Heartless 2

Heartless 2
Chapter 157


__ADS_3

🍁Kita hidup hari ini, kita akan hidup lagi. Dengan berbagai cara jiwa kita akan hidup kembali🍁


.


.


.


.


Sepanjang jalan menuju ke ruangan yang akan ia pakai entah untuk apa nanti Marcel merekam semua yang ada disana, lewat cincin yang ia pakai yang terdapat kamera kecil disana buatan Damon dan cincin itu juga tidak bisa dideteksi oleh alat pendeteksi.


“Ini ruangan khusus untuk kamu” ucap Kein dengan suara dingin membuka pintu didepannya.


Marcel masuk ke dalam sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling melihat ruangan yang akan ia pakai tak jauh berbeda dengan lab yang berada di rumah sakit.


“Aku suka ruangannya” ucap Marcel sambil tersenyum.


“Baguslah. Mulai hari ini ruangan ini akan menjadi milikmu dan kamu bebas melakukan apa saja didalam sini” ucap Kein dengan wajah datar.


“Woah! Perfect! Aku sudah tidak sabar! Hehehehe” pekik Marcel dengan senang sambil terkekeh.


“Lord akan memberitahu apa yang harus kamu lakukan. Sebelum itu sebaiknya kamu tidak berkhianat kepada Lord atau melakukan sesuatu di belakang Lord jika tidak ingin menjadi makanan peliharaan Lord” ucap Kein memperingatinya.


“Wow wow. Tenang kawan karena aku tahu apa yang harus aku lakukan tanpa kamu beritahu” ucap Marcel dengan cepat.


“Lagian hanya orang gila saja yang memilih berkhianat di tempat antah berantah yang tak tahu letaknya dimana. Aku memang seorang dokter yang bisa dibilang sedikit gila tapi otak aku tidak gila dude” tambahnya lagi sambil tersenyum penuh arti.


“Aku pegang ucapanmu”


Kein bergegas pergi dari sana meninggalkan Marcel yang melihatnya dengan wajah polos tapi dalam hatinya saat ini ia sedang tertawa sinis. Marcel berjalan melihat sekeliling ruangan dan bertingkah seperti biasa saja.


Ckk!! Kalian mau main curang ya! Aku ini anak buah King dan aku sudah dilatih dari kecil dan aku tahu saat ini tua bangka itu sedang mengawasiku, batin Marcel sambil tertawa dalam hati.


Benar sesuai apa yang Marcel pikirkan karena saat ini Erich sedang mengawasinya lewat cctv yang ia sembunyikan didalam sana, karena ia adalah orang yang sangat licik dan tidak mudah percaya begitu saja dengan orang baru.


“Pantau dia selama 24 jam dan jika ada yang mencurigakan kamu tahu apa yang harus kamu lakukan Kein” ucap Erich dengan suara dingin.


“Iya Lord saya tahu” balas Kein dengan sopan.


“Malam nanti lakukan seperti biasanya dan suruh anak buahmu untuk bersiap” titah Erich dengan suara tegas.


“Apa saya harus menaruh racun di makanannya Lord?” tanya Kein.


“Terserah kamu. Aku hanya akan menonton apa dia itu bisa dipercayai atau tidak” jawab Erich dengan suara tegas.


“Baik Lord”


“Apa orang itu sudah masuk ke sana?” tanya Erich dengan suara dingin.


“Sudah Lord” jawab Kein.


“Tetap lakukan penyerangan ke mereka semua seperti biasa dan suruh orang itu untuk melakukan bagiannya” ucap Erich sambil tersenyum menyeringai.


“Baik Lord”


“Pastikan dia jangan sampai ketahuan apapun yang terjadi” ucap Erich memperingatinya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Baik Lord”


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Kein segera berlalu pergi dari sana untuk melakukan perintah Erich, meninggalkan Erich sendiri di ruang kerjanya yang sedang memantau semua anak buahnya yang sedang berlatih di markasnya di kastil ini.


“Sedikit lagi aku akan membalas dendammu saudara” ucap Erich dengan tatapan penuh kebencian dan dendam.


~ Mansion Sean Rahardian ~


Prang……………..prang……………..prang……………….


Bunyi benda pecah didalam kamar Calista semakin menjadi setelah pemakaman putrinya kemarin membuat Demian sangat khawatir dengan kondisi mamanya.


“Ma jangan seperti ini terus. Ikhlaskan ka Daniella ma” ucap Demian dengan lirih.


“APA KAMU BILANG! IKHLASKAN? SAMPAI MATIPUN MAMA NGAK AKAN PERNAH IKHLASKAN KEMATIAN KAKAKMU!” bentak Calista dengan suara tinggi.


“Ma ka Daniella sudah mati dan jika dia melihat mama seperti ini dia akan sedih ma” bujuk Demian.


Plak…………….


Demian kaget mendapat tamparan dari mamanya yang sangat kuat hingga bibirnya sobek terkena cincin yang dipakai oleh mamanya. Sedangkan Calista ia menatap putranya itu dengan tatapan tajam seakan ingin menelannya hidup-hidup.


“KAKAKMU ITU DIBUNUH OLEH ANAK SIALAN ITU DAN KAMU NYURUH MAMA UNTUK IKHLAS MENERIMANYA” hardik Calista dengan suara menggelegar.


“Jika memang ka Daniella dibunuh apa mama akan membalas dendam dengan cara yang sama. Seharusnya mama tahu kenapa ka Daniella disiksa oleh ka Ares ma dan itu semua karena kesalahan ka Daniella ma!” bentak Demian dengan suara tak kalah tinggi.


“Anak kurang ajar! Berani kamu membentak mamamu sendiri” ucap Calista dengan emosi.


“Keluarga? Hahahahaha” tawa Calista pecah didalam sana mendengar ucapan putranya itu.


Matanya berkilat tajam menatap Demian membuat Demian hanya bisa menahan napas melihat wajah sang mama yang diliputi rasa dendam dan amarah.


“Keluarga itu tidak akan membunuh keluarganya yang lain. Selama ini mama diperlakukan buruk oleh keluarga papamu apa itu yang dibilang keluarga?” tanya Calista dengan suara tinggi.


“Seharusnya mama tahu kenapa semua keluarga besar Rahardian memperlakukan mama seperti itu. Karena itu semua ulah mama yang menjebak papa untuk tidur dengan papa dan mama hanya ingin menguasai semua harta papa bukan karena mencintai papa” jawab Demian dengan suara tegas.


Plak………….plak………..plak………..plak………..…


Demian diam saja membiarkan mamanya menampar pipinya berulang kali dan tidak mengeluh atau membalasnya. Ia tahu mamanya saat ini sedang dalam keadaan emosi karena belum bisa menerima kematian kakaknya.


Jika dengan nampar gue bisa meredam amarah dan dendam mama gue rela ma, batin Demian dengan sedih.


Sebenarnya ia memang marah saat mengetahui kematian kakaknya, tapi ia lebih marah lagi mengingat apa yang sudah dilakukan oleh kakaknya selama ini.


Ia juga tahu kalau selama ini mama dan kakaknya berencana ingin membunuh papa dan ka Ares tapi ia diam saja.


Sean dan Ares yang melihat keduanya dari depan pintu hanya diam saja tak ingin berkomentar apa-apa. Apa lagi Sean yang sudah tahu siapa yang sudah membunuh Daniella hanya diam saja tak ingin mengatakan satu katapun.


“Apa papa ngak sedih kehilangan salah satu anak papa?” tanya Ares saat keduanya sudah berada di taman belakang.


“Ngak ada satu orang tua yang ngak akan sedih kehilangan anak mereka. Semarah atau sebenci mereka kepada anak mereka tetap mereka akan merasa sedih jika anak mereka mati” jawab Sean dengan suara tegas.


“Heemmmm” deham Ares yang tahu maksud ucapan papanya.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...

__ADS_1


Keduanya terdiam sangat lama dengan pemikiran mereka masing-masing mengenai apa yang terjadi didalam keluarga mereka, dan itu cukup mengejutkan untuk semua keluarga besar Rahardian.


“Apa kamu sudah bertemu dengan kakekmu?” tanya Sean dengan suara dingin.


“Belum pa. Aku tahu kakek pasti akan memarahiku akan hal ini karena biar bagaimanapun dia itu cucu kakek” jawab Ares dengan santai.


“Lalu?” tanya Sean dengan tatapan menyelidik.


“Aku tidak perduli jika kakek akan marah pa. Karena menurutku dia pantas buat mati karena sudah berani mengusik kekasihku” jawab Ares dengan suara tegas.


“Papa ngak bisa komentar apapun dan papa serahin semuanya ke kamu”


“Iya pa”


Ares lalu pergi dari sana karena sudah tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan dengan papanya. Saat sampai di ruang keluarga ia berpapasan dengan Demian yang hendak menuju ke dapur.


Mata tajam Ares menatap Demian dengan tajam dan datar membuat Demian menunduk tak berani mengangkat kepalanya melihat wajah datar dan dingin kakaknya itu.


“Beritahu perempuan tua itu kalau gue tunggu kapan aja dia mau balas dendam dengan kematian kakak ja**ng loe itu” ucap Ares dengan suara dingin.


Demian hanya bisa menatap kepergian kakak tirinya dengan tatapan sendu tak bisa membalas ucapan kakaknya tadi.


Ada rasa sedih dan sakit di hatinya saat tidak di anggap oleh kakaknya selama ini, padahal ia sangat berharap sekali saja kakaknya mau memperlakukan dia seperti saudara sepupu mereka.


~ Mansion Utama Wesly ~


Vincent mengumpat kesal karena malam ini ia diusir lagi dari kamarnya sendiri oleh istrinya, dengan alasan Natasha merasa kesal dan selalu marah jika melihat wajahnya saat ingin tidur.


“Diusir lagi?” tanya Xavier saat hendak ingin mengambil minum buat istrinya.


Phew…………….


Vincent membuang napasnya dengan kasar sambil menatap daddynya dengan malas karena ia yakin pasti daddynya akan mengganggunya.


“Jangan kesal itu semua karena hormon saat hamil” ucap Xavier sambil duduk di samping Vincent.


“Tapi aku kesal daddy kenapa harus setiap malam. Sedangkan paginya Natasha selalu tidak mau berjauhan dariku?” tanya Vincent dengan kesal.


“Heemmm! Daddy tidak tahu coba nanti kamu tanya ke daddy Thomas karena waktu mommy Valeria hamil Mikhail dan Natasha daddy Thomas itu dibuat darah tinggi setiap hari” jawab Xavier.


“Really?” (beneran) tanya Vincent dengan kaget.


“Ya. Daddy ingat waktu itu daddy Thomas selalu saja menelpon daddy mengatakan jika mommy Valeria selalu mengusirnya pergi karena ia sangat kesal melihat wajahnya. Akhirnya pas Mikhail lahir keduanya seperti air dan minyak yang tidak akan pernah bersatu son” jawab Xavier menjelaskan.


“Itu artinya anak kamu tidak menyukaimu twin” tambah Victor sambil tersenyum penuh arti.


“Ckk!! Lebih baik kamu tutup mulut sialanmu itu Vic” decak Vincent dengan kesal.


“Menurut daddy ada benarnya juga ucapan Victor son. Coba kamu lihat daddy Thomas dan Mikhail selama ini mereka tidak pernah akur” ucap Xavier.


Vincent memikirkan ucapan daddy dan kembarannya yang ada benarnya juga, karena setahunya selama ini daddy Thomas dan kakak iparnya tidak pernah bersatu dan selalu saja berdebat jika bertemu.


Pokoknya ini tidak boleh terjadi kalau sampai anakku tidak menyukaiku nanti, batin Vincent dengan cemas.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


To be continue…………….

__ADS_1


__ADS_2