Heartless 2

Heartless 2
Chapter 195


__ADS_3

🍁Tidak ada hubungan tanpa aturan, jika ingin bebas tetaplah sendiri🍁


.


.


.


.


Tiit.............tiit............tiit..............


Bunyi EKG (Elektrokardiogram) berbunyi menampilkan detak jantung Mikhail yang tiba-tiba naik dengan cepat.


Tubuhnya kejang-kejang di atas brankar membuat dokter William dan beberapa suster segera melakukan pertolongan.


"Apa yang terjadi dengan kakakku?" tanya Natasha dengan panik.


"Tubuh King tiba-tiba saja kejang nona muda. Dokter William sudah masuk ke dalam ruangan King untuk memeriksa keadaan King" jawab uncle Andre yang kebetulan baru saja menjenguk Teivel di ruang sebelah.


"Hiks hiks hiks...........kakak jangan tinggalin aku.......hiks hiks hiks" ucap Natasha sambil menangis histeris.


"Honey tenangkan dirimu. Ingat kamu saat ini sedang mengandung honey" ucap Vincent sambil memeluk tubuh istrinya.


"Hiks hiks.......aku takut kakak kenapa-napa honey.......hiks hiks" lirih Natasha dengan takut.


"Doakan saja King agar selamat didalam sana honey" balas Vincent sambil mengelus kepala sang istri dengan lembut.


"Bagaimana keadaan anakku?" tanya Thomas dengan panik yang baru mendengar informasi tentang putranya dari Dio.


"King sedang di periksa didalam oleh dokter William tuan besar" jawab uncle Andre.


"Vincent bawa Natasha ke kamar" ucap Thomas dengan cepat saat melihat keadaan putrinya yang syok.


"Iya daddy" ucap Vincent.


"Daddy aku ingin disini" protes Natasha.


"Jangan membantah baby. Ingat saat ini kamu sedang mengandung dan tidak boleh stres atau letih" ucap Thomas dengan suara tegas.


"Baiklah daddy" ucap Natasha setelah memikirkan ucapan daddynya barusan.


Ia tidak boleh egois karena saat ini ia tengah mengandung dan tidak boleh kelelahan atau sampai stres. Apa lagi sedari kemarin ia sangat kepikiran dengan keadaan sang kakak.


"Maafkan mommy ya nak" ucap Natasha sambil mengelus perutnya setelah sampai di dalam kamar.


"Aku mohon mulai sekarang kamu jangan sampai kelelahan ya honey. Aku tidak mau kamu dan anak kita kenapa-napa" ucap Vincent dengan suara lembut.


"Maaf ya honey karena sudah membuat kamu khawatir" lirih Natasha dengan sedih.


"Iya honey" balas Vincent sambil mengecup kepala sang istri dengan lembut.


Vincent lalu memeluk sang istri dan menemaninya tidur. Meski ia juga sangat mengkhawatirkan kakaknya tapi ia ingat ada istri dan anaknya yang membutuhkan dia saat ini.


"Daddy sudah tidak sabar menunggu kamu lahir nak" gumam Vincent dengan suara pelan sambil mengelus perut sang istri.


Tuk............


Vincent tersenyum lebar saat merasakan tendangan anak mereka. Ia mengelus perut buncit Natasha dengan lembut agar istrinya tidak bangun.


Sedangkan di ruang kesehatan Thomas dan lainnya bernapas dengan lega setelah mendengar penjelasan dokter William.


Beruntung Mikhail sudah melewati kritisnya dan tidak ada yang membahayakan. Mungkin kejang-kejang tadi bersangkutan dengan dunia alam sadar Mikhail yang saat ini masih dalam keadaan koma.


Entah apa yang sedang putranya rasakan dalam alam bawahnya, hanya dia saja yang tahu apa yang terjadi.


~ Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta ~


Setelah balasan jam di udara akhirnya jet pribadi milik Maxim landing di bandar udara internasional Soekarno-Hatta di Jakarta, Indonesia.


Sebelum turun dari jet milik Maxim, Clarisa mengucapkan terima kasih kepada Katy dan Maxim yang sudah mengantarnya pulang dengan selamat.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


"Terima kasih karena sudah mengantar aku pulang dengan selamat" ucap Clarisa sambil tersenyum.


"Kakak yakin tidak ingin kami antar sampai ke rumah kakak?" tanya Katy dengan suara lembut.


"Tidak perlu nona. Saya tahu nona dan tuan masih harus melanjutkan perjalanan lagi jadi saya tidak ingin merepotkan kalian" jawab Clarisa dengan sopan.


"Sekali lagi saya ucapakan terima kasih" tambahnya lagi dengan tulus.


"Baiklah ka" balas Katy sambil tersenyum manis.


"Kalau begitu saya pamit dulu dan semoga kalian tiba dengan selamat sampai tempat tujuan" pamit Clarisa berbalik pergi.


"Tunggu" ucap Maxim dengan suara dingin.


Clarisa berhenti dan menoleh melihat Maxim dengan tatapan bingung. Maxim lalu mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar dollar lalu memberikannya kepada Clarisa.


"Maaf tidak usah tuan" tolak Clarisa.


"Aku tahu kamu tidak punya uang sekarang. Lagian kamu butuh uang untuk kembali ke rumahmu" ucap Maxim memaksa karena tahu Clarisa pasti akan turun di tengah jalan.


"Benar yang di bilang pada prince ka. Kakak saat ini butuh ongkos untuk pulang dan biaya hidup kakak jadi tolong jangan tolak ya ka" ucap Katy dengan memohon.


"Terima kasih" balas Clarisa sambil tersenyum manis.


"Sama-sama ka dan semoga kita bertemu lagi ya ka" ucap Katy sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Clarisa lalu menerima uang dari tangan Maxim dan berlalu keluar dari jet. Sampainya di bawah ia segera masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan Maxim untuk mengantarnya pulang.


Sepanjang jalan dari bandara Clarisa menangis dalam diam memikirkan sang suami. Air matanya mengalir dengan deras mengingat sang suami, apa lagi perlakuan keluarga suaminya.


"Pak tolong berhenti didepan ya" pinta Clarisa dengan sesegukan.


"Baik nona" balas sopir dengan sopan.


Mobil lalu berhenti didepan minimarket dan sebelum turun Clarisa mengucapkan terima kasih kepada orang suruhan Maxim. Setelah melihat mobil tadi sudah pergi dengan cepat Clarisa menyetop taksi.


~ Puri Orchid Apartment ~


Sampainya di lobby apartemen Clarisa segera turun dari taksi dan memberikan pecahan 100$ kepada sopir taksi.


"Neng ini teh uang apa?" tanya sang sopir dengan bingung.


"Itu uang dollar pak. Nanti bapak bisa tukar ke bank atau agen penukaran dollar pak" jawab Clarisa dengan suara lembut.


"Hah! Dollar asli neng?" tanya sang sopir lagi dengan tak percaya.


"Itu asli pak dan bukan uang bohongan pak" jawab Clarisa sambil tersenyum manis.


"Wah baru kali ini saya teh lihat yang dollar neng" ucap sang sopir dengan senang.


"Iya pak"


Clarisa lalu pergi dari sana menuju lobby apartemen. Baru saja ia hendak masuk ia langsung di tahan oleh petugas keamanan.


"Maaf nona tapi anda ngak bisa sembarang masuk sebelum menunjukkan kartu akses" ucap petugas keamanan dengan suara tegas.


"Tapi pak saya tinggal di sini" ucap Clarisa dengan bingung.


"Kalau memang nona tinggal disini tolong tunjukkan kartu akses nona" pinta petugas keamanan dengan tatapan tajam.


"Maaf pak tapi saya nggak punya kartu akses dan lagian saya menang benar tinggal di sini pak" ucap Clarisa dengan jujur.


"Maaf nona tapi jika anda ngak menunjukkan kartu akses anda maka nona ngak boleh masuk" ucap petugas tadi dengan tegas.


"Tapi pak"


"Pergi sekarang kalau tidak saya seret nona dengan paksa!" bentak petugas keamanan dengan suara tinggi.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Dengan berat hati Clarisa pergi dari sana sambil menangis. Lengkap sudah penderitaannya kali ini, ia tidak tahu harus kemana lagi, apa lagi ia tidak memegang dompet atau identitasnya.


Hiks..........hiks........hiks.........


Tangis Clarisa pecah mengingat semua yang ia alami. Ia duduk di trotoar sambil menangis memukul dadanya yang terasa sesek.


"Querido berhenti" pekik Zelena dengan suara melengking.


Meskipun begitu ia tetap menghentikan mobilnya sesuai ucapan sang istri. Tidak menjawab ucapan sang suami dengan cepat Zelena berlari keluar dari mobil membuat Ares ikut mengejar istrinya.


"Mi amor kamu ngapain sih" teriak Ares dengan panik melihat istrinya menyebrang jalan tanpa lihat-lihat.


Zelena tidak memperdulikan ucapan suaminya karena matanya hanya tertuju kepada sosok yang sedang menangis di seberang sana.


"CLARISA LOE KENAPA NANGIS DI JALAN SEPERTI INI" pekik Zelena dengan panik didepan Clarisa.


"Lele......... hiks hiks hiks hiks" tangis Clarisa pecah saat mengangkat kepala melihat siapa yang berbicara.


Grep...............


Zelena memeluk sahabatnya dengan erat merasa panik sekaligus khawatir. Apa lagi keadaan Clarisa seperti ini.


Sedangkan Ares ia menatap istrinya dengan tajam merasa lega karena istrinya tidak kenapa-napa. Saat ingin bertanya apa yang dilakukan istrinya, ia mengurungkan niatnya melihat sosok yang sedang menangis dalam pelukan sang istri.


Loh ini bukannya Clarisa sahabat istri gue ya, batin Ares.


Setelah melihat Clarisa sudah lebih tenang Zelena lalu membawa Clarisa menuju ke cafe yang tak jauh dari sana.


~ Cafe Mix ~


"Loe minum dulu biar lebih tenang" ucap Zelena saat pelayan membawa pesanannya.


"Terima kasih Lele" ucap Clarisa sambil tersenyum manis.


"Jadi bisa loe beritahu kemana loe selama ini? Dan apa yang terjadi sampai loe duduk di trotoar kayak orang gila?" tanya Zelena dengan tatapan tajam.


"Mi amor" ucap Ares sambil menggenggam tangan istrinya.


"Kalau gue orang gila berarti loe temannya orang gila Lele" balas Clarisa sambil tersenyum lebar.


"Ckk!! Loe pikir gue mau temenan sama orang gila? Mimpi loe kali" decak Zelena dengan kesal.


"Kan loe yang ngomong kalau gue orang gila" balas Clarisa dengan santai.


"Sialan loe" sarkas Zelena dengan tatapan sinis.


Hehehehe.............


Clarisa terkekeh melihat wajah sahabatnya yang menatapnya dengan kesal. Ia tahu Zelena tadi hanya bercanda saja.


"Udah jangan ngambek Lele nanti cantik loe berkurang loh" goda Clarisa sambil menarik turun alisnya.


"Ban**e loe" umpat Zelena.


Ehemm.............

__ADS_1


Deham Ares sambil menatap istrinya dengan tatapan tajam yang dibalas cengiran oleh Zelena karena tahu suaminya tidak suka ia berbicara kotor.


"Maaf querido aku kelepasan tadi" ucap Zelena sambil memeluk suaminya dengan manja.


"Iya mi amor" ucap Ares dengan suara lembut.


"Lele selamat ya buat pernikahan kalian dan semoga kalian langgeng sampai maut memisahkan" ucap Clarisa dengan tulus.


"Iya makasih Risa. Tapi bisa ngak sekali aja loe manggil nama gue yang benar dikit" keluh Zelena dengan kesal.


"Ngak bisa Lele kan loe tahu sendiri itu ngak bakalan mungkin terjadi"


"Hah! Terserah loe aja. Semoga aja loe bisa manggil nama suami loe dengan benar nanti" ucap Zelena dengan kesal.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Clarisa tersenyum getir mendengar ucapan tentang suaminya. Rasanya ia ingin menangis mengingat Mikhail tapi ia tahan tak mau membuat Zelena khawatir.


"Jawab gue dengan jujur Risa. Loe tadi kenapa ampe nangis seperti itu?" tanya Zelena dengan tatapan tajam.


"Bisa ngak kalau jangan bicarakan hal itu Lele?" tanya balik Clarisa dengan sendu.


"Loe tahu jawabannya Risa" jawab Zelena dengan tegas.


Phew.............


Clarisa membuang napasnya dengan kasar karena tahu sahabatnya tidak akan membiarkan dia pergi sebelum menjawab pertanyaannya.


"Gue ketemu sama bokap gue dan gue juga baru tahu apa alasan mereka membuang gue selama ini" ucap Clarisa dengan mata berkaca-kaca.


"Hah! Jadi loe masih punya orang tua selama ini?" tanya Zelena dengan kaget.


"Iya dan gue yakin suami loe pasti kenal dengan bokap gue" jawab Clarisa sambil menatap kedua ya bergantian.


"Siapa?" tanya Zelena dengan penasaran.


"Beras Bakar" jawab Clarisa dengan tegas.


Hah..............


Zelena dan Ares melongo mendengar ucapan Clarisa barusan. Keduanya sampai menepuk kening mengingat kalau Clarisa tidak bisa mengucap nama orang dengan benar.


"Ampe mati pun gue nggak bakalan ngerti dengan omongan loe Risa. Apa loe lupa kalau loe itu ngak bisa sebut nama orang dengan bener selama ini" sarkas Zelena mencebik bibirnya.


"Oh iya gue lupa" ucap Clarisa malu-malu.


"Cih!" decih Zelena dengan kesal.


Mau tak mau ia harus pasrah tak mengetahui siapa nama sebenarnya orang tua Clarisa. Meskipun begitu ia sudah paham mengenai apa yang terjadi dengan sahabatnya.


"Jadi sekarang loe tinggal dimana?" tanya Zelena dengan cepat.


"Gue nggak tahu. Mungkin gue akan cari kontrakan atau kos" jawab Clarisa.


"Kenapa loe ngak minta tolong sama kakak loe aja. Bukannya hubungan kalian sudah baik ya" usul Zelena.


"Ah! Benar juga loe Lele. Gue nggak kepikiran ampe sana" pekik Clarisa dengan senang.


"Itu karena otak loe lemot" sewot Zelena.


"Mungkin juga sih" balas Clarisa sambil tersenyum lebar.


Zelena lalu memaksa Clarisa untuk mengantarnya ke tempat kakaknya. Mau tak mau Clarisa menerima bantuan Zelena mengantarnya ke tempat sang kakak.


~ Baker Company ~


Sampainya didepan perusahaan Baker Company Ares mengerutkan keningnya melihat tempat yang mereka tuju.


"Loe yakin tempatnya di sini?" tanya Zelena dengan cepat.


"Yakin Lele karena ini tempat kerja kedua kakak gue" jawab Clarisa dengan yakin.


"Ini kan perusahaan milik Jason Baker anak dari Bastian Baker" ucap Ares yang sedari tadi diam.


"Itu nama bokap dan kakak gue Asin" balas Clarisa.


"Apa!" pekik Zelena dana Ares dengan kaget.


"Kalian kenapa?" tanya Clarisa dengan bingung.


"Loe ngak lagi bercandakan Risa?" tanya Zelena dengan selidik.


"Ngak Lele" jawab Clarisa dengan suara tegas.


"Lalu gimana nanti loe tanya ke resepsionis tentang kakak loe?" tanya Zelena dengan cepat.


"Apa loe punya kertas dan bolpoin?" tanya balik Clarisa.


"Bentar gue ambil" jawab Zelena sambil membuka tas kuliahnya.


Ia lalu menyodorkan kertas dan bolpoin ke Clarisa, dengan cepat Clarisa menulis nama kakaknya disana. Ia lalu pamit pergi tak lupa mengucapkan terima kasih kepada keduanya sebelum keluar.


Zelena dan Ares hanya bisa menatap Clarisa dari dalam mobil karena Clarisa minta mereka tidak usah menemaninya.


Sampainya didalam perusahan Clarisa segera memberikan kertas tadi kepada resepsionis dan meminta untuk menyampaikan hal itu kepada sang kakak.


"CLARISA" pekik Delon Baker dengan suara melengking di lobby.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...

__ADS_1


To be continue.................


__ADS_2