Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
69


__ADS_3

Usai mengobrol dengan Keynand pasangan Suami Isteri itu berpamitan. Mereka sudah terlalu lama meninggalkan rumah. Untung saja Renia dan Raski tidak rewel sehingga mereka bisa tenang meninggalkannya di rumah.


Setiba di rumah, Lika dan Reynand langsung menghampiri kedua anaknya yang sedang bermain di Taman belakang rumah.


"Ayah, Ibu sudah pulang?" tanya Renia kegirangan.


'Iya sayang, maaf Ibu dan Ayah meninggalkan kalian terlalu lama terus menginap lagi di Hotel," sahut Lika. Dia mengelus pucuk kepala anaknya secara bergiliran.


"Dadeknya Athaya sudah lahir ya, Bu?"


"Sudah sayang, Dadeknya Athaya cantiiik sama cantiknya dengan Kakak Renia."


"Woww amazing, jadi enggak sabaran nunggu Adiknya Renia lahir pasti cantik juga kayak Renia," ucap Renia dengan senyum mengembang. Dia membayangkan bermain-main bersama adik-adiknya pasti lebih seru dan bertambah rame.


"Ayo mikirin apa? kok anaknya Ibu seperti orang dewasa saja mengkhayal."


"Ih Ibu bikin buyar lamunan Kakak Renia saja. Tadi seru tahu Bu, Renia main sama Adik-adik Renia terus adik Renia ada Tiga," sahut Renia sambil mengangkat tangannya sebanyak tiga. Dia nyengir mendapati Ibunya yang syock.


"Jadi Kakak Renia pingin punya Adik tiga?"


"Iya Bu, biar rame rumah," sahut Renia sembari memamerkan senyum jenakanya.


"Mas tolooooong," pekik Lika kacau sementara Renia tertawa lebar.


"Aki juga pingin punya adik banyak biar ada temen main bola," ucap Raski dengan cadelnya membuat Lika membulatkan kedua bola matanya. Dia tak menyangka dengan keinginan anak-anaknya yang ingin memiliki banyak Adik.


"Ada apa Ka? kok bahagia banget?" tanya Reynand yang melesat cepat menghampiri begitu mendengarkan teriakan Isterinya.


"Siapa yang lagi bahagia, Mas? aku shock dengan keinginan dua anak kita," sahut Lika sebal. Dia memanyunkan bibirnya dengan wajah tersiksa.


"Emangnya keinginan anak kita apa?"


"Kakak Renia pingin adik tiga?" sahut Renia mengacungkan jari tangannya sebanyak tiga.


"Kalau Dadek Raski lima," sahut Raski sambil mengacungkan sepuluh jarinya.


"Itu sepuluh kali, dek!"


Raski tersenyum sambil menganggukkan Kepalanya mengiyakan.


"Idik gamak Inaq (Duh Ibu) Ibu mau pingsan saja enggak kuat," sahut Lika berpura-pura.


"Sayang, Mas sanggup kok memenuhi keinginan kedua anak kita," bisik Reynand terdengar amat sangat sexy.


"Mas yang sanggup tapi aku yang kepayahan. Kira-kira dong Mas, dua orang anak cukuplah Mas. Kita harus ikut program pemerintah," sahut Lika berbisik pula.


"Kalau dikasik rezeki sepuluh anak siapa yang nolak. Kamu pasti sanggup melahirkan sepuluh anak untukku," sahut Reynand menggoda Isterinya itu.


"Maaaas!" Lika cemberut.


"Jadi Ayah dan Ibu setuju?" tanya Renia. Dia memandang kedua orang tuanya secara bergiliran. Terlihat Reynand menganggukkan kepalanya sembari mengacungkan tangan membentuk OK.


"Ibu?"


"Iyalah," sahut Lika pasrah. Menyenangkan hati kedua anaknya tidak masalah dengan harus berpura-pura menyetujui. Sebenarnya ini salah, tapi mau bagaimana lagi? toh juga tidak mungkin melahirkan anak lebih dari empat.


Terdengar suara kedua anaknya bersorak kegirangan karena keinginan mereka disanggupi oleh kedua orang tuanya. "Asyiiiiiik."


Sementara Reynand tertawa lebar menyaksikan wajah Lika yang terlihat amat tersiksa.


"Ah sayang! itu cuma becanda, lagipula mana sanggup juga Mas menyaksikan kamu berjuang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan anak kita. Mendengar khabar kamu koma saat melahirkan Renia saja bikin Mas takut banget." Reynand mengakhiri tawanya dengan menyemangati Isterinya itu.


"Namanya juga anak-anak, mereka belum memahami apa yang mereka inginkan jadinya asal sebut saja. Aku anggap mereka berdua sedang becanda dan tentunya aku berpura-pura serius, hehehe." Lika mengakhiri ucapannya dengan tawa bahagia. Dalam hati berkata bahwa dia akan menerima berapapun anak yang dianugerahkan Tuhan untuk keluarganya.


"Kamu tuh yaaa!"


Reynand mencubit hidung mungil itu karena gemas. Aksinya membuat Renia dan Raski protes. Mereka pikir Ayahnya sedang menyiksa Ibu mereka.


"Ya Tuhan, lupa kalau ada anak-anak saking gemasnya," guman Reynand salah tingkah.


hahahaha


Tawa menggema di taman menggambarkan kebahagiaan mereka. Reynand melanjutkan dengan bermain-main bersama anak-anaknya sebelum menuju ke Yayasan. Sementara Lika hanya duduk sembari mengawasi mereka dengan menampilkan senyum bahagianya.


"Sudah sayang, Ayah siap-siap mau pergi ke Sekolah. Kalian baik-baik di rumah ya? nanti sore jangan lupa pergi belajar mengaji," ucap Reynand mengakhiri canda tawanya bersama kedua anaknya.

__ADS_1


"Siap Ayah," sahut Renia sembari hormat.


"Aki juga siap." Raski tidak kalah bersemangat.


Selepas memberikan pesan, Reynand bangkit lalu berjalan masuk di iringi Lika dan kedua anaknya.


"Sayang Mas pergi dulu," ucap Reynand setelah dia membersihkan diri dan berpakaian rapi.


"Iya Mas, hati-hati. Semoga Suamiku ini selalu diberikan kesehatan, diberikan rezeki yang berkah, diberikan tambahan ilmu agar semakin bertaqwa kepada Tuhan dan senantiasa dalam Perlindungan Tuhan." Lika berdoa dengan tulus untuk Suaminya.


"Aamiin. Terima kasih sayang." Reynand mengamini segala doa yang dipanjatkan oleh Isterinya.


Cup


Tidak lupa meninggalkan kenangan untuk Isterinya itu. Kegiatan yang tidak pernah absen untuk ditinggalkan. Lika tersenyum mendapatkan kecupan hangat dari Suaminya.


***


Sore harinya saat Lika sedang asyik mengupas Kelapa untuk dijadikan santan, dari arah depan terdengar bunyi klakson yang memekakkan telinga.


Lika membiarkannya, karena memang setiap ada yang datang pasti akan membuka sendiri gerbang pintunya. Jika Tamu maka dia akan memakir Mobil di luar Pagar. Di depan rumah keluarga Reynand ada tanah kosong yang cukup luas. Reynand sengaja menyisakan lahan agar bisa dimanfaatkan oleh orang lain yang datang ke rumahnya dan tidak menggunakan bahu jalan yang merupakan hak umum.


Tin


Tin


Tin


Bunyi klakson itu terdengar lagi membuat telinga Lika bising.


"Siapa, sih? enggak sopan banget. Kita sudah sediain tempat parkir di luar kenapa harus ngotot masuk," ucap Lika kesal. Reynand Sang Tuan rumah saja tidak pernah meminta orang lain untuk membuka gerbang rumahnya. Dia membuka sendiri dengan kedua tangannya.


"Mbak, parkir di luar saja," ucap Seorang Tetangga menghampiri.


"Enak saja, nanti kalau Mobil saya hilang apa Ibu sanggup menggantikannya?" sahut Pengemudi itu dengan angkuhnya. Seorang Wanita muda dengan penampilan yang amat sangat modis.


"Kalau begitu di buka sendiri saja Gerbangnya. Pemilik rumah juga membuka sendiri gerbangnya dan tidak pernah merepotkan orang lain," ucap Ibu itu memberi saran.


"Ibu menyuruh saya membuka gerbang sendiri? apa Ibu enggak lihat siapa saya? saya orang berkelas, mana level buka gerbang sendiri. Itu kan kerjaan pembokat sama seperti Ibu," sahut Wanita itu sembari menunjuk Seorang Ibu-ibu yang merupakan Tetangga keluarga Reynand.


"Oh ya lupa, saya Calon Nyonya baru rumah ini alias calon Nyonya Reynand Putra Ardiaz. Jadi jangan macam-macam kalau tidak ingin di gusur."


"Mbak gila ya? mari saya bawa balek lagi ke kamarnya yang ada di rumah sakit jiwa," ucap Tetangga Lika diakhiri dengan tawa mengejeknya.


Wajah Wanita itu seketika berubah warna menjadi merah padam membuat tampilannya kian kacau. Dia kembali membunyikan klakson sekeras-kerasnya membuat Ibu itu spontan menutup kedua telinga.


"Orang gila memang gini kelakuannya," sungut Ibu itu kesal.


gret gret gret


Terdengar bunyi Gerbang di buka dengan selebar-lebarnya kemudian Lika muncul dengan raut keheranan. Dia mendengar dengan seksama pembicaraan antara Tetangga dengan tamunya. Lika merasa penasaran dengan Tamunya yang mengaku Calon Isteri Suaminya.


"Awas saya mau masuk, jangan di tengah Pembokat entar aku tabrak terus apa sanggup ganti rugi jika Mobil aku penyok," teriak Wanita itu di akhiri dengan bunyi klakson meminta Lika menyingkir. Wanita itu belum sadar kalau yang membuka gerbang itu adalah Lika.


Lika hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala menyambut kedatangan tamu yang katanya Calon madunya itu.


"Mbak Lika, dia gila kali!" ucap Tetangga Lika sembari menggelengkan kepalanya. Lika hanya tersenyum menanggapi.


"Kalau begitu, saya pulang dulu mau lanjutin masak," ucap Sang Ibu berpamitan.


"Nggih Bu," sahut Lika dengan ramah. Dia mengangguk sembari menampilkan senyum ramahnya.


Selepas kepergian Sang Tetangga, Lika kembali menutup Gerbang. Sudah rapat barulah menghampiri tamunya yang sedang memperbaiki penampilannya.


"Ternyata Ibu Gadis, saya pikir siapa tadi?" ucap Lika menyapa tamunya dengan ramah.


Wanita yang di panggil Gadis itu terkejut. Dia baru tahu kalau yang membuka Gerbang adalah Lika sendiri.


"Maaf mbak Lika, tadi saya pikir Pembantu rumah ini. Saya pangling lo mbak, penampilan mbak Lika kok seperti pembokat saja. Kok enggak elegan dan berkelas gitu?" cerocos Gadis tak berperasaan. Dia tersenyum ramah. Senyum itu seakan menyimpan kesinisan yang ditujukan kepada Lika. Lika bisa melihat itu dan menanggapi dengan senyum tulus.


"Silahkan Ibu Gadis. Oh ya apa gerangan yang membuat Ibu Gadis merepotkan diri menyambangi gubuk kami? pasti sangat penting ya Bu sehingga meluangkan waktunya untuk bertamu," ucap Lika panjang lebar. Terlihat Gadis salah tingkah dan kebingungan itu nampak jelas tercetak di wajahnya. Namun tidak butuh lama untuk mendapatkan kepercayaan dirinya kembali.


"Begini Mbak Lika, saya ke sini untuk bertemu wali murid dari murid-murid yang belajar di Sekolah kami. Bukankah Renia salah satu murid kami karena itulah saya ingin berdiskusi mengenai perkembangannya." Gadis menjelaskan tujuan kedatangannya.


"Oh begitu? silahkan Bu Gadis kita bicara di dalam saja." Lika mengajak Gadis masuk ke ruang tamu. Setelah sampai Lika lalu mempersilahkan Wanita itu untuk duduk pada Sofa yang tersedia disana.

__ADS_1


"Silahkan Bu Gadis disampaikan saja," ucap Lika. Dia sudah siap mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh salah satu Pengajar di Sekolah tempat Renia menimba ilmu.


"Renianya mana?" tanya Gadis memperhatikan sekeliling mencari keberadaan muridnya itu.


"Kakak Renia kalau sore hari belajar mengaji," jawab Lika memberitahu.


"Mas Reynand pasti ada di rumah, kan? Kenapa Mbak Lika tidak memanggil Tuan rumah ini," ucap Gadis serius.


Lika sempat terkejut, namun dengan cepat menguasai dirinya menjadi setenang mungkin. Wanita ini memanggil Suaminya dengan panggilan 'Mas'. Tidak seharusnya seperti itu karena dia orang lain. Lika menyadari bahwa Wanita muda ini sedang mengintimidasinya dan sedang berusaha menghancurkan mentalnya.


"Suami saya masih di Sekolah menggantikan saya untuk sementara waktu. Mas Reynand ingin saya beristirahat selama kehamilan," sahut Lika menjelaskan. Dia tersenyum melihat Gadis terkejut. Entah apa yang dikejutkan oleh Wanita itu.


"Maksudnya apa? menggantikan mbak Lika. Bukannya perusahaan milik Mas Reynand?" tanya Gadis setelah berhasil menguasai keterkejutannya.


"Memang benar tapi Yayasan Putri Mandalika adalah Yayasan milik saya begitu pun dengan Hotel maupun Rumah sakit Ardiaz kepemilikan atas nama saya." Lika memberitahu kepemilikan perusahaan Reynand. Dia tidak mengaku-ngaku apalagi berbohong. Memang kenyataan bahwa perusahaan Reynand sudah beralih kepemilikan menjadi atas nama Baiq Mandalika sebagai Ibu kandung Renia yang nantinya setelah dewasa akan diserahkan Kepada Renia. Peralihan kepemilikan itu terjadi saat Reynand dinyatakan meninggal saat kecelakaan yang menimpanya. Namun ternyata Reynand masih hidup dan kembali setelah lima tahun lamanya dia menghilang. Reynand tidak mengambil kembali Perusahaannya. Dia sepenuhnya menyerahkan apapun yang dimiliki untuk keluarganya.


Gadis syock mendengarkan pengakuan itu. Tidak menyangka seluruh harta kekayaan milik Reynand ternyata atas nama Isterinya. Itu artinya Reynand tidak memiliki apapun jika berani menghianati Isterinya.


Lacur!


Dia yang ingin merusak mental Lika malah dia yang terlebih dahulu terkena mental yang langsung bikin lumpuh.


"Kuasai dulu Mas Reynand, nanti kalau dia sudah berada dalam kendaliku, akan aku minta Mas Reynand mengambil kembali Perusahaannya. Aku memang cerdas," batin Gadis. Dia tersenyum sinis tidak mau menyerah dan mengalah.


"Oh ya Bu Gadis, tadi mau menyampaikan perkembangan belajar Renia. Kenapa tidak langsung sampaikan ke saya saja," ucap Lika membuyarkan lamunan Gadis itu dengan niat busuknya.


"Ah eh, maaf mbak Lika. Sebenarnya saya ingin menyampaikan perkembangan Renia di sekolah kepada Mbak Lika. Hanya saja, berbicara dengan Mas Reynand akan lebih mudah karena Mas Reynand pasti akan cepat mengerti dan komunikasi akan nyambung dan tentunya bermutu. Mas Reynand orang yang cerdas dan berpendidikan tinggi sementara Mbak Lika hanyalah seorang Ibu rumah tangga, mana faham dengan apa yang akan saya sampaikan."


Glek


Ucapan Gadis yang panjang lebar menohok hati Lika. Dia memang Ibu rumah tangga dan kesehariannya hanya mengurus rumah.


Namun Gadis tidak tahu kalau Wanita yang sedang dihancurkan mentalnya ini adalah Seorang Guru di yayasan miliknya dan bergelar Magister pendidikan. Lika juga seorang Desainer, dimana rancangan baju muslimah miliknya pernah ikut di pamerkan pada Fashion week bertajuk From Sasambo to New york. Karena kesibukan mengurus kedua buah hatinya dan juga menjadi Guru membuat hobbynya sedari belum menikah harus dilepas dulu.


Lika melanjutkan pendidikannya setelah Renia berhenti ASI. Lika berpikir, menuntut ilmu wajib bagi siapapun, termasuk Ibu rumah tangga. Mereka berhak belajar apapun baik melalui akademik maupun otodidak. Ilmu itu bukan hanya untuk mengejar karier, tapi lebih pentingnya untuk menghantarkan anak-anak menjadi kebanggaan orang tuanya. Jika Orang tuanya berpendidikan, cerdas dan berakhlak tentu anak-anaknya akan lebih berpendidikan, cerdas dan berakhlak.


Hanya karena dia berdaster yang sehari-harinya sibuk di rumah lantas orang lain menganggapnya tidak berpendidikan.


Lika geleng-geleng kepala. Dia tidak menyangka penampilannya yang sederhana dan terlihat apa adanya membuat orang lain menilainya tidak menamatkan pendidikannya.


"Jadi begitu Bu Gadis? menurut saya semestinya Ibu Gadis langsung saja menyampaikan ke saya karena saya Ibunya. Lagipula saya lebih banyak waktu bersama anak-anak daripada Mas Reynand. Atau jangan-jangan sebenarnya ada maksud lain, silahkan jujur saja."


Lika langsung saja to the point. Dia tidak ingin berbasa basi dengan Wanita yang berniat ingin mengambil alih hati Suaminya. Dia sudah mempelajari gelagat Wanita di hadapannya. Bukan Renia yang menjadi tujuannya tapi Reynand.


Gadis berpura-pura terkejut dan tersinggung dengan apa yang diucapkan oleh Lika.


"Jujur apa? saya memang benar ingin membicarakan perkembangan Renia di Sekolah. Mbak Lika ternyata sensitif orangnya. Apa Mbak Lika takut saya mencuri Suaminya? tidak mencuri Mas Reynand pun, Suami mbak sendiri yang menghampiri." Gadis membantah sekaligus berterus terang.


Entah apa yang ada dalam pikiran Wanita di hadapan Lika ini? Lika mendengarkan secara seksama dan tersenyum saat Gadis mulai berbohong.


"Okay saya akan jujur karena mbak Lika sendiri yang meminta. Memang benar saya Kekasih gelap Suami mbak Lika," ucap Gadis dengan bangganya. Dia tersenyum bahagia melihat raut terkejut Lika.


Dia tidak tahu hal apa yang membuat Lika terkejut. Bukan karena Suaminya selingkuh tapi keberaniannya mengakui hubungannya dengan Reynand. Apa dia tidak sadar telah menggali lubangnya sendiri.


Lika tersenyum penuh dengan ketulusan membuat Gadis bingung. Bukan ini yang diinginkannya. Lika mengambil Handphonenya lalu menekan nomor seseorang untuk melakukan panggilan.


(Sayang, Kekasih gelap Mas datang mengapel pulang cepat, gih!)


Lika mengakhiri panggilan setelah Reynand mengiyakan dengan diiringi tawa membahana disana. Lika ingin tersenyum namun ditahannya agar tetap terlihat nelangsa.


"Apa Bu Gadis mau menunggu Suamiku, silahkan saja. Tapi maaf saya tidak bisa menemani Bu Gadis karena saya harus memasak."


Lika berpamitan, ia kemudian beranjak meninggalkan tamunya yang masih duduk anggun di tempatnya.


Saat asyik di Dapur, Lika kembali menerima panggilan dari seseorang. Obrolannya terdengar sangat mesra penuh rasa. Gadis yang diam-diam mendengarkan obrolan itu merekamnya karena Lika sedang berbicara dengan orang lain yang di duga selingkuhan dari Isteri Reynand itu.


"Amazing," ucap Gadis sembari memainkan Handphonenya.


"Anda menguping pembicaraan saya?" tanya Lika terkejut. Wajahnya berubah pucat karena tidak menyangka Gadis berani-beraninya masuk ke Dapurnya.


"Iya, ini bukti perselingkuhan kamu dengan Laki-laki bernama Umar. Hari ini juga kamu bakalan di buang bagaikan rongsokan yang telah hancur lebur dan tidak bisa lagi di daur ulang. Tentu sayalah yang menang dan akan menggantikan kamu menjadi Nyonya Reynand. Tentu saja akan mengambil alih Perusahaan yang ada di tangan kamu."


Usai berkata Gadis tersenyum menang. Dia kembali berjalan ke ruang tamu kemudian duduk dengan anggunnya.


"Wualaaah, gila kok di perihara," ucap Saik Inah yang sedari tadi setia mendengarkan pembicaraan mereka berdua.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Saik, setelah ini kita tatar dia," sahut Lika penuh rencana.


Bersambung.


__ADS_2