
Reynand tidak menanggapi perkataan Adiknya. Dia lebih peduli dengan suasana hati Isterinya. Pria itu melangkah dengan cepat menuju kamar tempat keberadaan Lika.
"Lika!"
Nihil, tidak ada Lika di dalam saat dia membuka Pintu kamarnya. Dia mencari tapi Sosok Isterinya tidak ditemukan juga.
"Kemana Lika?" Akhirnya bertanya jua.
Reynand meninggalkan kamar setelah memastikan Lika tidak ada disana.
"Key, minta tolong antar Renia ke Sekolah," pinta Reynand saat bertemu Keynand yang bersiap-siap berangkat ke Hotel.
"Baiklah, laksanakan," sahut Keynand membentuk senyum patuhnya.
Dia menghampiri Renia lalu menggiringnya menuju Mobil. Sebelumnya Renia berpamitan kepada Reynand.
"Rajin belajar iya Nak agar menjadi anak yang cerdas, Sholeha dan mengetahui adap agar menjadi Insan yang berakhlak mulia," ucap Reynand mengelus pucuk Kepala Putrinya dengan lembut.
"Nggih Ayah," sahut Renia dengan diiringi senyum indahnya.
"Iya sudah, Ayah mau cari Ibu dulu. Renia tahu enggak Ibu kemana?" tanya Reynand sebelum benar-benar mengizinkan Putrinya itu pergi.
"Tadi Kakak sudah pamitan sama Ibu. Ibu sepertinya ke arah Kebun Ayah," sahut Renia memberitahu.
"Iya sudah Ayah kesana. Hati-hati sayang."
Renia menyambutnya dengan anggukan dan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya. Reynand juga berpesan kepada Keynand untuk menjaga Renia dengan baik hingga sampai tujuan.
Selepas keduanya pergi, Reynand melangkah menuju Kebun. Dari kejauhan dia melihat Lika sedang loncat untuk meraih buah Nangka yang bergelantungan di atasnya.
"Ya Allah Lika."
Reynand terkaget dengan aksi dari Perempuan hamil itu. Dia tidak menyangka Isterinya itu tidak mempertimbangkan keselamatannya dan bayi yang sedang di kandung.
Berhasil, terlihat Lika berhasil meraih Buah Nangka muda itu lalu mengumpulkan pada mangkok Plastik yang dibawanya.
Reynand bergegas menghampiri ketika Lika kembali ingin meraih buah itu lagi.
"Apa kamu menganggap Suamimu ini tidak ada," ucap Reynand dengan nada marah.
Lika menarik tangannya lalu mendongakkan wajahnya ke sumber suara yang dikenalnya. Dia melihat kemarahan yang tercetak di wajah buruk rupa Suaminya. Menyadari kesalahannya, Lika menunduk.
"Maaf," ucapnya lirih.
"Kenapa kamu tidak meminta Suamimu ini untuk mengambilnya. Apa kamu kira Suamimu ini tidak menyayangimu lagi bahkan rasa cinta dan sayangnya semakin bertambah kian detiknya." Reynand menanggapi permintaan maaf dari Isterinya. Melihat wajah Lika yang diliputi rasa bersalah, Reynand melembutkan nada suaranya. Dia memandang Wanita yang tengah mengandung anaknya itu penuh dengan rasa sayang. Dielusnya pucuk kepala itu dengan lembut.
"Maafkan Lika Mas, besok-besok tidak akan terulang lagi," ucap Lika kembali meminta maaf.
Reynand mengangguk.
__ADS_1
"Itu berbahaya untuk kamu dan anak kita. Kalau kamu jatuh bagaimana?"
"Nggih Mas."
Setelah berkata, Lika mengajak Reynand untuk duduk pada Tikar yang sudah digelar. Dia meraih nangka muda yang bentuknya masih kecil lalu dicocolnya pada Cabe yang diiris kecil-kecil dan campur dengan garam halus.
Reynand yang duduk di sampingnya tampak ngilu melihat Lika yang mengunyah buah itu tanpa merasakan rasa pahit atau pun sepet. Lika tampak menikmatinya.
"Mas mau? ini enak lo! rujak motek nangka," ucap Lika sembari menyodorkan buah itu ke arah mulut Reynand. Reynand menggelengkan kepala menolak.
"Tidak senasip dan sepenanggungan," ucap Lika datar. Dia kembali menyuap rujak nangka muda itu dengan rasa kecewa.
Pernyataan Lika itu membuat Reynand merasa tak enak hati.
"Maaf sayang, ini makanan tidak normal. Hanya Wanita ngidam yang berselera untuk memakannya. Jangan menyiksa Suamimu ini, ya?" ucap Reynand memohon agar Lika tak kecewa dengan penolakan.
"Iya, Lika tahu Mas tidak ingin merasakan penderitaan Wanita yang sedang ngidam. Bilang saja seperti itu? Lika mengerti kok!" sahut Lika datar.
Reynand merasa bersalah dengan perkataan Lika yang sukses membuatnya terbungkam. Dia gagal memahami perasaan Isterinya dan sekaligus tidak pandai menghiburnya.
"Maafkan Mas sayang, Mas janji akan mencarikan kamu buah Kepundung." Reynand mengalihkan pembicaraan dengan mengingatkan keinginan Isterinya itu.
Terlihat mata Lika berbinar-binar seakan mendapatkan Durian runtuh.
"Benarkah Mas? tidak lagi memberikan harapan palsu?" tanya Lika menatap wajah Suaminya.
"Terima kasih, Mas."
"Sama-sama tapi jangan terlalu menuruti keinginan dan juga jangan cepat ngambek," sahut Reynand mencoba untuk memberikan pengertian kepada Lika.
"Siapa yang ngambek dan siapa juga yang ingin selalu menuruti keinginan. Mas Reynand saja yang salah faham," sahut Lika membela diri.
"Tadi setelah berucap pergi begitu saja."
"Aku buru-buru pergi agar Mas Reynand tidak melihat aku sedang sedih. Tadi Mas tidak mau menuruti permintaan Ibu hamil ini untuk mencari Kepundung. Aku tahu Mas, seorang Laki-laki mana mau direpotkan dengan keinginan yang aneh-aneh dari Isterinya yang sedang ngidam. Itu sebagian kecil yang tak peduli dan sebagiannya lagi sangat pengertian. Nah Mas Reynand berada pada bagian yang mana?" sahut Lika panjang lebar mencurahkan perasaannya.
Reynand terdiam, dia menyadari dirinya memang belum memiliki rasa pengertian yang dibutuhkan Isterinya.
"Mas Reynand tidak bisa jawab, kan? aku tahu sebenarnya Mas Reynand enggan untuk mencarinya sendiri dan melimpahkan kepada orang lain. Jika aku bisa, tidak perlu meminta Mas Reynand untuk mencarinya. Aku bisa mencarinya dimana pun buah itu berada, bila perlu ke Pusuk. Dulu saja, ketika Mas Reynand tidak ada aku mencari sendiri keinginan dari bayi yang ada dalam kandunganku. Sekarang pun aku bisa mencari sendiri jika kondisiku tidak lemah. Aku tidak akan meminta sama Mas Reynand, toh aku bukan Ibu Hamil yang manja. Maaf Mas jika keinginanku membuat tidak nyaman dan merepotkan Mas. Lika janji akan menahan keinginan."
Lika kembali mencurahkan perasaan. Dia teringat masa lalu saat mengandung Renia. Saat itu betapa ia merindukan belaian dan perhatian Suaminya. Namun dia berusaha menahan keinginan yang sulit dipenuhinya karena dia tidak sanggup melakukannya. Dia hanya memenuhi apa yang mampu diraihnya.
Reynand tidak mampu untuk berkata apapun. Hatinya kembali teriris oleh kalimat panjang Lika. Dia sekarang ada di sampingnya seharusnya memenuhi segala kebutuhannya bukan malah enggan. Dia sudah kehilangan masa selama lima tahun. Kenapa sekarang tidak memanfaatkan kesempatan yang diberikan Tuhan untuk bersama Isterinya kembali.
"Maafkan Mas, tidak bermaksud seperti itu," ucap Reynand pada akhirnya mampu membuka suara yang terbungkan.
"Iya Mas, Lika yang seharusnya minta maaf. Aku hanya meminta memetik buah Kepundung bukan memetik Bintang di langit," ucap Lika berkelakar. Dia menghapus butiran bening di sudut matanya. Dia tidak ingin Reynand menyadari.
"Kamu itu bisa saja," ucap Reynand sembari mencubit pelan hidung mungil milik Isterinya itu.
__ADS_1
"Bisa saja apa? terkadang aku heran lo sama para Lelaki. Waktu mereka belum mendapatkan pujaan hati, Lampu merah bahkan hujan badai akan diterobos demi memenuhi keinginan Kekasih pujaan hati. Nah setelah dapat pasti tidak mau, biasanya akan dijawab 'cari/lakukan sendiri, saya lagi sibuk jangan ganggu'. Padahal lagi nongkrong. Setelah dapat ternyata hilang nilainya dan tidak berharga lagi." Lika kembali mengutarakan tingkah para Lelaki sebelum menikah dan sesudah menikah.
"Itu siasat sayang, kalau tidak seperti itu bakalan langsung diputusin. Kalau sudah dapat, tidak mungkin langsung diputusin hanya gara-gara hal sepele itu. Palingan Sang Isteri hanya ngelus dada agar urat-uratnya tidak putus," sahut Reynand diakhiri dengan kekehan.
"Jadi gitu? benar juga Mas, terbukti Mas Reynand juga sudah mulai terlihat belangnya."
Reynand tertegun sejenak lalu membantah dengan cepat, "Kecuali Suamimu ini sayang. Mana pernah mengacuhkan kamu langsung Mas gerak cepat, kan?"
"Masak, sekarang jawab IYA tapi IYA IYA itu hanya sekedar pemanis di bibir actionnya entahlah kapan yang penting IYA dulu toh juga IYA tidak dibeli," sahut Lika membuat Reynand menggaruk tengkuknya yang mulai gatal mendengarkan ocehan Isterinya.
Memang benar, sudah menjawab tapi jawaban itu tidak langsung dilakukan malah asyik menyibukkan diri dengan apa yang dilakukan dengan jawaban berkelanjutan. Alhasil Sang Isteri melakukan sendiri. Setelah dibereskan baru Sang Suami datang dengan wajah polosnya 'jadi sayang?'. Memang Para Suami makhluk yang luar biasa cerdik mengulur waktu untuk tidak melakukan sesuatu yang diminta Isterinya.
"Benar itu, kan?"
Reynand mengangguk dengan wajah polos diakhiri dengan tawa kecil.
"Nah itu para Lelaki, rata-rata gombal. Gunung ku daki lautan aku seberangi. Eh diminta panjat atap rumah untuk perbaiki genteng saja ogah terus meminta tolong mengambil jemuran saat hujan tidak mau dengan alasan takut basah. Emangnya pas nyeberang lautan enggak basah?" Lika kembali melanjutkan curahan hati para Emak-emak.
Reynand senyam senyum mendengarkan curhatan Emak satu ini. Entah karakter siapa yang dibicarakan. Tidak sepenuhnya dirinya meskipun diakui dia terkadang mengabaikan permintaan Isterinya itu.
"Enggak lelah ngomelnya, Mas takut anak kita sebawel Ibunya," ucap Reynand menghentikan ocehan Isterinya.
"Memangnya Mas maunya anak kita seperti siapa?"
"Seperti Mas yang keren dan macho," jawab Reynand antusias
"Aislah pingin banget ya," sahut Lika menggoda Suaminya dengan kata-kata manja diiringi dengan menggerakkan tubuh.
"Aislah, cieeee." Reynand menirukan apa yang diucapkan Lika sambil diiringi gerakan.
"Gagal Mas."
"Gagal apa? berhasil kok!" sepergi ini, kan? gerakan kamu tadi." Reynand menirukan gerakan Lika yang lucu sembari berkata "Aislah cieeeeee."
"Enggak, tetap tidak sama. Gerakannya tidak gemulai sayang itu terlalu Macho dan cowok banget," sahut Lika sambil memamerkan senyumnya.
"Hah!" Reynand terkejut.
"Jadi kamu maunya Mas yang macho dan maskulin ini bertingkah seperti itu Si artis Lu cinta, eh siapa sih namanya yang gemulai yang konon katanya pada saat lahir sama dengan Mas?" Reynand tersenyum jahil begitu menyadari perkataannya. Lika tergelak mendengarkan Suaminya yang ternyata melek gosip.
"Nah ketahuan, Mas Reynand ngintip ya?"
"Enggak pernah ngintip. Memang pernah lihat mata Mas Reynand bintitan? enggak, kan?" jawab Reynand. Dia kembali menirukan gerakan Lika tadi.
"Eike sudah gemulai belum Bestie?" ucap Reynand sambil menggerakkan tubuhnya segemulai mungkin.
Hahahahaha
Bersambung.
__ADS_1