
Setelah berpamitan dengan diiringi doa. Mobil yang dikemudikan Keynand secara perlahan keluar dari perataran rumah Reynand.
Mobil itu melaju ke arah Mentaram karena mereka memilih jalur utara dari pada jalur Lombok Timur. Berdasarkan Peta, Desa Lobe-lobe terletak paling ujung Timur dan berbatasan dengan bagian Utara dari Pulau Lomboq.
Biasanya orang-orang di sini kalau ke arah sana selalu menyebut Bedaye artinya Utara. Belauk artinya Lomboq bagian Selatan dan jika ke Kota di sebut Beteben.
Mobil Keynand melaju dengan kecepatan sedang. Mobil tersebut terlihat melewati jalan raya pusuk dan tidak memilih jalur Senggigi. Mungkin saja Keynand ingin mengajak kedua anaknya melewati hutan Pusuk dan melihat hewan berbulu abu-abu.
Selang beberapa lama berkendara Mobil Keynand pada akhirnya sampai di Pusuk. Di sana mereka memutuskan untuk singgah sebentar sembari menikmati keindahan Hutan Pusuk. Selain itu mereka bisa bermain-main dengan Mony*t dan memberikan buah-buahan yang sengaja di bawa.
"Daddyyyyyy," teriak Raski saat beberapa hewan berbulu Abu-abu itu mengelilinginya. Karena dia membawa buah-buahan menyebabkan Mony*t-mony*t itu mendekatinya.
Raski kembali berteriak histeris sejurus kemudian dia tertawa lebar melihat mereka berebut buah-buahan yang dilemparkannya.
Renia juga tidak kalah bahagia. Tak ada raut ketakutan yang dinampakkan olehnya. Meskipun terdengar pekikan tapi Gadis kecil itu tidak menjauh dari kerumunan hewan berbulu abu-abu itu, malah semakin mendekatkan diri penuh dengan keberanian.
Setelah puas bermain-main dengan penghuni hutan pusuk dan menikmati udara segarnya, mereka melanjutkan perjalanan yang masih terbentang jauh.
Selama kurang lebih empat Jam perjalanan, pada akhirnya mereka sampai di Desa Lobe-lobe.
Sesampainya di sana, suasana Pantai bercampur dengan perbukitan menyambut kedatangan mereka. Di mana pada sisi kanannya terbentang lautan luas. Nampak beberapa Perahu sedang bersandar dan suara ombak yang menghempas bibir Pantai terdengar sangat jelas. Pantai di hadapannya sangat dekat bahkan hanya beberapa langkah saja.
Sementara di sisi kanan terbentang persawahan yang luas. Tidak jauh di sana berdiri dengan megah perbukitan dan kawasan hutan.
Mobil yang di kendarai oleh Riski berhenti di pinggir jalan raya dan memutuskan untuk memarkirkan Mobil di area tanah lapang yang tidak jauh dari bibir Pantai.
"Danau Gumbang."
Keynand membaca tulisan yang terpampang pada Gapura di mana akses menuju ke persawahan.
"Jadi di sini letak Danau Gumbang yang pernah viral di medsos," ucap Riski mengamati sekitarnya.
"Berarti benar ini Desa tempat Habibah tinggal, kan? Atau jangan-jangan sudah lewat. Tadi saya udah lihat Kantor Desa tidak jauh dari sini. Kamu sih ngegas terus padahal sudah menemukan pemukiman penduduk," ucap Keynand kesal.
Riski hanya diam tak menanggapi ucapan Keynand yang seperti marah kepadanya. Dia memilih keluar dari Mobil lalu menghampiri Warung yang berada di Pesisir Pantai.
Sesampainya di sana Riski mengucapkan salam lalu di balas salam oleh semua orang yang ada di sana. Dia langsung bertanya menggunakan bahasa Sasak untuk memudahkan mereka berkomunikasi.
__ADS_1
"Ibu Guru dan Pak Guru, maksudnya? Benar mereka tinggal di sini. Rumahnya tidak jauh dari sini, tinggal masuk saja di Gapura itu menuju Danau Gumbang. Rumah Ibu Guru ada di tengah sawah dekat danau," jawab seorang Ibu-ibu menjelaskan.
"Tampi asih Inaq," ucap Riski sopan dengan senyum ramahnya.
Mereka mengangguk dengan membentuk senyum tulus. Lalu ia berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.
Tidak jauh sebenarnya, mereka bisa berjalan kaki dan rumah yang di maksudkan bisa terlihat dari jalan raya. Di sini hanya ada tiga rumah termasuk rumah Habibah dengan jarak masing-masing rumah lumayan jauh.
Selanjutnya Mobil yang di kendarai Riski terlihat memasuki pekarangan sebuah rumah, kemudian berhenti pada lahan kosong di samping Berugak yang ada di sana.
"Alhamdulillah kita sudah sampai," ucap Keynand bernafas lega. Dia meregangkan ototnya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk di dalam Mobil.
Pun begitu dengan Renia dan Raski yang terlihat nampak kelelahan. Sementara Riski berjalan menghampiri rumah sederhana yang terlihat nampak asri.
"Assalamu'alaikum." Salam Bujang itu menggema. Namun beberapa menit menunggu tidak ada jawaban dari Penghuni rumah. Riski kembali mengucapkan salam, lagi-lagi tak ada jawaban membuat Riski kembali menuju ke arah Keynand dan anak-anak yang sudah beristirahat di Berugak.
"Enggak ada yang jawab. Sepertinya mereka lagi tidak ada di rumah," ucap Riski memberitahu.
"Kamu yakin ini rumahnya Habibah? Jangan-jangan kita salah rumah," sahut Keynand terlihat gusar. Jujur saja dia merasa lelah setelah menempuh perjalanan cukup jauh. Terlebih kedua anaknnya yang nampak kelelahan. Mereka langsung merebahkan diri di Berugak itu.
"Yakin, sesuai petunjuk dari Inaq-inaq kalau rumah Habibah itu di depannya ada Berugak dan di sampingnya ada rumah panggung dua kamar. Hanya rumah ini saja yang sesuai petunjuknya," jawab Riski yakin.
Riski kemudian menghampiri Wanita itu. Setelah dekat baru mengucapkan salam.
Wanita itu menghentikan aktivitasnya lalu membalas salam yang menyapanya. Dia lalu menelisik wajah Riski dan mencoba mengingat-ingat siapa yang sedang menemuinya saat ini.
"Dengan mbak Habibah?" tanya Riski langsung saja menyapa Wanita tersebut.
Dia yakin kalau Wanita di hadapannya adalah Habibah. Wanita yang membuat Keynand tidak sanggup melupakan.
"Pantas saja Abang Keynand jatuh cinta sama Mbak Habibah, wong manis gini?" Riski membatin.
Wanita itu menganggukkan Kepala menjawab pertanyaan dari orang yang tak di kenalnya. Ada tanda tanya yang terlihat bersamaan dengan senyum ramahnya.
Riski memahami itu dengan tanggap dia langsung memperkenalkan diri.
"Alhamdulillah, kita tidak nyasar. Oh ya lupa berkenalan. Saya Riski, adik dari Lika Kakak Iparnya Abang Keynand."
__ADS_1
"Oooh jadi Mas ini adiknya Mbak Lika? Masya Allah tidak di sangka kita kedatangan tamu penting," sambut Habibah ramah.
"Mbak Habibah ini terlalu berlebihan. Kita sama saja, sama-sama derek." Riski menanggapi dengan rendah hati.
Habibah tersenyum menanggapi perkataan Pemuda di hadapannya. Senyum itu berhasil membuat Riski salah tingkah tak beralasan. Tidak menyangka senyum itu sangat indah membuatnya terpukau sejenak.
"Mari Mas Riski," ucap Habibah.
"Jangan panggil Mas sebab saya bukan Mas Mas panggil aja dengan panggilan Riski," ucap Riski merasa risih dengan panggilan yang di sematkan oleh Habibah.
Habibah tertawa kecil mendengarkan keterus terangan dari Pemuda di hadapannya. Rupanya Riski keberatan dengan panggilan itu membuat Habibah merasa tidak enak hati.
Habibah kemudian mempersilahkan Riski terlebih dahulu berjalan, baru dia mengikuti dari belakang.
Tidak jauh melangkah, mereka sampai di depan rumah. Di sana dia menemukan Keynand tengah asyik dengan gawainya sehingga Laki-laki itu tidak menyadari kehadiran Riski dan Habibah.
"Pak Keynand, apa khabar? Udah lama ya sampainya?" Sapa Habibah dengan ramah. Saat itulah mata Keynand bersirobok dengan kedua mata indah milik Habibah.
Keynand terpaku melihat Wanita yang berdiri di hadapannya. Jantungnya seketika berdetak tak beraturan. Sialnya dia tidak mampu meredam detaknya yang bertalu-talu seirama dengan hatinya berusaha menekan rasa.
Habibah, Wanita berparas manis ini. Dialah yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta lagi setelah kehilangan Sang Isteri.
Ah sayangnya, Wanita yang bernama Habibah dalam kenyataannya tidak akan pernah bisa di milikinya.
Keynand sudah berusaha melupakan, tapi melihatnya kembali membuat debaran yang sebelumnya berhasil lenyap kini seakan kembali ada.
"Ayolah Keynand, Wanita ini Isteri orang. Gadis yang bernama Rizqia yang sebenarnya untukmu bukan dia. Ingat tujuanmu datang ke sini." Keynand memaki dirinya dalam hati. Ternyata dia masih terperangkap dalam pesona Habibah yang biasa.
"Kok Abang diam, lagi di tanya ini." Riski mengingatkan Duda tampan itu agar tersadar dari angannya.
Keynand terkesiap. Tidak seharusnya dia memikirkan Isteri orang. Tapi dalam kenyataan dia tidak sanggup mendamaikan hatinya yang bertalu-talu di sebabkan oleh Habibah. Keynand tidak bisa mengelak dan sangat mengakui bahwa hati belum sepenuhnya melupakan Habibah. Ada setitik rasa yang masih tertinggal di sana.
Gila, perasaan ini gila. Tak seharusnya masih menggema di sini. Keynand berteriak histeris memaki dirinya yang keterlaluan.
Gerombang rasa itu masih ada ternyata dan tidak sepenuhnya punah. Ia masih berpendar-pendar ibarat Kunang-kunang yang bertemu malam.
Dia yang bertemu kembali dengan Habibah membuat pendar-pendar rasa itu menyeruak membentuk warna yang sangat mempesona.
__ADS_1
"Ah hati kenapa jadi begini?"
Bersambung.