
🍁Orang yang berani berkata terus terang,adalah orang yang mendidik jiwanya sendiri untuk merdeka🍁
.
.
.
.
Aura Mikhail didalam pesawat terasa sangat mencekam membuat semua orang didalam sana menelan saliva mereka berkali-kali merasa ketakutan.
Mata coklat Mikhail berubah menjadi merah di tengahnya menandakan saat ini ia sangat emosi dan siapa saja yang mendekatinya akan di bunuh.
Teivel menatap Damon dengan tatapan memohon untuk tidak menyuruhnya mendekati King atau membawakan sesuatu kepada Mikhail jika ada informasi penting.
Damon yang memang seorang robot hanya menatap Teivel dengan tatapan datar dan dingin tidak bereaksi sedikit pun dengan isyrat Teivel lewat tatapan matanya.
Sialan kamu Damon! Aku yakin pasti kamu akan menyuruh aku untuk menemuii King, batin Teivel dengan kesal.
“Antarkan minuman ini ke King” titah Damon setelah mengecek vodka yang di bawakan pramugari.
Benarkan dugaan aku! Kamu memang iblis sialan bangsat!, batin Teivel memaki Damon didalam hati.
“Kenapa kamu hanya diam saja? Cepat antar minuman buat King” hardik Damon dengan suara dingin dan mata tajam seakan ingin menelan orang didepannya hidup-hidup.
“Ckk!!” decak Teivel dengan kesal.
Meskipun begitu ia tetap melakukan apa yang diperintahkan Damon barusan mengantarkan nampan berisi sebotol vodka, es batu, dan gelas untuk Kingnya.
Mata Teivel menatap Damon dengan sinis melihat Damon yang berjalan dengan lengang dari belakangnya.
“Kenapa bukan dia saja yang mengantar minum untuk King? Kenapa harus menyuruh aku segala padahal dia juga akan menemui King?” gumam Teivel dengan kesal.
Sampainya didalam ruangan kerja Mikhail dengan diam Teivel menaruh nampan diatas meja dengan tubuh gemetar, merasakan aura Mikhail yang terasa sangat menakutkan.
Tak…….tak…....tak……..tak……….
Jari tangan Mikhail bergerak dengan lincah diatas keyboard laptop entah apa yang sedang dilakukannya hanya dia saja yang tahu.
“Kirim koordinat istriku” ucap Mikhail dengan suara berat.
“Baik King” jawab Damon dengan suara dingin.
Teivel menatap keduanya bergantian tidak paham apa yang sedang mereka lakukan, jari tangan keduanya bergerak diatas laptop mengerjakan sesuatu disana.
Karena sudah melakukan tugasnya Teivel memilih keluar karena tidak ingin satu ruangan dengan Mikhail yang mengeluarkan aura membunuh.
“Teivel suruh pesawat tempurku datang sekarang dan beritahu pilot untuk landing di bandara terdekat” perintah Mikhail dengan suara dingin dan tegas.
“Baik King” ucap Teivel dengan patuh.
Teivel tak bertanya banyak dan segera keluar melakukan perintah Mikhail barusan. Kening Mikhail mengerut melihat pergerakan koordinat istrinya yang menuju ke titik lokasi yang ia kenali.
“Fu*k” maki Mikhail setelah mengetahui kemana tujuan istrinya.
“Nyonya dalam keadaan pingsan saat ini King” ucap Damon sambil memperlihatkan iPad berisi video yang berhasil ia retas dari kapal yang sedang dinaiki oleh Clarisa.
“Beritahu Res untuk kirim drone mengikuti istriku” perintah Mikhail dengan tatapan membunuh.
“Baik King” ucap Damon berkutat dengan laptop.
__ADS_1
Rahang Mikhail mengeras dengan kedua tangan terkepal erat melihat istrinya yang terbaring tak sadarkan diri di lantai dengan kedua tangan dan kaki diikat.
Giginya gemeletuk sudah tidak sabar ingin menghabisi orang yang sudah berani menculik istrinya tapi ia harus menyiapkan rencana dulu sebelum bergerak.
...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...
Tak berselang lama jet pribadi Mikhail landing di bandara terdekat dan ia segera keluar bersama Damon dimana keduanya akan menaiki jet tempur masing-masing menuju Indonesia.
Sedangkan Teivel dan lainnya pergi menuju Shadow Island untuk menyiapkan pasukan elitenya.
~ Jakarta, Indonesia ~
Zelene mengerutkan keningnya saat dipertengahan jalan ia diminta Gery untuk menutup mata dengan kain hitam. Meski awalnya ia tidak mau tapi pada akhirnya ia melakakukan apa yang disuruh Gery setelah tahu jika itu adalah perintah Ares.
20 Menit kemudian
Merasa mobil yang ia naiki sudah berhenti ia perlahan-lahan keluar dari dalam mobil dengan pelan sambil berpegang di badan mobil, karena matanya masih tertutup kain hitam dan ia tidak bisa melihat apapun saat ini karena semuanya gelap.
“Gery ini dimana?” tanya Zelena dengan takut.
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
5 detik
Perasaan Zelena semakin gusar dan takut tak mendapati jawaban dari Gery saat ia bertanya. Kepalanya celingak-celinguk merasa seperti tak ada siapapun di sekitarnya dan hanya ada suara angin saja yang ia dengar.
“Gery loe bawa gue kemana ini? Kenapa loe ngak jawab pertanyaan gue?” tanya Zelena dengan panik.
Tangannya tiba-tiba dipegang oleh seseorang saat ia akan membuka penutup matanya. Wangi parfum yang sangat dikenalinya membuat dia menengok ke atas merasa seseorang memeluknya dengan erat dari belakang.
“Querido” ucap Zelena dengan suara bergetar.
“Heemmm! Ayok ikut aku tapi jangan lepas penutup matanya mi amor” bisik Ares dengan suara lembut.
Zelena mengangguk kepalanya sebagai jawaban dan tidak takut lagi karena kekasihnya sudah berada bersamanya. Ares lalu menuntun kekasihnya perlahan menuju tempat yang sudah siapkan untuk memberi kejutan kepadanya.
Setelah beberapa saat keduanya sampai ditempat yang mereka tuju. Angin malam seketika berhembus menerbangkan rambut panjang Zelena yang ia gerai. Ares lalu membuka kain penutup mata Zelena membuat Zelena penasaran ingin melihat dimana mereka berada saat ini.
“Buka matamu mi amor” bisik Ares.
Perlahan-lahan mata hazel itu terbuka dan ia kaget melihat pemandangan indah didepannya. Zelena menutup mulutnya membaca kata Mi Amor Will You Marry Me yang terukir dengan sangat indah didepan sana dengan lampu kerlap-kerlip yang sangat cantik.
“I…..ni” ucap Zelena dengan terbata-bata berbalik ke belakang dan kembali dibuat kaget melihat kekasihnya yang sedang berlutut dengan sebelah kaki sambil memegang kotak cincin.
“Mi amor. Aku bukan laki-laki baik selama ini dan tidak sempurna tapi aku ingin menyempurnakan perjalanan hidupku dengan memiliki sebuah ikatan pernikahan bersama wanita yang sangat aku cintai dalam hidupku. Aku tidak bisa berjanji akan membahagiakanmu seumur hidupku, tapi aku akan membuktikan kalau aku akan selalu membahagiakanmu hingga maut memisahkan kita. Maukah kamu menerima seluruh kekuranganku dan bersama-sama mewujudkan mimpiku untuk memiliki keluarga sendiri mi amor? Will you marry me Zelena Duscha Wesly?” tanya Ares setelah mengungkapan isi hatinya.
Ares gugup melihat ekspresi Zelena yang masih menatapnya dengan syok mendengar lamaran yang barusan ia ucapkan. Air mata Zelena tumpah tak bisa mengekspresikan perasaan bahagia yang saat ini ia rasakan.
...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...
“Yes i will Ares Maladika Rahardian” ucap Zelena dengan suara lantang sambil mengangguk kepalanya.
Yeay…………..
Pekik Ares dengan senang dan langsung mengendong Zelena merasakan perasaan yang amat bahagia didalam hatinya. Ia lalu mendaratkan ciuman lembut ke bibir Zelena menyalurkan rasa bahagianya.
__ADS_1
Duar……………duar…………….duar…………….
Ledakan kembang api meledak di langit membuat suasana romantis keduanya semakin terasa sangat romantis. Ares lalu memakaikan cincin lamarannya ke jari manis Zelena sambil menatap Zelena dengan tatapan penuh cinta.
“I love you mi amor” ucap Ares dengan tulus.
“I love you too querido” balas Zelena sambil tersenyum manis.
Cup……………
Zelena mencium bibir Ares membuat ia kaget tak menyangka Zelena akan menciumnya lebih dulu. Tak mau membuang kesempatan ia segera membalas ciuman Zelena dengan sangat lembut.
~ Mansion Utama Rahardian ~
Semua keluarga besar Rahardian hari ini berkumpul di mansion utama Rahardian saat tengah malam tadi, mereka semua dibuat kaget dengan pesan yang dikirim Ares untuk bertemu hari ini di mansion utama karena ada sesuatu yang ingin ia katakan.
“Jadi kenapa kamu menyuruh kami semua berkumpul disini Ares?” tanya Riki dengan suara tegas sebagai tuan besar keluarga Rahardian.
“Aku yakin ini informasi yang sangat penting ya” jawab om Denis.
“Ya om benar” balas Ares dengan suara tegas.
Ia lalu bangun membuat semua pasang mata menatapnya dengan penasaran. Tangannya lalu menarik Zelena untuk berdiri juga membuat semuanya semakin penasaran.
“Semalam aku melamar kekasihku dan dia…………mengatakan yes” ucap Ares dengan suara lantang.
Prok…………….prok…………….prok………….
Tepuk tangan seluruh keluarga besar Rahardian menggema didalam ruang keluarga dan semuanya langsung memeluk keduanya mengucapkan selamat.
Zelena tersenyum bahagia sedari tadi mendapat sambutan hangat dari seluruh keluarga besar kekasihnya.
“Selamat bergabung dengan keluarga kami nak” ucap Riki dengan tulus sambil memeluk Zelena.
“Terima kasih kek” ucap Zelena.
“Sayang selamat datang di keluarga kami” ucap Maya nenek Ares.
“Iya nek”
“Papa senang akhirnya kamu menjadi menantu papa dan itu artinya mulai sekarang kamu sudah menjadi anak papa” ucap Sean yang hendak memeluk Zelena.
“Stop papa. Jangan memeluk istriku” ucap Ares berdiri tepat ditengah keduanya.
“Ckk!! Belum jadi istri Ares” decak Sean degan kesal melihat sifat posesif anaknya yang seperti dia.
“Sebentar lagi sudah jadi istriku pa dan aku tidak mengijinkan laki-laki manapun memeluk istriku termasuk papa” ucap Ares dengan suara lantang.
Semuanya memutar malas mata mereka melihat sifat Ares yang sangat posesif kepada Zelena, persis seperti papa dan kakeknya yang juga sangat posesif dengan milik mereka.
“Jadi kapan kalian akan menikah Ares?” tanya Riki.
“3 hari lagi” jawab Ares dengan santai.
“APA” pekik semuanya dengan kaget termasuk Zelena yang mendengar ucapan Ares kalau mereka akan menikah 3 hari lagi.
Ia saja belum memberitahu keluarganya tentang ini dan mempersiapkan pernikahan mereka tapi Ares sudah memutuskan untuk menikah 3 hari lagi.
Gila!
Itulah yang dipikirkan Zelena dan semuanya menganggap ucapan Ares barusan hanya candaan saja.
__ADS_1
...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...
To be continue……………………