Heartless 2

Heartless 2
Chapter 138


__ADS_3

🍁Pengalaman pahit di masa lalu harusnya membuat kita bisa menghargai kehidupan manis di masa sekarang🍁


.


.


.


.


Tes……………….


Air mata Jason jatuh saat mengingat mamanya dan juga adik perempuannya yang selama ini tidak ia tahu jika adiknya itu masih hidup.


Ia menatap Clarisa dengan rasa bersalah setelah menyuruh asistennya mencari tahu tentang kehidupan Clarisa selama ini.


Maafin kakak dek. Kakak ngak tahu jika selama ini loe udah sangat menderita, batin Jason dengan rasa bersalah didalam hatinya.


“Kak” panggil Delon menyadarkan Jason dari pemikirannya.


“Heemmm” deham Jason sambil membuang muka ke samping dan menghapus air matanya.


Delon tahu kakaknya sedang menangis tapi ia tidak ingin bertanya apa alasannya karena ia tahu pasti karena adik perempuan mereka.


Keduanya lalu turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam auditorium untuk melihat adik mereka yang akan wisuda hari ini meski mereka hanya bisa menatapnya dari jauh.


Acara demi acara pun berlangsung hingga sampai saat rektor membaca nama mahasiswa terbaik tahun ini, suasana seketika menjadi riuh saat nama Clarisa Eleanor disebut sebagai mahasiswa terbaik tahun ini yang mendapat juara umum 1.


“Ka adik kita juara 1 umum” pekik Delon dengan bahagia.


“Adik kita sangat pintar” balas Jason sambil tersenyum hangat melihat Clarisa yang sedang naik ke atas panggung dan menerima piagam penghargaan dari rektor kampus.


Selamat ya dek. Kami bangga sama keberhasilan kamu, batin Jason dengan tulus.


Sedangkan Clarisa ia tidak menyangka jika dia yang mendapat gelar mahasiswa terbaik tahun ini dan saat turun dari panggung tak henti-hentinya ia mengucap syukur kepada Tuhan karena ia berhasil membuat mamanya bangga.


Ma Cla berhasil ma, batin Clarisa dengan bahagia.


Setelah acara wisuda berakhir Clarisa segera pulang karena ia tidak mempunyai teman atau keluarga yang bisa diajak foto bersama.


Jason dan Delon yang hendak menghampirinya mengurungkan niat mereka, saat melihat pengawal pribadi adik mereka yang menatap mereka dengan tatapan tajam memperingati untuk tidak mendekat Clarisa.


Sebelum pulang ke apartemen Clarisa menyempatkan diri pergi ke makam mamanya untuk bercerita tentang apa yang ia dapatkan hari ini.


~ Markas Devil Dragon ~


Bugh………..bugh….…..bugh………krek……………..


Aarrgh………………..


Light berteriak kesakitan saat tangannya tiba-tiba di patah oleh Xander dengan santai. Xander tersenyum smirk melihat Light yang kesakitan karena membuat dia semakin ingin menghajar Light sampai ia puas.


“Masih tidak mau beritahu berengsek” ucap Xander dengan suara dingin.


Ciuh……………..


Bugh……….bugh…………bugh…………bugh………….


Xander menghajar Light kembali dengan brutal hingga wajahnya sudah tak bisa dikenali lagi karena pukulan Xander sangat tidak main-main, apa lagi Light yang sudah meludahinya membuat dia semakin emosi menghajarnya.


“Bawa pak tua itu kesini” titah Xander dengan suara dingin.


“Baik bos” ucap Christian sambil memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawa Dev ke ruang interogasi.


Tak berselang lama Dev dibawa anak buah Xander dengan menyeretnya seperti an***g membuat Light berteriak kesetanan memaki Xander dan lainnya. Ia tak menyangka daddynya akan diseret seperti itu apa lagi wajah Dev yang sangat pucat karena masih dalam perawatan.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


“Bos sepertinya ja***g itu juga dibawa kesini bersama kekasihnya” ucap David memberi usulan.


“Bring them to here” (bawa mereka ke sini) ucap Xander dengan suara dingin.


Tak lama Lina dan Ray dibawa ke sana juga membuat Light merasa akan ada sesuatu yang akan dilakukan Xander kepada mereka entah apa itu.


“Jadi kamu memilih bungkam” ucap Xander dengan suara dingin.


“Kenapa? Apa kamu takut?” tanya balik Light.


“Takut! Itu bukan gayaku tapi aku ingin berduel langsung dengannya bukan menjadi seorang penakut yang hanya bisa bersembunyi” jawab Xander sambil tersenyum smirk.


“Ckk!! Kalian semua akan mati ditangan master” hardik Light dengan suara bergema.


Xander lalu memberi isyarat kepada David untuk mengikat Dev di tiang tepat didepan Light karena ia akan bermain sebentar dengan daddy angkat Light.


“Apa yang ingin kalian lakukan kepada daddy aku berengsek?” tanya Light dengan suara tinggi.


“Nikmati saja pertunjukannya berengsek” ucap David sambil tersenyum menyeringai.


Sret……………….sret……………..


Arrghhh…………….

__ADS_1


“DADDYYY” teriak Light dan Lina dengan histeris didalam sana.


“SIALAN KAMU XANDER! BERENGSEK KAMU AN***G!” bentak Light dengan suara menggelegar.


Ia sangat marah melihat Xander yang dengan santai menusuk dada daddynya dan menarik ku**t dadanya hingga terlepas dari tubuhnya membuat Dev berteriak kesakitan. Darah mengalir dengan deras didalam sana membuat ruangan interogasi penuh dengan bau anyir.


“Kamu itu monster bajingan” hardik Lina dengan tatapan penuh kebencian.


Plak………………….plak…………….


“LINA” teriak Ray dengan menggema saat David menampar kedua pipi kekasihnya dengan kuat.


“Lebih baik kamu diam dan menonton saja pertunjukan daddy kamu bi**h. Sebelum aku menjahit mulut kotormu itu” ucap David memperingati.


Lina bergetar ketakutan mendengar ancaman David yang tak main-main membuat David tersenyum penuh arti. Xander sendiri tak memperdulikan keduanya dan sibuk kembali mengukir tubuh Dev dengan pisau kesayangannya membuat Light semakin emosi.


“Lihat pak tua” ucap Xander memaksa Dev melihat Light yang seperti kesetanan didepannya menarik rantai di kedua tangan dan kakinya.


“L……ight” ucap Dev dengan suara terbata-bata memanggil putra angkatnya.


Sret……………….


“TIDAK” teriak Light dengan histeris saat Xander melukai leher daddynya dengan pisaunya.


Hiks…………hiks…………….hiks…………….


Tangis Light dan Lina pecah didalam sana melihat daddy mereka yang sudah tak bernyawa lagi dengan mata melotot ke atas dan darah yang mengalir dari l**ernya membuat siapa saja yang melihatnya bergidik ngeri.


“Bagaimana bajingan masih mau bungkam?” tanya David sambil tersenyum menyeringai.


“ANJ**G KALIAN SEMUA. AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA” teriak Light dengan emosi.


“Ah! Ingin membunuhku kami ya? Boleh saja tapi sebelum itu kamu harus bisa melepaskan diri dari rantai itu” ejek David sambil tertawa cemooh.


“PEMBUNUH KALIAN SEMUA” teriak Lina menggema.


“Hey ja***g sebaiknya kamu lihat diri kamu sebelum berbicara. Pembunuh kok teriak pembunuh” dengus Luki dengan tatapan kesal.


“Buang pak tua ini ke anak-anak Sandra” titah Xander.


“Baik bos” ucap anak buahnya dengan patuh.


“Jangan lupa bawa mereka untuk melihat pertunjukan kesayanganku” ucap Xander sambil tersenyum penuh arti.


“Siap bos”


Xander berlalu pergi ke ruangan pribadinya untuk membersihkan diri, sedangkan David dan Luki mengikuti anak buah mereka menuju ke kandang anak-anak Sandra untuk melihat pertunjukan menarik sebentar lagi.


Crash………………….crash……………..crash…………..


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Light, Lina, dan Ray tercengang melihat apa yang dilakukan anak buah Xander barusan. Ketiganya menangis melihat tubuh Dev yang dibuang ke dalam kandang buaya menjadi makanan buaya-buaya itu yang mencabik-cabik tubuh Dev.


“Daddy…….hiks hiks hiks hiks” ucap Lina sambil menangis tersedu-sedu.


~ Jakarta, Indonesia ~


Clarisa menatap langit senja yang sangat indah dari kaca mobil karena ia menghabiskan waktu yang cukup lama di makam mamanya. Tiba-tibanya keningnya mengerut melihat jalan yang mereka lalui saat ini berbeda menuju arah apartemen.


“Pak ini bukan jalan menuju ke apartemen. Memangnya kita mau kemana pak?” tanya Clarisa dengan bingung.


“Ini perintah King nona” jawab sang sopir dengan singkat.


“Mikhail? Memangnya kita mau kemana pak?” tanya Clarisa dengan selidik.


“Nanti juga nona akan tahu setelah kita sampai” jawab sang sopir.


Clarisa mencari hpnya di sekeliling tempat duduk tapi ia tidak melihatnya dan seingatnya sebelum ke makam mamanya ia menaruh hpnya di tempat ia duduk.


Sepertinya ada yang ngak beres, batin Clarisa dengan curiga.


“Pak tolong mampir ke coffe Max bentar ya pak, saya ingin beli minum dan cake karena dari pagi belum makan pak” ucap Clarisa dengan suara lembut.


“Baik nona”


~ Coffe Max ~


Clarisa turun dari mobil dan melihat ke belakang tidak ada mobil pengawal yang seperti biasa mengikutinya.


Ia semakin yakin jika ada sesuatu yang tidak beres dan dengan cepat ia masuk ke dalam coffe Max untuk membeli kopi dan memikirkan bagaimana ia bisa mengelabui sang sopir.


“Selamat datang kak. Mau pesan apa ya ka?” tanya pelayan di bagian kasir.


“Maaf ka toiletnya dimana ya” tanya Clarisa dengan suara pelan.


“Oh kakak lurus saja ke sana dan belok kanan nanti ada tanda toilet didepan pintu” ucap kasir dengan sopan.


“Terima kasih ya ka” ucap Clarisa dengan suara lembut.


Ia berlalu pergi dari sana dan menuju toilet dan saat ia berbelok ia melihat sang sopir yang tidak memperhatikannya karena sedang menerima telpon. Dengan cepat Clarisa bertanya dimana pintu keluar selain pintu depan dan beruntung seorang pelayan menuntunnya lewat pintu belakang sehingga ia bisa keluar dari sana.

__ADS_1


Clarisa membuka high heelsnya dan berlari dengan kaki kosong sambil melihat ke belakang takut sang sopir mengikutinya.


Napasnya sudah satu-satu tapi tidak membuat Clarisa berhenti berlari dan tak memperdulikan kakinya yang terluka parah.


Cekitt……………..


Jantung Clarisa berdetak dengan cepat saat ia akan ditabrak oleh mobil karena menyebrang jalan tidak lihat-lihat. Sedangkan orang yang didalam mobil bergegas turun dari mobil takut jika ia menabrak Clarisa.


“Clarisa” pekik Zelena dengan kaget melihat orang yang hampir saja ia tabrak.


“Lele” lirih Clarisa melihat orang yang barusan keluar dari dalam mobil.


“Loe ngak kenapa-napa kan Lele?” tanya Zelena dengan cemas mendekati Clarisa.


“Jangan mendekat” hardik Clarisa dengan napas satu-satu membuat langkah Zelena seketika terhenti.


Zelena kaget melihat tatapan Clarisa yang menatapnya dengan penuh kekecewaan karena belum bisa melupakan apa yang pernah Zelena lakukan kepadanya waktu itu.


Padahal ia sudah menganggap Zelena berbeda dengan orang lain dan mau bersahabat dengannya tanpa memandang statusnya.


“Risa. Gue minta maaf Risa, gue nyesal banget selama ini Risa” lirih Zelena dengan tatapan sendu.


“Ngak ada yang perlu dimaafin Lele. Gue masih ingat dengan jelas omongan loe waktu itu dan makasih ya udah nunjukin ke gue arti sahabat yang sebenarnya” ucap Clarisa sambil tersenyum getir.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Deg……………..


Jantung Zelena serasa dipukul hamar mendengar ucapan Clarisa barusan dan ia mengakui semuanya itu jika ucapannya waktu itu sangat keterlaluan. Ia melihat Clarisa dari atas hingga ke bawah dan kaget saat melihat kaki Clarisa yang berdarah karena tidak memakai sepatu.


“Clarisa kaki loe berdarah” pekik Zelena dengan kaget.


Clarisa yang melihat sang sopir sedang mencarinya dengan cepat berbalik dan berlari pergi tak perduli dengan teriakan Zelena.


Melihat hal itu dengan cepat Zelena juga ikut berlari mengejar Clarisa, begitu juga dengan pengawalnya dan sopir yang mendengar nama Clarisa disebut.


“Clarisa berhenti” teriak Zelena dengan suara kencang membuat semua orang menatap mereka dengan bingung.


“Ah! Kenapa semakin banyak sih yang ngejar gue” keluh Clarisa saat ia berbalik ke belakang dan melihat banyak sekali orang berbaju hitam yang mengejarnya.


Padahal orang-orang itu mengejar Zelena karena tidak ingin kehilangan jejak nona muda mereka, sedangkan Clarisa berpikir jika mereka pasti musuh Mikhail atau orang kiriman keluarga ayahnya.


Entah sudah berapa lama Clarisa berlari ia tidak perduli lagi dengan kakinya yang semakin sakit dan hanya berpikir untuk lolos dari kejaran mereka. Clarisa mengangkat kain batik yang ia gunakan hingga paha agar ia bisa berlari dengan cepat.


Matanya memandang ke sekeliling melihat keadaan dan mencari tempat bersembunyi karena ia sudah tidak sanggup lagi untuk berlari.


Saat melihat ada jalan buntu dengan cepat Clarisa masuk ke dalam sana dan bersembunyi dibelakang konteiner yang tidak terpakai lagi.


“Cepat banget tuh anak lari” ucap Zelena dengan napas ngos-ngosan.


“Nona muda” panggil Hans kepala pengawal Zelena.


“Kalian lihat ngak teman gue lari ke arah mana?” tanya Zelena dengan cepat.


“Tidak nona” jawab Hans.


“Ah! Sial banget sih gue hari ini padahal gue selama ini nyari loe terus Risa” keluh Zelena dengan kesal.


Kring……………….


Zelena mengambil hpnya yang berbunyi dan melihat nama Querido❤️ yang tertera di layar hpnya, ia segera menjawab panggilan kekasihnya.


^^^“Halo querido”^^^


“Sudah puas olahraga lari mi amor?” tanya Ares dengan suara dingin dari seberang.


^^^“Kamu tahu?” tanya Zelena dengan polos.^^^


“Ckk!! 30 menit jika kamu belum sampai di ruanganku maka ucapkan selamat tinggal ke mobil yang kamu pakai sekarang mi amor” ketus Ares dengan suara kesal.


^^^“Ishh! Querido” dengus Zelena dengan wajah cemberut.^^^


“Waktu terus berjalan mi amor”


Zelena berdecak kesal melihat panggilan mereka yang terputus karena dimatikan sepihak oleh kekasihnya. Dengan wajah cemberut ia segera menyuruh Hans membawa mobilnya ke sini untuk pergi ke perusahaan Ares.


Clarisa yang masih bersembunyi menarik napas dengan lega mendengar Zelena yang sudah tidak mengejarnya lagi. Saat ia akan keluar seketika ia mengurungkan niatnya mendengar suara langkah kaki yang menuju ke arahnya.


“Sial! Kemana gadis sialan itu?” maki seseorang dengan suara menggelegar.


“Bagaimana bisa loe kehilangan dia berengsek. Padahal sebentar lagi kita udah berhasil melakukan perintah orang itu dan bawa gadis cupu itu ke dia” bentak salah satu teman.


“An***g diam loe bangsat. Mending cepat kita cari dia sebelum semakin gelap” hardik orang yang dibentak tadi.


“Ckk!!” dengus temannya dengan kesal.


Jantung Clarisa berdetak dengan cepat mendengar ucapan keduanya dan memikirkan siapa orang yang mereka maksud.


Khail, batin Clarisa memikirkan nama yang selalu menolongnya setiap ia dalam masalah.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...

__ADS_1


To be continue…………………..


__ADS_2