuh keakraban.
"Dek, ajak Kakak Renia dan Dadek Raski ke kamar, gih! Sepertinya mereka butuh istirahat," ucap Habibah setelah obrolan mereka tak terdengar lagi.
Rizqia mengangguk. Dengan patuh dia kemudian menuntun Renia dan Raski menuju kamarnya. Ada canda tawa yang terdengar saat langkah mereka memasuki rumah. Sementara Habibah berpamitan untuk menyiapkan makan siang mereka.
***
"Dingin banget airnya, Ki!" ucap Keynand menenggelamkan kedua Kakinya pada Danau Gumbang.
Buaaaaar
Tak menunggu komentar dari Keynand terlebih dahulu, Riski langsung menceburkan diri lalu berenang ke tengah-tengah danau.
"Emangnya boleh kita mandi di sini? Terus aman, kan? Enggak ada Buaya?" Tanya Keynand sedikit mengeraskan suara karena Riski sudah berada di tengah Danau.
"Aman, kok? Airnya seger banget," teriak Riski menjawab pertanyaan Keynand yang masih duduk di tepi Danau dengan Kakinya terbenam ke air.
"Ayo mandi, Bang!" Ajak Riski melihat Keynand tak beranjak dari duduknya. Keynand menjawab dengan gelengan. Bukan tak ingin menikmati segarnya air danau ini, hanya saja ada rasa sungkan. Dia belum bertemu dengan Rizqi tentu itu membuatnya menahan diri, tidak sopan rasanya main langsung nyebur.
Saat mereka asyik bermain air, terdengar deru Mobil memasuki Pekarangan rumah Habibah. Sudah dipastikan Mobil tersebut milik Rizqy.
Keynand bergegas bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju ke arah rumah Habibah yang jaraknya tidak terlalu jauh.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Terdengar salam menggema.
Habibah menghentikan aktivitas di Dapur. Dia lantas menghampiri Sang Suami setelah membalas salamnya. Diraihnya tangan Imamnya itu lalu mencium punggungnya dengan takzim.
"Katanya kita kedatangan tamu, lagi di mana mereka?" ucap Rizqy bertanya sembari mengelus pucuk Kepala Habibah.
"Iya Mas, Pak Keynand, Dosennya Qia terus sama anak-anaknya Pak Keynand. Katanya, sih Pak Keynand datang ke sini untuk meninjau Tambak Udang yang ada di Desa Madayin, itu lo milik Pak Rian," jawab Habibah memberitahu maksud kedatangan Keynand.
"Terus Pak Keynand sama Dosennya Qia yang bernama Riski sedang ke Danau sementara anak-anak istirahat di kamar Qia." Lanjut Habibah menjelaskan.
"Oh gitu? tak pikir Keynand datang untuk melamar Qia. Atau jangan-jangan dia kangen sama kamu. Berenang di danau sembari meminum airnya," sahut Rizqy datar. Habibah cemberut menanggapi komentar Suaminya itu.
"Mas cemburu?" tanya Habibah. Ada rasa tak nyaman saat Suaminya membicarakan hal ini.
"Tentu, bisa saja Keynand datang sebagai Rahwana atau Arjuna mencari Qia. Kita, kan belum tahu maksud sebenarnya dari kunjungan kerja ini," sahut Rizqy dengan serius. Sejurus kemudian mencubit hidung mancung itu. Rizqy tahu Isterinya itu tidak suka dengan ucapannya. Itu semua hanya dugaan semata sebagai Suami. Tak mungkin Keynand tidak deg-degkan saat bertemu Habibah. Pastilah ada rasa itu karena dia pernah jatuh cinta kepada Habibah.
"Kok serius, Mas bercanda kali! Mas percaya sama kamu dan Mas juga percaya sama Keynand. Dia tidak mungkin meminum air saat menyelam, jorok ah!" Lanjut Rizqy mendamaikan hati Isterinya dengan candaan. Ada kekehan menggema saat tangan Habibah mendarat di lengannya.
Habibah memukul lengan itu dengan lembut lalu mereka berdua memasuki rumah. Obrolan berlanjut sembari tangan kekar itu merangkul pinggang Habibah dengan posesif.
"Mas tidak marah dengan kehadiran Pak Keynand di sini?" tanya Habibah. Ada kekhawatiran di hatinya jika ternyata Rizqy masih menyimpan amarahya itu.
Bersambung.
Kira-kira seperti ini visual Keynand Putra Ardiaz. Semoga suka tapi jangan di khayalin ya? bukan mahrom hehehehe.
Rizqia
Hamizan Riski
__ADS_1
Buah Kelak