Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 39


__ADS_3

Pagi menjelang. Usai melaksanakan kewajiban, Rizqy memulai hari dengan berjalan-jalan disekitar Desa yang nampak masih alami.


Dia menghirup udara segar tak tercemar dengan sepuas-puasnya. Meresapi aroma dedaunan yang tertetesi embun, sangat segar. Tidak lupa menikmati suara gemericik air dari pancuran yang memanjakan gendang telinga.


"Alhamdulillah."


Syukur itu terucap setelahnya mengukir senyum kebahagiaan.


*Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.


Kini itu yang tengah dirasakan oleh Rizqy. Segala nikmat sedang dia terima sekarang. Kebahagiaan, kesehatan, kesempatan dan semua yang tak bisa dijabarkan.


Sungguh, dia menikmati hidup yang sunyi jauh dari kebisingan Kota. Melepaskan sejenak kepenatan dan tugas yang menuntutnya harus berpacu dengan waktu.


Terkadang dia sering merasa frustasi. Tak menemukan jalan keluar dari kebuntuan di depan mata. Namun dia yakin, ada jalan keluar dari kebuntuan itu, tidak harus melewati dengan berbalik arah. Mungkin dengan mendobrak kebuntuan itu dan menghadapi tantangan di depan mata yang menghadang.


Puas menghirup udara, Rizqy berjalan-jalan disekitar persawahan. Dia menyapa para Petani yang ditemuinya.


Terjadi perbincangan singkat saling mengenal satu sama lain.


Setelahnya, Rizqy melanjutkan langkah menuju Pantai yang tak jauh jaraknya dari pemukiman penduduk.


Dia bertemu dengan Nelayan yang baru turun dari laut. Beberapa orang sudah menunggu untuk membeli hasil tangkapan mereka.


Rizqy ikut mengambil bagian untuk membeli. Tanpa menawar dia langsung membayar seharga yang diberikan oleh Nelayan itu.


Hal itu membuat orang-orang disana menatapnya heran.


"Mas, kenapa enggak ditawar?" tanya Nelayan itu.


"Menurut saya tidak mahal," jawab Rizqy setelahnya membentuk senyum ramah.


Menurutnya, tidak perlu menawar untuk Pedagang kecil. Mereka mencari nafkah untuk kebutuhan hidupnya hari itu, tidak untuk menumpuk harta. Anggap saja kita sedang mencukupkan yang mungkin saja masih kurang. Jika harga yang kita bayar ternyata ada lebihnya, tentu itu kebahagiaan untuknya. Mungkin saja tanpa diminta terucap doa kebaikan untuk mereka yang ikhlas memberi secara diam-diam.


Setelah berkata dia duduk di tepi Pantai menemani Nelayan itu merapikan alat-alat tangkapnya.


"Sudah lama jadi Nelayan?" tanya Rizqy membuka obrolan.


"Sudah lama Mas, mungkin dari kecil saya ikut melaut," sahut Nelayan itu. Kini dia sedang memperbaiki jaring-jaringnya.


"Hasilnya bagaimana? apa setiap hari banyak?"


Tak ada jawaban, Nelayan itu terdiam sedangkan tangan masih tetap bergerak. Dia menghirup udara untuk menenangkan hidupnya yang getir.


Hidup dalam kemiskinan, siapa yang ingin? tapi kenyataan seperti itu garis tangannya.


Rizqy bergerak membantu Nelayan sembari menunggu jawaban.


"Tidak tentu, terkadang banyak dan terkadang hanya mendapatkan ikan kecil-kecil." Pada akhirnya dia menjawab.


"Nelayan seperti saya, tidak mampu memprediksi rezekinya seperti apa. Itu sudah menjadi rahasia Tuhan. Sedikit ataupun banyak tetap harus bersyukur," lanjut Nelayan itu. Pada matanya tersimpan harapan yang tak sulit di masa depan. Disana juga tergambar kerumitan hidup yang tak mampu diurainya. Guratan pada wajahnya menyiratkan betapa keras hidup yang dijalaninya.


Dan dari kata-katanya terdapat kepatuhan akan apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan.


"Tetap ikhtiar dan berdoa, Pak. Semoga kelak asa itu akan terpenuhi," ucap Rizqy menepuk bahu Nelayan itu.


"Terima kasih Mas. Oh ya, saya baru melihat Mas? Apa orang baru disini?" tanya Nelayan itu penasaran dengan Sosok Pembeli yang baru dilihatnya.

__ADS_1


"Iya Pak, saya Rizqy Suaminya Habibah Rosy. Apa Bapak kenal?"


"Habibah Rosy." Nelayan itu nampak berpikir. Dia jarang bergaul dengan tetangga tapi bukan berarti tak mengenal wajah warga disini hanya nama saja yang mungkin tidak diketahuinya.


"Rumahnya di pinggir danau, menyendiri dari pemukinan warga." Rizqy mencoba memberikan gambaran tentang Sosok Habibah Rosy agar ia tak lelah berpikir.


"Oh ya, saya tahu Gadis itu, hanya saja tidak tahu namanya. Dia sering memesan Ikan beberapa kilo untuk bahan Nugget. Dia jarang bicara tapi bukan berarti tak ramah. Dia sangat ramah dan juga sopan." Nelayan mengaku mengetahui tentang Habibah. Dia seakan sangat bahagia menceritakan Sosok Habibah Rosy.


"Dia sangat baik, tidak segan-segan membantu orang yang membutuhkannya." Nelayan itu melanjutkan ceritanya.


Rizqy mengangguk setuju.


"Apa Bapak tidak ingin mencari peluang yang lain?"


Dia menggeleng, ada senyum tipis yang terukir disana.


"Bisa apa? saya buta huruf dan tidak punya keahlian apapun selain menangkap Ikan," jawab Sang Nelayan setelah lama termenung.


Rizqy ikut termenung memikirkan sesuatu. Betapa beruntungnya ia dilahirkan dalam keluarga berkecukupan. Mendapatkan pendidikan dan kini karier yang bagus serta Isteri yang soleha.


Bersyukur dengan hidup yang dijalani meskipun hubungannya dengan orang tua tak pernah akur. Iya, keluarganya telah hancur semenjak hadirnya orang ketiga. Dia harus kehilangan Ibu kandung tercinta dan keceriaan adik perempuannya.


Sakit hati, tentu dia rasakan namun dia tidak mau terpuruk dan memperlihatkan kehancurannya pada orang lain.


Tidak mau kalah, dia bangkit menegakkan diri lalu bergerak menuju tujuan hidupnya menggapai ridho Tuhan.


"Mas Rizqy, hidup ini memang susah tapi jangan pernah menyerah. Jika kita sudah menyerah, itu sama artinya kita tidak ingin bernafas lagi. Jika letih maka istirahatlah."


Kalimat bermakna nasehat itu terucap begitu saja dari bibir seorang Nelayan. Kini dia duduk berdampingan dengan Rizqy. Dia menghisap lintingan tembakaunya dengan nikmat. Serasa lintingan tembakau itu adalah pusat hidupnya.


Berjalan tidak terlalu lama, pada akhirnya dia sampai di rumah milik Habibah Rosy.


"Mas, udah kemana?" sambut Wafa dibarengi senyum manisnya.


"Mas jalan-jalan, terus membeli Ikan dan pada akhirnya mengobrol serius dengan salah satu Nelayan," sahut Rizqy bercerita.


"Oh gitu?"


"Ini Ikannya? oleh-oleh dari jalan-jalannya, enggak seperti kamu oleh-olehnya membawa Suami Ganteng seperti Mas," ucap Rizqy diakhiri kekehannya.


"Iiiis, Mas ini?"


Habibah mencubit pinggang Suami mendengarkan guyonan itu. Rizqy kembali terkekeh dengan berlari menjauh dari tangan berbahaya Isterinya.


"Mas, ini saya apain?"


Habibah bertanya sedikit berteriak agar Rizqy mendengarkannya.


"Mas maunya yang seger-seger seperti Isteriku yang selalu segar dipandang mata," sahut Rizqy yang juga sedikit berteriak. Setelahnya terdengar Rizqy berdendang membuat Habibah tersenyum geli.


***


"Mas suka!"


Rizqy menikmati sarapan dengan menu menggugah seleranya. Di Meja makan tersaji Ikan laut berbumbu rajang dengan kuah yang begitu menyegarkan. Pria itu menyeruput kuah itu langsung dari Mangkoknya. Ada rasa pedas, manis, gurih dan asam berpadu menjadi satu.


Habibah geli melihat tingkah Suaminya. Dia menggelengkan Kepala dengan senyum cerah. Seketika itu dia merasa kenyang dan lebih berselera melihat Rizqy yang menyantap makanannya.

__ADS_1


"Enak, enak, enak," ucap Rizqy menghabiskan kuah yang tersisa.


"Mas ini, kayak enggak pernah makan Ikan laut bumbu rajang saja," ucap Habibah tak bisa lagi menahan tawanya.


"Masakan kamu the best dah sayang, siapa yang enggak bersemangat," sahut Rizqy. Dia mengakhiri sarapannya dengan menumpuk piring kotor dan alat makan lainnya.


"Mas, biar Habibah saja."


"Udah, biar Mas yang mencucinya. Sana, cepat-cepat ke Sekolah ntar telat lagi," ucap Rizqy sambil tangannya bergerak membereskan.


"Iya udah, makasih sayang."


Habibah meraih tangan Suaminya lalu mencium punggung tangan itu.


"Assalamu'alaikum."


Cup


Setelah mendapatkan balasan salam, dengan cepat Habibah mendaratkan ******* pada bibir berwarna merah milik Suaminya lalu berlari menghindari balasan dari Suaminya.


Daaaaa


"Tunggu saya, Mas," ucap Habibah melambaikan tangan dan mengedipkan mata menggoda.


"Habibah ya ampun, teganya menggoda tapi malah menjauh."


Rizqy menggelengkan Kepala melihat tingkah itu. Setelah tak melihat tubuh Isterinya baru dia kembali melanjutkan mencuci piring-piring yang kotor.


***


"Kak Oci! kok mau sama Om Rizqy?" tanya Adrian. Pria itu duduk di depan Habibah yang sedang serius memeriksa lembar jawaban para siswanya. Dia terlihat serius memandang Habibah dengan mencetak keheranan pada wajahnya.


"Namanya juga cinta," sahut Habibah tak beranjak dari lembar di hadapannya.


"Bucin banget, jangan terlalu bucin Kak Oci? nanti kalau om Rizqy mendua bagaimana? sakit tahu!"


Habibah mengalihkan perhatiannya kepada Adrian. Dia menatapnya dengan raut serius.


"Kamu mendoakan agar Mas Rizqy mendua?"


Adrian tergugu, dia merutuk dirinya yang salah berkata.


"Bukan begitu? tampang Om Rizqy sangat meyakinkan, sih? wajah tampan dan mapan Om Rizqy merupakan incaran para Pelakor," sahut Adrian seakan membela diri.


"Semoga tidak, tergantung orangnya. Ada kok orang biasa-biasa saja dengan hidup pas-pasan tapi Tukang selingkuh. Adapula orangnya kaya raya dan tampan, malah dia sangat setia. Jangan berkata hal tidak-tidak takut nantinya itu yang bakalan terjadi." Habibah berkata dengan tenang. Dia tidak ingin berpikiran negatif dan tidak mempercayai kesetiaan Suaminya. Dia meyakini biduk rumah tangganya akan berjalan dengan baik-baik saja dan terjaga dalam kesetiaan.


"Semoga," sahut Adrian dalam keterpaksaan.


Habibah mengamini dalam hati, meskipun dia merasakan Adrian mengatakan itu karena tak ada lagi yang harus diucapkan. Dia sepertinya tidak ada pilihan, selain bertolak belakang dengan kata hatinya.


"Kenapa Kak Oci menikah dengan Om Rizqy? jika saja Kak Oci tidak menikah dengan Om Rizqy, mungkin saat ini yang menjadi Suami Kak Oci adalah diriku. Saya yang terlebih dahulu menyukai Kak Oci bukan Om Rizqy tua itu."


Usai berterus terang, Adrian meninggalkan Habibah dalam keterkejutan.


Bersambung.


Terima kasih untuk teman-teman yang sudah berkenan membaca karya saya 'Gadis Untuk Sang Duda'. Jangan lupa Likenya dong, please!

__ADS_1


__ADS_2