Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 16


__ADS_3

Pagi hari seperti biasa, keluarga Reynand sedang menikmati sarapannya. Lika, Wanita itu tengah asyik menyuapkan makanan untuk Raski sementara Reynand menyuapkan makanan untuk Renia. Suami isteri itu dengan telaten membantu anak-anaknya untuk menghabiskan makanan mereka. Sesekali mereka juga menyuap makanannya.


Sementara Keynand, Duda tampan itu hanya menikmati pemandangan di hadapannya. Dia ingin merasakan kembali kehangatan keluarga yang pernah dia rasakan dulu bersama Mega.


Reynand yang tengah sibuk dengan Renia, dia melirik Duda tampan itu. Dia mengerti arah mana pikiran Pria itu bermuara.


"Jadi kamu ke Hotel Ardiaz Mentaram?" tanya Reynand di sela makan mereka.


"Jadi Bang, Abang sendiri yang menghukum saya untuk mengecat tembok Hotel Ardiaz," sahut Keynand setelah selesai mengunyah.


"Kapan?"


"Besok hari Minggu, kalau sekarang saya mau mengajak Raski ke Hotel Ardiaz induk sekalian jalan-jalan," sahut Reynand.


"Kebetulan sekali, saya dan Lika rencananya mau ke Rumah sakit sekalian ngajak Renia juga."


"Mau ngapaen Bang?"


"Mau mengecek kesehatan, Kakak Ipar kamu ngeluh kurang sehat, jadinya Abang khawatir sama dia," sahut Reynand. Pada wajahnya terlihat sekali kekhawatiran dengan kondisi kesehatan Sang Isteri.


Lika yang menjadi topik pembicaraan hanya terdiam. Dia masih sibuk menyuapkan makanan untuk Raski.


"Udah Bu," ucap Raski tidak mau menyuap makanannya lagi.


"Sudah ya sayang? ternyata perut Dadek kecil, ya?. Muatnya hanya beberapa sendok. Kalau gini cara makan Dadek kapan besarnya." Lika berucap sembari membersihkan sisa makanan yang menempel di bibir Raski.


"Enyang Bu," sahut Raski sembari memegang perutnya. Dia menampilkan senyum berhias lesung pipit membuat orang yang memandangnya jatuh hati.


"Gemeees," ucap Lika mencubit Pipi itu.


"Kamu sakit apa, Ka?" tanya Keynand disela obrolan Lika dan Raski.


"Ibu sakit? sakit apa? Renia pijetin ya?" ucap Renia langsung bergerak ke arah Lika. Dia segera memijet tubuh Ibunya dengan penuh perhatian. Tentu saja perhatian kecil Putrinya membuat Lika terharu.


"Sayang, Ibu enggak apa-apa. Ibu hanya sedikit lemah dan pusing, ini karena Ibu kecapekan. Istirahat sebentar saja, body pasti seger lagi. Ayah Kakak saja yang lebay," sahut Lika lembut. Dia meraih tubuh Putrinya lalu menempatkan dalam pangkuannya.


"Sayang, jangan meremehkan penyakit. Mas enggak mau terjadi sesuatu sama kamu. Muka kamu pucat gitu, bilangnya enggak apa-apa," ucap Reynand nampak khawatir.


"Iya Mas, Lika ke Rumah sakit deh," sahut Lika pasrah.


"Nah gitu, nurut. Mas seneng jadinya." Reynand mengelus pucuk kepala Isterinya penuh perhatian. Setelah puas baru beralih ke Renia dan Raski.


"Kita samaan, sekalian saya mau memperkenalkan seorang teman," ucap Keynand mengalihkan kemesraan keluarga itu. Dia terganggu melihat kemesraan di pelupuk mata. Sebenarnya Bukan terganggu tapi kecemburuan yang sedang mendominasi.


"Siapa? cewek, Bang?" tanya Lika penasaran.


"Iya, teman lama namanya Jessi. Abang baru bertemu beberapa hari yang lalu terus mengajak Hangout bareng. Iya sudah sekalian mengajak Raski berkenalan dengan Jessi. Siapa tahu saja Raski suka sama Jessi," sahut Keynand menjelaskan.


"Kamu sudah jadian sama Gadis itu?" Reynand bertanya. Dia penasaran juga dengan Gadis bernama Jessi. Baru kali ini Keynand menanggapi seorang Gadis. Menurut cerita yang dia dengar dari Lika, semenjak kepergian mendiang Isterinya, Keynand tidak terlihat dekat dengan Seorang Wanita selain Lika dan Fitri.


"Belum, masih penjajakan. Kalau Jessi cocok dengan Raski dan Jessi menyayangi Raski dengan tulus, mungkin saja saya mempertimbangkannya," sahut Keynand serius.


"Bagus, harus benar-benar diperhatikan. Jangan sampai Jessi hanya menyukai kamu tapi tidak dengan Raski. Wanita seperti itu tidak layak dijadikan Isteri," sahut Reynand mengingatkan.


"Betul itu Bang, bagaimana kalau Lika menyelidikinya," ucap Lika melibatkan diri dalam pembicaraan.


"Kumat deh, pingin banget menjadi detektif gadungan," sahut Keynand terkekeh.


"Yeee,, meskipun gadungan tapi handal," timpal Lika tak terima.


Keynand dan Reynand tertawa menyaksikan wajah Lika yang cemberut.

__ADS_1


***


Sementara itu Habibah sedang menikmati pantai Kuta Lomboq. Keadaan kawasan Kuta pada hari Sabtu tidak seramai hari Minggu. Dia memutuskan untuk jalan-jalan ke kawasan Mandalika sekedar menyegarkan pikirannya. Di Desanya ada Pantai dan setiap hari melihat Pantai. Namun Pantai di wilayah Putri Mandalika berbeda dengan pantai yang berada di Desanya. Di Desa pasir dan bebatuannya berwarna Hitam sedangkan di kawasan Mandalika pasirnya berwarna putih dan pasir disana disebut pasir merica yang ukurannya memang lebih besar dari pasir pada umunnya.


Habibah memutuskan berjalan-jalan ke kawasan Pantai selatan sebelum mengikuti Pelatihan. Dia ingin menjajal jalanan baru yang baru di buka. Jalan tersebut menghubungkan Bandara Bizam dengan kawasan Sirkuit Internasional Mandalika. Di jalan tersebut, kita melewati sebuah bukit yang dibelah untuk jalanan tersebut bernama Bukit menangis. Pada bukit itu mengeluarkan tetesan air yang keluar dari sela-sela bukit. Aliran air sangat kecil, persis seperti manusia yang sedang menangis sehingga Masyarakat disana menyebutnya Bukit menangis.


Saat sedang asyik menikmati pemandangan laut. Netra Gadis itu menangkap Sesosok anak kecil yang terseret ombak. Bersamaan itu juga teriakan pengunjung memberitahu.


"Ada anak terseret ombak."


Tanpa berpikir lagi, Habibah melepaskan Tas dan sendalnya. dia berlari sekencangnya menuju anak kecil yang terombang ambing oleh ganasnya ombak tersebut. Anak kecil itu berusaha melawan ombak. Namun dia tidak mengerti bagaimana caranya menyelamatkan diri. Habibah dengan cepat berenang kemudian menarik tubuh kecil yang terombing ambing di Pantai.


Habibah berenang menuju ke arah anak kecil itu dan berhasil meraih tubuhnya. Dengan cepat dia berenang ke tepi sembari membawa tubuh anak kecil yang sudah tidak sadarkan diri.


"Alhamdulillah." Terucap lantunan syukur dari beberapa pengunjung yang melihat Habibah kembali dengan menggendong anak kecil tersebut.


"Mbak ini tas ranselnya, bawa langsung ke rumah sakit Ardiaz," ucap seorang Ibu sembari menyodorkan Tas ransel milik Habibah. Habibah mengangguk dengan cepat meraih Tas Ranselnya. Dia segera mengikuti seorang Bapak yang bersedia memberikan boncengannya.


Sesampainya di Hotel Ardiaz, Habibah langsung meminta bantuan Perawat yang ada disana.


"Tolong Sus, anak ini pingsan karena tenggelam di Pantai," ucap Habibah merebahkan tubuh anak kecil itu di Brankar yang tersedia.


"Innalillahi, anak kecil ini Raski, Putra dari Keynand Putra Ardiaz," ucap seorang Wanita ber jas putih yang di pastikan bahwa dia seorang Dokter.


Begitu mendengar nama Keynand disebut. Tanpa berpikir lagi, Perawat dan Dokter segera membawa Anak kecil bernama Raski itu menuju sebuah ruang pemeriksaan.


"Mbak yang membawa Dadek Raski ke sini?" tanya Wanita tadi. Habibah hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Mbak tunggu disini, biar bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," ucap Wanita ber jas putih itu menahan Habibah di tempat. Setelah berkata, dia mengambil Handphone dari Saku Jas putihnya.


(Assalamu'alaikum, Dek Lika lagi dimana?)


(Masih di Apotik Mbak Dokter.)


(Innalillahi, iya mbak saya sama Mas Reynand segera kesana).


Selesai mengucapkan salam, Dokter tersebut mengakhiri panggilannya. Sedangkan Habibah dirundung tanya, "Siapa Keynand Putra Ardiaz? kenapa Para Dokter dan Perawat disini langsung bergerak dengan gesit begitu mendengar nama Keynand Putra Ardiaz. Apakah dia Aktor atau Pejabat. Apakah dia orang yang sangat penting?"


Habibah hanya terdiam menanti jawaban akan tanyanya. Dia penasaran dengan nama yang disebutkan oleh Dokter Wanita yang ada di hadapannya. Wanita tersebut memintanya tak meninggalkan tempat.


Tidak berselang lama, datang seorang Wanita berhijab dengan seorang Pria serta Gadis kecil yang ada dalam gendongan Pria tersebut. Raut kecemasan nampak pada wajah keduanya.


"Mbak Dokter, apa yang terjadi dengan Dadek Raski? kemana Abang Keynand? bukannya Dadek Raski bersama Daddynya dan Mbak Jessi, ya?" tanya Lika bertubi-tubi kepada Dokter Wanita yang ternyata Dokter Vidya. Dokter Vidya hanya menggelengkan Kepala tak mengerti apa yang sedang terjadi.


"Bagaimana keadaan Dadek Raski?" tanya Reynand melanjutkan, dia melihat tak ada satu pun yang menjawab pertanyaan Isterinya.


"Dadek Raski sedang ditangani oleh Dokter. Saya juga sudah menghubungi Dokter Reza. Dia sepertinya sudah ada di ruang pemeriksaan," jawab Dokter Vidya.


"Alhamdulillah, kalau begitu kita tunggu saja, semoga Dadek Raski tidak kenapa-kenapa" ucap Reynand berharap. Serempak yang mendengarkannya mengamini.


"Sayang, tidak terjadi apa-apa dengan Dadek Raski, Insyaa Allah. Dadek Raski, Putra kita sangat kuat," lanjut Reynand kepada Lika. Dia mengelus pucuk kepala Isterinya lembut penuh cinta.


Habibah yang melihat kemesraan yang terjadi di depan mata merasa bahagia. Dia melihat cinta pada kedua netra Pria itu kepada Wanita berkulit putih yang terlihat cantik dengan hijabnya. Habibah sangat tertarik dengan pasangan itu. Yang menarik perhatiannya karena melihat Pria itu berwajah buruk rupa sedangkan Wanita itu berparas cantik. Namun tidak menjadikan hal tersebut jomblang, malah terlihat serasi. Tampak jelas pancaran cinta yang tulus pada keduanya saat mereka bertatapan.


"Lupa, kenalkan mbak ini yang menolong Dadek Raski," ucap Dokter Vidya setelah mengingat bahwa dia bersama orang lain yang berada di sampingnya.


Lika mengamati Gadis itu dengan senyuman hangat. Dia segera menghampiri lalu merangkul tubuh basah itu.


"Makasih, sudah menolong Putra kami. Kalau tidak ada mbak, mungkin saja kita akan kehilangan Dadek Raski," ucap Lika tulus.


"Iya mbak sama-sama. Kebetulan saya ada disana, dan juga karena pertolongan Tuhan sehingga saya bisa melakukannnya. Saya hanya perantara yang diberi kemampuan dan petunjuk untuk menyelamatkan Putra kalian," sahut Habibah tulus. Dia mengangguk menerima ucapan terima kasih dari Wanita cantik itu.

__ADS_1


"Oh ya lupa berkenalan, saya Lika dan ini Suami saya," ucap Lika setelah mengurai rangkulannya.


"Habibah Rosy," jawab Habibah menjabat tangan Lika sementara Reynand mengatupkan kedua tangannya sembari menyebut namanya, "Reynand."


"Astaghfirullah, Pakaian kamu basah. Itu pasti karena kamu tadi berenang menyelamatkan Dadek Raski. Mbak harus ganti Pakaiannya kalau tidak mbak nanti sakit setelah ini mbak harus melakukan pemeriksaan. Takutnya terjadi apa-apa dengan mbak Habibah. Sebentar saya ambil baju ganti untuk mbak Habibah," ucap Lika tak putus-putus. Dia segera melangkah dengan tujuan Mobil karena baju yang ingin diberikan Habibah ada disana.


"Biar Mas saja yang mengambilnya. Kamu tunggu disini saja." Reynand mencegah langkah Kaki Lika. Dia menurunkan Renia, lalu Gadis kecil itu mendudukkan diri. Renia tidak banyak bertanya seperti biasanya karena mengerti apa yang sedang terjadi.


"Sebentar ya Habibah," ucap Lika.


"Iya mbak Lika, tenang saja saya tidak apa-apa kok! saya sudah terbiasa bermain dengan air," sahut Habibah jujur. Dia sangat terharu dengan pasangan Suami Isteri ini. Habibah bisa menebak kalau Reynand dan Lika bukan orang sembarangan. Mereka termasuk dari kalangan kaya raya. Namun terlihat biasa, keduanya nampak sederhana, bersahaja dan baik.


Lika tersenyum dengan pernyataan Gadis manis di hadapannya. Dia berpikiran bahwa Gadis bernama Habibah ini seorang Atlet renang sehingga sudah terbiasa dengan hal itu.


Tidak menunggu terlalu lama, Reynand kembali dengan Paper bag di tangannya. Dia menyerahkan Paper Bag tersebut kepada Lika lalu duduk di samping Renia.


"Ini mbak, ganti dulu pakaiannya. Ini belum dipakai jadi aman, semoga saja cukup di badan mbak Habibah," ucap Lika menyodorkan Paper bag tersebut.


Habibah mengambil selanjutnya berpamitan untuk mengganti pakaiannya.


Tidak butuh waktu lama, Habibah kembali dengan Pakaian keringnya. Dia langsung di minta untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Lika khawatir terjadi sesuatu dengannya sehingga meminta untuk memeriksa kondisi fisiknya. Usai melakukan pemeriksaan beberapa menit, Habibah kembali ke ruang tunggu.


"Bagaimana Mbak?" tanya Lika.


"Alhamdulillah sehat," jawab Habibah sembari mengepalkan kedua tangannya di samping telinganya.


"Alhamdulillah."


"Mbak Habibah, sekali lagi terima kasih karena telah menolong Dadek Raski. Bagaimana cara kami membalas kebaikan mbak. Apa yang mbak butuhkan di utarakan saja, Insyaa Allah kami akan mencoba untuk memenuhinya. Tidak cukup dengan hanya sekedar berterima kasih saja," ucap Reynand terlihat serius. Dia berpikiran untuk membalas kebaikan Gadis itu. Dia bingung harus membalas seperti bentuk apa? jika memberikan sejumlah uang, takutnya menyinggung perasaannya. Reynand bisa menilai kalau Habibah adalah sosok yang baik tanpa pamrih.


"Tidak usah membalas dalam bentuk apapun. Saya ikhlas melakukannya tanpa mengharapkan apapun. Jangan jadikan apa yang saya lakukan memudarkan pahala karena membicarakan balas jasa," sahut Habibah tulus. Dia memang tidak ingin mendapatkan imbalan karena sudah menolong anak kecil bernama Raski.


"Mbak baik sekali, semoga Tuhan membalas kebaikan mbak," ucap Lika terkagum.


"Aamiin."


"Dadek Raski itu Putra berharga Abang Keynand. Dia akan melakukan apapun untuk Putranya itu. Apalagi mbak sudah menolongnya, jika mbak meminta seluruh harta Abang Keynand maka dia akan memberikannya tanpa berpikir lagi. Hanya Dadek Raski, cinta yang ditinggalkan mendiang Isterinya. Ibu Dadek Raski meninggal saat melahirkannya. Dia piatu, tidak memiliki Ibu hanya memiliki Daddynya saja. Karena sangat cinta dengan Putranya hingga sekarang Abang Keynand belum menikah." Lika menceritakan perihal Raski, seberapa berharga dan pentingnya Raski di keluarga Ardiaz dan Hasan serta dalam kehidupan Keynand. Dia melihat ketulusan pada diri Habibah dan berharap Gadis itu menjadi Ibu sambung untuk Raski.


Reynand membenarkan ucapan Isterinya. Dalam hatinya dia bertanya "Apa mbak belum menikah? bagaimana kalau mbak menjadi Ibu sambung Dadek Raski?"


Belum saja mengutarakan hal itu, Reynand melihat cincin melingkar pada jari manis Habibah. Cincin itu memusnahkan harapan Reynand menjadikan Habibah sebagai bakal calon untuk Keynand. Bersamaan itu pula Dokter membuka Pintu dan memperlihatkan Sosoknya.


"Bagaimana keadaan Dadek Raski, Dokter?" tanya Lika memburu Dokter itu dengan jawaban.


"Alhamdulillah, Dadek Raski tidak apa-apa. Untungnya Putra kalian segera di tolong sehingga tidak terlalu banyak menghirup air laut," jawab Dokter menjelaskan.


"Alhamdulillah," ucap mereka serempak.


Mereka semua menjenguk Raski yang masih tertidur. Habibah juga menyempatkan diri untuk melihat keadaan Raski sebelum berpamitan.


Setelah beberapa menit Habibah menemani bocah tampan itu, dia berpamitan karena ada urusan di Mentaram. Lika memberikan nomor Handphonenya. Lika berpesan kalau membutuhkan apapun, keluarga Ardiaz dan keluarga Hasan dengan tangan terbuka menyambut kehadiran Habibah.


Saat Habibah berjalan menuju Pintu keluar, dia berpapasan dengan Keynand yang terlihat khawatir dan cemas. Dengan langkah cepat, Pria itu menuju tempat Putranya di rawat. Habibah sempat memperhatikan paras tampan itu dan kemana arah Kaki itu melangkah.


"Apa dia yang bernama Keynand Putra Ardiaz, Daddynya Raski? tampan!" ucap Habibah memperhatikan Sosok itu yang masuk ke ruang tempat Raski di rawat.


"Naksir ya? naksir juga tidak apa-apa. Dia Duda dan kamu Gadis, tidak ada masalah, kan? Duda keren dan tajir, yang pastinya hot."


"Ngaco, siapa yang naksir? saya hanya mengagumi ciptaan Tuhan. Emangnya enggak boleh? dilarang gitu mengagumi ketampanan seorang Pria. Kagum bukan berarti naksir kali!"


Habibah berdebat dengan pikirannya. Dia membatah jika dia jatuh hati pada Sosok Keynand. Nyatanya dia tidak merasakan getaran halus dan tanda-tanda menyukai seseorang. Rizqy, Pria itu masih menguasai jalan pikirannya dan dia tidak membatah bahwa Rizqy masih bertahta di hatinya meskipun luka dan kecewa menyelimuti hati itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2