
"Pengantin kok ada di sini? Bukannya seharusnya lagi mesra-mesraan di kamar ya?" tanya Fitri keheranan melihat keberadaan Keynand di ruang kerja.
"Kamu lihat sendiri dokumen di meja sudah menumpuk. Dan juga sebentar lagi kita akan Meeting. Apa kamu sudah mulai pikun, Fitri?" Keynand menjawab dengan nada serius. Wajahnya datar tak menampakkan corak. Tentu saja membuat Fitri heran.
Keynand sudah berubah, bukan lagi seorang Direktur yang suka menanggapi dengan candaan dan suka mengerjain Pegawainya. Kini yang ada adalah wajah datar terkesan dingin dan juga amat sangat cuek. Perubahan sikap yang tidak seperti biasanya membuat Fitri bertanya-tanya.
"Pengaruh apa yang diberikan Isterinya membuat Pak Bos berubah dalam sekejap?" Berbagai pertanyaan bermunculan di benak Fitri. Dari sekian banyak pertanyaannya tidak satu pun yang terjawab. Kerutan di dahi Fitri semakin berlipat-lipat saja dengan pikirannya.
"Kok bengong? Tuh juga kerutan kenapa semakin terlihat saja?"
Pertanyaan Keynand membuat Fitri terkesiap. Tidak berharap harus menghadapi situasi di luar bayangannya. Tapi dalam kenyataannya sikap Direkturnya itu sudah terlihat mulai berubah.
Fitri menghela nafas panjang. Sebenarnya tidak nyaman rasanya menghadapi Keynand yang datar dan dingin. Mungkin karena sudah terbiasa dengan candaan dan keusilan Pria itu yang mengerjain bawahannya membuat perubahan ini terasa aneh.
"Kamu kenapa Fitri?" tanya Keynand melihat Sekretarisnya yang masih sibuk dengan pikirannya.
"Tidak ada apa-apa, Pak! Masih aman," sahut Fitri singkat. Dia mengingatkan kembali jadwal Direkturnya hari ini dan juga mengkonfirmasikan kesediaan Reynand yang menggantikannya bertemu client.
Keynand hanya mengangguk mengerti. Setelah mendapatkan penjelasan dan dokumen yang butuhkannya, Keynand mempersilahkan Sekretarisnya untuk melanjutkan pekerjaan.
Baru saja melangkah, terdengar ketukan pintu. Keynand mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Suara pintu terbuka dengan diiringi salam.
"Loh Key, kok kamu ada di kantor? Abang pikir kamu tidak masuk?"
Terlihat keheranan di wajah Reynand saat melihat Sosok adiknya di ruang kerjanya.
"Kenapa semuanya heran melihat keberadaan saya di sini? Memangnya saya tidak boleh kerja?" Keynand tersenyum kecut. Kakaknya pun melihatnya dengan pandangan heran.
"Bukan begitu. Saya pikir kamu akan mengambil cuti beberapa hari kedepannya?" Reynand mendapati adiknya itu menghela nafas panjang. Tidak disangka pertanyaannya itu terasa berat bagi Keynand. Bukan karena tidak sanggup menjawab, hanya saja situasi yang dialaminya membuatnya enggan memberikan jawaban itu.
"Kenapa Key? Jadi Pengantin kok semakin berat yang dipikirkan?" Reynand bertanya dengan terus menggoda adiknya itu yang kini telah melepas masa Dudanya. Dia bukannya tidak mengerti apa yang sebenarnya melanda adiknya. Ada perubahan mencolok yang siapapun pasti akan cepat menyadarinya.
"Apa kamu tidak bahagia, Key?" Reynand berhenti melancarkan godaannya. Dia menanyakan keadaan adiknya itu yang menyimpan kegelisahan. Keynand menggelengkan Kepala meskipun hatinya ingin mengiyakan bahwa sejatinya dia tidak merasa bahagia dengan pernikahannya ini.
__ADS_1
Fitri yang terjebak dalam masalah pribadi Direkturnya memilih berpamitan. Sebenarnya dia penasaran, tapi Wanita itu tidak mau mencampuri urusan pribadi Keynand. Menurutnya itu tidaklah sopan.
Sepeninggalnya Fitri, Reynand kembali berbicara dengan Keynand dari hati ke hati.
"Bukankah kamu yang bersikeras ingin menikahi Julaekha meskipun Daddy dan Mommy meminta kamu memikirkannya dengan sebaik mungkin. Kenapa sekarang kamu mendadak galau? Coba jelaskan apa yang membuat kamu terlihat sangat memprihatinkan?"
Keynand tidak langsung menjawab. Kakaknya itu benar-benar menginterogasi dirinya. Apalagi dia orang pertama menentang pernikahannya dengan Julaekha. Meskipun pada akhirnya Reynand menyetujui itu karena terpaksa. Tidak mungkin membiarkan adiknya itu menghadapi pernikahannya sendiri tanpa keluarganya.
Bukan hanya Reynand, Hamiz pun seakan enggan mengajaknya berbicara. Pernikahan dengan Julaekha membuatnya kehilangan teman akrab yang selama ini selalu ada untuknya.
Usai akad nikahnya berlangsung, Hamiz memperlihatkan rasa kecewa karena Keynand ternyata lebih memilih Julaekha dari pada menunggu Qia. Pemuda itu juga merasa bersalah karena telah memperkenalkan Julaekha kepada Keynand. Tadinya dia mengira Julekha sangat tepat untuk Keynand, tapi setelah tahu rahasia Wanita itu membuat Hamiz menyesalinya. Terlambat bagi Pemuda itu untuk menjelaskan. Pada kenyataannya Keynand telah terjerat oleh pesona Julaekha.
"Saya menikahi Julaekha atas permintaan Qia. Karena pernikahan kita tidak di dasari dengan cinta, membuat hubungan kami terasa kaku. Mungkin untuk saat ini seperti itu, tapi bisa jadi ke depannya nantinya saya maupun Julaekha akan saling mencintai. Apa yang Abang lihat saat ini bukan berarti saya tidak bahagia. Abang salah menduga."
Keynand menyangkal apa yang tengah dirasakan kini. Dia berusaha meyakinkan Kakaknya agar tidak terpengaruh dengan prasangka buruknya itu. Dia akan membuktikan bahwa pernikahannya dengan Julaekha akan berujung bahagia. Meskipun dalam bayangannya terasa suram.
"Bukan karena permintaan Qia, kan? Jika karena permintaan Qia kamu pasti bisa menolaknya dengan tegas? Saya tidak percaya seorang Keynand harus patuh dan tunduk pada tekanan seorang Julaekha. Permintaan Qia hanya peralihan dari alasannya yang sebenarnya? Jangan berbohong dengan Abang, Key?"
Keynand tidak ingin menjawab. Di hirupnya udara dengan rakus lalu menghembuskannya dengan kasar. Raut wajahnya berubah mengeras pertanda dia tidak mau membicarakan ini lagi.
"Kita meeting," ucap Reynand menetralisir keadaan yang mulai tidak nyaman. Lelaki dua anak itu tidak ingin memaksa Keynand untuk berterus terang dengan pernikahannya yang dia duga sebuah konspirasi.
Usai Meeting dengan mencapai kerja sama, Reynand kembali ke Kantornya. Sementara Keynand kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Saat dia bekerja fokusnya terpecah dengan deringan panggilan yang masuk ke Handphone. Awalnya Keynand mengabaikan panggilan itu, tapi semakin dia mengabaikan itu semakin deringan itu menerornya dan memaksanya untuk menerima panggilan.
(Iya Julaekha, ada apa?)
(Mas tidak bisakah memberikan perhatian kepada Isterinya sendiri. Mas membiarkan aku kelaparan. Di mana tanggung jawabmu sebagai Suami.")
Terdengar omelan Julaekha di seberang sana.
Keynand menghela nafas panjang. Dia sudah memberikan uang tunai dan juga Kartu ATM. Di Kulkas juga tersedia bahan makanan yang bisa di olahnya lantas kenapa kata-kata protes dan omelan di layangkan kepadanya lagi.
("Julaekha kamu bukan Wanita bodoh, jadi pikirkan apa yang harus kamu lakukan jika tidak bisa mengolah bahan makanan yang ada di Kulkas.")
__ADS_1
Keynand memijet kepalanya yang pening kemudian menghela nafasnya yang terasa berat.
(Aku hanya ingin mendapatkan perhatian dari Suamiku sendiri. Apakah aku salah, Mas? Seorang Suami akan tanggap ketika Isterinya meminta bahkan ketika mengatakan lapar, seharusnya Mas dengan cepat memesankan makanan dan mengirimnya ke rumah. Ini apa yang aku dapatkan? Mas benar-benar tidak punya perasaan.")
Klik
Sambungan terputus. Julaekha memutuskan hubungan sepihak setelah mengomeli Keynand dengan nada kasarnya.
"Lama-lama saya mati berdiri," guman Keynand frustasi.
Dia merenungi nasipnya yang berubah total. Menjungkir balikkan dunia yang semula tenang penuh dengan candaan. Kini hanya perdebatan dan omelan yang dia terima.
Keynand benar-benar menyesali ketidak hati-hatiannya yang menyebabkan dia terkurung dalam jebakan. Hanya satu cara agar dia terbebas yaitu dengan menikahi Wanita itu. Dia tidak bisa menolak apalagi melarikan diri dari jeratan itu. Takdirnyalah yang mengikatnya bersama Julaekha. Dan kini dalam hatinya menggengam luka dan perih yang setiap detiknya menggeroti warasnya.
Abangnya benar, bukan karena permintaan Qia, tapi ada alasan lain yang tidak bisa dia tuturkan kepada siapa pun.
"Mas Keynand, ini surat dari Qia. Dia menitipkannya sebelum pergi."
Julaekha memberikan sebuah surat yang disinyalir dari Rizqia. Dalam surat itu Gadisnya meminta agar Keynand bersedia menikahi Julaekha Syarifah. Bersamaan itu pula dia mendapatkan pesan suara dari Rizqia. Dalam pesan suara itu meminta Keynand untuk menikahi Julaekha Syarifah. Hanya Julaekha Syarifah yang pantas untuk Duda tampan itu.
Keynand menolak mentah-mentah permintaan yang tidak masuk akal itu. Dia meragukan permintaan itu, tapi surat itu benar-benar tulis tangan Rizqia dan pesan suara itu juga suara Gadis itu. Keynand sangat mengenal goresan tangan dan suara Gadis itu sehingga mempercayai bahwa Rizqialah yang meminta itu.
Keynand tidak serta merta mengabulkan keinginan Calon Isterinya. Dia menghubungi Gadis itu, namun ternyata nomor Handphonenya tidak aktif lagi. Tidak itu saja dia mencari ke rumah Rizqia untuk meminta penjelasan. Namun tidak ada Gadis itu di sana. Rumah yang ditempati oleh Qia ternyata sudah di tempati orang lain. Itu artinya Rizqia meninggalkan rumahnya. Tidak putus asa, Keynand mencari keberadaan Rizqia di Desa. Mungkin saja Rizqia tinggal bersama Rizqy dan Habibah. Lagi-lagi ikhtiarnya tidak membuahkan hasil. Rizqy, Habibah dan Qia tidak di temukan keberadaannya, meskipun Keynand mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari mereka.
Mengingat itu, Keynand menjambak rambutnya dengan kasar. Kemudian tangannya memukul dinding sebagai cara melampiaskan ketidak berdayaan. Luka dan rasa sakit itu tidak dia hiraukan lagi. Sebab luka dan perih yang terasa di hatinya lebih parah dari yang terlihat.
"My cerri, Abang merindukanmu. Kenapa kamu menyiksa Abang dengan kepergianmu dan membiarkan hidup bersama Julaekha. Tidak tahukah kamu Abang sangat menderita."
Keynand luruh dalam ketersiksaan. Dia terduduk lumpuh dengan tangannya tetap memukul tembok untuk meluapkan sesak dalam dadanya.
Dering telpon itu menyadarkan Lelaki itu dari keterpurukannya.
("Apa kerjaan kalian, mencari mereka saja kalian tidak becus.")
Keynand berteriak memarahi anak buahnya yang mengabari bahwa mereka tidak berhasil melacak keberadaan Rizqy, Habibah dan Qia.
__ADS_1
"Calon Kakak Ipar, apa kamu sengaja mengajakku bermain petak umpet. Kalian meninggalkan jejak, tapi nyatanya hanya sebuah tipuan belaka." Keynand berguman lemah.
Bersambung.