
πDidiklah mulut agar tidak mudah berbicara tentang keburukan orang lainπ
.
.
.
.
Dokter Juan bergeser memberikan ruang kepada semua anggota keluarga Wesly untuk melihat keadaan tuan muda pertama Wesly.
Chloe memeluk putra sulungnya dengan sangat erat dan menangis histeris. Xavier berdiri di belakang istrinya sambil mengelus punggung istrinya dengan lembut.
"Jangan menangis mom. Aku tidak suka melihat mommy menangis" ucap Xander dengan suara lembut.
"Hiks hiks hiks..........jangan tinggalin mommy lagi nak........hiks hiks hiks........mommy tidak sanggup melihat kamu terbaring koma lagi nak" pinta Chloe sambil menangis dalam pelukan putra sulungnya.
"Iya mommy" balas Xander lemah.
"Baby jangan terlalu erat peluk putra kita. Kasihan dia baru saja sadar dari komanya" ucap Xavier saat melihat anaknya terlihat kesakitan.
"Maafkan mommy son" ucap Chloe melepas pelukannya.
"Heemmm"
"Daddy senang akhirnya kamu sadar juga" ucap Xavier dengan tatapan berkaca-kaca.
"Peluk aku daddy" lirih Xander dengan tatapan sendu.
Xavier lalu memeluk putra sulungnya dan menangis dalam diam. Ia tidak perduli semua keluarganya melihat sosok lain dalam dirinya hari ini, karena dia di kenal pribadi yang tegas dan arogan.
"Aku baik-baik saja dad" bisik Xander yang tahu apa yang di pikirkan daddynya.
"Heeemm" deham Xavier lalu melepas pelukannya.
Ia mengelap air matanya tak mau anaknya yang lain melihat ia menangis. Chloe lalu memeluk tubuh suaminya dengan erat karena merasakan apa yang sedang suaminya rasakan.
"Brother........hiks hiks hiks" ucap Vincent, Victor, dan Zelena dengan serentak sambil menangis.
Ketiganya lalu memeluk Xander merasa sangat bahagia, karena kakaknya akhirnya sadar dari koma selama 5 bulan.
"Aku senang akhirnya kamu sadar juga" ucap Ares sambil tersenyum tipis.
"Terima kasih Ares" ucap Xander dengan tulus.
"Brother selamat ya akhirnya sudah sadar dari koma" ucap Natasha sambil tersenyum lebar tapi terlihat ada kesedihan di matanya.
"Makasih Nata. Kamu jangan sedih pasti King sebentar lagi akan sadar" ucap Xander dengan suara lembut tahu apa yang di pikirkan Natasha.
"Iya brother" balas Natasha sambil tersenyum manis.
Xander tersenyum tipis menatap adik iparnya, tapi beberapa saat keningnya mengerut melihat perut Natasha yang sudah tidak buncit lagi.
"Nata kamu" ucap Xander menunjuk ke arah perut Natasha yang sudah kembali kecil seperti dulu.
"Anak kami sudah lahir brother dan usianya 3 bulan ka" ucap Vincent sambil memeluk pundak sang istri.
"Aku jadi uncle sekarang?" tanya Xander dengan kaget.
"Iya brother" jawab Vincent sambil tersenyum lebar.
"Selamat buat kalian ya. Siapa namanya?" tanya Xander dengan bahagia.
"Oliver Winter Wesly. Panggilannya Winter" jawab Vincent dengan suara lantang.
"Nama yang bagus" balas Xander.
"Terima kasih kakak ipar" ucap Natasha sambil tersenyum lebar.
Semuanya merasa senang dan mengobrol dengan Xander, tak lupa Devina yang menyuapi tunangannya makan karena Xander sangat kelaparan setelah 5 bulan koma.
Berbeda dengan semua orang yang sedang bahagia, terlihat Ares yang menatap dokter Juan dengan tatapan dingin melihat dokter Juan yang sedari tadi ingin memberitahu sesuatu tapi ia tidak berani.
...π π π π π...
"Katakan apa yang mau kamu katakan" titah Ares dengan suara dingin dan lantang membuat semuanya menatap ke arah mereka.
"Querido ada apa?" tanya Zelena menghampiri sang suami.
"Tanya saja dokter itu mi amor" jawab Ares sambil memeluk pinggang istrinya dan mendekapnya dengan posesif.
"Ckk!! Posesif banget si Ares" decak Victor melihat kelakuan Ares kepada adik mereka.
"Seperti kamu tidak saja Vic" balas Rio mencibir.
"Kamu udah berani yang ngatai aku Rio" hardik Victor dengan tatapan tajam.
"Aku cuma mengingatkan kamu sama kelakuan kamu pada putri Katy saja Vic" balas Rio tak mau di salahkan.
"Begitu ya" ucap Victor sambil tersenyum menyeringai.
"Bulan ini gaji kamu di potong 90%" tambahnya lagi dengan tegas.
"Apa" pekik Rio dengan kaget.
__ADS_1
"Rio" desis Vincent dengan tatapan tajam membuat nyali Rio langsung menciut.
Victor tersenyum mengejek menatap Rio yang sudah ketakutan di tegur oleh kembarannya. Sedangkan Rio ia hanya bisa mengumpat dan memaki Victor didalam hati.
Kamu memang menyebalkan Vic, batin Rio dengan kesal.
"Dokter Juan apa ada yang ingin anda sampaikan kepada kami?" tanya Xavier dengan suara tegas dan dingin.
"Iya t....uan besar" jawab dokter Juan dengan gugup.
"Hubby jangan buat dokter Juan ketakutan" ucap Chloe sambil mengelus dada suaminya.
"Heemmm"
"Dok katakan saja jangan takut" ucap Zelena dengan suara lembut.
Dokter Juan menatap mereka semua dan membenarkan kaca matanya sebelum menjelaskan kondisi Xander setelah ia memeriksa tadi.
"Tuan muda pertama mengalami amnesia sementara" ucap dokter Juan dengan lantang.
"Apa maksud anda dok?" tanya Xander dengan suara dingin.
"Dari hasil pemeriksaan tuan muda pertama tadi, ada beberapa saraf di kepala tuan muda yang terlihat tegang dan tidak seperti biasa. Saraf itu mengarah ke arah otak dan dilihat dari gejala tuan muda pertama yang kesakitan saat mengingat beberapa hal, membuat saya yakin kalau tuan muda pertama mengalami amnesia sementara" jawab dokter Juan menjelaskan.
"Apa itu berbahaya buat anak saya dok?" tanya Chloe dengan cemas.
"Tidak nyonya. Gejala yang dialami tuan muda pertama bersifat sementara saja dan tuan muda pertama akan kembali mengingat memorinya yang hilang" jawab dokter Juan dengan tegas.
"Son apa yang tidak kamu ingat?" tanya Xavier.
"Kejadian terakhir sebelum aku koma daddy" jawab Xander.
"Jadi brother tidak ingat bagaimana kejadian waktu brother selamat dari ledakan itu" ucap Victor.
"No" Jawab Xander singkat sambil menggelengkan kepalanya.
"Mungkin ini salah satu efek dari zat radioaktif dari ledakan waktu itu persis seperti yang dialami David" tebak Ares.
"Itu bisa jadi" ucap Vincent sambil mengangguk kepalanya.
"Jangan terlalu di pikirkan son yang penting kamu sudah sadar" ucap Chloe sambil mengelus kepala putranya.
"Yang dibilang mommy benar sayang" tambah Devina yang sedari tadi diam.
"Heemmm" deham Xander.
Hari itu semua keluarga besar Wesly sangat bahagia sekali merayakan ulang tahun Xander. Hanya Thomas, Valeria, dan Mikhail saja yang tidak ada karena berada di Shadow Island.
~ Shadow Island ~
Tes................
...π π π π π...
Matanya lalu tertuju ke arah brankar dimana tubuh sang anak yang masih terbujur lemah dengan banyak alat rumah sakit yang terpasang di tubuhnya.
"Kapan kamu bangun son........hiks hiks hiks" lirih Valeria sambil menangis histeris.
Grep............
Tubuhnya tiba-tiba di peluk suaminya dengan erat saat datang dan mendapati istrinya sedang menangis.
Bukan sekali atau dua kali istrinya kedapatan menangis, karena selama ini Valeria selalu hancur saat menjenguk putra mereka.
"Putra kita adalah anak yang kuat honey" ucap Thomas dengan lembut.
"Hiks hiks hiks.........aku tidak sanggup melihat putra kita seperti itu honey........hiks hiks hiks" adu Valeria sambil menangis histeris.
"Jangan menangis lagi honey. Apa kamu mau anak kita menjadi sedih setiap kali mommynya datang pasti akan menangis" ucap Thomas sambil mengelap air mata istrinya.
"Meski Mikhail sedang koma tapi ia bisa mendengar apa yang kita bicarakan honey" tambahnya lagi mengingat ucapan dokter William waktu itu.
"Heemmm"
Thomas memeluk istrinya dengan erat sambil mencium keningnya dengan penuh cinta. Sebenarnya ia sangat rapuh melihat kondisi sang putra, tapi ia tidak mau menunjukkannya didepan sang istri.
Daddy mohon kamu secepatnya bangun son. Daddy sangat merindukanmu son, batin Thomas dengan tatapan sendu.
Air mata Mikhail menetes dari kedua sudut matanya mendengar suara tangisan sang mommy. Meski ia terbaring koma tapi alam bawah sadarnya tahu apa yang sedang terjadi.
~ Jakarta, Indonesia ~
Jason dan Delon panik lagi-lagi adik mereka harus dilarikan ke rumah sakit, karena tidak bisa makan atau minum dan selalu muntah setiap mencium bau makanan.
~ Wesly Hospital ~
Jason dan Delon mondar-mandi didepan pintu IGD menunggu Clarisa yang sedang di tangani dokter di dalam sana.
Ceklek.............
Pintu ruang IGD terbuka dan keluarlah dokter Rani dari dalam sana yang langsung di bordir pertanyaan oleh Jason dan Delon.
"Gimana keadaan adik saya dok? Dia baik-baik saja kan dok? Kandungannya ngak kenapa-napa kan dok?" tanya Jason dengan cepat.
"Dokter Rani Clarisa baik-baik aja kan? Tidak membahayakan dia dan janinnya kan dok?" tanya Delon dengan cepat.
__ADS_1
"Seperti yang sudah saya jelaskan waktu itu tuan Delon dan tuan Jason, kalau nona Clarisa tidak boleh stres atau tertekan karena itu bisa membahayakan kandungannya" ucap dokter Rani menjelaskan.
"Lalu apa yang harus kami lakukan dok?" tanya Jason.
"Ada baiknya ajak nona Clarisa untuk ke tempat baru yang bisa membuat moodnya berubah. Usahakan juga jangan membiarkannya sendiri karena itu akan membuat dia kembali stres" jawab dokter Rani memberi usulan.
"Apa adik aku bisa berpergian jauh dok?" tanya Delon.
"Meski nona Clarisa terlihat lemah di luar tapi janinnya sangat kuat tuan. Jadi jika anda ingin bepergian jauh bisa, tapi usahakan bujuk nona Clarisa untuk makan agar bayinya bisa mendapat nutrisi" jawab dokter Rani.
"Baik dok"
Dokter Rani lalu pamit pergi setelah menjelaskan kondisi Clarisa. Tak lama suster keluar mendorong brankar Clarisa karena ia harus menginap satu malam disini dan besok baru di perbolehkan keluar.
"Apa yang ka Jason pikirkan?" tanya Delon setelah mereka berada di ruang VIP.
"Kamu hendel perusahaan mulai besok karena gue akan ajak Clarisa ke desa kelahiran mama setelah keluar rumah sakit" jawab Jason dengan suara tegas.
"Apa ka! Tapi gue juga pengen ikut ka" ucap Delon dengan kaget.
...π π π π π...
Jason memijit keningnya yang tiba-tiba sakit mendengar ucapan sang adik. Apa adiknya itu bodoh atau bagaimana sih.
"Kamu itu memang bodoh Delon" ketus Jason dengan kesal.
"Kakak" pekik Delon dengan mata melotot tidak terima dikatai bodoh.
"Apa mau marah? Kamu memang bodoh Delon! Apa kamu tidak pikir jika kita pergi semua lalu siapa yang mengurus perusahaan?" tanya Jason dengan ketus.
"Tapi aku juga ingin merawat Clarisa ka" lirih Delon dengan sedih.
"Kita akan bertukar menjaga Clarisa selama 1 minggu. Besok kakak 1 minggu menjaga Clarisa lalu kamu minggu depannya lagi" usul Jason.
"4 hari saja ka. 1 Minggu terlalu lama" bujuk Delon dengan memohon.
"Oke" balas Jason tak bisa menolak.
Delon senang bukan main mendengar ucapan sang kakak. Ia akan tahan selama 4 hari berjauhan dengan sang adik.
Keesokan harinya seperti yang sudah mereka putuskan Clarisa dan Jason ditemani Jack lalu menuju ke kampung halaman sang mama.
Sepanjang jalan Clarisa menatap ke arah samping dan tidak mengatakan satu kata pun membuat Jason sangat sedih.
"Dek ayok makan dulu" ajak Jason saat di tengah perjalanan.
"Gue ngak lapar ka" balas Clarisa.
"Kakak mohon dek. Ingat bayi dalam kandunganmu dia juga butuh nutrisi" ucap Jason dengan memohon.
Clarisa diam memikirkan ucapan sang anak. Ia mengelus perut buncitnya yang sudah berumur 6 bulan sambil menitikkan air mata.
"Maafkan mommy nak karena sudah egois sendiri" lirih Clarisa sambil menangis.
"Mau ya dek" bujuk Jason.
"Iya ka" ucap Clarisa sambil tersenyum manis.
Jason tersenyum lebar berhasil membujuk sang adik untuk makan. Ia akan memakai kandungan sang adik untuk membujuknya makan ke depannya.
~ Desa Wisata Cibiru Wetan ~
Setelah berjam-jam didalam mobil akhirnya Clarisa dan Jason tiba di desa Wisata Cibiru Wetan di kota Bandung.
Desa yang memiliki panorama indah pegunungan dan juga ladang sawah yang sangat luas, apa lagi desanya yang memberikan nuansa sejuk dan asri membuat siapa saja akan betah berlama-lama disana.
"Indah sekali ya ka" ucap Clarisa yang melihat pemandangan hamparan sawah di bawah sana dari depan rumah.
"Kamu suka dengan tempatnya dek?" tanya Jason dengan suara lembut.
"Sangat suka ka. Makasih ya ka udah bawa gue kesini" jawab Clarisa sambil tersenyum manis.
"Apapun akan kakak lakukan untuk loe dek asal loe senang" balas Jason sambil memeluk sang adik.
"Iya ka"
Jason lalu mengajak Clarisa masuk ke dalam rumah peninggalan kakek mereka dari pihak ibu. Baru pertama kali Clarisa ke sini dan ia merasa sangat nyaman berada disana.
4 Hari kemudian
Jason sudah berada di sana selama 4 hari dan hari ini ia akan pulang ke Jakarta, lalu bergantian dengan Delon untuk menjaga adik mereka.
"Kakak pulang dulu ya dek. Loe hati-hati disini dan jangan kemana-mana sampai Delon datang" ucap Jason memberi peringatan.
"Iya ka" balas Clarisa sambil tersenyum manis.
Jason lalu pamit pergi bersama Jack asistennya kembali ke Jakarta. Senyum Clarisa tadi saat mengantar kakaknya pulang tiba-tiba hilang dan berganti dengan wajah sedih.
"Hubby.........hiks hiks hiks" ucap Clarisa sambil menangis didalam kamar.
Tangisannya terdengar sangat pilu membuat siapa saja akan ikut menangis. Selama 4 hari Clarisa ternyata berpura-pura didepan kakaknya agar mereka tidak khawatir.
Padahal ia sangat hancur mengingat suaminya yang entah bagaimana kabarnya.
Deg..................
__ADS_1
...π π π π π...
To be continue.................