Heartless 2

Heartless 2
Chapter 107


__ADS_3

🍁Jatuh itu perlu, agar kita tahu siapa yang mengulurkan tangannya saat kita terjatuh dan siapa yang bertepuk tangan saat kita terjatuh🍁


.


.


.


.


Jantung Clarisa berdetak dengan cepat mendengar suara yang sangat ia kenali dan juga suara itu yang sudah membuatnya bahagia sekaligus menorehkan luka di hatinya. Pandangannya seketika berkaca-kaca saat ia menatap sosok yang ia pikirkan dan rindukan selama sebulan ini.


Clarisa loe harus ingat status loe dan dia itu bagai langit dan bumi, batin Clarisa dengan getir.


Mikhail mengerutkan keningnya tak suka membaca isi pikiran kekasihnya yang selalu saja memikirkan dengan bahasa Indonesia, sedari kecil ia sangat tidak menyukai hal-hal berbau Indonesia apa lagi menyangkut tentang keluarga mommynya.


"Kenapa? Kenapa kamu menolong aku?" tanya Clarisa dengan suara bergetar.


"Apa kamu ingin mati?" tanya balik Mikhail.


"Kamu sudah tahu jawabannya" jawab Clarisa dengan singkat.


Gigi Mikhail gemeletuk mendengar ucapan kekasihnya yang ingin mati tak memikirkan lagi hidupnya sendiri.


Aura didalam kamar seketika berubah menjadi sangat mencekam membuat bulu kuduk Clarisa bangun dan ia yang tahu asal aura ini menelan salivanya berkali-kali tak ingin menatap Mikhail.


"Mau kemana kamu!" bentak Mikhail saat melihat Clarisa yang bangun dari ranjang.


"Pulang. Ini bukan tempatku" ucap Clarisa dengan tegas.


"Jadi kamu ingin pergi dariku" hardik Mikhail dengan suara tinggi.


"BUKANNYA KAMU YANG LEBIH DULU MENINGGALKAN AKU. LALU KENAPA KALAU AKU INGIN PERGI DARI SINI" teriak Clarisa sudah tak bisa tahan dengan emosinya.


Plak..............


Clarisa kaget bukan main tak menyangka akan mendapat tamparan yang begitu kuat dari Mikhail hingga sudut bibirnya sobek. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga tak kuat menahan rasa sakit di pipi dan hatinya saat ini.


"Baby" ucap Mikhail dengan lirih tak menyangka akan kelepasan emosi seperti ini kepada kekasihnya.


"Terima ka.....sih" ucap Clarisa dengan suara sesegukan.


"Clarisa" ucap Mikhail dengan suara lembut.


"Hiks hiks hiks hiks............maaf jika saya membuat tuan emosi barusan. Tuan tidak perlu merasa bersalah karena sudah menampar saya karena saya selama ini sudah biasa menahan sakit tamparan seperti itu" ucap Clarisa menatap Mikhail dengan berderai air mata.


"AKU BUKAN TUANMU CLARISA!" bentak Mikhail dengan suara tinggi.


"Maaf tuan"


Clarisa berbalik ingin segera pergi dari sana karena sudah tak kuat lagi menatap Mikhail sebelum ia lupa diri. Tubuhnya bergetar hebat saat ingatan-ingatan masa kecilnya berputar di kepalanya menandakan traumanya muncul.


Sakit...........hiks hiks hiks, batin Clarisa sambil menangis dalam diam tidak ingin mengeluarkan suara.


Deg............


Jantung Mikhail berdetak dengan cepat membaca pikiran Clarisa barusan apa lagi melihat tubuhnya yang bergetar semakin hebat.


Dengan sekali tarikan Mikhail membalikkan tubuh Clarisa menghadapnya dan saat itu juga matanya melotot meliat bibir Clarisa yang membiru karena digigit untuk menyalurkan rasa sakit di kepalanya.


"Baby kamu kenapa?" tanya Mikhail dengan khawatir.

__ADS_1


"Khail please k...ill me. Aku tidak kuat lag.....i mena.....han sak....it di kepalaku............hiks hiks hiks" (Khail tolong bunuh aku) ucap Clarisa sambil menangis histeris dengan wajah pucat seperti mayat.


"No baby. Aku tidak mengijinkan kamu pergi apa lagi mati. Jangan pernah berkata seperti itu baby" (tidak sayang)


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


"Hiks hiks hiks..........sakit Khail............hiks hiks hiks" lirih Clarisa sambil memegang kepalanya dan mengigit bibirnya dengan kuat.


Cup..............


Mikhail mencium bibir Clarisa tak ingin Clarisa menyakiti tubuhnya sendiri dan juga Mikhail memeluk erat tubuh Clarisa agar kekasihnya tak melakukan hal-hal yang seperti tadi. Otaknya langsung berpikir jika luka di lengannya pasti karena traumanya yang muncul.


"Ma.....ma.......hiks hiks hiks.........Cla tidak kuat lagi............hiks hiks hiks" tangis Clarisa semakin pecah dan terdengar sangat pilu.


"Aku disini baby. Tenangkan dirimu karena mulai sekarang tidak akan ada lagi yang akan melukaimu karena aku akan berdiri tepat di depanmu untuk menjadi pelindungmu" ucap Mikhail dengan suara tegas.


Seperti sihir, ucapan Mikhail barusan membuat Clarisa perlahan-lahan tak merasakan sakit di kepalanya dan ingatan-ingatan kejadian di masa kecilnya seketika menghilang.


"Khail" lirih Clarisa sambil menatap Mikhail dengan tatapan sayu.


Glek...........


"Baby jangan menatapku seperti itu karena aku tidak bisa menahannya untuk melahap kamu detik ini juga" ancam Mikhail memperingatinya.


Clarisa tersenyum sangat manis dan tiba-tiba tertidur di pelukan Mikhail yang terasa sangat hangat dan nyaman seperti pelukan mamanya dulu. Mikhail mengecup kening Clarisa berkali-kali dengan sangat lembut merasa lega kekasihnya sudah tak merasakan sakit lagi.


Mikhail menidurkan Clarisa di ranjang dengan sangat pelan agar ia tidak terbangun karena ia harus memberi pelajaran kepada orang yang sudah membuat kekasihnya mendapat trauma seperti ini.


"Damon" panggil Mikhail dengan aura membunuh.


"Semua data masa lalu nona Clarisa sudah aku kirim ke email King"


"Teivel kamu pergi urus masalah di Spanyol sekarang. Bunuh mereka semua yang menyerang markasku" titah Mikhail saat melihat notifikasi peringatan di hpnya.


"Cari dokter khusus trauma yang paling hebat dan bawa dia ke hadapanku dalam 1 jam" ucap Mikhail sambil menatap Marcel dengan tajam.


"Oke bos" ucap Marcel tak membantah.


"Besok kirim virusmu itu ke mereka" ucap Mikhail sambil tersenyum menyeringai.


"Apa boleh aku sendiri yang mengirimnya langsung King" pinta Marcel dengan mata berbinar-binar.


"Pastikan mereka semua hilang tak berbekas"


"Siap bos" balas Marcel dengan semangat.


Marcel bergegas keluar dari ruangan Mikhail untuk mencari dokter trauma seperti ucapan Mikhail tadi, sedangkan didalam ruang kerjanya Mikhail sedang membahasa rencananya untuk pembalasan keluarga Baker.


"Besok perusahaan mereka harus sudah colaps dan beritahu semua investor jika mereka membantu Baker Company maka kita akan memutus hubungan kerja sama apapun dengan perusahaan mereka" ucap Mikhail memberi perintah.


"Baik King" jawab Damon langsung berkutat dengan iPad miliknya.


~ Mansion Utama Wesly ~


Saat ini Xander dan saudara kembarnya sedang berbicara tentang misi Vincent dan Leon semalam dimana ia menghabisi seluruh keluarga besar tiri daddy mereka, tersisa hanya aunty Sarah saja karena hanya dia dari dulu yang baik dengan daddy mereka berbeda dengan keluarga mereka yang tamak.


"Kenapa daddy tidak bunuh saja mereka dari dulu" protes Victor setelah mendengar cerita masa lalu daddynya.


"Karena waktu itu masih ada nenek buyut kalian. Biar bagaimanapun dia adalah mommy kandung grandpa kalian" ucap Xavier dengan suara tegas.


"Kesal banget aku sama mereka daddy. Rasanya aku ingin menghajar mereka" dengus Victor dengan emosi.

__ADS_1


"Beneran kamu ingin menghajar mereka Vic?" tanya VIncent.


"Iya twin. Memangnya kenapa?" tanya Victor dengan cepat.


"Kamu masih bisa menghajar mereka saat ini"


"Yang benar twin. Dimana mereka sekarang? Ayok kita pergi hajar mereka" pekik Victor dengan semangat.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Vincent mengulum senyumnya tak ingin sampai tertawa melihat kembarannya yang sedari dulu mudah saja di tipu dengan hal-hal kecil seperti ini. Sedangkan Xander dan daddy mereka menatap keduanya dengan malas karena tahu sebentar lagi pasti akan ada keributan.


"Kamu bisa berduel dengan Pita dan kawan-kawannya karena mereka berada dalam perut Sandra Vic! Hehehe" ucap Vincent sambil terkekeh.


"APA" teriak Victor dengan kaget.


Matanya melotot melihat kembarnya yang sudah tertawa karena berhasil membohonginya, saking kesalnya ia langsung melempar Vincent dengan bantal sofa didalam ruang kerja Xavier membuat ruangan yang biasanya rapi seketika berantakan.


"Sialan kamu twin! Beraninya kamu mempermainkan aku!" hardik Victor dengan kesal.


"Siapa suruh kamu mau aja percaya" ucap Vincent dengan sinis apa lagi tatapan matanya yang mengejek Victor.


Xander dan daddynya memilih keluar dari sana karena keduanya tidak suka dengan keributan.


Sedangkan didalam taman kaca saat ini Zelena sedang tidur di pangkuan mommynya menikmati usapan lembut sang mommy yang sedari dulu sangat menenangkannya jika ia sedang banyak pikiran.


"Katakan apa yang membuat princess mommy seperti ini" ucap Chloe dengan suara lembut.


Zelena lalu menceritakan semua kebimbingan dalam hatinya dan juga permasalahannya bersama Ares saat ini kepada mommynya. Mendengar ceirta putrinya Chloe tersenyum manis menatap putrinya dengan tatapan hangat.


"Tidak ada manusia didunia ini yang sempurna princess. Dalam sebuah hubungan kedua belah pihak harus menerima kekurangan dan kelebihan pasangan mereka agar hubungan mereka tetap harmonis ke depan princess" nasehat Chloe dengan suara lembut.


"Mommy dulu juga takut berhubungan dengan seorang mafia tapi seiring berjalannya waktu mommy tahu jika apa yang mereka lakukan itu semata-mata ingin menjaga milik mereka dari orang-orang yang tamak. Mereka juga bisa menjadi kejam disaat milik mereka di ganggu" tambahnya lagi.


"Kalau menurut mommy aku itu salah tidak mommy?" tanya Zelena.


"Kamu pasti ingat cerita aunty Mira dan uncle Albert kan princess. Mommy hanya ingin kamu tidak akan menyesal sebelum semuanya terlambat dan yang paling penting ikuti kata hatimu princess" jawab Chloe.


"Thankyou mommy aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan sekarang" pekik Zelena dengan bahagia.


"Jika dia masih berada di Amerika ajaklah kekasihmu untuk makan malam bersama disini"


"Oke mommy aku akan beritahu Querido sekarang" ucap Zelena dengan semangat segera berlari keluar menuju kamarnya untuk menghidupkan hpnya yang ia matikan sejak sampai di mansion.


~ Seoul, Korea Selatan ~


Dor............dor................dor...............


Tiba-tiba 3 tembakan entah dari mana meleset ke mobil yang dinaiki oleh Natasha dan beruntung mobilnya anti peluru jadi ia tidak kenapa-napa. Pengawal Natasha segera keluar untuk menghabisi orang yang sudah berani menembak mobil nona muda mereka.


"Siapa mereka Mila?" tanya Natasha.


"Saya tidak tahu nyonya. Nyonya sebaiknya kita bergegas pergi dari sini biarkan para pengawal mengurus mereka" usul Mila.


"Baiklah. Beritahu semuanya untuk menjaga keselamatan mereka" titah Natasha.


"Baik nyonya"


Mobil Natasha bergegas pergi dari sana di kawal oleh satu mobil pengawal meninggalkan 4 mobil pengawal di sana untuk membereskan musuhnya, tapi tanpa Natasha sadari ternyata penembakan tadi hanya pengalihan saja agar ia bisa lepas dari pengawalannya yang ketat.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...

__ADS_1


To be continue............


__ADS_2