Heartless 2

Heartless 2
Chapter 57


__ADS_3

🍁Carilah pendamping hidupmu yang tulus menerimamu apa adanya, menjagamu seperti ayahmu dan memberimu kasih sayang seperti ibumu🍁


.


.


.


.


Setelah berjam-jam di atas pesawat akhirnya Mikhail dan Damon tiba di landasan pribadi miliknya di mansion yang baru saja selesai dibangun untuk kedua orang tuanya.


"King apa anda akan menginap disini?" tanya Damon.


"Penthouse" jawab Mikhail dengan singkat.


Damon lalu menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan mobil. Setelah masuk ke dalam mobil keduanya bergegas pergi ke penthouse dikawal 5 mobil pengawal.


Dor.............dor..........dor.........dor...........


Mobil Mikhail dan pengawalnya tiba-tiba di serang musuh dari depan. Mikhail tersenyum menyeringai melihat musuh-musuhnya yang berani menghadang mereka di jalanan yang cukup sepi.


"Habisi mereka semua dan sisakan satu orang" ucap Mikhail dengan suara dingin.


"Baik King" ucap Damon bergegas turun dari mobil.


Damon melirik anak buahnya sambil memberi isyarat untuk menyerang musuh di depan mereka. Ada 50 orang yang menghadang mereka, Damon memindai mereka semua lalu tersenyum smirk melihat senjata mereka hanya pistol saja.


"Habisi mereka semua sisakan satu orang saja" ucap Damon dengan suara dingin.


"Baik bos" ucap anak buahnya dengan serentak.


Dor..........dor.........dor.........dor............dor.......


Arrrghhh........arrghhhh..........arrgghhh.......


Bunyi tembakan dan jeritan kesakitan bergema di sana ditambah suasana yang sepi hanya ada Mikhail dan pihak musuh.


Pengawal Mikhail bukanlah pengawal biasa yang bisa di anggap remah. Mereka semua adalah anggota inti Black Shadow yang sudah terlatih di bawah pimpinan Juan secara langsung.


Di luar Damon dan anak buahnya terus menyerang musuh tak takut sama sekali berbeda dengan Mikhail yang dengan santai duduk di dalam mobil sambil membaca informasi yang Damon dapatkan tadi.


"Menarik" ucap Mikhail sambil tersenyum menyeringai membaca informasi yang di dapat Damon tadi.


Mikhail tak menyangka orang di balik ini semua adalah orang yang sama dan ia akui baru kali ini dia melihat lawan yang begitu cerdik dalam menyusun strategi sepertinya.


"Sepertinya kali ini aku tidak akan bosan bermain! Hehehe" ucap Mikhail sambil terkekeh.


Di luar pihak musuh yang melihat teman mereka satu-satu berjatuhan dan tersisa 10 orang saja memilih untuk mundur.


"Mundur" teriak ketua musuh.


"Habisi mereka semua jangan biarkan mereka lolos" teriak Damon dengan suara lantang.


"Baik bos" ucap anak buahnya dengan serentak.


Dor........dor............dor..........dor.......dor........


10 tembakan mengenai 10 orang tadi yang ingin kabur dari Damon. 9 lainnya sudah tewas di tempat karena tembakan dari Damon dan anak buahnya tepat di kepala mereka sedangkan satu lainnya terkena tembakan di bagain kaki.


"A......mpun jangan bunuh aku" pinta musuh tadi dengan terbata-bata melihat mata merah Damon yang seakan ingin mengulitinya.


"Bawa dia" perintah Damon segera berlalu dari sana.


Tok.......tok........tok.........


Mikhail menurunkan kaca jendela saat di ketuk dari luar. Damon menunduk dan memberitahu jika mereka sudah selesai menghabisi musuh dan menyisakan satu orang.


"40 menit Damon. Kamu sangat lambat" ucap Mikhail dengan suara dingin.


"Maaf King"


"Pulang dari sini suruh mereka semua ke markas" titah Mikhail dengan tatapan tajam.


"Baik King"


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Mikhail keluar dari dalam mobil melangkah ke arah musuh yang masih hidup yang sedang berlutut di tanah.


"Siapa yang mengirim kamu?" tanya Mikhail dengan aura membunuh.


"Reynald W......esly" ucap musuh tadi dengan terbata-bata.


"Kamu pikir aku anak kecil yang gampang dibohongi" hardik Mikhail dengan suara tinggi.


"Saya sudah berkata jujur. Saya moho....n am....pun" pinta orang tadi dengan gemetar ketakutan.

__ADS_1


Sret...........sret.........aarrrgghhh.......


Jerit kesakitan bergema disana saat kedua tangan musuh tadi ditebas oleh Mikhail dengan santai. Darah mengalir bercucuran di sana membuat bau anyir menyeruak di sana.


"Katakan" ucap Mikhail dengan suara dingin seperti es yang membekukan tubuh.


"T........uan D....ev" ucap musuh tadi dengan gemetaran.


Dor...............


Mikhail menembaknya tepat di kepala setelah mengetahui nama orang yang sama dengan orang yang memberi perintah untuk memberi racun di orang yang menyerang Victor.


"Kirim mereka semua ke tuan mereka" ucap Mikhail sambil tersenyum menyeringai.


"Baik King"


Damon lalu memberi perintah kepada anak buahnya untuk mengirim semua mayat disana ke alamat orang suruhan Dev ayah angkat dari Light.


Mikhail tidak mengirim langsung kepadanya melainkan ke orang suruhannya dengan maksud memberitahu mereka jika ia tahu siapa dalang di balik ini semua.


~ Shadow island ~


Aaarrggghhhh.............


Teriak Natasha saat punggungnya terkena tebasan ekor Pita yang sedang mengamuk karena berani masuk ke wilayahnya.


Sisa 1 jam lagi Natasha harus bertahan di dalam kandang Pita. Beruntung hanya Pita saja yang berada di sana tidak bersama kawanannya yang lain.


Sedari masuk ke dalam kandang Pita, Natasha terus berlari menghindar kejaran Pita tapi tetap gerakannya kurang gesit seperti Pita dan berulang kali mendapat sayatan di sekujur tubuhnya.


Aku harus bertahan jika tidak ingin mati sini, batin Natasha.


Crash..........crash...........crash...........


Natasha berlari menghindar ke seluruh penjuru saat Pita mengibas ekornya dengan kuat ke arahnya. Meski tenaganya terkuras hingga habis tapi ia tetap bertahan untuk menghindar dari Pita.


Geerrrr............


Suara geraman Pita terdengar jelas di telinga Natasha di belakangnya, ia yakin Pita sudah sangat dekat dengannya.


Arrrghhhhh............


Teriak Natasha bergema saat kakinya terkena ekor Sandra dan jatuh di lantai dekat pintu keluar, darah yang keluar dari kaki Natasha membuat jiwa predator Pita semakin manjadi.


"Tidak. Jangan mendekat! Jangan!" teriak Natasha ketakutan karena tidak bisa menghindar lagi.


Natasha semakin ketakutan dan berteriak melihat Pita yang sudah membuka mulutnya dengan gigi yang tajam untuk menerkamnya.


Grep............Kling.........


Tubuh Natasha gemetaran melihat arah pintu yang tertutup di depannya dengan bunyi geraman yang terdengar jelas di telinganya.


"Anda beruntung di waktu terakhir nona muda" ucap Teivel sambil tersenyum smirk.


Natasha menatap Teivel yang tersenyum menyeringai seakan mengejeknya. Ingin sekali ia memaki Teivel karena berani mengejeknya tapi ia sudah tak punya tenaga lagi apa lagi jiwanya sangat terguncang.


Teivel dengan cepat menangkap tubuh Natasha yang akan jatuh di lantai karena pingsan. Juan yang melihat apa yang di lakukan Pita dari kemarin hanya bisa menghela napas tak percaya dengan kelakuan Kingnya.


King memang sangat menyeramkan melebihi master, batin Juan.


Teivel membawa Natasha menuju ke ruang perawatan untuk diobati dan juga tak lupa mengirim pesan ke Damon jika Natasha sudah selesai menjalani hukumannya.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


King memang tak bisa ditebak, batin Teivel yang membaca pesan Damon menyuruh mereka segera pulang saat ini juga Ke California.


~ Jakarta, Indonesia ~


Sudah lewat dua hari sejak Xander menelponnya untuk menjaga Zelena. Selama 2 hari Ares sudah menyuruh anak buahnya untuk menjaga kekasihnya dari jauh.


"Dimana Zelena?" tanya Ares yang baru saja turun dari jet pribadi miliknya.


"Nona Zelena berada di cafe Mix tempat nona Clarisa bekerja tuan" ucap Gery yang membaca informasi dari anak buah mereka yang bertugas mengawasi Zelena 24 jam.


"Kita ke sana"


"Baik tuan"


Ares sudah tak sabar ingin bertemu pacarnya karena sudah 2 hari ia pergi ke Singapura untuk memantau proyek yang sedang berlangsung di sana.


~ Mix Cafe ~


Natasha sedang duduk menikmati ice macha dengan beberapa potong cake yang ia pesan tadi. Ia sedang menunggu Clarisa yang 5 menit lagi selesai bekerja kebetulan hari ini ia dapat jadwal shift pagi.


"Akhirnya loe nongol juga" ucap Zelena.


"Baru juga berapa menit loe nungguin gue udah ngeluh aja" cibir Clarisa.

__ADS_1


"Yaelah loe itu seharusnya tahu pekerjaan paling membosankan itu adalah menunggu"


"Ya ya ya! Gue tahu mending loe makan aja tuh cake di depan loe" ucap Clarisa sambil memutar malas matanya.


"Loe mau ngak" tawar Zelena.


"Ngak deh. Gue masih kenyang" tolak Clarisa.


"Ya udah! Sana pesan minuman. Gak enak kalau gue sendiri yang makan terus loenya liatin gue" dengus Zelena dengan cemberut.


"Oke"


Clarisa lalu memesan segelas ice americano karena dia adalah pencinta kopi sejak dulu. Selesai mengambil dan membayar pesanannya ia bergegas kembali ke meja Zelena.


"Lele loe belum cerita ke gue loh tentang om Asin" ucap Clarisa.


"Iya kah. Masa gue belum cerita ke loe?" tanya balik Zelena.


"Belum Lele. Orang sehabis kita tour loenya baru muncul di depan gue hari ini" sarkas Clarisa sambil memutar malas matanya.


Hehehehe............


Zelena terkekeh sambil memamerkan giginya dengan santai. Melihat hal itu Clarisa hanya bisa mendengus kesal melihat sifat sahabatnya yang terlalu amat santai.


"Buruan gih cerita" sungut Clarisa sambil mencebik.


"Iya iya, bawel banget loe kayak mak-mak kompleks" cibir Zelena yang langsung dihadiahi polotan mata dari Clarisa.


"Ares itu cowok gue" ucap Zelena dengan santai.


"Oh"


1 detik


2 detik


3 detik


4 detik


5 detik


"Apa" pekik Clarisa dengan kaget setelah mencerna ucapan Zelena.


"Aduh Risa loe itu bikin malu aja deh" ketus Zelena yang malu karena semua pasang mata tertuju ke arah mereka.


"Sejak kapan loe jadian sama tuan muda Rahardian?" tanya Clarisa tak mengubris ucapan sahabatnya tadi.


"Tuan muda Rahardian itu siapa?" tanya balik Zelena dengan wajah polos.


Hah...............


Clarisa melongo menatap sahabatnya yang tak mengenal siapa itu tuan muda Rahardian. Ia jadi tidak yakin jika Zelena beneran pacar Ares Rahardian.


"Lele gue ngak bercanda ya"


"Lah emang yang bilang loe bercanda siapa?" tanya Zelena dengan polos.


"Oh my God. Mimpi apa gue semalam punya sahabat yang polos sekaligus bloon kayak loe" dengus Clarisa memijit keningnya yang berdenyut.


"Bloon itu apa Risa"


"Itu sejenis makanan"


"Enak ngak"


"Ngak enak kayak loe" ketus Clarisa.


"Emang loe pernah coba?" tanya Zelena dengan penasaran.


"Ngak pernah"


"Ngak pernah! Lalu loe tahu dari mana rasanya ngak enak"


"Lihat loe aja gue bisa tahu kalau ngak enak" kesal Clarisa.


"Loe kira gue makanan apa. Loe memang bodoh banget Risa ngak bisa bedain mana makanan dan manusia" hardik Zelena dengan kesal.


Phew...........


Clarisa membuang napasnya dengan kasar mendengar ucapan sahabatnya yang selalu saja bikin darah tinggi karena kelewat polos.


Sabar! Sabar! Orang didepan loe ini sahabat baik loe, batin Clarisa.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


To be continue................

__ADS_1


__ADS_2