
Keynand meneliti Laporan yang kini hadir di hadapannya. Wajah Duda tampan itu seperti buah Sentul yang sepet, pekat dan mengandung banyak getah serta berkulit berwarna Cokelat. Sungguh tidak sedap di pandang mata.
Sementara para petinggi Hotel Ardiaz Mentaram menatap Direktur utama itu dengan Jantung terpompa begitu cepat sekaligus menampilkan kecemasan pada raut masing-masing.
"Laporan apa ini? apa Hotel Ardiaz sedang menggaji Pegawai yang tidak profesional?" ucap Keynand serius. Dia menatap wajah para Petinggi dengan tatapan tajam. Ada kemarahan yang berusaha di kendalikannya.
"Selesaikan masing-masing Laporan dalam waktu 30 menit. Jangan kalian bekerja untuk membuat Hotel Ardiaz bangkrut. Kalau terus-terusan kalian salah membuat maka besok Hotel Ardiaz Mentaram akan saya tutup dan silahkan angkat Kaki dari Hotel Ardiaz jika kalian tidak becus bekerja," ucap Keynand terdengar tegas dan tak ingin di bantah. Dia sangat marah dengan apa yang terjadi di Hotel Ardiaz Mentaram. Ada penyelewenang dana, ada diskriminatif dan ada keangkuhan dari para Petinggi Hotel Ardiaz Mentaram. Mereka telah merubah kebijakan yang di tetapkan oleh Pemilik Hotel Ardiaz dengan kebijakan semaunya.
"Satu lagi, saya tidak ingin mendengar lagi adanya kata-kata hinaan kepada Pegawai yang menduduki Jabatan terendah. Jangan kalian menjadi mentang-mentang. Apa kalian pikir seorang OB/OG, House Keeping serta Tukang Kebun adalah Profesi yang hina. Apa kalian lupa Allah itu Al Quddus, Al Jamil. Apa kalian lupa kebersihan itu adalah bagian dari Iman. Jika tidak ada mereka lantas siapa yang akan mengerjakan tugas mulia itu. Jangan karena Jabatan tinggi maka boleh menghina mereka. Apa kalian tidak sadar, mungkin saja profesi mereka lebih mulia di hadapan Tuhan sementara kalian tak menilai apa-apa. Lantas apa yang dibanggakan?"
Keynand meluapkan kemarahan. Bukan tanpa bukti dia mengetahui kejadian-kejadian tak mengenakkan di Hotel Ardiaz Mentaram. Dia melihat dan mendengar dengan mata dan telinganya sendiri. Sungguh kejadian ini membuatnya sangat murka.
"Bagi merasa telah melakukan kesalahan di Hotel Ardiaz, silahkan mengajukan pengunduran diri sebelum saya menyeret anda dengan kedua tangan ini. Kita tidak mau Hotel Ardiaz Mentaram memberikan Rezeki untuk orang yang angkuh dan tak menghargai orang lain." Keynand kembali berkata dengan kata-kata penuh penekanan.
Sedangkan para Pegawai yang memegang Jabatan hanya tertunduk diam mendengarkan kemarahan dari seorang Keynand. Mereka tak menyangka Direkturnya yang terkenal ramah dan juga suka bercanda ternyata bisa semarah ini.
Keynand menghela nafas. Kemarahannya membuatnya kehilangan Tenaga. Dia beristighfar dalam hati untuk menenangkan pikiran kalutnya. Dia berusaha mengendalikan diri dari kekesalan. Saat dia tenang kembali, Keynand kembali melanjutkan Meeting. Kali ini dia memberikan petunjuk kepada Pegawainya.
Beberapa Jam mereka Meeting, Keynand mengakhiri Meeting dengan penekanan agar mereka menyelesaikan Laporan masing-masing Divisi. Dan dalam waktu satu jam ke depan Laporan tersebut harus ada di Meja kerjanya.
Keynand melangkah keluar dari Ruang Meeting. Dia memilih menenangkan diri di Masjid yang ada di sekitar Hotel.
***
Selesai Shalat Dzuhur, Keynand kembali ke Hotel Ardiaz Mentaram. Dia menempati sebuah Kamar dan memilih untuk mengistirahatkan raganya disana.
"Honey, aku bertemu seorang Gadis yang bernama Habibah kemaren sore. Dia tidak cantik sepertimu tapi wajahnya sangat lembut, teduh dan keibuan. Mas tertarik kepadanya. Mas rasa, dia Gadis yang tepat menjadi Ibu sambung Anak kita Raski. Mas percaya dia Gadis yang Soleha dan akan menyayangi Anak kita dengan baik."
Keynand berbicara dengan Fhoto Mendiang Isterinya yang berada di Handphone. Duda tampan itu tersenyum menatap wajah Ibu Raski yang terlihat sangat cantik. Wanita yang sangat dicintainya itu.
Keynand teringat pertemuannya dengan seorang Gadis manis kemaren sore. Saat itu dia sedang asyik mengecat tembok Hotel Ardiaz yang ada Mentaram.
"Mas awas tangganya goyang, nanti jatuh."
Seorang Gadis berteriak, dia segera menghampiri lalu menahan tangga itu agar tidak oleng. Keynand yang sedang berada di atas seketika itu berusaha menyeimbangankan tubuh. Untungnya Gadis itu berhasil memegang tangga dan berusaha menegakkan tangga dengan kedua tangannya.
"Makasih mbak," ucap Keynand saat dia sudah berada di bawah.
"Sama-sama Mas, untung saja Masnya enggak jatuh tadi. Kalau jatuh, bodynya mungkin saja rasanya remuk," sahut Gadis manis berhijab hitam.
__ADS_1
"Benar banget, bisa-bisa mbaknya yang jadi tukang urut jika itu terjadi. Ah sayang sekali," sahut Keynand terkekeh. Dia menggaruk tengkuknya begitu menyadari perubahan wajah Gadis itu.
"Maaf, tadi hanya becanda," ucap Keynand meralat. Dia melirik wajah manis yang sedikit menunduk. Ada getaran aneh ketika melihat wajah lembut itu. Keynand tanpa sadar sangat menikmati wajah Gadis di hadapannya. Wajah biasa itu berhasil memikatnya.
"Oh."
Setelah berohria, Gadis itu beranjak pergi meninggalkan Keynand yang tak tahu harus berkata apa. Kalimatnya seakan rekat oleh kebengongan. Dia tersadar saat Gadis itu sudah berjarak jauh dari hadapan.
"Eh iya, nama kamu siapa? tinggal dimana? saya Keynand," ucap Keynand sedikit berteriak.
"Saya Habibah Rosy, dari Desa Gumbang. Saya permisi Mas, Assalamualaikum," sahut Gadis itu yang ternyata Habibah. Dia melemparkan senyum manisnya lalu berbalik meninggalkan Keynand yang terpaku.
"Habibah Rosy, nama yang unik seunik dirinya," guman Keynand masih memandang raga yang kini semakin jauh.
"Aku akan mengejarmu Habibah Rosy," guman Keynand sembari membentuk tangannya seperti Pistol lalu membidik Tubuh Habibah yang kian menjauh.
"Doooor, kena deh!"
Keynand tersenyum jika mengingat pertemuannya dengan Gadis bernama Habibah itu. Pertemuan singkat namun sangat berkesan. Entah kenapa dia langsung begitu saja terpikat dengan Pesona yang tidak cantik. Ada sesuatu yang berbeda pada diri Gadis itu yang membuat hatinya bergetar. Senyumnya manis sekali? Ah, mengapa secepat itu ada desiran. Keynad tak mengerti mengapa.
Dia kembali melihat Habibah di Restaurant saat menikmati makan malamnya. Sendiri tanpa siapapun. Keynand merasa beruntung memiliki peluang itu. Dia tak ingin tergesa-gesa karena itulah dia cukup menikmati paras Gadis itu dari kejauhan. Saat ingin menyapa, panggilan itu menghalanginya. Dia memilih menerima panggilan dari Jessi yang entah apa maunya. Setelah dia berhasil memberesi Wanita itu. Dan ketika itu pula Habibah tak nampak dalam pandangannya.
"Maaf Pak, tidak ada yang menginap atas nama Habibah Rosy," jawab Resepsionist setelah mengecek data tamu di Hotel.
"Coba di cek lagi, dia masuk kemaren sore terus semalam juga dia makan di Restaurant. Itu artinya Gadis bernama Habibah Rosy merupakan tamu di Hotel ini." Keynand meminta Resepsionist untuk mengecek kembali apa ada tamu yang bernama Habibah Rosy.
Resepsionist kembali mengecek data yang masuk di Sistem komputerisasi milik Hotel Ardiaz. Semakin diteliti semakin tak menemukan nama yang disebut Keynand.
"Apa mungkin dia salah satu peserta pelatihan. Jika memang dia Peserta pelatihan maka namanya tidak terdata di Sistem. Melainkan menggunakan nama Instansi yang menyelenggarakan Pelatihan tersebut. Disini ada tiga instansi yang sedang mengadakan Pelatihan. Gadis itu mungkin saja mengikuti salah satu Pelatihan yang diselenggarakan disini. Apa Pak Keynand tahu, mbak Habibah ikut pelatihan yang mana?" Resepsionist itu menjelaskan kenapa nama Habibah tidak terdata di Sistem padahal dia merupakan Tamu yang menginap.
Keynand menggelengkan kepala tak mengetahui Habibah Rosy mengikuti Pelatihan yang mana. Dia saat itu yakin saja kalau Habibah hanya tamu biasa. Dia pasti akan meninggalkan data dirinya di Hotel Ardiaz. Jadi Keynand takkan kesulitan mengetahui identitasnya. Nyatanya dia kehilangan jejak.
"Jadi begitu, terima kasih," ucap Keynand parau.
***
Habibah terbangun, dia merasakan tenaganya kembali normal. Gadis itu tersenyum mengingat apa yang dilakukan bersama Pria yang masih terlelap di sampingnya. Dia membalikkan tubuhnya menghadap wajah Rizqy yang menghadap ke arah kanan. Meskipun tubuhnya terasa sakit, Habibah sangat menikmatinya.
Dia meneliti wajah tampan itu, wajah yang sangat di rindukan selama ini. Kini dia berada di samping Pria itu. Menatap sebebas yang dia mau. Bahkan dia mempersembahkan Kegadisannya untuk dinikmati oleh Pria ini.
__ADS_1
Apa dia menyesal? dia tidak tahu apakah dia menyesal nantinya. Kini yang Habibah tahu, dia sangat mencintai Pria bernama Lalu Rizqy Anggara. Dia memilih memaafkan dari pada harus membencinya. Karena kenapa? karena cinta yang sangat dalam dan terlanjur bertahta di hatinya. Cinta yang dimiliki tak sedangkal luka dan kesakitan yang dirasakannya. Dia memilih kembali bersama Rizqy dan melupakan apa yang pernah di lakukan Pria itu.
"Hem, kamu sudah bangun sayang?"
Rizqy terbangun karena merasakan elusan lembut di bibirnya. Dia memandang wajah Habibah dengan pancaran penuh cinta. Setelah lima tahun berlalu ternyata hanya Habibah satu-satunya yang ingin dilihat tatkala membuka mata usai terlelap.
"Iya Mas, sudah Dzuhur. Kita Shalat setelah itu baru kita makan. Aku sangat lapar setelah Mas membantai aku habis-habisan," sahut Habibah sedikit cemberut.
"Hahahahaha."
Rizqy memperdengarkan tawanya. Dia mencubit gemas pipi Habibah yang mulus itu. Rizqy merasa baru kali ini dia tertawa lepas setelah lima tahun berlalu. Dia selama ini hanya terdiam dengan senyum tipis yang senantiasa menghiasi wajahnya yang kaku.
"Tapi kamu suka, kan? apa pingin lagi?" tanya Rizqy menggoda Wanita itu.
"Maunya Mas Rizqy saja, tidakkah menyisakan untuk nanti malam. Aku enggak mau sampai Dzuhur hari ini berlalu," ucap Habibah menolak.
"Iya, iya. Mas mandi dulu. Tapi kamu jangan pergi, pergi lagi ya? Mas ingin kamu selalu berada di samping Mas," ucap Rizqy sebelum beringsut dari Ranjang.
"Iya Mas, Habibah janji," sahut Habibah sembari mengacungkan tangan membentuk V.
"Mas pegang janji kamu."
Cup
Setelah berkata, Rizqy kemudian mengecup bibir merah jambu milik Habibah.
"I Love You My Wife," ucap Rizqy tulus sejurus kemudian mengedipkan matanya.
Habibah tertawa melihat kedipan yang menurutnya sangat lucu.
"Iya, I Love You My Husband."
Bersambung.
Maaf ya kemaren enggak Up karena enggak enak badan.
Silahkan Like, komentar, vote dan dukungannya.
Saya mengucapkan terima kasih untuk semua teman-teman yang setia menunggu Up selanjutnya.
__ADS_1