
πPada akhirnya yang menentukan bukanlah bahwa kita kaya atau pintar tapi apakah kita bahagiaπ
.
.
.
.
Mikhail mengangkat alisnya sebelah melihat kekasihnya yang belum tidur padahal sudah dini hari. Sedangkan Clarisa ia kaget melihat Mikhail yang pulang dengan berlumuran darah di sekujur tubuhnya.
"Apa kamu terluka? Dimana lukanya Khail? Siapa yang melakukannya? Bagian mana yang terluka Khail?" tanya Clarisa beruntun dengan wajah panik.
Wajah khawatir dan cemas Clarisa membuat Mikhail terdiam karena baru pertama kali ada perempuan yang bertanya seperti itu kepadanya selain kedua orang tuanya.
"Jangan diam saja Khail...........hiks hiks hiks......mana yang terluka" pekik Clarisa sambil menangis.
"Kamu mengkhawatirkan aku?" tanya Mikhail dengan suara dingin.
"Apa otakmu bergeser? Bagaimana tidak seorang kekasih tak mengkhawatirkan pacarnya yang pulang dengan keadaan berlumuran darah seperti ini" hardik Clarisa dengan suara tinggi.
Cup............
Bukannya menjawab pertanyaan Clarisa malah Mikhail mencium bibirnya dengan menggebu-gebu merasa senang mendengar ucapan kekasihnya barusan.
Clarisa memukul dada Mikhail merasa napasnya satu-satu akibat ciuman Mikhail yang tak memberinya kesempatan untuk bernapas sedikit saja.
Hosh...........hosh.........hosh..........
Napas Clarisa stau-satu setelah ciuman keduanya terlepas. Ia menghirup oksigen sebanyak mungkin merasa dadanya sesak karena kehabisan napas.
"KHAIL" teriak Clarisa menggelegar tiba-tiba ia digendong Mikhail seperti koala.
Dengan cepat Clarisa mengalungkan kedua tangannya di leher Mikhail takut terjatuh. Tak berbicara banyak Mikhail membawanya ke kamar di lantai 2.
"Kenapa kamu mengendong aku Khail?" tanya Clarisa dengan kesal.
"Kenapa kamu belum tidur jam segini baby?" tanya balik Mikhail sambil menaruh Clarisa di ranjang.
"Kamu itu! Bukannya menjawab tapi kamu malah balik bertanya" dengus Clarisa sambil memanyunkan bibirnya kesal.
Cup..............
Mata Clarisa melotot menatap Mikhail karena mencium bibirnya kembali tak menjawab pertanyaannya sedari tadi. Mikhail sendiri terkekeh melihat wajah cemberut kekasihnya yang sangat mengemaskan.
"Kamu sangat mengemaskan jika sedang kesal baby" goda Mikhail sambil terkekeh.
"Ckk!! Menyebalkan" ketus Clarisa.
"Kamu tidur sekarang baby aku akan membersihkan diri dulu"
"Tapi kamu terluka Khail" potong Clarisa dengan cemas.
"Aku tidak terluka baby"
"Tapi itu ada darah ditubuh kamu Khail"
"Ya memang baby! Tapi bukan darahku" ucap Mikhail dengan suara dingin.
"Tapi"
"Kembali tidur baby. Jika penasaran besok aku akan beritahu" tegas Mikhail dengan suara tegas tak mau dibantah.
"Baiklah" ucap Clarisa pasrah tak membantah lagi.
Mikhail tersenyum tipis melihat kekasihnya yang naik ke ranjang sambil menggerutu seperti anak kecil. Ia hanya terkekeh membaca pikiran kekasihnya yang mengumpatnya.
Setelah berendam agak lama di dalam kamar mandi Mikhail akhirnya menyudahi acara mandinya. Ia keluar hanya memakai handuk sepinggang sambil mengelap rambutnya yang basah.
Matanya memicing melihat kekasihnya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Mikhail tahu jika Clarisa belum tidur dan sedari tadi pasti sedang menunggunya untuk bertanya.
Tebakan Mikhail benar Clarisa perlahan-lahan menurunkan selimutnya setelah mendengar bunyi langkah kaki Mikhail yang sudah beranjak ke walk in closet.
Tak berapa lama Clarisa kembali menutup mata mendengar bunyi langkah kaki dari walk in closet. Jantungnya berdetak dengan cepat saat merasa kasur di sampingnya terguncang.
...π π π π π...
"Aku tahu kamu pura-pura tidur baby" bisik Mikhail sambil memeluk erat pinggang Clarisa.
Blush.............
Wajah Clarisa merah padam merasa sangat malu karena ia ketahuan belum tidur. Mau tak mau ia harus membuka mata karena sudah kedapatan.
"Khail" panggil Clarisa dengan suara lembut.
"Heeemmm"
Clarisa mengigit bibirnya saat bibir Mikhail menempel sempurna di lehernya dan mengigit kecil-kecil, dia yakin pasti besok lehernya akan seperti bekas gigitan vampir.
Kenapa dia seperti vampir yang suka mengigit leherku, batin Clarisa dengan kesal.
Mikhail tersenyum smirk membaca pikiran Clarisa dan kembali melanjutkan kegiatannya. Sedangkan Clarisa ia hanya pasrah saja karena jika protes Mikhail tak akan menggubrisnya.
"Geli Khail" lirih Clarisa menahan suara desahannya yang akan keluar.
"Heemmmm"
"Khail apa yang terjadi?" tanya Clarisa setelah Mikhail sambil mengendus lehernya lagi.
"Itu bukan darahku tapi musuhku"
__ADS_1
Deg..............
Jantung Clarisa berdetak dengan cepat memikirkan ucapan Mikhail barusan. Ia lupa jika kekasihnya itu adalah seorang mafia berdarah dingin.
"Kenapa harus dibunuh Khail?" tanya Clarisa dengan gugup.
"Dibunuh atau membunuh baby! Jika aku melepas mereka berarti aku yang akan dibunuh" ucap Mikhail sambil menatap Clarisa dengan tajam.
Glek.............
Clarisa menelan salivanya dengan susah melihat tatapan tajam Mikhail yang sangat mengerikan.
"Boleh aku bertanya" lirih Clarisa dengan suara pelan.
"Heemmm"
"Apa nama kelompok kamu dan apa yang kalian lakukan?" tanya Clarisa dengan suara bergetar.
Mikhail menatap kekasihnya dengan tajam seakan memindai isi otaknya. Ia tahu jika kekasihnya itu merasa takut dengan kelompoknya apa lagi predikat mafia di kalangan masyarakat itu adalah kejam dan pembunuh berdarah dingin.
"Black Shadow" ucap Mikhail dengan suara tegas.
Hah..............
"Kelompokku bergerak di bidang pelayan informasi terbesar dan tersembunyi di dunia baby" tambahnya lagi dengan suara tegas.
"Kalian tidak menjual narkoba, perdagangan manusia, dan lainnya kan?" tanya Clarisa dengan penasaran.
"No baby. Seperti namanya kelompok aku itu seperti bayangan yang melayani jasa pembelian informasi apapun dengan bayaran mahal. Aku juga mempunyai anak buah saat ini jumlahnya 30.000 dan tersebar di seluruh dunia"
"Apa" pekik Clarisa dengan kaget.
Ia tak menyangka jika kekasihnya itu adalah ketua mafia dari kelompok yang sangat besar. Selama ini Clarisa hanya berpikir jika Mikhail itu hanya anggota mafia bukan ketuanya.
Jadi gue itu pacaran sama ketua mafia, batin Clarisa dengan lemas.
Mikhail mengerutkan keningnya tak mengerti apa yang dipikirkan pacarnya. Ia bertekad mulai besok akan selalu membawa penerjemah otomatis agar bisa mengetahui pikiran kekasihnya itu.
Meski masih sangat penasaran tapi akhirnya Clarisa mengalah saat dipaksa tidur oleh Mikhail. Mau tak mau Clarisa mengikuti ucapan kekasihnya untuk tidur dalam pelukannya.
~ Universitas Karya Bangsa ~
Zelena terus menggerutu karena sejak kemarin tak bisa menghubungi sahabatnya itu padahal ia sudah sangat penasaran dengan gosip di kampusnya saat ini.
"Mi amor apa kamu tidak ingin turun?" tanya Ares dengan suara lembut.
Hah...............
Zelena tercengang mendengar ucapan Ares barusan dan langsung melihat ke sekelilingnya dan baru sadar jika mobil mereka sudah sampai di kampus Karya Bangsa.
"Kenapa kamu berhenti disini querido?" tanya Zelena dengan kesal.
"Ini parkiran khusus petinggi kampus mi amor jadi tidak akan ada mahasiswa yang melihat kamu turun dari mobilku" ucap Ares menjelaskan kepada kekasihnya.
...π π π π π...
Ares mengacak rambut Zelena mendengar ucapan singkat kekasihnya yang membuatnya selalu saja tak habis pikir arah jalan pikirannya.
"Jangan terlalu berdekatan dengan orang baru mi amor" ucap Ares memperingati pacarnya.
"Tapi kalau mereka yang dekati aku bagaimana?" tanya Zelena dengan wajah polos.
"Jauhi mereka!" tegas Ares.
"Ngak bisa querido. Lagian aku akan ngak kenal mereka dan mereka yang dekati aku bukan aku" bantah Zelena dengan cepat.
Ares diam membenarkan ucapan kekasihnya karena sejatinya bukan Zelena yang akan mendekati mereka tapi mereka yang berniat mendekatinya.
"Apapun itu jangan terlalu percaya dengan orang baru mi amor"
"Baiklah querido"
"Pulang dari kampus mampir ke kantor aku ya mi amor" bujuk Ares.
"Aku ngak janji querido. Lihat saja nanti soalnya aku ingin mencari Clarisa dan bertanya mengenai rumor itu" ucap Zelena sambil membenarkan kaca matanya.
"Heemmm"
"Aku pergi ya querido kamu hati-hati dijalan" pamit Zelena berlalu keluar tak lupa mencium pipi Ares seperti biasanya.
Ares menggelengkan kepalanya melihat kekasihnya yang berlari menuju ke kampus. Raut wajahnya seketika berubah datar kembali seperti biasa dan berlalu menuju perusahaan.
Sedangkan Clarisa yang kebetulan hari ini masuk kampus mengerutkan keningnya melihat semua mahasiswa yang seperti menatapnya dengan sinis saat ia berjalan.
Kenapa mereka natap gue kayak gitu ya, batin Clarisa dengan bingung.
Tak mau ambil pusing Clarisa bergegas menuju kelasnya di fakultas desain. Sampainya di dalam kelas lagi-lagi ia ditatap dengan tatapan jijik dan mencemooh.
"Akhirnya baby sugar kita muncul juga" ucap Gres dengan suara lantang.
"Gres" lirih Clarisa dengan bingung melihat Gres yang berada di depannya.
Setahunya Gres sudah dikeluarkan dari kampusnya ini tapi kenapa ia bisa berada disini dan keluar masuk kampus dengan bebas.
"Long tiem no see bi**h" (lama tidak berjumpa ja***g) sinis Gres sambil tersenyum menyeringai.
Jadi dia itu yang ada di forum kampus ya
Wah ngak nyangka gue kalau dia itu seperti itu
Gayanya aja cupu tapi ternyata aslinya perempuan ngak benar
__ADS_1
Zaman sekarang ya siapa yang ngak butuh duit cepat sih? Tapi gue ngak nyangka ternyata sih cupu bisa jadi sugar baby kakek-kakek
Gue jijik sekelas sama seorang sugar baby kayak dia
Bisik-bisik teman sekelas Clarisa terdengar di dalam ruang kelas membuat Clarisa menjadi takut, karena tak menyangka dia dituduh menjadi sugar baby oleh seseorang.
"Ap.....a maksud loe semua?" tanya Clarisa dengan tubuh bergetar.
"Jadi pemeran utama kita belum tahu ya mengenai gosip yang kemarin beredar di forum kampus" ejek Gres dengan wajah sinis.
"Gosip?" tanya Clarisa dengan wajah bingung.
Gres lalu menunjukkan gosip di forum kampus kemarin tepat di wajah Clarisa. Wajah Clarisa seketika memucat melihat foto-foto dirinya yang beredar saat ia masuk ke hotel dan masuk ke dalam mobil Mikhail.
"Dari mana kalian dapat foto itu?" tanya Clarisa dengan wajah panik.
"Omo omo ternyata benar ya gosip itu. Kalau loe itu emang seorang sugar baby" ucap Gres dengan suara lantang agar semuanya dengar.
Huuhhh...........
Seketika semua teman kelas Clarisa melemparnya dengan sampah ke tubuhnya. Kejadian itu tak lupa mereka merekamnya dan menyebarkan ke semua mahasiswa.
...π π π π π...
Zelena yang melihat video tersebut bergegas keluar kelas menuju fakultas Clarisa tak perduli dengan kuliahnya.
"Gue bukan sugar baby" teriak Clarisa sambil menutup kedua telinganya.
"Ngaku aja loe pe***ur kecil! Berapa sih bayaran loe per malam" hina Gres sambil menjambak rambutnya.
Arrggghhh...............
"Lepasin!! Lepasin" teriak Clarisa merasa sangat kesakitan.
Bugh...........bugh..........bugh...........
Teman sekelas Clarisa terus melemparnya dengan sampah hingga badannya menjadi kotor dan bau setelah jambakan Gres terlepas.
Gres yang melihat hal itu tersenyum dengan puas karena sudah membalas apa yang terjadi dalam hidupnya karena ulah Clarisa padahal semua itu karena Mikhail.
Rasain loe cupu sialan, batin Gres dengan senang sambil bersedekap tangan di dada.
"KALIAN SEMUA BERHENTI" teriak Zelena menggelegar di depan pintu.
Tes.............
"Lele" lirih Clarisa sambil meneteskan air matanya melihat sahabatnya yang datang.
"Loe mending ngak usah campur ya. Ini urusan kita sama pel***r itu!" bentak Gres dengan tatapan tajam.
"Bukannya loe udah dikeluarkan dari kampus? Kenapa loe berkeliaran di sini?" tanya Zelena dengan menyelidik.
"Bukan urusan loe" hardik Gres.
"Itu jadi urusan gue bangsat! Karena yang loe semua tindas itu sahabat gue berengsek" maki Zelena.
"Oh sahabat loe ya? Atau jangan-jangan loe juga seperti dia yang menjadi seorang sugar baby" ucap Gres sambil tersenyum penuh arti.
"Ckk!! Ja***g teriak ja***g" decak Zelena sambil mencibir.
"Loe" tunjuk Gres dengan mata melotot.
"Bukannya benar kan. Loe itu juga seorang sugar baby selama ini" ejek Zelena sambil menatap Gres dengan sinis.
Oh benar juga ya kan Gres itu anak bisnis manajemen yang dikeluarkan dari kampus beberapa waktu yang lalu
Wah ngak nyangka gue ternyata hari ini bisa lihat kumpulan sugar baby
Padahal orang tuanya kaya? Tapi kenapa dia mau jadi sugar baby ya?
Hanya untuk kepuasaan dunia loe menodai diri loe sendiri
Wajah Gres memerah mendengar ucapan mereka semua yang sedang membicarakannya. Kedua tangannya mengepal erat menatap Zelena dan Clarisa dengan permusuhan.
"Asal loe tahu ya sahabat loe yang cupu itu juga seorang sugar baby" ucap Gres kembali ingin menjatuhkan Clarisa.
"Jaga mulutmu loe itu bangsat! Sekali lagi loe nyebar fitnah kayak gitu gua ngak bakal diam dan laporin loe ke polisi!" bentak Zelena dengan tatapan tajam.
"Silahkan! Orang teman loe itu sendiri udah ngaku kalau foto-foto di forum kampus itu emang dia" balas Gres dengan santai.
Zelena mengerutkan keningnya sambil menatap Clarisa yang terduduk di lantai dari tadi. Clarisa menggelengkan kepalanya memberitahu jika apa yang dituduhkan Gres tidak benar.
"Risa benar loe yang ada dalam foto itu?" tanya Zelena dengan cepat.
"Lele gue bisa jelasin" lirih Clarisa dengan suara bergetar.
"Elah bilang aja iya tau tidak. Lagian kita semua udah tahu kok kalau itu memang loe!" bentak Gres semakin membuat suasana menjadi tegang.
"Jawab gue Risa. Itu bukan loe kan?" tanya Zelena dengan suara tinggi
"Foto itu emang gue Lele tapi..." ucap Clarisa yang dipotong Gres.
"Loe dengar sendiri kan sahabat loe itu udah ngaku kalau dia itu sugar baby" potong Gres.
"Lele ngak gitu ceritanya. Loe percaya kan sama gue" ucap Clarisa dengan mata berkaca-kaca menatap Zelena dengan panik.
Plak................
Kaca mata Clarisa terlempar jauh dari matanya saat Zelena menamparnya. Wajahnya menoleh kesamping saking kuatnya tamparan Zelena.
Tes............tes.............tes...........
__ADS_1
...π π π π π...
To be continue...............