Heartless 2

Heartless 2
Chapter 35


__ADS_3

🍁Jangan takut pada yang benar-benar jahat tapi takutlah pada yang pura-pura baik🍁


.


.


.


.


"Hey lihat deh ada dua manusia purba di sana" ucap Sandro salah satu sahabat Ares.


"Siapa sih bro?" tanya Liam salah satu sahabat Ares juga.


"Itu arah jam 3 dekat jendela"


Keempatnya langsung melihat ke arah yang diberitahu Sandro barusan. Ares mengepal tangannya menahan emosi saat melihat siapa yang disebut oleh Sandro.


"Wah! Gila masih ada juga ya orang berpenampilan cupu di dunia ini" ucap Haris sahabat Ares.


"Gue kira suhu tapi ternyata cupu" ejek Liam.


"Gimana kalau kita kerjain aja mereka" ajak Sandro yang sedari dulu paling usil dan nakal di antara keempatnya.


"Gue setuju" ucap Liam dan Haris serentak.


Rahang Ares mengeras mendengar ucapan ketiga sahabatnya yang mengejek penampilan Zelena dan temannya. Entah kenapa ia merasa tidak terima jika Zelena diejek oleh mereka.


"Kok rasanya dingin ya" ucap Sandro merasa di sekitarnya terasa sangat dingin.


Liam menyikut Sandro dan Haris sambil menunjuk Ares dengan dagunya. Ketiganya saling menatap bertanya apa yang terjadi dengan teman mereka itu.


"Berani loe semua sentuh dua cewek cupu itu! Hari ini juga loe semua ngak akan bernapas lagi" ancam Ares dengan suara dingin dan tatapan membunuh.


Glek...........


Ketiganya menelan saliva dengan susah mendengar ucapan Ares yang tak main-main, apa lagi tatapan tajamnya yang seakan ingin mencabik-cabik mereka.


Ares berlalu pergi saat matanya melirik Zelena dan temannya beranjak pergi dari cafe. Setelah kepergian Ares ketiganya bisa bernapas dengan lega.


"Kenapa tuh kanebo kering?" tanya Liam.


"Mana gue tahu! Tanya aja sono sama orangnya" dengus Sandro.


"Gila! Ngak ah bisa-bisa entar gue jadi rempeyek" tolak Liam dengan cepat.


"Gue rasa Ares suka sama salah satu dari kedua cupu tadi" ucap Haris sambil memegang dagunya berpikir.


"Hello Mr. Haris Samudra yang panjangnya tak terhingga! Otak loe kayaknya perlu dibenerin di bengkel sono" ejek Sandro.


"An***g loe Sandra stop ngatain nama gue kayak gitu" hardik Haris dengan kesal.


"Loh emang nama loe itu salahnya gue dimana coba" ucap Sandro dengan wajah tak berdosa.


"Sandro Gunawan bangsat" pekik Haris dengan kesal.


Hahahahaha.........


Bukannya marah tapi Sandro malah tertawa melihat temannya yang sangat emosi. Ketiganya seketika menjadi pusat perhatian pengunjung cafe disana.


"Loe berdua ngak malu apa! Ini bukan di mansion tapi cafe" ucap Liam merasa malu dengan kelakuan dua sahabatnya itu.


"Dia tuh yg mulai duluan" tunjuk Haris dengan sinis.


"Kalau iya emang kenapa! Mau mukul gue" sungut Sandro dengan santai.


"DIAM!" bentak Liam tak bisa menahan emosinya lagi.


Keduanya seketika diam tak saling mengejek lagi karena tahu jika Liam berkata dengan nada tinggi seperti itu tandanya ia sudah sangat emosi.


Sedangkan Ares yang sudah pergi dari cafe memutuskan mengikuti kedua gadis cupu itu dari belakang.


~ Taman Kota ~


Zelena dan Clarisa memutuskan ke taman kota menikmati suasana sore disana kebetulan hari ini adalah hari off Clarisa dari kerjaannya.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


"Loe kenapa sih Risa! Dari tadi kusut banget muka loe kayak baju belum di setrika" ucap Zelena.


"Gue lagi banyak pikiran Lele" ucap Clarisa tak bersemangat.


"Emang loe mikir apa"


Clarisa menatap sahabatnya dengan wajah tak bisa ditebak, ia merasa ragu untuk bercerita mengenai perihal sebulan lalu di kosnya.


Kayaknya gue ngak boleh cerita soal Mikhail ke Zelena takutnya dia jadi incaran iblis kejam itu lagi, batin Clarisa.


"Apa gue harus ikut kegiatan tour itu ya Lele?" tanya Clarisa tak mau bertanya perihal iblis kejam itu.


"Ya harus dong! Kan loe tahu rektor udah bilang semua mahasiswa semester 2, 4, dan 6 diwajibkan ikut"


"Tapi kerjaan gue gimana! Gue kan ngak bisa ijin terlalu lama Lele"


"Emang berapa hari sih kegiatan itu?" tanya Zelena dengan bingung.


"Mana gue tahu. Gue aja belum baca pengumumannya apa lagi HP gue kan ngak bisa internet dan WA" Clarisa memperlihatkan hp jadulnya ke Zelena.


"Ckk!! HP loe udah waktunya masuk museum Risa" ejek Zelena dengan kesal.


"Kalau di museum nanti gue make apa dong?" tanya Clarisa dengan wajah polos.


"Nanti gue beli yang baru buat loe"


"Emang loe punya uang"


"Punyalah"

__ADS_1


"Maksud gue uang hasil kerja loe sendiri" ralat Clarisa.


"Hehehehe! Enggaklah, kan loe tahu gue ngak kerja" tawa Zelena memamerkan giginya.


"Ngak usah! Gue juga ngak bakal nerima HP pemberian loe" tolak Clarisa dengan halus.


"Kenapa?" tanya Zelena dengan wajah bingung.


"Gue ngak mau nyusahin loe Lele"


"Kenapa harus nyusahin gue?" tanya Zelena dengan bingung.


"Btw, berapa hari acara tour itu?" tanya Clarisa sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Ngak tahu gue" Zelena menggelengkan kepalanya tak tahu.


"3 hari" ucap suara baritone di belakang keduanya.


Seketika keduanya terkejut dan langsung berbalik ke belakang melihat siapa yang berbicara. Mata Zelena hampir keluar dari tempatnya melihat sosok yang sangat ia kenali.


Ckk!! Playboy cap mesum itu lagi, batin Zelena berdecak kesal.


"Om siapa?" tanya Clarisa sambil membetulkan kaca mata tebalnya.


"Gue bukan om loe" ketus Ares beranjak duduk di samping Zelena.


Eehh...........


Zelena melotot melihat Ares yang duduk di sampingnya apa lagi Ares duduk menempel dengan Zelena.


"Loe kenal sama om ini?" tanya Calrisa sambil menunjuk Ares.


"Ckk!!" dengus Ares tak suka di panggil om.


"Kenal" ucap Zelena dengan singkat.


"Kenal dimana?" tanya Clarisa memicing matanya.


"Playboy mesum kita kenal dimana lagi?" tanya Zelena.


"Stop calling me like that" (berhenti memanggil aku seperti itu) ketus Ares.


"Loh emang kenyataan kan kalau loe itu playboy mesum" sinis Zelena dengan tatapan kesal.


Kenapa gue ngerasa kalau dia lagi kesal sama gue ya, batin Ares dengan kening berkerut.


Gue ngerasa ada yang ngak beres nih disini, batin Clarisa penuh tanda tanya.


"Kenapa manggil gue kayak gitu heeem" ucap Ares sambil memainkan rambut dark brown milik Zelena.


"Ckk!! Ngak usah sok kenal sama gue" dengus Zelena.


"Loe belum jawab pertanyaan gue" ucap Clarisa menengahi ucapan keduanya.


"Kenalin dia playboy cap mesum se-Indonesia"


Hahh........


Clarisa melongo mendengar ucapan Zelena barusan dan entah kenapa ia baru kali ini melihat Zelena yang berbicara sinis kepada orang lain.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Zelena memanyunkan bibirnya mencebik melihat tatapan tajam Ares kepadanya. Sedangkan Ares mengulum senyum geli melihat kelakuan Zelena yang menurutnya sangat lucu.


"Gue nanya nama asli"


"Namanya Ares kalau belakangnya gue ngak tahu. Loe tanya aja sendiri sama orangnya"


"Oh namanya Asin" ucap Clarisa mengangguk kepalanya.


Ares melotot mendengar ucapan Clarisa yang menyebut namanya Asin. Zelena terkekeh mendengar nama Ares yang di sebut Asin oleh sahabatnya apa lagi saat melihat wajah melotot Ares.


"Nama gue Ares bukan Asin" ketus Ares.


"Ya ya ya ya gue tahu kok nama om Asin" balas Clarisa.


"Gue bukan om loe dan sekali lagi nama gue ARES" tekan Ares menyebut namanya.


"Ckk!!" decak Clarisa kesal.


Hehehehe...........


Zelena terkekeh melihat keduanya yang menurutnya sangat lucu. Ares menatap Zelena dengan tajam membuat Zelena menutup mulutnya dengan rapat.


"Clarisa emang gitu dari kecil sudah salah sebut nama orang" bisik Zelena.


Ares mengangkat alisnya sebelah mendengar bisikan Zelena, Zelena hanya bisa membalasnya dengan senyum manis di wajahnya.


"Lele jadi gimana dong sama tour itu?" tanya Clarisa kembali ke topik awal.


"Lele" ucap Ares menatap Zelena dengan bingung.


Zelena mengangguk kepalanya seakan matanya memberitahu jika namanya juga selalu salah disebut sama sahabatnya.


Udah cupu aneh lagi, batin Ares tak habis pikir.


"Ikut aja lagian cuma 3 hari kan loe bisa minta ijin"


"Heemmm! Gue coba minta ijin deh sama manager gue besok"


"Oke! Nanti kabari gue kalau loe dapat ijin ya"


"Oke"


Clarisa lalu pamit pulang meninggalkan Zelena dan Ares disana. Zelena lalu mengeser jarak dengan Ares setelah kepergian Clarisa.


"Kenapa pindah sih" kesal Ares.

__ADS_1


"Suka-suka gue dong! Emang situ siapa sih sok kenal aja" ketus Zelena.


"Zelena" desis Ares tak suka mendengar ucapannya barusan.


Zelena lalu beranjak pergi dari sana tapi langkahnya di hadang oleh Ares. Tanpa berkata apa-apa Ares lalu menggenggam tangan Zelena dan menariknya pergi.


Entah kenapa Zelena merasa sangat nyaman saat tangannya digenggam oleh Ares seperti ada yang menggelitik dan rasanya sangat nyaman.


~ Shadow Island ~


Aaarrggghhhh...................


Teriak kesakitan seorang pria paruh baya saat k**u jarinya di cabut oleh Juan dengan kasar tak berperasaan.


"Katakan siapa yang mengirim kamu?" tanya Mikhail dengan suara dingin.


"Bun....uh s....aja a.....ku" ucap pria itu dengan terbata-bata.


"Kematian terlalu mudah untukmu pak tua" ucap Mikhail sambil tersenyum smirk.


"Samp...ai kapan....pun kamu tida...k akan mendapa...t jawaban dariku" ejek pria itu dengan terbata-bata.


Mikhail tersenyum menyeringai melihat pria tua itu yang tubuhnya sudah penuh dengan bekas cambuk dan sayatan dari anak buahnya dan Juan.


"Bawa dia masuk"


"Lepaskan aku! Siapa kalian? Lepas sialan!" teriak seorang perempuan menggema.


Mata pria paruh baya tadi melotot kaget melihat siapa yang di bawa oleh anak buah Mikhail. Ia tak menyangka anak pertamanya akan ditangkap oleh Mikhail.


"Berengsek apa yang kalian lakukan kepada anakku!" bentak pria tadi.


"Daddy tolong" teriak perempuan tadi dengan histeris.


"Lepaskan anakku bajingan!" bentak pria tadi.


Plak.........plak.........


2 Tamparan bergema di dalam sana membuat pria tadi semakin menjadi melihat anaknya di tampar oleh Teivel dengan kuat.


"Oris Pablo" ucap Damon dengan suara dingin.


Mata Oris terbelak tak menyangka jika nama aslinya akan di ketahui oleh orang di depannya. Seketika tubuhnya bergetar merasa ketakutan melihat Mikhail yang menatapnya dengan wajah dingin.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


"Katakan siapa yang mengirimmu?" tanya Juan dengan suara dingin.


"Lepaskan anakku dan aku akan beritahu klain" tawar Oris.


"Hey pak tua anda tidak diposisi untuk menawar sekarang jadi katakan sekarang!" bentak Juan.


"Aku tidak tahu namanya tapi orang menyebutnya Light dan aku tidak pernah bertemu dengannya hanya orang suruhannya saja"


"Katakan dengan jujur!" bentak Juan.


"Aku sudah mengatakannya! Aku hanya tahu itu dan dia juga punya kembaran seorang gadis licik dan sama berbahaya seperti kakaknya" jelas Oris.


"Masukan dia ke akuarium"


"Baik King"


"Kalian sudah mendapat apa yang kalian inginkan kenapa tidak melepas aku" teriak Oris bergema.


Teriakan Oris tak digubris oleh Juan dan anak buahnya dan menyeret Oris dengan paksa menuju akuarium milik Mikhail di bagian Timur.


"King bagaimana dengan dia?" tanya Teivel.


"Damon" ucap Mikhail dengan suara dingin.


"Dia dan ayahnya adalah bos sindikat perdagangan anak di bawah umur di Spanyol King" ucap Damon yang tahu maksud Mikhail.


"Terserah! Tapi aku tidak mau dia bernapas di dunia ini" ucap Mikhail dengan santai.


"Baik King" ucap Teivel dengan senyum smirk memikirkan apa yang akan ia lakukan dengan anak Oris.


Mikhail berlalu menuju lift menuju lantai 10 lantai khusus untuknya. Saat ini ia berada di kastil dengan 10 lantai yang sangat megah di pulau itu.


Entah kenapa hatinya merasa tak tenang seperti ada sesuatu yang ia lupakan. Mikhail menatap ke luar pemandangan indah di depannya yang membuat siapa saja akan merasa senang berada di sana.


"King ada yang mencoba melacak keberadaan King" ucap Damon.


"Siapa?" tanya Mikhail.


"IDnya terdeteksi dari mansion tuan muda pertama Wesly dan itu berasal dari laptop pribadi asisten keduanya King"


"Ckk!! Akhirnya otaknya bekerja juga" sinis Mikhail.


"Saya sudah menutup semua informasi King dan sedikit memberi sambutan kepada orang itu King"


"Heemmmm"


"Apa mansion buat mommy dan daddy sudah siap?" tanya Mikhail dengan cepat.


"Sudah 90% King"


"Bulan depan aku mau sudah selesai" tegas Mikhail.


"Baik King"


Mikhail lalu menyuruh Damon untuk keluar meninggalkannya sendiri. 4 bulan yang lalu Mikhail sempat mendengar pembicaraan daddynya yang ingin menghabiskan masa tuanya di tanah kelahirannya saat uncle Kevin dan aunty Rahel berkunjung.


Aku akan memberi kejutan untuk kalian, batin Mikhail.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


To be continue..............

__ADS_1


__ADS_2