
πBerpikir positif disaat bahagia itu biasa, tapi berpikir positif disaat tengah ada masalah, hanya para profesional yang bisaπ
.
.
.
.
Sampainya di mansion Mikhail langsung disambut oleh bi Sance kepala pelayan di sana bersama 30 pelayan yang berada di mansion.
"Selamat datang tuan muda" ucap bi Sance dan pelayan serentak.
Mikhail tak menjawab sapaan mereka dan segera masuk ke dalam mansion dengan tatapan datar dan dingin.
Bi Sance lalu mengikuti Mikhail di belakang Teivel dan Damon setelah memberi isyarat kepada para pelayan untuk bubar. Saat para pelayan bubar meraka mencuri pandang ke arah Mikhail ingin melihat rupa Mikhail seperti apa.
Para pelayan tersentak kaget saat melihat wajah Mikhail yang sangat tampan seperti dewa yang turun ke bumi. Meski wajahnya datar dan dingin tapi tidak mengurangi ketampanan Mikhail sedikit pun.
"Kapan kucing kecilku akan pulang?" tanya Mikhail dengan suara dingin sambil tersenyum smirk.
"Besok sore King" ucap Damon.
"Kirim anak buah kita untuk mengawasi kucing kecilku" ucap Mikhail dengan suara tegas.
"Baik King"
"Satu lagi jangan sampai ada luka satupun di tubuh kucingku" mata Mikhail berkilat tajam saat mengatakan hal tersebut.
"Baik King" ucap Damon dengan suara dingin tapi tidak dengan Teivel yang merinding melihat tatapan tersebut.
Damon segera berlalu pergi menjalankan perintah Mikhail sedangkan Teivel selalu berdiri di samping Kingnya menunggu perintah dari Mikhail.
"Ice americano" ucap Mikhail dengan singkat.
Teivel melirik bi Sance beruntung kepala pelayan di mansion ini mengerti bahasa Inggris jadi ia tak perlu menerjemahkan lagi ucapan Mikhail.
"Resort di Bali"
"2 bulan lagi selesai King"
"Suruh mereka selesaikan sebelum acara ulang tahun Natasha"
"Baik King"
Teivel menulis catatan di iPad mendengar perintah Mikhail agar ia tidak lupa nanti. Tak berselang lama bi Sance datang sambil membawa segelas ice americano dan buah-buahan.
"Pergi" usir Mikhail dengan suara dingin.
"Baik King" ucap keduanya serentak.
Mikhail duduk di balkon lantai dua sambil menyesap ice americano tapi sebelah tangannya tak berhenti menarik kelopak bunga di vas tepat disampingnya.
Seperti biasa kelakuan Mikhail dari kecil tidak pernah berubah ia tidak menyukai kelopak bunga dan akan memotongnya hingga tersisa batang dan daun saja.
"Ini baru bagus" ucap Mikahil sambil tersenyum menyeringai melihat perbuatannya.
Tak berselang lama hpnya berbunyi ada panggilan video dari sang adik.
"Halo kakak" ucap Natasha dengan senang dari seberang.
^^^"Heemmmm"^^^
"Kakak dimana"
^^^"Ada apa?" tanya Mikhail tak menjawab pertanyaan adiknya.^^^
"Isshh! Kakak menyebalkan"
^^^"Katakan sweety apa kamu mau dihukum lagi" ucap Mikhail dengan senyum smirk.^^^
"Kakak" Natasha melotot dari seberang.
Mikhail tersenyum menyeringai melihat wajah adiknya yang ketakutan dari seberang menurutnya itu sangat mengemaskan.
"Kakak boleh aku pakai jet kakak yang baru buat ke Indonesia?" tanya Natasha dengan wajah penuh harap.
^^^"No" ucap Mikhail dengan tegas.^^^
"Ayolah kak" pinta Natasha dengan wajah puppy eyes.
^^^"Tidak sweety! Pakai jetmu sendiri atau punya mommy dan daddy"^^^
"Kakak pelit"
^^^"Heemmm"^^^
__ADS_1
"kak sekali aja! Heemmm" ucap Natasha memelas.
^^^"Gunakan jet kamu atau batal ke Indonesia" ucap Mikhail dengan suara dingin.^^^
...π π π π π...
Natasha tersentak dari seberang mendengar ucapan sang kakak. Ia tahu jika apa yang diucapkan kakaknya tidak pernah main-main.
"Aku pakai jet mommy ajanka" ucap Natasha dengan cepat.
^^^"Heemmm"^^^
Mikhail lalu mematikan panggilannya sepihak tak menggubris ucapan sang adik yang menurutnya sangat berisik.
~ Mansion Walts ~
Sampainya di mansion uncle Kevin, David dan Leon bergegas masuk ke dalam setelah di sambut oleh kepala pelayan.
"Henry berikan kunci mobilku" teriak Liliana bergema di dalam mansion.
"No! Aku pinjam mobil kakak ya" pekik Henry dengan suara kencang.
"Henry cepat kembalikan" hardik Liliana dengan suara lantang.
Henry berlari turun dari lantai dua tak memperdulikan teriakan kakaknya. Sampai di lantai satu ia berbinar melihat kedatangan kakak beradik Kendrick.
"Ka David, ka Leon" pekik Henry dengan semangat.
"Hai Henry lama tidak bertemu ya" ucap Leon sambil tersenyum manis.
"Baru aja sebulan kita tidak bertemu sama kayak setahun aja" dengus Henry.
"Menurut aku itu sih lama" ucap Leon dengan santai.
"Kesini kamu adik nakal" pekik Liliana dengan emosi.
Pandangan ketiganya langsung tertuju ke arah suara yang baru saja turun dari tangga mengejar adiknya Henry.
Sampainya di lantai satu matanya terbelak melihat David dan Leon. Henry menggelengkan kepalanya melihat penampilan sang kakak yang menurutnya sangat memalukan apa lagi rambutnya seperti nenek sihir.
"Ka David, ka Leon kalian disini" ucap Liliana dengan malu.
"Ka kamu seperti nenek sihir" cibir Henry.
Liliana melotot mendengar ucapan sang adiknya yang mempermalukannya saat ini. Leon tertawa mendengar ucapan Henry yang benar adanya.
Liliana seperti ingin menghilang saja dari sana mendengar ucapan keduanya. Wajahnya merah padam mendengar ucapan Henry dan Leon barusan.
"Kalian sudah datang" ucap Rahel mommy Liliana dan Henry dengan suara lembut.
"Halo aunty" ucap keduanya dengan serentak.
"Daddy kalian ada di ruang kerja uncle"
"Iya aunty"
Leon dan David bergegas menuju lantai dua menuju ruang kerja uncle Kevin. Liliana yang merasa sangat malu bergegas naik ke lantai dua menuju kamarnya.
"Menurutku kamu itu cantik alami" bisik David setelah sampai di lantai dua.
Wajah Liliana seperti kepiting rebus mendengar bisikan David barusan. Melihat hal itu David tersenyum tipis dan berlalu pergi ke ruang kerja uncle Kevin.
"David apa benar yang dikatakan daddy kamu?" tanya Kevin dengan panik mendengar ucapan Albert barusan.
"Benar uncle" ucap David dengan suara dingin.
"Siapa lagi kali ini? Apa dia musuh kita dari masa lalu?" tanya Kevin dengan penasaran.
"Untuk saat ini kita belum tahu siapa yang mengawasi kita" ucap Albert.
"Aku harap uncle menjaga Lili dan Henry" tambah Leon.
"Ah! Kepalaku seperti mau pecah saja" ucap Kevin memegang kepalanya.
"Aku rasa uncle akan pusing mengawasi Henry" ejek Leon.
"Anak itu sangat susah untuk diawasi. Belum lagi Liliana yang baru saja menyelesaikan intershipnya dan ingin sedang mengambil spesialis dokter jantung" keluh Kevin.
"Biar Liliana di awasi oleh David" saran Albert.
David menatap sang daddy sambil mengangkat alisnya sebelah mendengar ucapan daddynya yang tak masuk akal.
...π π π π π...
"Benar kata kamu Albert! Dengan begitu aku akan konsen kepada bocah nakal itu" pekik Kevin dengan cepat.
"Tapi uncle" ucap David yang langsung di potong Kevin.
__ADS_1
"Uncle percaya sama kamu David" ucap Kevin dengan tatapan penuh harap.
Leon tersenyum geli melihat wajah sang kakak yang masam tak mau menerima ucapan daddy dan uncle Kevin.
Kalian tidak tahu saja sosok kakak yang sebenarnya, batin Leon tersenyum smirk.
"Baiklah" ucap David dengan pasrah.
Setidaknya Liliana adalah gadis penurut dan tidak berisik seperti gadis lainnya pikir David.
~ Puncak, Jawa Barat ~
Sesuai dugaan keduanya geng 4G tidak akan melepas mereka selama menjelajah hutan wisata di belakang vila.
Bagaimana tidak baru saja mereka memasuki kawasan hutan Zelena dan Clarisa sudah disuruh membawa barang bawaan keempatnya yang sangat berat.
"Apa mereka pikir kita ini babu mereka" sungut Zelena dengan wajah kesal.
"Udah Lele mending turuti aja dari pada kita di bully" ucap Clarisa.
"Seumur hidup gue baru kali ini gue di bully" ketus Zelena.
Clarisa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang sedari tadi mengumpat Gres dan gengnya selama perjalanan.
"Cupu bawa tas gue kesini!" bentak Gres dengan suara melengking.
Zelena menghampiri Gres dan memberikan tasnya. Baru saja Gres akan menerimanya tiba-tiba Zelena menjatuhkan tasnya di tanah dengan sengaja.
"Loe" tunjuk Gres dengan tatapan tajam.
"Ups! Sorry gue ngak sengaja! Hehehe" ucap Zelena sambil terkekeh.
"Beraninya loe jatuhin tas mahal gue sialan" hardik Gres dengan suara tinggi.
"Loh gue kan ngak sengaja! Lagian gue juga udah minta maaf tuh" sewot Zelena tak mau kalah.
"Asal loe tahu cupu sialan tas gue ini harganya lebih mahal dari harga diri loe itu yang murahan itu!" bentak Gres.
Plak..........
Zelena menampar Gres mendengar ucapannya yang menghinanya. Bisa-bisanya ia membandingkan harga tasnya yang tak seberapa dengan harga dirinya yang tidak ternilai.
"Berani loe nampar gue b***h" teriak Gres.
"Kalau iya emang kenapa?" bentak Zelena dengan suara tinggi.
Plak...........
Bunyi tamparan kembali terdengar di sana tapi bukan Zelena yang ditampar malah Clarisa yang ditampar oleh gres.
Tadi melihat Zelena akan ditampar dengan cepat Clarisa maju berdiri di depan Zelena sehingga ia yang mendapat tamparan dari Gres.
"Risa" pekik Zelena dengan kaget.
"Loe ngak kenapa-napa kan Lele?" tanya Clarisa sambil tersenyum.
"Kenapa?" tanya Zelena dengan wajah cemas.
"Loe sahabat gue Lele dan gue ngak mau loe di bully" ucap Clarisa dengan suara lembut.
"Oh mau jadi pahlawan loe ya!" bentak Gres dengan emosi.
Grep............
Aarrghhhh............
Clarisa menjerit saat rambutnya dijambak oleh Gres dengan kuat, tak sampai situ ia lalu di hajar oleh Gres dan Gisel sedangkan Zelena yang ingin menolong sahabatnya malah di tahan oleh Gebi dan Gina.
"Hentikan Gres! Kalau berani loe lawan gue bangsat" teriak Zelena bergema di dalam hutan.
Sedangkan teman setim mereka yang hanya menonton saja tak berniat untuk menolong keduanya karena takut dengan geng 4G.
"Gres udah jangan pukul lagi kalau cupu itu mati bisa barabe entar" pekik Gina yang tak mau berurisan dengan polisi.
"Benar kata Gina, Gres" tambah Gisel.
Cuih...........
"Rasain loe cupu sialan" ejek Gres sambil meludah tepat di muka Clarisa yang sudah babak belur di tanah.
Keempatnya segera pergi dari sana meninggalkan Zelena dan Clarisa disana sendirian. Zelena terduduk di tanah menangis melihat sahabatnya.
"Hiks hiks hiks hiks......kenapa loe ngak lawan mereka Risa.....hiks hiks hiks" teriak Zelena sambil menangis histeris.
...π π π π π...
To be continue.............
__ADS_1